
Lukas menarik nafasnya dengan berat. Ia sudah melihat rekaman dari kamera tersembunyi yang digunakan Abigail. Semuanya menunjukkan bagaimana Raline bisa bertindak dan berbicara di luar kendali. Lukas masih bisa bersyukur karena Abigail tidak mencabut nyawa Raline.
Lukas menatap Raline yang masih belum sadarkan diri. Kemudian pria tersebut memutuskan keluar dan menemui Keluarga Abigail dan Keluarga Zee.
Tatapan kecewa Kakek Zico sudah bisa Lukas prediksi. Ia tahu benar bagaimana kedekatan Keluarga Zee dan Keluarga Li. Jadi saat Raline mengucapkan kalimat tidak pantas mengenai Abigail dan Keluarganya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Lukas selain pasrah.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Lukas ucapkan. Ia membungkukkan tubuhnya ke semua orang yang ada di depan ruang perawatan Raline.
Terdengar Kakek Zico menghembuskan nafasnya dengan kasar. Pria tua itu berdiri mendekati Tuan Lukas yang hanya menundukkan kepala.
"Aku sangat kecewa." Ucap Kakek Zico. Matanya tajam menatap Lukas. Hati Zico Zee mendidih begitu mendengar ucapan Raline pada Abigail lewat rekaman kamera tersembunyi.
"Saya tahu. Maaf." Tidak ada kata lain yang dapat Lukas ucapkan saat ini.
Zico menghela nafas. "Kami tahu anda sudah memperingatkan putri anda. Kami melihat semuanya kejadian sore itu di depan kantor utama. Karena Abigail datang bersamaku saat itu."
"Memang tidak adil jika harus selalu menyalahkan anda atas tindakan putri anda. Raline adalah wanita dewasa yang sudah bisa menanggung sebab akibat dari perbuatannya sendiri."
Zico mulai melunak. "Kejadian ini tidak akan berpengaruh pada kerja sama kita. Jangan khawatir."
Lukas mengangkat kepalanya dengan cepat, pria itu tertegun. Dengan berani matanya menelisik menatap raut wajah Tuan Besar Zico Zee. Tidak ada kebohongan di dalam tatapan itu. Hati Lukas berdenyut nyeri.
Perasaan bersalah semakin hebat mendera Lukas. Pria itu menunduk menahan tangis.
"Saya adalah seorang ayah yang gagal." Lirihnya dengan suara bergetar.
Kakek Zico terhenyak mendengar penuturan Lukas dengan suara yang tertahan itu. Dengan tenang Zico mendekati Lukas dan menuntun pria itu untuk duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia.
Sedangkan Abigail yang sedari tadi diam segera berbalik pergi meninggalkan kerumunan itu. Ia menuju taman Rumah Sakit yang berada tidak jauh dari sana.
Sesampainya di taman, ia segera memilih bangku taman yang sedikit tersembunyi dan duduk disana.
"Bi, kamu baik-baik saja?"
Tanpa menoleh pun Abigail tahu siapa yang menyapanya. Hanya Darren yang tetap memanggilnya Abi.
Abigail tersenyum samar, ia tidak tahu bagaimana keadaannya sendiri saat ini.
"Aku tidak bisa mengendalikan diri." Ucap Abigail, dia tidak lagi berpikir jawabannya relevan dengan pertanyaan Darren atau tidak. Abigail hanya ingin mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.
Darren duduk di samping Abigail dan merangkul pundak kekasihnya. Abigail menyandarkan kepala dengan nyaman di bahu Darren, dan tatapannya terlihat kosong melihat ke depan.
__ADS_1
"Aku pun akan melakukan hal yang sama jika mendengar ucapan itu." Ungkap Darren.
Siapapun akan terluka jika mendengar keluarganya direndahkan. Apalagi jika mereka meninggal secara tragis. Tidak ada yang bisa menerima jika orang-orang yang disayangi mendapat kata-kata kasar.
"Aku hampir membunuhnya." Abigail masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Aku akan tetap mencintaimu dan menikahimu sekalipun kamu melakukannya." Darren berujar tanpa ragu.
Abigail tertawa kecil mendengar ungkapan hati Darren. Namun setelah terdiam wajahnya kembali sedih.
"Aku merasa iba pada Tuan Lukas. Ia nampak sangat terpukul."
Darren menghela nafas. "Ya, orang tua manapun akan merasa seperti itu."
"Dan secara mengejutkan, tadi sekretaris Tuan Lukas menelepon Kakek setelah kami mendapat berita tentang kejadian di tepi danau. Pria itu dengan berani melewati batasannya untuk membela Tuan Lukas, menjelaskan posisi Tuan Lukas yang tidak terlibat dengan tindakan Raline."
Abigail tertarik, ia menegakkan tubuhnya dan menatap Darren dengan serius.
"Dia bilang, setelah kejadian di kantor utama, Raline ikut pulang bersama Tuan Lukas. Namun karena tidak menerima teguran Tuan Lukas bahkan menyebut Ayahnya sendiri pengecut, akhirnya Raline diturunkan di tepi jalan."
"Apa?!" Mata Abigail membelalak, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Dia mengata-ngatai Ayahnya sendiri?"
Darren mengangguk. "Dia anak tidak tahu diri."
Darren mengusap punggung Abigail. "Ayo, kembali ke dalam. Berhenti merasa bersalah. Kau sudah memberi pelajaran pada Raline."
☘️☘️☘️
Beberapa hari kemudian….
Abigail bersama Mikha dan Kakek Zico masuk ke dalam ruang perawatan Raline. Disana sudah ada Tuan Lukas dan istrinya yang menemani Raline.
"Selamat siang." Sapa Kakek Zico.
"Selamat siang." Tuan Lukas berdiri dan menjabat tangan Tuan Zico, pun istrinya berbuat hal yang sama.
Melihat Abigail yang muncul di belakang Zico, Raline duduk dengan tegak disertai ekspresi wajah penuh kemarahan.
"Kau! Sedang apa kau disini?!" Dengan jari yang teracung lurus Raline membentak Abigail.
"Aku hanya ingin melihat kondisi serta menunggu permintaan maafmu?" Jawab Abigail dengan santai.
__ADS_1
"Hahaha." Raline tertawa, namun ia terlihat sedih. "Kau sudah membuat wajahku rusak, dan sekarang ingin aku minta maaf?"
Wajah Raline dipenuhi dengan goresan karena ia masuk ke dalam semak belukar yang dipenuhi duri akibat tendangan Venus. Beberapa bahkan meninggalkan bekas yang cukup dalam.
"Kau menghancurkan hidupku! Kau gadis pembawa si…akkhhh!" Raline memekik kesakitan saat mendapat tamparan di wajahnya.
"Ma…mama…" Raline menatap Mamanya dengan air mata yang mulai mengalir. Ia bahkan mulai merasakan perih sebab luka yang ada di wajahnya menjadi basah oleh air mata.
Tuan Lukas memeluk istrinya yang bergetar karena marah.
"Aku tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang kurang ajar seperti ini. Aku selalu menyayangimu, tapi kau membuat kasih sayangku menjadi bencana." Ujar wanita itu dengan berderai air mata. "Mama kecewa padamu Raline."
Lukas memeluk istrinya dengan erat, membiarkan wanita yang sudah menemaninya selama puluhan tahun menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaannya.
Suasana di ruang perawatan Raline dipenuhi isak tangis. Raline mendekap mulut dengan tangannya. Ia tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. Dan hari ini, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana mata mereka memancarkan luka dan kekecewaan.
Kakek Zico berbalik dan menatap Mikha serta Abigail secara bergantian. Melalui isyarat mata, ketiganya sepakat melangkah keluar dan duduk di sebuah tempat santai yang disediakan pihak rumah sakit.
Abigail berdiri menatap ke arah luar melalui dinding kaca yang ada di depannya. Hujan sudah mulai turun dengan deras.
"Apa yang kamu pikirkan?" Mikha berdiri di samping Abigail sambil menatap penuh keingintahuan.
Abigail menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum samar.
"Jika Kakek, Papa dan Mama masih hidup, apakah mereka juga akan kecewa dengan semua perbuatanku?"
Mikha mengerjap beberapa kali, ia tidak menyangka dengan pemikiran seperti itu yang ada di kepala Abigail.
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuat mereka kecewa?"
Abigail mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku pun tak tahu."
Mikha tertawa kecil. "Sejauh ini tindakan yang membuat sakit kepala adalah saat kamu merengek meminta diturunkan dalam sebuah misi padahal belum lama kembali. Jadi yah, Kakak rasa tidak akan ungkapan kecewa seperti tadi."
Keduanya terdiam selama beberapa saat.
"Tapi Kakak juga tidak yakin, karena ceritanya pasti akan jauh berbeda jika mereka masih hidup." Imbuh Mikha dengan tatapan sedih.
Abigail menatap Mikha beberapa saat sambil tersenyum, kemudian memeluk wanita itu dari samping.
"Aku sayang Kakak. Terima kasih sudah merawatku Kak. Terima Kasih."
__ADS_1
...****************...