ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 47. Hangatnya Keluarga Yang Tak Utuh


__ADS_3

Abigail terkagum-kagum dengan lukisan yang terdapat di kubah perpustakaan. Ditambah lagi dengan banyaknya buku yang mengisi setiap rak di sepanjang dinding juga bagian tengah ruangan. Di berbagai tempat tersedia kursi dan sofa dalam berbagai macam bentuk yang bisa digunakan saat membaca.


Mereka melangkah menyeberangi perpustakaan dan tiba di sisi berlawanan dari pintu. Paman kepala rumah tangga menggeser pintu kaca dan membawa mereka ke serambi. Rupanya, selain di dalam ruangan, terdapat juga tempat duduk di luar jika ada yang ingin membaca di area yang lebih terbuka.


Dari posisinya berdiri, Abigail melihat dua orang pria beda usia sedang duduk membaca. Salah satunya lebih tua dari yang lain. Abigail menerka pasti pria tersebut yang dipanggil Kakek oleh Darren. Wajah pria yang lebih muda terlihat sama dengan Darren. Jika melihat keduanya secara bersamaan, seakan melihat Darren versi muda dan juga Darren versi tua.


Beberapa pelayan tampak berbaris dengan rapi, tidak jauh dari kedua pria tersebut. Dan Sang kepala rumah tangga segera bergabung di barisan tersebut.


"Selamat siang Kakek, Papa." Darren memberi salam, nada suaranya pun terdengar senang. Berbeda jauh dengan saat mereka datang.


"Kalian sudah tiba rupanya. Ayo duduk." Pria yang lebih muda berdiri dan memeluk Darren. "Putra Papa." Ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung Darren.


Setelah itu Darren menghampiri pria lain yang lebih tua dan juga memeluknya.


"Kakek pikir kau sudah melupakan Kakek." Ucap pria tersebut sambil menepuk punggung Darren.


"Tentu saja tidak." Jawab Darren setelah mengurai pelukannya.


"Apa kabarmu Trias?" Papa Darren menjabat tangan pemuda itu.


"Kabar baik paman."


Pertanyaan dari Papa Darren kepada Trias membuat mata Sang kakek ikut menatap Sang manajer kemudian perhatiannya tertuju pada Abigail.


"Apakah gadis cantik disisi Trias adalah gadis yang akan memberiku cicit, Darren?" Kakek bertanya pada Darren dengan suara yang cukup besar. Dan pertanyaannya sukses membuat semua orang disana terperangah.


Mata Abigail membulat sempurna, ia mengerjap beberapa kali dan menatap Darren seolah meminta penjelasan. Tapi yang ditatap hanya diam mengulum senyum tanpa berniat menjelaskan apapun.


"Kemarilah cantik." Kakek mengulurkan tangannya.


Meski ragu Abigail menghampiri Kakek dan menjabat tangan pria tua itu.


"Selamat siang Tuan, saya Abigail, saya ada…..


"Aku Zico Zee, panggil saja aku Kakek Zico. Namamu sangat cantik, cucu menantu." Kakek Zico menepuk-nepuk punggung tangan Abigail sambil tersenyum senang.

__ADS_1


"Tu…tuan, eh Kakek. Sa…saya hanya asisten Tuan Darren."


"Apakah zaman sekarang penyanyi menjadikan kekasihnya sebagai asisten?" Kedua alis Kakek Zico bertaut, dan sesaat kemudian wajahnya terlihat marah menatap pada Darren. "Cucu kurang ajar, aku tidak mengajarimu untuk memperlakukan pujaan hatimu dengan tidak hormat. Perlakukan mereka layaknya seorang ratu."


"Oh ya ampun." Abigail mendadak pusing. Para pelayan yang ada disana menunduk menahan tawa.


"Ayolah ayah, berhenti menggoda Abigail." Papa Darren melepaskan tangan ayahnya dari Abigail. "Halo, aku Rayn Zee. Senang berkenalan denganmu. Apakah Putraku sangat merepotkanmu? Maaf jika dia seperti itu."


"Ah it..itu." Abigail terkejut, ia tidak menyangka akan sambutan dari orang tua Darren.


Abigail menarik nafas dan tersenyum. "Senang bertemu dengan anda Tuan Rayn. Dan Tuan Darren tidak merepotkan seperti yang anda pikirkan."


"Panggil saja aku paman, seperti Trias. Tapi jika kau memanggilku Papa, akan lebih bagus lagi." Rayn menepuk tangan Abigail dan kembali ke tempat duduknya.


Abigail memaksakan seulas senyuman. Ternyata sama saja dengan Kakek, gumamnya dalam hati.


"Duduklah disini, Nak." Kakek Zico menepuk tempat duduk yang ada di sampingnya.


Abigail mengikuti permintaan Zico, tepat disaat yang bersamaan Sarah muncul dan bergabung dengan mereka. Wanita itu menatap Abigail dengan pandangan yang merendahkan. Namun begitu Rayn dan Zico melihatnya, ia segera mengubah wajah dan tersenyum ramah.


Sarah yang baru saja hendak duduk di samping Rayn, suaminya, mengurungkan niat. Ia tersenyum dan mengangguk. "Baik Ayah."


Dan saat ia membelakangi Tuan Besar Zee, raut wajahnya berubah dipenuhi dengan kemarahan.


Rayn menatap kepergian Sarah dengan wajah lelah. Sepuluh tahun pernikahan, Ayahnya tidak pernah menerima Sarah. Dan sampai saat ini, Rayn tidak pernah tahu apa alasan Ayah Zico. Bahkan Sarah pun beberapa kali terlihat menatap Zico dengan pandangan meremehkan.


Rayn menarik nafas dalam-dalam berusaha menghempaskan beban di hati. Namun ketika ia melihat Ayahnya berbincang dan tertawa bersama Abigail, wajahnya kembali cerah.


"Ada yang ingin kau tanyakan, Nak?" Kakek menatap Abigail dengan penuh sayang.


"Oh iya, ada. Mengapa marga Tuan Darren adalah Wang? Sedangkan Kakek dan Paman bermarga Zee." Abigail memberanikan diri untuk bertanya.


"Wang adalah marga dari mendiang ibu kandung Darren. Ia sangat menyayangi ibunya hingga memakai marga itu sebagai nama panggung. Dan karena dari awal aku tidak suka jika Darren menjadi penyanyi. Jadi aku melarangnya membuka informasi tentang kami." Kakek Zico menjelaskan tanpa beban. Bahkan ia melirik sebal pada cucunya ketika mengenang awal karir Darren.


"Jadi benar, kau bukan kekasih Darren?" Kakek tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


Abigail tersenyum tipis mendengar pertanyaan Kakek. "Bukan Kakek. Saya hanya asisten Tuan Darren."


"Sayang sekali. Aku menginginkanmu menjadi cucu menantuku. Kalau dia menikahi gadis lain, aku akan mencoret nama Darren dari warisan keluarga."


Abigail tidak dapat menahan diri lagi, kali ini ia tertawa kecil dan melirik Darren. "Kakek bahkan tidak mengenalku."


"Kakek tidak…….."


"Ayah, jangan memaksa Abigail. Mungkin saja dia sudah memiliki kekasih." Rayn menghentikan Ayahnya yang sudah mulai kembali menggoda Abigail.


"Ckkkk!" Kakek Zico berdecak kesal. "Selalu saja mengganggu kesenanganku."


Gerutuan Kakek Zico mengundang tawa semua yang ada disana. Kecuali para pelayan yang terpaksa menahan tawa dan harus menunduk akibat lirikan tajam Sang kepala rumah tangga.


Abigail merasakan desiran hangat di dalam dadanya. Tawa bahagia Zico dan Rayn menular dan membuatnya seperti merasakan hangatnya keluarga meski tidak utuh. Ia terdiam sejenak dan berfikir, jika orang tua dan kakeknya masih hidup. Mungkin akan seperti ini rasanya saat bercengkrama.


"Abigail, dimana orang tuamu?" Tanya Rayn sambil menyesap teh.


"Kedua orang tua saya sudah tiada paman." Jawab Abigail disertai senyuman.


Rayn terkejut dan segera meletakkan cangkirnya. "Tolong maafkan pertanyaan orang tua ini, Abigail."


"Tidak apa-apa paman. Lagipula kejadiannya sudah sangat lama. Saya sudah terbiasa dengan pertanyaan itu dan saya baik-baik saja."


"Jadi, kalau Kakek ingin melamarmu untuk Darren, Kakek harus menemui siapa?" Celetuk Kakek Zico.


"Kakekkkkk."


"Ayaaahhhh."


Pekik Rayn, Trias dan Darren bersamaan.


"Apa?" Kakek menatap ketiga orang itu tanpa merasa bersalah. "Aku hanya ingin segera menimang cicit sebelum mati." Imbuhnya tanpa beban.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2