
Abigail berbaring membelakangi para tamu dan meminta Mikha untuk menarik tirai. Tidak lama kemudian ia terlelap.
Melihat Sang adik sudah tertidur pulas, Mikha segera bergabung dengan tamunya dan duduk di salah satu sofa.
Hhhhhhh….
Mikha menghela nafas sebelum berbicara. "Aku adalah Kakak Abigail, maaf jika kami tidak pernah mengatakannya secara gamblang." Ujar Mikha dan kemudian menatap Darren dengan perasaan bersalah.
"Maaf juga karena Abigail sudah melukaimu. Dia mengalami cedera pada bagian kepala akibat percobaan pembunuhan yang ia alami. Dan karena cedera itu, Abigail kembali mengalami amnesia sebagian."
Ekspresi kaget terlihat jelas di wajah Trias dan Darren. Keduanya hanya bisa terdiam sambil menunduk. Darren menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kembali? Jadi ini bukan pertama kalinya Abigail mengalami amnesia sebagian?" Trias menatap ke arah brankar dengan perasaan sedih, pemuda itu seakan tidak percaya dengan kejadian yang sudah dialami Abigail di usianya yang masih muda.
Mikha mengangguk lemah. "Yahhh, sayangnya begitu."
"Jadi, dia tidak mengenaliku?" Darren terdengar putus asa dan kecewa.
Mikha menggeleng pelan mendengar saat pertanyaan Darren. "Dia bahkan tidak ingat bagaimana ia bisa mendapatkan cedera di kepalanya."
Melihat kesedihan di wajah Darren, Troy menjadi iba dan meminta izin pada Mikha untuk boleh ikut berbicara. Melalui sebuah anggukan, Mikha menyetujui.
"Amnesia yang ia alami bersifat sementara. Suatu saat Abigail akan ingat, tapi kita tidak pernah tahu kapan itu bisa terjadi."
Mendengar perkataan Troy, dengan cepat Darren mengangkat kepalanya. Ia merasa masih punya harapan.
"Apakah itu benar?" Tanya Darren dengan wajah berbinar-binar.
Troy mengangguk sambil menampilkan seulas senyum. "Tentu, tapi kita tidak bisa memaksa Abigail untuk mengingatnya. Karena hal itu akan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa pada bagian kepalanya."
"Setidaknya aku masih punya harapan." Ujar Darren. Karena teringat sesuatu, ia kemudian menatap Mikha sambil tersenyum canggung.
"Miss Mikha, maafkan kelancangan saya yang sudah jatuh hati pada adik anda." Nada bicara Darren terdengar ragu dan takut. "Saya…saya sangat menyukai Abigail, saya jatuh cinta kepadanya. Dan dia jadi begini, karena salah saya juga. Jadi saya mohon, jangan anda perintahkan saya untuk menjauh dari Abigail. Saya akan menebus kesalah…….."
"Tidak perlu." Mikha memotong ucapan Darren. "Ini adalah resiko dari rencana yang kami jalankan."
Darren menatap Mikha sejenak kemudian menarik nafas lega. Ia sempat berpikir akan mendapat penolakan dari keluarga Abigail.
Merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Trias dan Darren segera berpamitan pada Mikha dan Troy. Sebelum keluar ruangan, Darren sempat menoleh sejenak dan menatap brankar tempat Abigail berbaring. Ia menarik nafas dalam-dalam dan berjalan pergi dengan berat hati.
__ADS_1
"Dua hari lagi datanglah dengan membawa kontrak asisten pribadi yang pernah Abigail tandatangani sebelumnya." Ucap Mikha saat mengantar kedua pemuda sampai di depan pintu utama klinik.
Untuk sejenak, Trias merasa bingung dengan ucapan Mikha. Namun begitu melihat raut wajah Darren, Trias pun paham. Pemuda itu mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih.
"Abigail baru saja pulih dan kau akan mengirimnya untuk melanjutkan misi?" Setelah kepergian Trias dan Darren, Troy mempertanyakan keputusan Mikha yang meminta Trias untuk datang membawa kontrak.
"Mari, kita bicara di tempat lain." Jawab Mikha sambil melangkah pergi menuju area taman luar klinik. Dan Troy tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti kemana Mikha pergi.
Keduanya lantas duduk pada sebuah kursi taman di area yang sepi pengunjung.
"Aku ingin ingatan Abigail kembali, dan aku yakin Darren dapat membantunya." Kata Mikha setelah keduanya terdiam beberapa saat. "Dan sejak awal aku sudah meminta Venus untuk mengambil alih kontrak Draco yang malang. Ini belum selesai, aku sudah memutuskan, kami tidak akan bersembunyi lagi."
Ucapan Mikha membuat Troy tercengan, ia refleks menarik wanita yang duduk di sisinya itu kedalam pelukan.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, jangan gegabah."
Mikha tersenyum tipis dan mengusap punggung Troy. "Ini adalah momen yang tepat untuk merebut kebebasan kami berdua Troy, aku mohon mengertilah."
Troy tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata menikmati aroma tubuh Mikha yang berada dalam dekapannya. Jika bisa ia ingin menghentikan waktu untuk sesaat, agar momen ini berlangsung sedikit lebih lama lagi.
☘️☘️☘️
Sebelum kedua pemuda itu datang, Mikha sudah menceritakan pada Abigail mengenai misi yang ia emban. Hingga bagaimana ia bisa berakhir di klinik dengan cedera di bagian kepala.
"Jadi aku adalah asisten anda. Begitu?"
"Iya, benar." Jawab Darren dengan datar. Ia berusaha keras untuk terlihat tenang di depan Abigail. Tidak ekspresif seperti saat kunjungan pertama mereka.
"Berdasarkan kontrak yang tertera, masa kerjaku tidak sampai satu bulan lagi. Apakah kalian berdua tidak bisa merelakannya begitu saja?" Ekspresi Abigail terlihat lucu. Di satu sisi ia terdengar memohon dan di lain sisi ia sedang menjaga gengsinya.
Trias menunduk sebentar menahan tawa. "Maaf, tidak bisa." Jawabnya setelah berhasil menguasai diri.
Abigail menghela nafas lagi. Ia menatap Mikha sekali lagi sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Jadi, aku akan tinggal bersama kalian?" Abigail bertanya dengan suara lirih.
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin berhenti, namun begitu mendengar detail misi serta percobaan pembunuhan yang ia alami, semangat Abigail untuk menang pun kembali berkobar. Ia ingin mengalahkan orang yang sudah menginginkan nyawanya.
"Tidak, kami sudah menyiapkan apartemen khusus tidak jauh dari apartemen Darren."
__ADS_1
Abigail mengangguk paham, ia menggigit bibir bawahnya. Ada perasaan gugup mendengar nama Darren disebut. Tatapan pemuda itu membuat darahnya berdesir.
Kemarin, saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Darren, ada rasa bersalah yang muncul di hati Abigail. Ia merasa sudah salah membanting Darren seperti itu. Namun itu adalah pertahan dirinya karena terkejut tiba-tiba dipeluk oleh pemuda yang tidak ia kenal.
Dan tatapan mata Darren yang sangat sedih saat Abigail mengatakan tidak kenal, membuat hatinya juga ikut terluka. Hal itu membuat Abigail bertanya-tanya, apa saja yang sudah ia alami saat menjaga Darren. Mengapa ia merasa seperti memiliki hubungan emosional dengan Darren?
"Apakah kamu keberatan tinggal berdekatan denganku?" Pertanyaan Darren membuat Abigail mengerjap.
"Ti..tidak. Sama sekali tidak." Abigail hanya bisa menatap Mikha dengan pasrah. "Bisakah besok saja aku pergi kesana?"
"Jangan bertanya kepadaku." Jawab Mikha sambil menatap Trias.
Mau tidak mau, Abigail pun ikut menatap Trias.
"Baiklah, besok aku yang akan menjemputmu disini." Jawab Trias sambil tersenyum.
"Yess!!! Terima kasih." Abigail tersenyum lebar mendengar keputusan Trias.
"Cihhh…baru kali ini aku melihat seorang agen yang manja." Ucap Darren sinis.
Abigail segera melemparkan tatapan kesal. "Apa maksud anda? Saya kan baru saja sakit." Ujarnya tidak terima.
"Ya memang, tapi itu memperlihatkan betapa manjanya kamu. Agen hebat tapi manja." Darren tidak berniat meredakan situasi.
"Apa?! Tarik kembali ucapan anda!!!" Abigail mulai tersulut emosi.
"Tidak akan! Apalagi dua hari yang lalu kamu masih bisa membantingku." Darren bersikukuh menabuh genderang perang.
"Itu karena anda tiba-tiba memeluk saya."
"Artinya kondisimu sudah prima bukan. Agen hebat sepertimu pasti bisa mengatasi sedikit rasa sakit. Katanya agen hebat, tapi kok begini."
"Kau…" Abigail berdiri sambil mengacungkan jarinya ke wajah Darren. Wajahnya sudah berubah merah menahan marah. "Baiklah, saya akan pindah hari ini juga. Sore nanti Kak Mikha akan mengantar saya kesana. Akan saya buktikan, saya bukan agen yang manja."
Abigail merasa tertantang, ia menjadi panas hati saat Darren mengatai dirinya agen yang manja.
"Baiklah kalau begitu." Ujar Darren dengan datar. Tanpa Abigail ketahui, Darren sedang bersorak gembira di dalam hatinya.
...****************...
__ADS_1