
Abigail duduk bersama Bibi Lan, Mikha dan Liam di meja yang letaknya bersebelahan dengan meja keluarga Zee. Gala dinner Zee Petroleum berlangsung meriah. Malam itu Kakek Zico berencana mengumumkan perihal Darren yang akan bergabung ke dalam perusahaan.
Abigail menikmati pertunjukan yang disajikan sebelum acara utama. Rekan Darren sesama penyanyi, Sue Sarah, sukses membuatnya terpukau. Hingga seorang pelayan memberikan secarik kertas.
Abigail mengernyit sambil membuka kertas tersebut.
Aku ingin wajah terpukau itu hanya ditujukan untukku.
Abigail tertawa kecil, ia lalu menatap Darren sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Darren membalas tatapannya sambil memutar bola matanya.
Disaat itulah tanpa sengaja Abigail bertatapan dengan Sarah, ibu tiri Darren. Abigail sengaja balas menatap wanita itu, ia ingin melihat ekspresi apa yang ditampilkan Sarah.
Dengan tenang wanita itu mengambil gelas champagne miliknya kemudian menyesap cairan berwarna kuning keemasan dengan tenang. Wajah angkuhnya telah kembali. Ia tersenyum sinis pada Abigail sebelum memalingkan wajahnya.
Peristiwa itu tidak luput dari pengamatan Mikha. Ia dan Abigail saling pandang dan tersenyum penuh arti sebelum akhirnya kembali menikmati pertunjukan.
Setelah lagu berakhir, pembawa acara mengundang Tuan Zico Zee untuk tampil ke depan. Standing applause mengiringi langkah pria itu menuju panggung besar.
"Terima kasih kepada Tuhan, dan terima kasih kepada seluruh jajaran pemimpin serta staf Zico Petroleum. Jika bukan karena kerja keras kalian, perusahaan tidak akan berada di titik ini." Tuan Zico membungkukkan badannya sebagai bentuk apresiasi kepada semua yang hadir.
"Juga kepada rekanan yang bekerja sama dengan kami, terima kasih banyak."
Tepuk tangan kembali terdengar memenuhi ballroom.
"Dan malam ini, aku dan putraku, Rayn, akan memperkenalkan penerus kami yang akan bergabung ke perusahaan. Darren Zico Zee." Tangan kanan Zico terulur meminta Darren untuk berdiri menghampirinya.
Darren terlihat gugup, ia menoleh menatap Abigail untuk sesaat. Menyadari kegugupan kekasihnya, Abigail tersenyum manis dan mengacungkan ibu jarinya memberi semangat. Darren tertawa kecil dan berjalan menuju panggung.
Sedangkan Sarah, ia terlihat tegang dan marah. Ia sama sekali tidak mengetahui jika mereka akan mengumumkan bergabungnya Darren dengan perusahaan saat Gala Dinner. Kedua tangannya mengepal kuat, ia menahan kemarahan.
Sial, aku terlambat!
Ia melirik suaminya.
Aneh, dia tidak memberitahuku sama sekali tentang keputusan-keputusan yang diambil si tua bangka itu. Apakah dia mengetahui sesuatu?
Sarah kembali menatap panggung. Hal yang tidak dia inginkan sedang berlangsung.
__ADS_1
Setelah suara tepuk tangan berhenti. Mulai terdengar bisik-bisik dari beberapa wanita di belakang Abigail.
"Ya ampun, tampan sekali."
"Tampannya."
"Ternyata Darren Wang adalah Pangeran Keluarga Zee."
"Dad, tolong jodohkan aku dengannya. Perusahaan kita kan rekanan Zico Petroleum yang paling dekat, mereka pasti mau."
Abigail mulai tersulut, ingin rasanya ia menoleh dan memberikan tatapan mematikan pada pemilik suara. Namun ia berusaha keras mengendalikan diri agar tidak mempermalukan diri sendiri.
Untuk mengalihkan perhatiannya, Abigail kembali menatap Darren yang sudah berdiri di samping Sang Kakek. Pemuda itu semakin bersinar dengan balutan tuksedo. Abigail terkesima, matanya tidak bisa lepas dari Darren.
"Bernafaslah Ai." Ucap Mikha sambil menyentuh tangan Sang adik.
Abigail terkesiap, ia mengerjap beberapa kali dan menatap Mikha dengan senyum malu-malu. Jantung Abigail bertalu, hingga tanpa sadar jarinya saling bertaut dengan erat.
Ia kembali menatap Darren yang sedang berbicara. Namun telinganya seakan tuli, ia tidak mendengar apa saja yang diucapkan Darren. Abigail benar-benar terpukau.
"Saya masih dalam tahap belajar. Untuk itu mohon kerjasama dan bimbingannya." Ucap Darren sambil mengakhiri sambutan singkatnya. Ia lalu membungkukkan badan memberi hormat.
Tiba-tiba Zico turun dari panggung membawa pengeras suara meninggalkan Darren seorang diri. Ia mendekati meja keluarga Abigail. Dan Rayn pun menyusul Sang Ayah. Peristiwa itu terus disorot oleh sebuah kamera yang terhubung ke layar plasma di panggung sehingga semua orang di ballroom dapat menyaksikan dengan jelas apa yang sedang terjadi di bawah panggung.
Melihat kedatangan kedua orang tersebut, Bibi Lan, Mikha dan Liam segera berdiri. Sedangkan Abigail terus menunduk dengan tangan yang saling bertaut.
"Nyonya Lan, anda dan keluarga selama ini sudah merawat serta membesarkan seorang Tuan Putri yang sedang tegang itu." Kalimat Zico membuat semua menatap Abigail dan tersenyum geli.
"Jika anda beserta keluarga berkenan, ijinkan Darren dan kami untuk menjaga, merawat serta membahagiakan Abigail." Imbuh Zico.
Seketika itu juga keriuhan terjadi. Semua orang berbisik dan berbicara dengan volume suara yang rendah dalam waktu bersamaan. Menciptakan efek dengungan seakan ada ribuan lebah di dalam ruangan.
Bahkan terang-terangan beberapa wanita di dekat meja mereka menatap Abigail dengan pandangan tidak suka juga penasaran.
"Semua keputusan kami serahkan pada Abigail. Kami akan menerima apapun yang menjadi keputusannya. Karena bagi kami, kebahagiaannya adalah hal yang paling penting." Jawab Bibi Lan setelah menerima pengeras suara.
Abigail mengangkat kepalanya dan menatap keluarganya satu per satu. Dan kemudian ia sadar, mereka telah menyerahkan keputusan kepadanya.
__ADS_1
Saat itulah Darren mendekat dan berlutut di samping tempat duduk Abigail. Karena tadi menunduk dan sibuk dengan pikirannya, Abigail tidak melihat saat Darren turun dari panggung. Refleks gadis itu berdiri dan menatap Darren dengan kesal.
"Berdirilah. Apa yang kau lakukan?" Suaranya terdengar panik. Meski sudah tahu jika Darren akan melamarnya saat Gala Dinner, tetap saja Abigail gugup. Ia tidak membayangkan akan seperti itu cara Darren meminangnya.
Darren bergeming pada tempatnya. Ia justru menatap Abigail lekat-lekat dengan tetap berlutut.
"Aku mungkin bukan pemuda yang terbaik untukmu. Tapi aku rela melakukan apapun dan memberikan semua yang terbaik yang aku miliki. Asalkan kamu bersedia mendampingiku. Menyempurnakan kekuranganku, terus menemaniku hingga akhir hayat." Darren menarik nafas dalam-dalam. "Tolong jangan tolak aku."
Abigail memegang dadanya, saat ini debaran jantungnya sudah tidak terkendali lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam, bahkan mendongakkan kepala sambil terkekeh salah tingkah karena perasaannya yang sedang melambung tinggi.
Setelah merasa sedikit tenang, ia kembali menatap Darren yang sedang menantinya.
"Aku mohon, menikahlah denganku." Pinta Darren.
Abigail mengerjap, dadanya bergemuruh dengan hebat. Membuat nafasnya menjadi lebih pendek. Namun dengan cepat ia menguasai diri.
"Aku juga bukan gadis yang sempurna yang pantas mendampingimu." Ujarnya.
"Namun aku akan berusaha dengan segenap kekuatanku untuk bisa terus bersamamu, menjadi pendamping yang terbaik bagimu."
Abigail sudah memberikan keputusannya. Senyuman manis terukir indah di bibirnya. "Ya, aku mau menikah denganmu."
Senyuman Darren mengembang sempurna. Ia meraih tangan Abigail dan mengecupnya. "Terima kasih Bi."
Kakek Zico segera menghampiri keduanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapiskan bludru berwarna biru. Zico menyerahkan kotak itu pada Darren dan segera dibuka oleh pemuda itu. Terlihat sebuah cincin yang bertahtakan berlian.
Kemudian dengan lembut Kakek meraih tangan kiri Abigail. Mengambil cincin dari dalam kotak dan menyematkannya di jari manis Abigail.
"Ini adalah simbol komitmen keluarga kami. Bahwa kami sangat serius dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut kami." Zico tersenyum melihat jari Abigail. "Terima kasih sudah menerima cucuku yang tidak tahu diri itu Nak."
Abigail mengangkat kedua alisnya kemudian tertawa. Kakek Zico segera memeluk gadis itu. Membiarkan Darren tersenyum masam.
Setelah mengurai pelukannya, Kakek memberi kesempatan kepada Nyonya Lan, Mikha dan Liam untuk memberikan ucapan selamat. Setelah itu Kakek Zico membawa Darren serta Abigail kembali ke atas panggung dimana Rayn sudah menunggu dengan microphone di tangannya.
"Tuan dan Nyonya, Hadirin sekalian. Perkenalkan, calon menantu keluarga Zee. Abigail Luo Li." Ucap Rayn diiringi senyuman bahagia. Setelah Abigail tiba, ia segera memeluk gadis itu dengan hangat.
"Luo Li?" Seketika seisi ballroom kembali terkejut mendengar nama keluarga Abigail disebutkan.
__ADS_1
Namun kasak kusuk itu hanya berlangsung sesaat. Karena detik berikutnya suara tepuk tangan kembali bergemuruh.
...****************...