
Abigail Li. Ia adalah putri tunggal pasangan Jonas Li dan Bella, juga cucu satu-satunya dari mendiang perdana menteri Luo Li. Perdana Menteri terakhir di negara tersebut sebelum negara mengganti sistem pemerintahan mereka dari sistem parlementer menjadi sistem presidensial.
Saat masih kecil, Abigail melihat dengan mata kepalanya sendiri keluarga dibunuh satu per satu. Dan peristiwa itu mengguncang kejiwaan Abigail. Bahkan gadis kecil itu hampir gila.
"Kakek dan M sengaja memberikan terapi hipnotis pada Abigail. Agar ia melupakan peristiwa kelam tersebut. Bahkan melalui terapi tersebut, kami membentuk memori baru agar ia bisa kembali melanjutkan hidupnya." Kakek Zico menceritakan perihal Abigail pada Darren dan Trias. Sesekali ia menatap Abigail yang sedang tertidur di brankarnya.
"Saat itu, Abigail sering mengalami kejang. Pada waktu malam ia kerap bermimpi buruk dan berteriak memanggil orang tuanya. Tubuh Abigail pun semakin kurus karena tidak mau makan." Kenang Mikha dengan mata berkaca-kaca.
"Kami tidak sanggup melihat kondisi Abigail saat itu. Jadi, kami menerima tawaran seorang psikiater untuk menghipnotis Abigail." Imbuh Rayn.
Darren menyimak cerita masa lalu Abigail dengan seksama. "Kenapa saat peristiwa itu terjadi, anda meninggalkan Abigail sendirian di ruang rahasia itu?"
"Saat itu, hanya aku dan Venus yang menjaga Keluarga Li di dalam ruang kerja. Namun ternyata penyerang membawa banyak sekali pasukan, kami kalah jumlah." Jawab Mikha.
"Kak Mikha dan Venus tidak sadarkan diri selama lima hari akibat banyaknya luka yang mereka terima." Imbuh Liam.
Darren menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasa terhimpit dengan beban yang sangat besar. Sedikitpun, tidak pernah terlintas di benaknya ada peristiwa yang begitu mengerikan dialami oleh dua orang perempuan yang baru saja ia kenal. Bagi Darren, Mikha dan Abigail adalah perempuan tangguh yang berhasil selamat dari pembantaian yang mengerikan.
"Kenapa mereka melenyapkan keluarga Li?" Trias tidak habis pikir dengan perilaku kejam Sang pelaku.
Kakek Zico menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa yang dialami Luo adalah hal menyakitkan yang sulit ia lupakan.
"Dalang di balik peristiwa itu ingin menjadi satu-satunya pemimpin di masa depan. Baginya, Luo adalah hambatan terbesar. Karena Luo dan Jonas memiliki pengaruh besar di kancah politik negara ini."
Hening, tidak ada yang berbicara. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Hingga terdengar lenguhan dari brankar. Dengan cepat Darren berdiri menghampiri Abigail. Mikha yang hendak berdiri segera ditahan oleh Liam.
"Sayang." Darren mengusap peluh di kening Abigail dengan lembut.
"Hmm." Kening gadis itu berkerut. Dan beberapa saat kemudian kelopak matanya mulai terbuka. Ia menatap Darren sejenak kemudian kembali memejamkan matanya. "Ren." Lirihnya lagi.
"Iya sayang. Apa yang bisa kulakukan untukmu?" Suara pemuda itu terdengar sedih, namun ia berusaha terlihat tenang di depan Abigail.
"Aku haus." Jawab Abigail dengan lemah. Bahkan ia kembali memejamkan matanya.
Dengan cepat Darren mengambil sebotol air mineral dengan sebuah sedotan. Membukanya kemudian memberikan pada Abigail. Ia juga membantu gadis itu untuk minum.
__ADS_1
Interaksi keduanya membuat semua yang menyaksikan saling pandang. Bahkan setelah Abigail selesai minum dan kembali berbaring, Darren sempat melabuhkan kecupan hangat di dahi gadis itu.
"Istirahatlah sayang, aku akan menjagamu."
Abigail mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Sepertinya ia bahkan lupa jika di ruangan itu bukan hanya mereka berdua. Hingga bersikap manja kepada Darren.
Saat Darren berbalik ia mendapati keluarganya dan keluarga Abigail sedang menatapnya dengan aneh.
"Dia sudah ingat." Ujarnya begitu saja untuk membela diri.
Mikha, Liam dan Troy terperanjat. "Sejak kapan?" Tanya mereka bersama-sama.
"Akupun tidak tahu sejak kapan. Tapi yang jelas tadi saat kami hanya berdua, dia sudah mengingat hubungan kami."
"Hanya berdua?" Mikha menatap Trias dengan tajam.
"Aku mengambil ponsel yang tertinggal di ruanganku." Trias menjawab dengan sedikit gugup karena mendapat tatapan penuh intimidasi dari Mikha.
"Jadi kau mencium adikku lagi?!" Mode posesif Liam sudah aktif.
"Eee, ituuu." Darren menggaruk kepalanya sambil tersenyum salah tingkah.
"Dia kan kekasihku!" Darren tidak mau kalah.
"Tidak boleh!" Balas Liam tak kalah sengit.
"Jadi Abi akan selamanya sendiri dan menjadi perawan tua?!"
"Ituu!" Liam kalah telak. Pertanyaan Darren membuatnya tidak bisa berkutik dan kembali tenang. Troy yang ada di sampingnya menepuk punggung Liam sambil mengulum senyum.
"Abigail adalah kekasihmu? Tapi saat di rumah kau bilang dia asistenmu." Ungkap Rayn terheran-heran.
"Yaaa..itu." Darren terkejut dengan banyaknya pertanyaan yang ia terima melebihi wawancara dengan wartawan. "Itu karena ingatannya belum kembali. Ia lupa tentang misinya dan perasaan di antara kami. Jadi tidak mungkin aku memperkenalkannya sebagai kekasih, sedangkan dia saja lupa tentang perasaannya kepadaku."
Troy termangu. "Dia mengingat semuanya di hari yang sama." Lirihnya.
__ADS_1
"Apakah saraf di kepalanya akan baik-baik saja?" Mikha menatap Troy dengan cemas.
Troy terlihat ragu. "Lebih baik kita memanggil Dokter ahli saraf."
"Aku bisa mengatur itu." Kakek Zico segera mengeluarkan ponselnya. Sesaat kemudian terdengar ia berbicara dengan seseorang. Semua yang ada di sana menunggu dengan penuh harap.
"Jadi, Abigail adalah orang yang kau kirim, M?" Suara Rayn memecah keheningan.
"Benar Tuan Muda."
Rayn menatap Abigail dengan sedih. Namun ia tidak mempermasalahkan keputusan Mikha.
"Jadi, Papa tahu tentang masalahku?" Darren dan Trias terkejut.
"Tentu saja kami semua tahu. Dasar bocah tengik." Kakek Zico yang sudah selesai menelepon menyela putranya untuk menjawab pertanyaan Sang cucu.
"Apakah kau dan Trias berpikir akan bisa menyembunyikan semuanya dari kami?" Kakek Zico menatap kedua pemuda itu bergantian. "Apakah kalian pikir kami akan melepas kalian begitu saja?"
"Maaf Kakek." Darren merasa bersalah.
"Pantas saja Abigail sempat bertanya apakah keluarga Darren tahu mengenai teror yang dialami Darren." Gumam Trias setelah teringat dengan pertanyaan Abigail.
"Dia bilang, Zico Petroleum sering bekerja sama dengan TLH." Imbuhnya lagi.
Kakek duduk kembali ditempatnya sambil menatap Trias. "Tentu saja. Sejak tahu Mikha membuka usaha keamanan, kami langsung bekerja sama. Apalagi kami sudah saling mengenal." Sahut Kakek Zico.
Darren membulatkan matanya. "Jadi pemimpin agensi adalah Miss Mikha? Bukan pria bertubuh gemuk dengan kepala hampir botak dan wajah berminyak?"
Semua mata tertuju pada Darren. Kalimat pemuda itu menggelitik telinga.
"Mengapa kau bisa punya pemikiran seperti itu?" Troy tersenyum geli.
"Karena saat itu Abigail berpenampilan sangat jelek. Jadi aku pikir…yahhhh begitulah." Darren enggan meneruskan kalimatnya sendiri.
"Anda bisa melihat Tuan, saya tidak gemuk dan juga tidak hampir botak." Mikha menahan senyumnya.
__ADS_1
Darren menarik nafasnya dalam-dalam. "Banyak sekali kebenaran yang kudengar hari ini. Untung saja aku tidak memiliki riwayat sakit jantung."
...****************...