
Abigail mengerjap, ia merasakan nyeri di bagian kepalanya. Gadis itu kembali memejamkan matanya untuk beberapa saat. Tak lama kemudian terdengar pintu dibuka, membuat Abigail pun memaksa membuka matanya untuk melihat siapa yang datang.
"Kau sudah sadar rupanya." Mikha tersenyum dan segera duduk di kursi samping brankar Abigail. "Kalian beruntung tidak mengalami luka yang parah. Sepertinya hanya kamu yang mengalami benturan di kepala."
Abigail tersenyum lemah. "Tapi tidak parah kan?"
Mikha menggeleng pelan. "Tidak, tidak terlalu parah untuk ukuranmu."
"Baguslah." Abigail terdengar lega. "Aku masih mengantuk kak." Ucapnya lagi.
"Sepertinya itu efek obat yang diberikan Troy. Istirahatlah." Mikha mengusap kepala Abigail dengan lembut. Gadis itu kembali memejamkan mata dan terlelap.
☘️☘️☘️
Abigail duduk di tepi brankar setelah merasa bosan hanya berbaring. Ia bahkan meminta laporan yang sudah ia buat mengenai misinya menjaga Darren. Sesekali ia memijat pelipisnya untuk meredakan nyeri akibat benturan di kepalanya.
Suara pintu di buka membuatnya mengalihkan perhatian dari map di tangannya. Melihat Mikha yang datang sambil membawa sepiring buah di tangan, ia segera meletakkan map tersebut.
"Kenapa harus memaksakan diri? Kamu bisa kembali bekerja setelah keluar dari sini."
Abigail tersenyum dan menerima buah potong yang dibawa Mikha. Ia tidak menanggapi ucapan Sang Kakak, Abigail sibuk menikmati buah-buahan segar yang Mikha siapkan untuknya.
Mikha menggeleng pelan melihat sudut bibir Abigail yang belepotan. Ia kemudian mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibir Sang Adik.
"Terima kasih kak." Abigail hanya meringis.
Suara ketukan di pintu membuat keduanya menatap dengan penasaran.
"Masuk!" Seru Mikha mempersilahkan.
Pintu terbuka, terlihat Trias dan Darren muncul dengan beberapa plester dan memar di beberapa bagian tubuh.
Saat bertatapan dengan Darren, tubuh Abigail menegang. Ia mengalihkan wajahnya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.
"Selamat pagi semuanya. Hai Abigail. Bagaimana kondisimu?" Trias menyapa.
"Selamat pagi. Kondisiku sudah lebih baik kak." Abigail mengamati Trias dan Darren secara bergantian. "Bagaimana dengan kondisi kalian berdua?"
"Kami cukup beruntung karena hanya mengalami luka lecet. Bukankah itu sebuah keajaiban?" Trias tersenyum lebar.
"Benar-benar sebuah keajaiban." Mikha menimpali.
Keempatnya lantas memperbincangkan kemungkinan pelaku penyerangan. Namun yang membuat Abigail sedikit gelisah adalah Darren yang beberapa kali menatapnya secara terang-terangan. Dan Abigail merutuki dirinya sendiri yang jadi salah tingkah akibat tatapan Darren.
"Baiklah kalau begitu. Ada beberapa hal yang harus Kakak urus. Kakak akan pergi dulu." Mikha berpamitan dan mengecup kepala Abigail. "Tolong temani Abigail jika kalian belum kembali ke kamar kalian." Pintanya pada Trias dan Darren.
__ADS_1
"Dengan senang hati." Trias mengantar Mikha dan membukakan pintu. Saat ia berbalik menuju Darren dan Abigail, ia berhenti sebelum mencapai kedua muda mudi tersebut.
"Aku lupa ponselku. Sebaiknya aku pergi untuk mengambilnya. Apakah kau keberatan menemani Abigail sendirian, Darren?"
Darren menggeleng. "Tidak, aku tidak keberatan."
"Tidak apa-apa kan Abigail?" Trias menatap Abigail yang sejak tadi hanya terdiam.
"I..iya kak." Jawab Abigail terbata karena kaget. Ia tidak terlalu memperhatikan ucapan Trias.
Dan kekagetan Abigail semakin bertambah karena Trias dengan cepat meninggalkan ruang perawatannya.
"Loh. Kak Trias mau kemana?"
Kedua alis Darren bertaut. "Ambil ponsel. Bukankah tadi dia sudah mengatakannya?"
"Be…benarkah?" Abigail terlihat gusar.
"Abi, apakah semua baik-baik saja?" Suara Darren yang lembut semakin membuat Abigail panik.
"Ak…aku baik-baik saja."
Jawaban Abigail yang terbata membuat Darren tidak percaya. Ia mendekatkan wajahnya menelisik wajah Abigail. Dan gadis itu spontan menarik tubuhnya ke belakang.
Abigail memegang pipi dengan kedua tangannya bahkan mengerucutkan bibirnya. "Mana mungkin."
Ekspresi Abigail yang seperti itu membuat hati Darren nelangsa, di matanya Abigail saat ini begitu menggemaskan.
"Jangan menggodaku, Abi." Darren tersiksa, jika saja Abigail tidak kehilangan ingatannya. Mungkin saat ini ia sudah mengecup seluruh wajah Abigail yang memerah itu.
"Menggoda bagaimana?" Kedua alis Abigail menyatu.
"Dengan ekspresi wajah yang menggemaskan itu." Jawab Darren jujur.
Pujian Darren membuat Abigail kembali berdebar. Ia membuang pandangannya menatap ke tempat lain.
"Tapi aku memang tidak sedang menggodamu, Ren."
Seketika itu juga Darren tersadar. Ia tersenyum menyeringai. Apalagi tiba-tiba saja Abigail menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Kau sudah ingat." Darren semakin mendekatkan wajahnya.
"Aku tidak mengerti ucapanmu." Abigail masih saja tidak mau menatap Darren.
Tangan pemuda itu terulur dan menarik dagu Abigail hingga gadis itu menatapnya. Tanpa aba-aba Darren langsung memagut bibir Abigail. Menyesap bibir ranum itu dengan penuh perasaan. Ia mencurahkan semua kerisauan hati dan kerinduannya saat mencium bibir Abigail.
__ADS_1
Abigail terkejut, namun ia tidak berniat untuk menolak atau mendorong Darren. Perasaan cinta mengambil alih kendali atas tubuhnya. Ingatannya tentang Darren dan misi menjadi asisten culun sudab kembali sejak ia mulai siuman. Namun gadis itu tidak mengatakan apapun karena dadanya bergemuruh hebat setiap mengingat Darren.
Dan kecerobohannya sendiri hari ini membuat Darren tidak melepaskannua begitu saja. Dengan lembut Darren mulai merengkuh tubuh Abigail untuk memperdalam ciuman mereka. Dan suara lenguhan Abigail membuat Darren melepaskan pagutannya.
"Apa kau berniat membuatku kembali tidak sadar?" Abigail terengah.
"Maaf sayang." Darren mengusap bibir Abigail yang bengkak. "Aku mencintaimu Abi." Imbuhnya seraya menempelkan daginya pada dahi Abigail.
Abigail tersenyum. "Terima kasih sudah menungguku."
Darren kembali menyatukan bibir mereka dan mengecup dengan lembut.
"Aku mencintaimu." Lirih Abigail di sela-sela ciuman mereka.
Darren menjauhkan wajahnya. "Katakan sekali lagi sayang." Pinta pemuda itu.
Abigail tertawa kecil, ia menatap mata Darren dalam-dalam."Aku mencintaimu." Ucapnya dengan tegas.
Mendengar itu Darren merengkuh tubuh Abigail dengan cepat dan membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
"Aduh." Abigail meringis dan memukul lengan Darren.
"Ada apa?" Darren mengurai pelukannya.
"Pelan-pelan, tubuhku masih sakit." Jawab Abigail dengan wajah masam.
Darren menggaruk kepalanya. "Maaf sayang, aku lupa." Ia mengusap kepala Abigail dengan penuh kasih sayang.
"Kalian sedang apa?" Suara Kakek Zico membuat keduanya menoleh ke arah pintu dengan cepat.
Di ambing pintu sudah berdiri Kakek Zico, Papa Rayn dan juga Trias. Mereka melihat bagaimana tubuh Darren menempel dengan intim pada tubuh Abigail yang duduk di tepi ranjang.
"Cucu kurang ajar. Apa yang kau lakukan pada asistenmu?! Apa kau berbuat senonoh kepadanya?!" Kakek Zico meradang. Ia berjalan masuk dengan sangat cepat.
"Ka..kakek. Jangan salah paham." Darren melepaskan Abigail.
"Salah paham? Kau sedang memeluknya, mengapa aku tidak boleh salah paham?" Kakek berbalik dan menatap Trias. "Telepon keluarga gadis itu sekarang. Hari ini aku akan menikahkan mereka berdua. Darren harus bertanggung jawab karena sudah seenaknya menyentuh anak gadis orang."
"Apa?!"
Abigail, Darren, Rayn dan Trias tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Bahkan dengan kompak mereka menatap Kakek Zico dengan mata yang membulat sempurna dan mulut yang menganga.
"Tutup mulut kalian, nanti ada lebah yang membuat sarang disana." Imbuh Kakek dengan santainya.
...****************...
__ADS_1