
Darren menghempaskan diri ke sofa dan memejamkan mata. "Abigail, apa jadwalku hari ini?"
Abigail membuka tab dan membacakan jadwal Darren.
"Pukul 10.00, bertemu sutradara untuk video musik dari mini album. Pukul 13.00, pemotretan untuk majalah forbes. Pukul 16.30, bertemu dengan orkes simfoni untuk lagu baru. Pukul 19.30, makan malam dengan model dari The Lighthouse. Itu jadwal hari ini Tuan."
Abigail menatap Darren yang sedang memejamkan mata. Ia menunggu respon dari pemuda itu.
Namun karena Darren tak kunjung membuka mata, Abigail pun menghampiri Trias yang sedang membaca koran.
"Kak." Abigail menunjuk Darren dengan wajahnya.
Trias mengikuti arah yang diberikan Abigail, ia mengerti apa maksud gadis itu.
"Berikan waktu, biar dia tidur dulu. Lagipula masih ada waktu satu jam untuk jadwal pertamanya."
"Baik kak." Abigail meletakkan tab dan duduk di seberang Trias. "Kalau boleh tahu, siapa model yang akan makan malam bersama Tuan Darren?"
Trias menurunkan korannya lagi. "Kalau tidak salah namanya Raline dan Liam. Mengenal mereka?"
Abigail hanya tersenyum canggung mendengar pertanyaan Trias. Tidak mungkin Abigail mengatakan bahwa ia mengenal mereka berdua.
"O iya, aku lupa. Mengenai makan malam itu, kau juga harus ikut." Trias menambahkan.
Abigail terkejut. "Sa..saya? Ke..kenapa?"
"Kau kan asistenku, sudah selayaknya mereka mengenalmu." suara Darren membuat Abigail dan Trias kompak menoleh. Ternyata pemuda itu sudah duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Hhhhh, terima kasih sudah memberiku waktu untuk tidur. Rasanya segar sekali." ucap Darren lagi sambil beranjak menuju kamar mandi.
"Abigail, selama kami bertemu dengan sutradara, kau tetaplah disini. Jika ingin pergi, kunci saja pintunya. Tapi jangan meninggalkan gedung ini."
"Iya kak, aku mengerti." Abigail mengangguk patuh.
...☘️☘️☘️...
Abigail berada di kafetaria, entah kenapa ia sangat ingin menikmati jus buah yang manis dan dingin. Meski menjadi tontonan dan sesekali terdengar celetukan yang menghina dirinya, Abigail tetap berakting dengan memasang wajah takut-takut dan sesekali mengangkat kacamatanya.
Begitu pesanannya siap, ia segera mengambil tempat duduk di pinggir jendela. Abigail menikmati jus di tangannya dengan perasaan puas. Rasa asam manis nan menyegarkan dari jus stroberi membuat ia merasa kembali bersemangat.
Ketika hampir mengosongkan gelasnya, tiba-tiba Abigail merasa ada cairan yang membasahi kepalanya. Ia juga mendengar gelak tawa beberapa orang yang ada di belakangnya. Perlahan Abigail mulai merasakan air mengalir ke wajah dan membasahi bajunya. Gadis itu hanya diam dengan rahang yang mengeras.
Seorang wanita dari arah belakang bergerak ke sisi kanan Abigail. Di tangannya ada sebotol air mineral berkapasitas satu liter yang dengan sengaja ia gunakan untuk menyiram Abigail.
"Kau tidak pantas berada disini. Penampilanmu menyakiti hati kami. Kenapa tidak menjadi pemungut sampah saja?" ucap wanita itu tanpa menghentikan aksinya. Bahkan ucapannya itu disambut gelak tawa rekan-rekannya. Abigail melirik sejenak untuk mengingat wajah orang yang menindasnya.
Tindakan Mia mengundang perhatian semua pengunjung dan pelayan kafetaria. Ada yang tertawa, namun banyak juga yang tidak menyukai aksi wanita tersebut. Namun mereka tidak berani menghentikan aksinya. Karena wanita bernama Mia itu tak segan-segan menggunakan kekerasan dalam menindas orang yang tidak ia sukai.
Setelah air di dalam botol habis, ia mendorong tubuh Abigail dengan sangat keras.
"Enyahlah dari sini, gadis dungu!!" umpatnya kemudian mengajak rekan-rekannya pergi.
Selepas kepergian wanita itu, Abigail melepas kacamata dan mengusap wajahnya yang basah. Beberapa orang datang dan memberikan tisu.
"Maaf kami tidak berani membantu. Karena Mia tak segan-segan menggunakan kekerasan." ujar seorang gadis dan didukung oleh yang lainnya.
"Ti..tidak ap..apa-apa. Terima kasih banyak." jawab Abigail yang masih lancar bersandiwara meski dadanya terbakar emosi. "Ak..aku permisi."
Abigail beranjak dari sana dan segera menuju ruang Darren. Ia hendak membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Saat sedang membuka pintu, suara Trias yang muncul dari belakangnya membuat Abigail menjengit.
"Abigail!!! Kenapa bisa basah begini?!" Trias menatap gadis itu dengan wajah cemas. "Siapa yang melakukannya?"
"Emmm." Abigail ragu menjawab.
"Sudahlah, ayo ganti bajumu. Kau membawa pakaian lain?" Trias mengambil alih untuk membuka pintu.
"Ba..bawa kak."
"Pakai saja kamar mandi Darren."
Abigail mengangguk dan segera membawa tasnya ke kamar mandi karena ia mulai merasa kedinginan.
Setelah berganti baju, Abigail mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang tersedia disana. Beruntung peralatan Darren cukup lengkap.
"Kau menyakiti orang yang salah Mia." Abigail menyeringai. Ia kembali merapikan peralatan yang digunakan dan juga bajunya yang basah. "Aku tak akan melepaskanmu."
"Abigail! Kau baik-baik saja?" tiba-tiba terdengar suara Trias dari balik pintu.
"I..iya kak." Abigail bergegas keluar dari sana.
"Apa kau demam?" tanpa diduga, Trias meletakkan punggung tangannya di dahi Abigail.
"Ak..aku baik kak." jawab Abigail sambil menjauhkan kepalanya.
Trias menghela nafas lega. "Syukurlah. Maaf aku tidak bisa berlama-lama. Cepat habiskan teh itu dan istirahatlah." ujarnya sambil menunjuk segelas teh yang ia letakkan di meja.
__ADS_1
"Terima kasih kak. Tapi kenapa kakak kembali?"
"Ada berkas yang lupa aku bawa. Oleh sebab itu aku datang untuk mengambilnya. Apa kau ingin ikut?" Trias merasa bersalah sudah meninggalkan Abigail.
Abigail menggeleng. "Tidak perlu kak."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Dan aku rasa Tuan Darren lebih membutuhkan kakak disana."
Trias menarik nafas dalam-dalam. "Baiklah kalau begitu." Trias menepuk bahu Abigail sebelum ia pergi.
Abigail menyeruput teh nya, ia memejamkan mata merasakan kehangatan menjalar di tenggorokannya. Kemudian bayangan Mia muncul saat ia terpejam. Membuat Abigail segera meminum teh dengan cepat dan keluar untuk mencari keberadaan Mia.
Abigail turun ke lantai dua setelah mendapat informasi bahwa Mia adalah asisten penata rias dari tim penyanyi wanita, Sarah.
Keberuntungan berpihak padanya, begitu ia keluar dari lift tampak Mia dan rekan-rekannya yang berjumlah tiga orang, masuk ke dalam toilet wanita. Abigail mengambil langkah lebar untuk menyusul wanita itu.
Dengan sekali sentak, pintu toilet terbuka. Mia dan rekan-rekannya yang sedang berkaca memperbaiki riasan pun terkejut.
"Wah, lihat siapa yang datang." sambutan sinis penuh permusuhan dilontarkan Mia.
Abigail tak merespon, ia bahkan mengunci pintu. Abigail melepas kacamatanya dan meletakkan benda itu di wastafel. Terlihat Mia mengangkat kedua alisnya dan tertawa meremehkan.
"Ingin segera menjemput ajal?" Mia bersedekap.
"Tidak, aku ingin memberimu pelajaran." jawab Abigail dengan tenang.
Senyuman Mia hilang, berganti dengan kemarahan.
"Pegang dia!" perintahnya pada teman-temannya.
Abigail bersiap, ia menepis tangan-tangan lawan yang hendak memegangnya. Namun akhirnya ia pura-pura lemah dan berhasil di pegang oleh rekan-rekan Mia.
Mia menyeringai, ia melangkah mendekati Abigail yang berusaha melepaskan diri.
"Kau gadis jelek yang bodoh!" makinya dengan tangan kanan yang terulur membidik ulu hati Abigail.
Dengan cepat Abigail mengangkat kaki kanannya dan menendang tangan Mia. Membuat wanita itu menjerit kesakitan memegangi lengan yang terkena tendangan Abigail.
"Arrggghhh!!!!! Dasar ja****!!!" Mia berusaha menegakkan tubuh dibantu seorang temannya. Kemudian kembali maju hendak menampar Abigail.
Abigail mengangkat kedua tangannya ke atas dan dengan sekuat tenaga menghempaskan tangannya kembali. Membuat cengkraman pada kedua tangannya melemah.
Kemudian ia memutar tubuh dengan cepat sambil sedikit melompat Abigail menyarangkan tendangan kaki kanan di dada Mia. Wanita itu tercekat saat merasakan tekanan besar pada dadanya. Tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang hingga menabrak dinding dengan sangat kencang.
Abigail menyeringai, ia ingin sedikit bermain. Setiap pukulan Mia yang membabi buta ditangkis dengan mudah oleh Abigail. Melihat itu Mia semakin terbakar emosi. Hingga kemudian Abigail menyarangkan tinjunya ke pipi kanan Mia.
"Akhhh!!!" Mia kembali tersungkur ke lantai dan kemudian tak sadarkan diri.
Ketiga rekan Mia menjerit, mereka mengerumuni Mia dan memanggil-manggil wanita itu.
"Lihat!!! Kau sudah menganiaya Mia!!!" hardik salah satu teman Mia.
"Lalu? Yang kalian lakukan kepadaku buka penindasan? Bukan penganiayaan?" Abigail menatap mereka dengan tajam.
Pertanyaan Abigail membuat mereka terdiam. "Jangan kalian pikir karena aku lemah, diam dan berpenampilan aneh jadi kalian seenaknya bisa menindasku. Bodoh sekali kalian hanya menilai orang dari luarnya saja." Abigail tersenyum sinis.
Abigail berbalik akan keluar, namun saat teringat sesuatu ia kembali membalikkan tubuh.
"Jika kalian berani menceritakan ini ke orang lain, aku akan membunuh kalian. Jika kalian berani menindasku atau staf lain lagi, aku akan membalas puluhan kali lipat!" wajah Abigail dan tutur katanya yang dingin menimbulkan aura menakutkan di sekitar rekan-rekan Mia.
"Mengerti?!"
"Ka…kami mengerti!!!" sahut rekan-rekan Mia ketakutan.
Abigail memakai kacamatanya lagi kemudian keluar dari sana.
...☘️☘️☘️...
Abigail sedang berbincang dengan Roki ketika Darren dan Trias kembali.
"Si tampan sudah kembali rupanya."
Sambutan Roki membuat Darren memutar bola matanya.
"Ada apa?" tanya Darren setelah ia duduk.
Roki memukul keningnya. "Tentu saja membawakan baju untuk pemotretan nanti."
"Maaf aku lupa." Darren memijat pangkal hidungnya. "Dimana baju-baju itu?"
"Saya letakkan di ruang istirahat anda Tuan." jawab Abigail.
Darren mengangguk. "Terima kasih Abi." ia segera beranjak ke ruang istirahatnya.
"Eh?" Abigail terkejut mendengar cara Darren memanggilnya. Abi???
__ADS_1
Roki dan Trias saling pandang namun tak mengatakan apa-apa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Trias seraya mendekati Abigail.
"Iy…iya kak." Abigail masih terkejut dengan ulah Darren tadi.
"Memangnya dia kenapa? Dari tadi kami berbincang baik-baik saja." Roki menatap heran.
"Dia datang dengan keadaan basah." jawab Trias lagi.
"Oh masalah itu." Roki mengingat sesuatu. " Tadi aku dengar Zai cerita soal kejadian di kafe…..mmpp."
Roki tak dapat melanjutkan ucapannya karena Abigail membekap mulutnya. Pria kurang satu senti itu melotot tak terima.
"Abigail." Trias menatap Abigail dengan pandangan menyelidik.
Abigail melepas tangannya dari mulut Roki, entah kenapa aura Trias mirip dengan kakak Mikha kalau sedang marah.
"Tidak sopan sama orang tua." gerutu Roki sambil memukul tangan Abigail.
"Maaf Miss." ucap Abigail dengan wajah penuh penyesalan.
"Cerita….."
"Bagaimana penampilanku?" ucapan Trias terhenti saat Darren keluar dan meminta pendapat mereka.
"Bagus." jawab Trias.
Sedangkan Roki ia menatap Darren dengan mata berbinar-binar. "Huahhhh…pangeranku. Tampan seperti biasanya."
Abigail menutup mulut agar tawanya tak terdengar oleh Roki.
"Kalau begitu aku tak perlu mencoba baju yang lain." ujar Darren kemudian kembali ke kamarnya.
Saat Abigail, Trias dan Roki menunggu Darren keluar. Tiba-tiba Rosalin membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Aduh, perutku sakit!" rintih Roki tiba-tiba dan pergi begitu saja membuat Abigail bingung. Bahkan saat melewati Rosalin, dapat Abigail lihat Roki sengaja menghentakkan salah satu kakinya.
Rosalin tak peduli. Ia meletakkan wadah makanan di meja kemudian duduk.
"Dimana Darren?"
"Sedang ganti baju." Trias berjalan menjauhi Rosalin dan menuju meja kerja disusul Abigail.
Tak lama kemudian Darren keluar, ia sudah mengenakan kaos oblong.
"Darren." Rosalin terlihat ceria.
"Mau apa lagi?!" Darren enggan menghampiri Rosalin. Ia masih berdiri di depan pintu kamarnya
"Aku membawakan makan siang." jawab Rosalin sambil mengangkat wadah yang ia bawa. "Makanlah dulu." Rosalin masih memasang senyum terbaiknya meski wajah Darren terlihat dingin tanpa ekspresi.
"Abi, ambil wadah itu."
Abigail mengangguk dan mengambil wadah bekal itu dari Rosalin. Dengan ketus Rosalin menyerahkan wadah tersebut.
Abigail membawa wadah tadi pada Darren dan menyerahkannya. Namun Darren malah bersedekap sambil menatap Abigail.
"Makan dan habiskan."
"Apa?" pekik Abigail dan Rosalin.
"Makan dan habiskan atau gajimu ku potong 20%." ancam Darren pada Abigail.
"Tapi…."
"50%."
"Ba..baik. Saya akan makan." Abigail segera duduk di depan meja yang sedang dipakai Trias untuk bekerja.
Trias tersenyum tipis melihat Abigail makan di hadapannya. Kemudian ia melirik Rosalin, terlihat wajah wanita itu berubah merah karena marah. Ia bahkan terang-terangan menatap Abigail dengan nyalang.
Dasar asisten culun! Dungu! umpat Rosalin dalam hatinya.
...☘️☘️☘️...
JANGAN LUPA LIKE DAN HADIAHNYA YA❤️
TERIMA KASIH❤️
......................
HAI KAK
Selagi menunggu Asisten Culun Up lagi, mampir ke cerita temanku yuk.
COMPLICATED MISSION by AdindaRa
__ADS_1