ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 57. Musuh Terbesar Abigail


__ADS_3

Hati Abigail bergejolak, ia dikuasai dengan amarah. Ia merasa emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Matanya terpejam erat, dan nafasnya pun mulai memburu. Rahang gadis itu mengatup dengan kuat, bahkan Darren dapat mendengar gigi Abigail yang bergemeletuk.


Ingatan tentang peristiwa nahas itu datang silih berganti di benaknya. Tangisan Mama saat Robert mengeksekusi Sang Kakek. Jeritan Papa saat melihat Mama meregang nyawa. Atau tatapan kesedihan Sang Papa sesaat sebelum peluru Robert menghancurkan tempurung kepalanya.


"Kalian psikopat." Lirih Abigail. Air matanya pun tumpah.


Melihat Abigail menangis, Sarah tertawa terpingkal-pingkal. "Aku bahagia sekali melihatmu menangis seperti ini. Lanjutkan, dan mulailah memohon untuk nyawamu." Titah Sarah dengan angkuhnya.


Sayang sekali, Sarah salah menilai. Air mata Abigail bukanlah tangisan putus asa ataupun ketakutan. Melainkan amarah yang tidak tersalurkan. Jika ia menuruti kehendaknya saat ini, setelah keduanya mengakui kejahatan mereka Abigail akan segera membunuh keduanya.


Siapapun tidak akan terima jika keluarganya disakiti. Mereka pasti akan menjadi garda yang paling depan untuk membela ataupun membalaskan dendam. Akan tetapi jika Abigail bertindak demikian, maka tidak ada bedanya ia dengan para penjahat yang kini sedang tertawa itu.


Kini Abigail sedang bertarung melawan musuh terbesarnya. Bukan Robert ataupun Sarah. Melainkan dirinya sendiri.


"Aaaaaaaaaaa Arrrggghhhhh!!!!" Abigail berteriak frustasi. Darren menatap tunangannya itu dengan wajah tegang. Ia hanya bisa berdoa Abigail bisa melawan hasratnya untuk membunuh.


Hawa dingin yang terasa menakutkan menguar dari tubuh Abigail. Dan itu disadari benar oleh Robert. Tubuhnya meremang melihat Abigail yang tengah bernapas dengan terengah-engah.


"Hentikan." Robert memegang Sarah dan meminta wanita berhenti.


"Apa?" Sarah tidak mengerti.


"Berhenti tertawa!!!" Hardik Robert dan menatap tajam pada Sarah. Ia kemudian kembali fokus menatap Abigail.


Sarah berdecak. "Mengapa kau tegang sekali? Gadis itu sedang terikat dan ketakutan karena tahu akan segera mati."


Robert tidak peduli dengan apapun yang kini diucapkan Sarah. Tangannya segera mengambil pistol yang ia rebut dari Sarah. Kemudian mengacungkannya ke kepala Abigail.


"Jika anda membunuhnya maka aku akan membunuh anda!" Wanita berpakaian serba hitam yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara.


"Kontraknya cukup jelas!" Imbuh wanita itu lagi.


Robert menatap wanita itu dengan putus asa. "Kalau begitu bunuh dia sekarang juga! Sebelum……"


"Sebelum aku membunuhmu?" Suara Abigail membuat Darren bergidik ngeri. Tidak lagi terdengar manis dan merdu di telinganya.


Suara Abigail yang dalam dan dingin tanpa emosi. Menebar teror tersendiri di ruangan tersebut. Ia seakan menjelma menjadi manusia yang haus darah. Beberapa pria yang berdiri di belakang mereka mundur selangkah dan saling pandang.


Abigail yang sempat menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Nafas Darren tercekat, dan wanita berpakaian serba hitam itu pun menutup mulut dengan kedua tangannya. Mereka tahu, Abigail bisa meledak kapan saja. Gadis itu bagaikan bom waktu.

__ADS_1


"CEPAT BUNUH DIA!!!" Robert menjerit frustasi. Ia sadar sedang berhadapan dengan malaikat mautnya.


"Kau tidak layak menjadi pemimpin negeri ini." Abigail menatap lurus ke dalam manik mata Robert.


Robert mengepalkan kedua tangannya. Ini adalah ketiga kalinya ia mendengar kalimat hinaan itu. Yang pertama dan kedua dilontarkan oleh Luo Li, dan kali ini diulangi oleh cucunya.


"Aku layak." Ucap Robert dengan penuh penekanan. "Bahkan aku telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat."


Abigail tersenyum sinis. "Dalam mimpimu."


Sarah terpancing, ia mendekat dengan tangan terangkat. "Gadis sialan!"


Namun belum sempat tangannya mengenai kulit Abigail, Robert menahan Sarah dan menarik wanita itu agar mundur. Sarah melayangkan tatapan kesal dan Robert menggeleng.


"Jangan masuk ke dalam permainannya."


Sarah menatap Robert dengan tatapan menghina. "Dia sudah tidak berdaya. Apa yang kau takutkan?!" Nada bicara Sarah terdengar sangat kesal.


Darren tersenyum sinis, ia melihat betapa bodohnya wanita yang dinikahi Papanya.


"Kau berselingkuh dengan kerbau dungu, Tuan." Senyuman mengejek terlihat jelas di bibir Abigail.


Dengan cepat ia meronta dan melesat menyerang Abigail. Ketika tubuh wanita itu berada dalam jangkauan Abigail, segera saja kaki kanannya terangkat mengincar leher Sarah. Sayangnya Abigail harus menelan kekecewaan saat sekelebat bayangan hitam menyingkirkan Sarah dengan begitu cepat.


"Anda wanita terbodoh yang pernah saya temui!" Ternyata wanita berpakaian serba hitam itulah yang menyelamatkan Sarah dari Abigail.


"SARAH!!!" Wajah Robert merah padam menandakan ia benar-benar emosi. "Kau pikir kau menghadapi gadis lemah?! Kemana otakmu pergi?!"


Sarah yang baru saja mengumpulkan kesadaran memucat. Tubuhnya bergetar saat mengingat bagaimana kaki Abigail terangkat lurus mengincar lehernya.


"Bu…bunuh dia!!!" Sarah mendorong tubuh wanita berbaju hitam. "Cep….akkhhhh!!!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Sarah.


Wanita itu menatap Robert dengan nyalang.


"Yang harus mati disini adalah mereka, bukan kau! Jadi berhenti memperkeruh suasana!"


Melihat kemelut di antara penyandera, Darren mencondongkan kepalanya ke arah Abigail.


"Bi, sayang." Suara Darren yang lembut terdengar seperti harapan agar kekasihnya bisa menenangkan diri. "Abi." Sekali lagi Darren memanggil karena gadis itu tidak bereaksi.

__ADS_1


Perlahan Abigail menggerakkan kepalanya menoleh menghadap Darren.


"Aku menyayangimu." Tatapan Darren yang dalam dan teduh seakan menghipnotis Abigail.


Gadis itu mengerjap berulang kali, lalu menoleh menghadap ke depan dan mulai menarik nafas dalam-dalam serta menghembuskannya perlahan.


Dengan sabar Darren menunggu, ia terus menatap Abigail sambil sesekali melihat Robert dan Sarah yang masih berdebat.


"Maaf sudah membuatmu takut." Suara Abigail yang berbisik dan terdengar menyesal membuat Darren tersenyum.


"Kau benar-benar menjungkirbalikkan duniaku." Darren menatap langit-langit ruang penyimpanan anggur itu.


☘️☘️☘️


Di sebuah ruangan Mikha menatap layar dengan tegang. Sedangkan Liam berjalan mondar mandir dengan tangan saling meremas.


"Kenapa Venus belum membawa mereka keluar dari sana?" Liam benar-benar gelisah.


Ruang penyimpanan anggur dirancang sedemikian rupa oleh manajemen hotel agar tidak ada jaringan komunikasi yang bisa masuk ke dalam maupun keluar. Oleh sebab itu, semua alat penyadap yang digunakan Abigail dan Darren tidak berfungsi.


"Semoga Darren bisa menenangkan Abigail." Lirih Mikha lagi. "Aku memang menyiapkan Ai untuk melawan teror Robert, tapi bukan untuk menjadi pembalas dendam dan mengikuti emosinya."


Sementara itu, di ballroom Rayn dan Zico tengah menemui tamu-tamu yang sedang berpamitan. Mereka mencari pasangan kekasih yang baru saja bertunangan. Akan tetap Rayn mengatakan kalau Abigail sedang ada urusan mendadak dan Darren sedang menemaninya.


Meskipun terlihat kecewa, mereka berusaha untuk mengerti. Mereka berharap dapat segera bertemu pasangan tersebut.


Setelah semua tamu pulang, keduanya segera menyusul Mikha dan Liam. Sedangkan Runa dan Trias bertugas untuk menjaga Bibi Lan yang tidak tahu perihal penculikan Abigail.


"Penculik itu pasti bekerja sama dengan orang di dalam keluarga." Gumam Runa.


"Penculik atau memberi diri diculik?" Trias menatap Runa dengan jenaka.


Runa terkekeh geli. "Benar, aku lupa. Memberi diri diculik." Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. "Semoga alat yang baru kubuat bisa berfungsi dengan benar."


Trias mengusap kepala Runa dengan sayang. "Aku sangat terkejut ketika tahu kamu tim IT mereka. Namun hal itulah yang membuatku semakin kagum padamu."


Wajah Runa memerah, ia menunduk malu. "Kak Trias berlebihan."


Pemuda itu hanya tertawa kecil dan menepuk-nepuk tangan Runa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2