
Abigail mulai membereskan sebagian besar barang-barangnya. Meski belum genap satu minggu berada di rumah aman, ia akan pulang bersama Mikha.
Sang kakak benar-benar akan merealisasikan ucapannya. Mikha menarik Abigail dari kasus dan bersedia membayar kerugian jika Trias keberatan.
Saat terdengar suara ketukan di pintu, Abigail menutup koper kecil miliknya dengan cepat dan bergegas membuka pintu kamar.
"Oh, kakak." Abigail menepi agar Mikha dapat melewatinya dengan mudah.
"Sudah berkemas kan?" Tanya Mikha sambil melenggang masuk.
Abigail mengangguk kemudian menutup pintu. Ia mengikat semua rambutnya ke atas dengan asal-asalan.
"Belum semua sih. Apakah kita akan pergi hari ini, Kak?"
"Belum, yang penting kamu sudah siap kapanpun kita berangkat." Jawab Mikha seraya duduk di tempat tidur Sang adik.
Abigail merebahkan tubuh dan menggunakan paha Mikha sebagai bantal.
"Sudah lama tidak begini." Ujarnya sambil memejamkan mata.
"Dasar." Mikha mengetuk dahi Abigail menggunakan telunjuknya.
"Aduh." Abigail segera bangkit. "Manja-manja sebentar saja tidak boleh." Sungutnya.
Mikha tergelak. "Waktunya tidak tepat. Lagipula kamu belum sepenuhnya menikmati lingkungan villa ini kan. Bukankah dulu kamu sering meminta untuk datang ke tempat ini?"
Abigail memukul dahinya dengan pelan. "Benar juga. Aku akan berjalan-jalan." Ujarnya sambil berjalan keluar kamar.
Mikha mengulum senyum menatap kepergian adiknya.
☘️☘️☘️
Abigail melihat Darren dan Trias sedang berdiri di dekat danau kecil yang berada di tepi hutan. Ia memutuskan untuk bergabung dengan keduanya. Namun Abigail tidak akan mengatakan apapun soal pengunduran dirinya seperti permintaan Sang kakak. Mikha ingin dia sendiri yang akan mengatakan hal itu kepada Darren dan Triasaka.
"Abi." Gumam Darren saat melihat kedatangan gadis itu. Trias segera berbalik dan menyambut kedatangan Abigail dengan senyuman.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Abigail menatap Darren dan Trias dengan sorot mata ceria.
"Rahasia." Jawab Trias dengan wajah serius yang dibuat-buat.
Abigail mencebik, ia mendengus kasar namun tidak tertarik untuk kembali bertanya.
"Masih mengalami mimpi buruk?" Kali ini Abigail bertanya pada Darren.
Pemuda itu tak langsung menjawab, ia berpikir sesaat sebelum bersuara.
"Sepertinya iya." Darren mengangkat kedua alisnya. "Aku bermimpi didatangi seorang gadis memakai rok panjang dengan motif floral, kemeja flanel kotak-kotak, rambut kusut dilengkapi kawat gigi menyeramkan. Gadis itu lebih menakutkan daripada hantu."
__ADS_1
Mata Abigail membulat. "Apa kau sedang menyindirku?" Tanyanya dengan ketus.
Darren mengangkat kedua bahunya. "Tidak…."
"Tidak?" Abigail memotong ucapan Darren.
Melihat Abigail mulai emosi Darren mundur perlahan.
"Tunggu…maksudku…"
"Apa? Apa maksudmu?" Abigail terus melangkah maju dengan wajah yang terlihat marah. Ia bahkan memukul telapak kiri dengan kepalan tinju tangan kanannya.
Darren kebingungan, ia hanya bisa berjalan mundur sambil memikirkan kata-kata yang tepat. Ia menelan salivanya dengan kasar saat melihat kepalan tangan Abigail. Darren tidak ingin ikut merasakan pukulan gadis itu. Trias tersenyum geli melihat tingkah keduanya.
"Ak..aku…"
"Jadi kau menganggapku hantu?"
Darren mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan dada tanpa berhenti melangkah mundur.
"Tidak seperti itu. Aku….akhhhh!!!"
Seketika itu juga kaki Darren terperosok ke dalam danau. Pemuda itu bahkan jatuh hingga seluruh tubuhnya basah.
Gelak tawa Abigail terdengar mendominasi. Darren bangkit sambil mengusap wajahnya, ia sadar telah masuk dalam perangkap gadis itu.
Ia segera keluar dari dalam air dengan langkah panjang dan cepat. Dalam satu gerakan Abigail telah berada dalam pelukannya dan segera menyeret gadis itu ke belakang.
"Aaaa Darren!!! Kau basah!!! Lepaskan aku!!!" Abigail meronta.
Namun percuma saja, posisinya yang berada di tepi membuat mereka dengan cepat kembali masuk ke dalam danau.
Air danau kembali beriak setelah kaki Darren dan Abigail masuk ke dalam air. Namun karena permukaan yang tidak rata serta Abigail yang tidak berhenti bergerak. Maka tubuh Darren kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersama Abigail yang masih berada dalam pelukannya.
Abigail segera mengangkat kepala dan memukul dada bidang Darren. "Aku jadi basah."
Darren tertawa melihat wajah bahkan baju Abigail yang basah oleh air danau yang terasa dingin.
"Berhenti tertawa, tidak lucu." Abigail mengerucutkan bibirnya dan berusaha bangkit.
Darren memeluk pinggang Abigail dengan tangan kiri dan memegang dagunya dengan tangan kanan. Ia memaksa gadis itu menatapnya.
"Aku hanya membalas perbuatanmu." Ucap Darren dengan wajah menahan tawa.
"Membalas? Aku bahkan belum sempat membalas semua kejahilanmu yang sebelumnya." Protes Abigail. "Minggir!"
Kali ini Darren membiarkan Abigail berdiri dan segera ikut bangkit dari tempatnya. Namun baru saja mereka berbalik terlihat Trias sudah berlari ke arah mereka dengan wajah sumringah. Dalam sekejap ia sudah melompat dan berenang.
__ADS_1
Melihat itu Abigail dan Darren mengurungkan niat untuk keluar dan ikut bergabung dengan Trias.
☘️☘️☘️
Makan malam kali ini berbeda. Mikha meminta juru masak agar mengatur makanan di meja yang sudah diletakkan di tengah taman. Terlihat Darren menggantikan juru masak untuk memanggang daging.
"Ternyata selain pandai menyanyi, kamu juga pandai memasak." Puji Abigail.
Darren melirik sekilas ke arah gadis yang baru saja berdiri di sampingnya.
"Tentu saja." Jawabnya bangga.
Lalu Darren memotong bagian ujung daging yang telah matang. Menjepitnya dengan sumpit lalu meniupnya.
"Ini, cobalah." Darren mengarahkan sumpit tepat di depan mulut Abigail.
Dengan girang Abigail segera melahap potongan daging itu. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya serta memekik bahagia saat merasakan kelembutan tekstur daging yang diberikan Darren.
"Enak?"
Abigail hanya menjawab pertanyaan dari Darren dengan anggukan dan sorot mata yang berbinar.
Tanpa sadar pemuda itu mengulurkan tangannya dan mengusap punca kepala Abigail. Meski hanya sesaat, hal kecil itu mampu menimbulkan getaran di hati keduanya.
Darren segera tersadar dan mengalihkan pandangannya dari Abigail. Ia kembali memotong daging, kemudian mengambil potongan tersebut dengan sumpit dan meniupnya. Abigail telah menunggu dengan kaki yang tidak bisa berhenti bergerak karena girang.
Darren mengarahkan sumpit ke depan mulut Abigail. Namun saat gadis itu bersiap melahap daging, dengan cepat Darren menarik dan menyuapkan daging tersebut ke dalam mulutnya sendiri.
"Menyebalkan." Gerutu Abigail. Bahkan dengan sengaja ia menginjak kaki Darren sebelum pergi.
"Abiiiii….aduuhh." Darren membungkuk memeriksa kakinya yang berdenyut nyeri.
Mikha dan Trias yang baru datang terkejut melihat Darren yang kesakitan. Dengan tergesa-gesa Trias menghampiri Darren.
"Ada apa?"
"Abi! Dia menginjak kakiku." Keluh Darren sambil berusaha berdiri.
Trias menatap Abigail meminta penjelasan.
"Aku tidak suka dikecoh." Abigail menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Tapi aku kan hanya…."
"Apa?" Potong Abigail cepat.
"Hentikan kalian berdua!!! Jika tidak akan kunikahkan malam ini juga." Ancam Mikha.
__ADS_1
...****************...