
Abigail mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Ia sedikit meringis saat merasakan nyeri di kepala bagian belakang.
"Haus." Gumamnya pelan, ia berusaha bangkit untuk mencari air minum meski belum sepenuhnya sadar tentang dimana ia berada saat ini. Abigail memejamkan matanya rapat-rapat dan menarik nafas dalam.
"Kakak akan membantumu."
Suara Mikha membuat Abigail berhenti bergerak. Ia kaget saat tahu Sang kakak ada bersamanya. Dan yang lebih membuatnya terkejut, tak hanya Mikha yang ada disana. Tapi juga Dokter Troy, Trias dan Darren. Ia berusaha mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri. Abigail melihat ke sekeliling dan kemudian sadar, ia berada di apartemen Darren.
Abigail memejamkan matanya sejenak kemudian menggerakkan tubuhnya untuk bangkit. Mikha segera membantu Sang adik. Setelah itu menyodorkan gelas berisi air mineral yang langsung ditenggak sampai habis oleh Abigail.
"Apakah aku sudah membuat kalian semua khawatir? Maaf, bukan sengaja melakukannya." Abigail tersenyum samar. Dalam hati ia merasa tidak nyaman, terlebih saat melihat wajah cemas semua yang ada disana, Abigail jadi merasa bersalah.
"Apa yang terjadi?" Dokter Troy duduk di sisi Abigail.
Gadis itu bersandar di sofa dan mulai mengingat-ingat situasi sebelum ia pingsan.
"Aku melihat lukisan, kemudian muncul perasaan yang tidak asing seolah aku pernah berada disana, di dalam suasana yang berada di lukisan. Kemudian kepalaku mulai terasa sakit, seakan terbakar dan berdenyut hebat. Kombinasi yang mengerikan." Abigail bergidik ngeri.
"Jadi, rasa sakit hanya di bagian kepala saja ya." Dokter Troy memastikan.
"Iya, hanya di bagian itu." Abigail mengangguk yakin.
Terdengar Mikha menghelas nafas berat. "Apakah kamu bisa berdiri? Kalau bisa, kita kembali agar kamu bisa berbaring di kamar."
Abigail mengangguk mendengar tawaran Mikha. Ia berusaha bangun dibantu oleh Sang kakak dan juga Troy.
"Terima kasih banyak, kami akan membawanya beristirahat." Kata Mikha pada Darren dan Trias.
"Aku akan menjelaskan kondisinya nanti." Imbuh Troy yang melihat Darren seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Eumm…ya baiklah. Terima kasih." Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Selepas kepergian Abigail bersama sang kakak, Trias menepuk-nepuk punggung Darren.
"Semua akan baik-baik saja."
"Ya, aku tahu." Sahut Darren kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel. Tak lama kemudian ia keluar dan menunjukkan sesuatu pada Trias.
"Wanita itu selalu saja mencari muka di depan Kakek." Ujar Darren dengan wajah yang sangat kesal. "Memangnya kenapa kalau tadi aku tidak mau berfoto dengannya dan teman-teman sosialitanya?!"
"Untung saja Tuan Besar tidak terpengaruh." Trias terkekeh membaca chat yang ditunjukkan oleh Darren.
☘️☘️☘️
Setelah memastikan Abigail berbaring dengan nyaman, Troy segera mengeluarkan beberapa peralatan canggih dan memasang benda itu di kepala Abigail. Ia akan memindai kepala gadis itu untuk memastikan kondisi kesehatan Abigail.
Tak perlu waktu lama, hasil scan telah keluar. Troy mengambil kertas tersebut dan keluar dari kamar Abigail sementara Mikha membereskan peralatan milik Dokter itu.
__ADS_1
"Apakah masih sakit?" Mikha duduk di tepi ranjang dan mengusap tangan Abigail.
"Tidak, karena sudah dirawat oleh Dokter serta asisten Dokter terbaik."
Mikha hanya tersenyum canggung mendengar jawaban Sang adik. Beberapa saat kemudian Dokter Troy kembali lagi dengan wajah yang cerah.
"Hasilnya baik, tidak ada masalah. Ini adalah proses yang menyakitkan saat ingatanmu akan kembali. Tapi tidak akan mengancam nyawa."
Abigail tersenyum lega, ia memperbaiki cara duduknya. "Aku senang, meski yahhh. Rasanya benar-benar sakit."
"Aku akan mengatasi hal itu, seperti biasa." Dokter Troy segera mengambil tas khusus yang berisi obat-obatan.
☘️☘️☘️
Abigail baru saja akan membuka pintu apartemen Darren ketika Sang pemilik membuka pintu dari dalam.
"Oh hai." Sapa Darren dengan semangat.
"Selamat pagi Tuan."
"Bagaimana kondisimu?"
Abigail meneliti tubuhnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Darren.
"Seperti yang anda lihat, aku sudah baik."
Darren tersenyum lega. "Aku percaya itu, semalaman Miss Mikha dan Dokter Troy pasti sudah merawatmu."
"Hari ini kamu akan ikut bersamaku. Ada sesuatu yang harus aku lakukan di luar. Kita akan pergi bertiga dengan Trias. Jadi bersiap-siaplah." Darren memberi perintah.
"Baiklah, saya permisi." Abigail berbalik kembali menuju apartemennya.
"Abigail!" Darren segera memanggil gadis itu saat sadar ada hal yang ia lupakan.
Seruan Darren membuat Abigail berhenti dan berbalik.
"Tidak perlu memakai pakaian aneh itu. Pakailah baju yang sesuai dengan keinginanmu. Apapun itu, yang penting sopan. Kami akan menunggumu di bawah."
Abigail tersenyum geli mendengar penekanan di akhir kalimat Darren.
"Baik Tuan, sesuai perintah anda." Jawab Abigail sambil menahan senyum.
Darren menatap kepergian gadis itu dengan senyum getir. Jika percakapan ini terjadi di awal pertemuan mereka, mungkin ia tidak akan merasa sedih. Abigail begitu formal berbicara dengannya, seakan membuat jarak yang semakin lebar.
"Kenapa belum bersiap?" Suara Trias menarik paksa pikiran Darren yang sedang berkelana.
"Oh itu. Aku baru saja memberitahu Abigail untuk bersiap." Darren menutup pintu yang segera terkunci otomatis dan pergi bersama Trias.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Mobil yang dikemudikan Trias melewati sebuah gerbang besar sebelum memasuki kawasan hutan yang ternyata tidak terlalu besar. Dari jauh Abigail bisa melihat sebuah bangunan yaitu mansion yang megah.
Trias menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk utama ke dalam mansion. Terlihat beberapa pelayan sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Dalam hati Abigail bersyukur karena ia memilih memakai midi dress yang dipadu dengan cardigan.
Darren berjalan di depan, sedangkan Trias berada tepat di belakangnya bersama Abigail. Saat mereka masuk, semua pelayan menunduk memberi hormat.
"Selamat datang, Tuan Muda." Ucap semua pelayan disitu memberi salam.
Tuan Muda?
Abigail mengangkat sebelah alisnya mendengar panggilan yang sudah pasti ditujukan pada Darren. Setelah dipikir, didalam berkas yang diberikan Mikha mengenai Darren, tidak dicantumkan perihal keluarga pemuda tersebut.
Di bagian dalam seorang wanita paruh baya telah berdiri bersama seorang pria tua yang dilihat dari pakaiannya bisa dipastikan menjabat sebagai kepala rumah tangga.
"Selamat datang, putraku." Sapa wanita yang memakai riasan begitu tebal dan baju yang tentu tidak murah.
Putra? Abigail kembali mengernyit samar.
Hening, Darren tidak menanggapi ucapan wanita yang memanggilnya dengan sebutan putra.
"Baiklah kalau begitu." Wanita tersebut tetap tersenyum ramah. Meskipun begitu Abigail bisa melihat jelas kepalsuan yang ada di wajah wanita itu.
"Apa kabar, Trias?" Kali ini wanita itu memilih menyapa Triasaka.
"Kabar baik, Nyonya Sarah. Terima kasih sudah bertanya."
"Dan gadis i….."
"Paman, dimana Papa dan Kakek?" Darren memotong ucapan Nyonya Sarah saat wanita itu ingin bertanya tentang Abigail.
"Di perpustakaan, Tuan Muda. Ijinkan saya mengantar anda kesana." Ucap pria tua yang dipanggil paman oleh Darren.
Sarah menahan kesal melihat Darren yang berjalan melewatinya begitu saja. Oleh sebab itu ia segera menyambar tangan Abigail dan menahannya.
"Tentu pangkatmu tidak seperti Trias. Jadi kau di…"
"Lepaskan tangan kotormu darinya." Dengan kasar Darren melepaskan tangan Nyonya Sarah dan menarik Abigail. "Kemanapun aku pergi di dalam mansion ini, dia dan Trias akan terus ikut bersamaku." Suara Darren terdengar dipenuhi kemarahan.
Trias yang melihat hal itu segera menyentuh pundak Abigail dan memintanya untuk mundur dan berdiri di sisi Trias.
Nyonya Sarah tersenyum anggun. "Putraku, maksud…."
"Aku bukan putramu!!!" Tegas Darren. Ia segera berjalan menuju perpustakaan diikuti oleh Trias dan Abigail.
"Kau baik-baik saja?" Trias berbicara dengan sangat pelan pada Abigail.
__ADS_1
"Ya. Dan sepertinya akan ada banyak kejutan lain." Jawab Abigail yang disambut dengan senyuman Trias.
...****************...