
Setibanya di apartemen, Abigail segera meminta Darren untuk duduk dan segera memeriksa pemuda itu. Sedangkan Kay dan Felix memilih beristirahat di lantai dua, di unit apartemen Trias.
Abigail mengoleskan salep di tangan Darren dengan hati-hati. Perkelahian sebelumnya memperlihatkan memar di beberapa bagian. Pemuda itu adalah seorang public figure, maka penampilannya harus tetap dijaga.
"Mengapa tidak menungguku pulang jika ingin berbelanja?" Tanya Darren sambil terus mengamati wajah Abigail.
Gadis itu melirik sesaat dan tersenyum. "Saya tidak tahu kapan Tuan akan pulang. Lagipula minimarket itu tidaklah jauh."
Darren menghela nafas kasar, namun Abigail tidak memedulikan hal itu. Ia tetap fokus melakukan pekerjaannya.
Abigail memeriksa sekali lagi tubuh Darren, dan setelah yakin semua sudah diobati, ia menutup jar tempat salep yang ia gunakan untuk mengobati memar di tubuh Darren.
"Sudah selesai, dalam beberapa jam memarnya akan hilang begitu pun dengan rasa sakitnya." Ujar Abigail seraya beranjak berdiri. "Dengan begini anda akan siap untuk acara malam penghargaan besok."
Belum sempat beranjak jauh, Darren telah memegang pergelangan tangannya hingga Abigail urung untuk melangkah.
"Mulai sekarang, jangan pergi dari tempat ini jika aku tidak ada. Aku akan menemanimu." Darren berdiri dan menatap Abigail dalam-dalam.
"Jika selalu bersama di luar gedung ini, akan tidak baik untuk keselamatan kita berdua." Perlahan Abigail melepas tangan Darren yang masih memegang pergelangan tangannya dan pemuda itu pun menurut.
"Bukankah kau sudah melihat sendiri tadi? Aku bisa membantumu mengalahkan penjahat."
"Ya, dan itu keren sekali." Jawab Abigail tanpa sadar, matanya pun memperlihatkan sorot yang berbinar-binar.
"Jadi menurutmu aku keren dan tampan?"
"Ya." Jawab Abigail spontan dan cepat.
"Dan kau terpesona."
"Ya." Abigail mengangguk. "Eh?" Tampaknya ia sadar terjebak dalam pertanyaan cepat yang diajukan Darren.
"Tidak, bukan begitu maksudku!" Seru Abigail karena panik.
"Ckckckck." Darren menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah Abigail. "Jawaban pertama adalah yang paling jujur." Darren terkekeh senang. Bahkan ia mengusap kepala Abigail sebelum pergi meninggalkan gadis yang wajahnya sedang bersemu merah itu.
Abigail tidak mampu berkata-kata lagi, perasaan malu dan marah bercampur menjadi satu. Ia berbalik dan hendak keluar dari apartemen Darren. Namun saat itulah pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang menampilkan gambar api unggun dengan latar belakang hutan.
__ADS_1
"Sejak kapan ada lukisan disini?"
Abigail mendekat, tangannya terulur menyentuh permukaan api itu. Sekejap kemudian ia merasa seperti pernah melihat pemandangan seperti itu. Ia mengernyit, kepalanya terasa berdenyut hebat saat potongan-potongan peristiwa melintas di pikirannya. Malam, hutan dan api unggun, suasana-suasana tersebut seakan menyerbu kepalanya dengan sangat cepat dalam bentuk potongan puzzle dan menciptakan gelombang yang menyakitkan.
Tubuh Abigail limbung, dan sesaat sebelum ia kehilangan tenaga untuk tetap berpijak, Abigail merasa ada seseorang yang menopangnya di belakang. Trias yang baru saja masuk bergerak dengan cepat saat melihat tubuh Abigail yang mulai tidak stabil.
"Ada apa?" Suara Trias terdengar sangat cemas.
"Sakit." Jawab Abigail sambil memegangi kepalanya.
Trias memapah tubuh Abigail dan membaringkan gadis itu di sofa. Ia kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Mikha. Namun Trias tidak dapat pergi lebih jauh dari sofa karena Abigail yang terlihat mulai tidak sadarkan diri. Bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat.
"Darren! Tolong aku!" Seru Trias.
Dalam sekejap pintu kamar Darren terbuka menampilkan wajahnya yang cemas.
"Ada ap…. Abi!"
Darren melesat menghampiri Abigail, ia duduk bersimpuh memeriksa kondisi gadis itu.
"Abi." Darren dengan cemas mengusap peluh di wajah Abigail. Sesekali kening gadis itu berkerut seakan menahan sakit. "Ada apa denganmu? Seingatku tadi semua baik-baik saja."
Abigail tidak menjawab, ia hanya menggigit bibir tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dan hanya dengan melihat, Darren bisa tahu seberapa keras usaha gadis itu menahan sakitnya.
☘️☘️☘️
Darren berjalan kesana kemari dengan cemas karena Mikha dan Troy tak kunjung tiba. Sebelumnya Abigail sempat tidak sadarkan diri, namun tidak lama. Setelah gadis itu sadar, ia tertidur.
Terdengar suara seseorang membuka pintu, disusul dengan Dokter Troy yang berjalan dengan cepat menghampiri Abigail yang berbaring di sofa.
Tanpa bertanya terlebih dahulu, Troy segera memeriksa kondisi Abigail. Mikha terlihat berusaha menahan diri untuk tidak bertanya selama Abigail diperiksa.
Troy menarik nafas dalam-dalam setelah beberapa menit memeriksa tubuh Abigail. "Bagaimana awalnya?" Ia menatap Darren dan Trias secara bergantian.
"Saya baru saja masuk ruangan saat tiba-tiba kulihat Abigail akan jatuh. Jadi saya tidak tahu pasti apa penyebabnya." Jawab Trias.
"Dimana hal itu terjadi? Apakah di sofa ini?" Mikha turut bertanya.
__ADS_1
Trias menggeleng. "Tidak, tepatnya disana." Jawab Trias seraya menunjuk ke arah dinding di dekat pintu.
Semua yang ada di ruangan segera mengikuti arah yang ditunjuk oleh Trias. Mikha menuju tempat tersebut, menatap ke lukisan yang terpasang disana, dan kemudian ia mengamati seluruh ruangan.
"Itu lukisan siapa?" Tiba-tiba Darren menyadari ada yang lain dengan dinding di depan Mikha. Ia terlihat bingung sebab ia merasa tidak pernah membeli sebuah lukisan akhir-akhir ini.
"Oh, itu. Felix yang membawa dan memasangnya. Maaf, aku lupa memberitahumu." Jawab Trias.
Mikha memegang dagunya sambil menatap lukisan itu. Kemudian ia berbalik sejenak melihat Darren dan Trias.
"Suasana di lukisan ini mirip dengan suasana saat kalian terakhir kali bertemu dan bercengkrama di hutan."
Mendengar perkataan Mikha, Trias dan Darren saling berpandangan sejenak kemudian menatap lukisan itu.
"Ya, benar juga." Gumam Darren dengan suara lirih.
Mikha kemudian menatap Dokter Troy. "Apakah dia mengingat sesuatu?"
Troy menatap Abigail dan lukisan itu secara bergantian. "Mungkin saja ia mulai mendapat potongan-potongan dari ingatannya. Oleh sebab itu kepalanya terasa sangat sakit."
Darren mendekati lukisan tersebut dan menurunkannya. "Jika benda ini membuat Abigail tersiksa, lebih baik diturunkan dan disimpan saja."
"Bukankah kau sangat ingin Abigail kembali mengingatmu." Troy menatap Darren dengan heran. "Jadi kenapa dilepas?"
"Aku memang ingin dia mengingatku. Tapi kalau hal itu membuatnya sangat tersiksa, maka biarkan saja seperti ini." Jawab Darren dengan tegas, ia bahkan telihat menyunggingkan senyum meski sangat nampak jika dipaksakan.
Jawaban Darren membuat Mikha mengangkat kedua alisnya. Ia menatap pemuda itu sejenak kemudian tersenyum samar.
Trias tersenyum, ia lalu menghampiri Darren dan mengambil lukisan dari tangan pemuda itu.
"Berikan kepadaku, aku akan menyimpannya."
Darren hanya tersenyum tipis. Ia lalu menatap ke sofa dimana Abigail masih tidur.
Meski sangat lama, aku yakin suatu saat nanti kau akan dapat mengingatku. Namun jika tidak, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku.
...****************...
__ADS_1