
Trias memijat pelipisnya begitu melihat perdebatan yang disajikan Darren dan Abigail.
"Sepertinya setelah ini anda akan memerlukan asupan vitamin tambahan dan obat sakit kepala." Ujar Mikha sambil menatap Trias dengan menahan tawa.
Mendengar kalimat yang dilontarkan Mikha, Trias hanya mampu tersenyum kecut. Ia segera mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompet dan menuliskan sebuah alamat di balik kartu namanya.
"Apakah Abigail benar-benar sudah bisa beraktivitas?" Tanya Trias seraya menyodorkan kartu nama miliknya pada Mikha.
"Ya, Dokter Troy sudah memberikan obat yang terbaik untuknya."
Mikha menatap Abigail yang sedang membereskan beberapa barang-barangnya di dekat brankar.
"Kalau begitu, kami akan menunggu kalian di apartemen nanti sore. Kami permisi." Trias berpamitan.
Mikha mengangguk dan mengantar Trias dan Darren keluar dari ruang perawatan Abigail.
☘️☘️☘️
Abigail mengernyit melihat bangunan 3 lantai yang kini ada di hadapannya.
"Apa Kakak yakin, ini alamatnya?" Abigail terlihat ragu untuk turun dari mobil.
Mikha yang baru selesai menarik tuas rem tangan ikut melihat melalui jendela depan.
"Sepertinya memang ini." Jawabnya sambil melepas sabuk pengaman.
Abigail meraih secarik kertas dari Trias yang Mikha letakkan di dashboard dan membaca kembali alamat yang tertera di sana.
"Ayo, mereka pasti sudah menunggu."
Abigail menghela nafas kemudian mengikuti Mikha untuk turun dari mobil. Ia melangkah ke bagian belakang dan menurunkan dua buah koper berukuran besar dari bagasi, dibantu oleh Sang kakak.
Benar ucapan Mikha, begitu memasuki bangunan, Darren dan Trias tampak berbincang di area lobby yang sangat kecil.
"Selamat sore. Apakah kami terlalu lama?" Sapa Mikha setelah memberikan salam.
"Selamat sore. Tidak, kami berdua juga baru saja turun. Mari." Trias mengambil koper Abigail dari Mikha dan segera memasuki lift.
Abigail segera mengikuti Trias dan berdiri di belakang pemuda tersebut bersama Mikha. Tidak ada perbincangan selama di dalam lift hingga benda tersebut berhenti di lantai tiga.
Di area tersebut ada empat unit apartemen yang saling berhadapan. Dan unit milik Abigail berada di sebelah kanan paling ujung, terjauh dari lift, melewati unit apartemen Darren.
"Ini unit Darren, dan tepat di sampingnya adalah unit mu." Jelas Trias saat melewati unit apartemen Darren. "Dan aku tinggal di lantai dua.
"Jadi Kak Trias juga tinggal di gedung yang sama?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Abigail, ketiga orang yang ada disana berpaling dengan cepat menatap gadis itu.
"Apakah pertanyaanku salah?" Abigail terlihat bingung mendapat tatapan yang kompak dari Trias, Mikha dan Darren.
Trias tersenyum. "Tidak, tidak salah." Pemuda itu membuka pintu unit apartemen Abigail. "Iya, jadi kita bertiga tinggal di gedung yang sama. Menyenangkan bukan?"
"Sangat menyenangkan." Jawab Abigail. Entah kenapa dia merasa tenang mengetahui Trias tinggal disana.
"Meski hilang ingatan, kau tetap bisa begitu hangat jika berbicara dengan Trias." Gumam Darren yang bisa didengar dengan jelas oleh mereka semua.
"Karena Kak Trias tidak memiliki aura menyebalkan sepertimu."
"Apa kamu bilang?" Darren menatap Abigail dengan sebal.
"Kau, ME NYE BAL KAN!" Jawab Abigail dengan penuh penekanan di setiap suku kata yang ia ucapkan.
Darren mengambil posisi tepat di depan gadis itu. "Hei, ingat! Aku adalah atasanmu sekarang ini! Jaga etikamu, jika tidak ingin kucium di depan kakakmu."
"APA?!" Bola mata Abigail membulat sempurna.
"Waktu itu kita sudah pernah berciuman di depan kamera pengintai dan disaksikan langsung oleh kakakmu. Aku tidak segan mengulanginya lagi agar ia bisa melihat secara langsung." Imbuh Darren sambil berlalu.
"Hei!!! Lelaki tidak tahu malu!!!" Abigail hendak mengejar Darren namun ditahan oleh Mikha dan Trias. "Lepaskan aku kak!!!" Abigail berusaha melepaskan diri sambil menahan malu.
"Biarkan aku memukulnya!!! Darren Wang, kembali kesini!!! Ayo hadapi aku!!!" Wajahnya bahkan sudah memerah sempurna akibat ucapan Darren.
☘️☘️☘️
Abigail menatap dua buah stand hanger baju, yang satu penuh dengan kemeja bermotif, dan yang lain penuh dengan rok panjang yang juga full motif. Kombinasi yang sangat aneh menurut Abigail.
"Jadi, dia ingin aku memakai baju ini selama beraktivitas di luar?" Tanya Abigail dengan telunjuk yang mengarah pada kedua stand hanger secara bergantian.
"Ya, itu yang Darren inginkan." Jawab Trias sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Juga ini." Imbuhnya sambil menunjuk sebuah kacamata yang terletak di meja tidak jauh darinya.
Abigail mengikuti arah pandang Trias dan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, Darren ingin ia berpenampilan tidak menarik dan kembali menjadi asisten yang culun seperti sebelumnya.
"Alangkah baiknya jika aku bisa mengingat kejadian sebelum ini." Desah Abigail sebelum menjatuhkan diri di sofa tepat di samping Mikha.
Kehilangan sebagian ingatan memang sangat merepotkan. Bisa saja Abigail melewatkan beberapa informasi penting padahal masalah belum selesai. Meski Mikha sudah memastikan bahwa setiap detail yang penting sudah dilaporkan Abigail, namun akan lebih baik jika ia bisa mengingatnya sendiri tanpa bertanya pada Sang kakak.
"Pelan-pelan saja." Mikha menggenggam tangan Abigail.
Trias mengambil sebuah sofa single berbentuk bulat dan meletakkannya di depan kakak beradik itu kemudian duduk.
"Apakah kontrak itu terus berlanjut?" Raut wajah pemuda itu terlihat sangat serius menatap Mikha dan Abigail secara bergantian.
__ADS_1
Mikha memperbaiki duduknya dan menarik nafas dalam-dalam.
"Sayangnya begitu." Ia menampilkan senyuman getir dan menatap Abigail dengan sayang. "Tapi kali ini Abigail dan kami akan lebih leluasa bergerak karena kalian sudah mengetahui identitas Abigail."
Trias menatap Abigail dengan iba. "Aku tidak tahu akan bagaimana jika berada di posisi yang terus menjadi umpan sepertimu."
Abigail hanya tertawa kecil mendengar ucapan Trias tanpa berniat untuk menanggapi.
"Apakah anda buru-buru untuk pulang Miss? Karena saya berencana membawa anda dan Abigail melihat-lihat bangunan ini."
Mikha berpikir sejenak. "Aku tidak memiliki urusan penting beberapa jam kedepan, kecuali tidur."
"Kalau begitu, mari kita mulai tour gedung ini." Trias berdiri dan bersemangat membawa Mikha dan Abigail berkeliling bangunan.
Begitu keluar dari unit apartemen Abigail, Trias segera membuka unit yang tepat berada di depan.
"Ini adalah ruangan khusus wardrobe dan juga pantry untuk para staf." Jelas Trias saat ketiganya memasuki ruangan yang diatur menjadi dua bagian itu.
"Jadi, Miss Rosi bekerja disini?" Abigail terlihat antusias memasuki ruangan wardrobe yang pintunya sudah dibuka oleh Trias.
"Ya, tanpa Zai." Jawab Trias singkat.
Abigail tertawa kecil mendengar jawaban Trias. "Baguslah, jika tidak ia bisa lumpuh setelah aku selesai bekerja disini."
Tidak berlama-lama disana, mereka kemudian berpindah ke unit yang berhadapan langsung dengan unit Darren.
"Ini adalah studio rekaman dan juga studio untuk syuting yang bisa diatur menurut kebutuhan."
Mikha mengernyit, ia menatap ruangan itu lekat-lekat. "Apakah Darren tinggal dan bekerja di gedung ini?"
"Ya begitulah kondisinya sekarang. Tapi ini hanya untuk sementara saja." Jawab Trias sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Apakah ada rencana lain?" Abigail bertanya dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
"Aku akan sepenuhnya berhenti dari dunia entertainment. Jadi tinggal dan bekerja di tempat ini hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah terlanjur aku setujui dan tidak bisa dibatalkan."
Darren tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu dan menjawab pertanyaan Abigail.
"Anda ingin berhenti?" Dahi Abigail dipenuhi kerutan saat ia menatap Darren. "Sayang sekali, padahal suara anda sangat bagus."
"Kamu mendengar laguku?" Kedua alis Darren terangkat.
"Iya, sepanjang perjalanan tadi." Jawab Abigail disertai anggukan. "Mungkin sebelumnya saya sudah pernah mendengar suara anda. Tapi maaf, saya tidak bisa mengingatnya." Imbuhnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana bisa ingat suaraku jika kau tertidur saat aku menyanyi." Jawab Darren yang disambut senyuman geli dari Trias.
__ADS_1
"Benarkah itu?" Rona merah mulai muncul di pipi Abigail, dan membuat wajahnya semakin menggemaskan. Darren jadi terpana karenanya.
...****************...