ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 36. Tunggu Aku


__ADS_3

Menunggu daging kelinci matang, Abigail menceritakan semuanya pada Darren dan Trias. Setelah Abigail berpikir, tidak ada gunanya lagi berbohong. Darren harus tahu situasi sebenarnya, agar ia pun bisa meningkatkan kewaspadaan.


"Sketsa wajah dan namaku masuk ke dalam kontrak yang ditawarkan oleh seseorang kepada para pembunuh bayaran." Abigail memulai penjelasannya dengan mata yang terus menatap ke api yang menyala.


"Nilainya sangat tinggi, bahkan akan mendapat tambahan bonus yang besar jika Sang eksekutor bisa membunuhku tepat sebelum pemilihan presiden." Imbuhnya masih dengan tatapan yang menerawang.


Abigail memeluk tubuhnya sendiri. Mengingat detail kontrak itu membuat dirinya merasa sesak. Seakan tubuhnya terhimpit batu yang besar. Dan jika ingin merasakan kebebasan, ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya 


"Selain diriku, ada juga kontrak atas nama Darren. Namun kontrak tersebut bisa dikerjakan hanya jika aku sudah mati. Jadi selama aku hidup, kau pun akan tetap hidup." Kali ini Abigail menatap Darren.


Lidah Abigail terasa kelu. Ada perasaan iba yang muncul mengingat Darren baru saja lepas dari teror Brody dan Rosaline. Kini pemuda itu harus menghadapi teror lainnya.


Di sisi lain, tatapan Abigail yang tenang, membuat Darren percaya diri bahwa mereka akan bisa melalui masalah ini dengan selamat.


"Jadi itu yang tadi membuatmu lari dariku?"


Abigail mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Darren. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam.


"Aku akan menjadi lebih kuat lagi hingga kamu tidak perlu mencemaskan aku."


Abigail tersenyum, Darren yang sekarang terlihat jauh berbeda dibanding saat mereka pertama kali bertemu. Sepertinya sekarang pemuda itu dipenuhi dengan energi positif.


"Justru aku akan cemas kalau kamu terlalu memforsir tenaga untuk latihan."


Ucapan Abigail sontak membuat Darren dan Trias menatap gadis itu. Dan tatapan kedua pemuda dihadapannya membuat Abigail tersadar, ia telah salah bicara.


Abigail merutuki kebodohannya yang terlalu terbawa suasana sehingga tidak bisa mengontrol lidahnya. Begitu gamblangnya ia mengungkapkan apa yang ada dihatinya.


"Setidaknya perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan." Ujar Darren dengan raut wajah bahagia. Membuat wajah Abigail terasa panas.


"Aku rasa cupid adalah penguasa hutan ini. Aroma cinta memenuhi udara." Seloroh Trias. Andai kamu ada disini, aku tidak akan gerah menyaksikan pasangan baru ini. Trias mengeluh dalam hatinya.


Semuanya kembali diam, hingga Trias memecah keheningan dengan aktivitasnya menangani daging.


"Lupakan dulu semua masalah itu. Ayo makan. Sekalipun akan mati, harus mati dalam keadaan kenyang." Ucapan Trias disambut dengan senyuman geli Abigail dan Darren.


Abigail membuka ransel dan mengeluarkan beberapa minuman yang ia bawa. "Kemana agen yang menjaga kalian?"


"Tadi aku menyuruhnya menunggu saat akan menyelesaikan urusan pribadi. Kemudian kami melihat pergerakan bayangan. Kami tidak menyangka kamu yang mengintai perkemahan." Trias mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Tapi sepertinya dia sudah tahu lebih dulu, oleh sebab itu sejak kalian berdua bertengkar dan berjalan menjauh, dia sudah tidak mengikuti kami lagi." Jelas Trias.


Ketiganya menikmati daging buruan Abigail dengan sangat lahap. Apalagi waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.

__ADS_1


"Jadi, sampai kapan kamu tinggal disini?" Darren tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Setelah mereka menyelesaikan makan, ia segera bertanya.


Abigail juga menyadari hal itu. Apalagi setelah ia mendengar fakta bahwa nyawa Abigail terancam. Darren pasti ingin tahu lebih banyak tentang rencana mereka. Akan tetapi Abigail tetap memegang prinsip yang diajarkan Mikha, semakin sedikit yang tahu akan semakin baik. Dan Abigail tidak ingin melanggar hal itu meski yang bertanya adalah pemuda yang sudah berhasil mengisi hatinya.


"Sampai waktu yang tidak bisa ditentukan." Jawab Abigail kemudian meneguk air mineral miliknya.


"Apa rencana kalian?"


Abigail tertawa kecil. "Maaf, tapi itu rahasia."


Darren terlihat kecewa, tapi ia bisa menerima jawaban Abigail.


"Aku ingin menemanimu disini." Lirih pemuda itu.


Abigail tersenyum, ingin rasanya menjawab iya. Tetapi kata itu tidak mungkin ia ucapkan.


"Jangan mempermudah pekerjaan kotor para penjahat. Pulang, dan tingkatkan kewaspadaan. Aku pasti akan memberi kabar."


Darren menatap Abigail dengan tatapan sedih dan terluka. Ia telah menyeret gadis yang ia cintai ke dalam masalah yang mengancam keselamatan jiwanya.


"Maaf sudah melibatkanmu sampai sejauh ini."


Abigail tersenyum. "Itu sudah menjadi resiko dari pekerjaanku."


"Aku akan bekerja keras, jadi ke depannya kamu tidak perlu khawatir lagi tentang pekerjaan dan masalah keuangan."


Abigail mengerjap beberapa kali. Ucapan Darren mengandung makna yang mampu membuat gadis itu kembali berdebar. Namun Abigail tidak ingin menebak-nebak atau bertanya secara langsung. Ia takut akan kehilangan fokus jika mendengar jawaban Darren.


Sebenarnya Abigail ingin menceritakan soal pengunduran dirinya. Tetapi melihat situasi saat ini, Abigail merasa bukan waktu yang tepat untuk menceritakan hal tersebut.


"Sudah larut." Ujar Abigail sambil menatap Darren dan Trias secara bergantian. "Sepertinya para kru sudah beristirahat." Imbuh Abigail setelah melihat ke arah perkemahan Darren dengan menggunakan teropong.


"Apakah mereka tidak tahu kalian berdua keluar?" Abigail kembali bertanya saat ia sudah memutar tubuhnya lagi.


"Tidak, mereka tidak tahu." Jawab Trias. "Jika tidak, kelinci ini tidak akan cukup untuk kita semua."


Abigail tertawa kecil dan mulai berkemas. Darren beranjak dan membantu gadis itu.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ujar Darren setelah mereka membereskan ransel Abigail.


"Tidak perlu, kalian kembalilah. Bukankah besok kalian harus bangun pagi karena akan mengambil gambar matahari terbit?" Tolak Abigail sekaligus mengingatkan jadwal Darren yang sempat diceritakan Trias disela-sela makan malam mereka.


"Tapi kabin tempat tinggalmu masih jauh Abi." Darren terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


Sesaat kemudian sebuah benda seperti motor dengan roda yang memiliki baling-baling di bagian tengahnya melayang mendekati mereka. Benda tersebut memiliki bentuk seperti gabungan antara drone dan motor.


"Kendaraanku sudah tiba."


Mikha memang menyediakan alat transportasi yang bisa digunakan dalam kondisi darurat. Kendaraan terbang tersebut bisa dikendalikan oleh Abigail secara langsung maupun jarak jauh seperti yang Mikha lakukan saat ini.


Abigail mendekati motor terbang itu, meletakkan ransel dan senapannya pada sebuah kotak yang disediakan khusus meletakkan barang-barang. Setelahnya ia berbalik menghadap Darren dan Trias. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin bersama kedua pemuda itu.


Bukan, bukan kedua pemuda itu, lebih tepatnya ia masih ingin bersama Darren.


Abigail menunduk dan tersenyum kecut. Lalu ia mengangkat wajah dan kembali menghampiri Darren dan Trias.


"Jangan lupa siram apinya, kita tidak ingin hutan ini terbakar, bukan?"


Trias tertawa kecil dan mendekati Abigail. "Akan aku pastikan apinya padam." Ujarnya sambil memeluk Abigail untuk sesaat. "Aku menunggu kabar darimu."


"Iya Kak, pasti."


Trias menepuk pundak Abigail beberapa kali lalu mundur ke belakang. Bahkan pemuda itu berbalik, seolah-olah memberi privacy pada Darren yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Abigail.


Abigail menatap Darren yang semakin mendekat dengan dada berdebar. Ia seakan terhipnotis dengan tatapan Darren hingga tidak mampu memalingkan wajah.


"Aku mencintaimu."


Ucap Darren dengan sungguh-sungguh. Manik matanya menatap langsung ke mata Abigail, membuat gadis itu merasakan pernyataan cinta Darren menghujam langsung ke hatinya. Menciptakan desiran hangat yang berawal di dada kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya.


Tangan kanan pemuda itu terulur dan mengusap pipi Abigail dengan sangat lembut. Tidak ada penolakan, Abigail bahkan memejamkan mata, menikmati kehangatan tangan Darren di pipinya dengan bibir yang terus mengulas senyum manis.


Darren mendekatkan wajahnya, dan langsung melabuhkan ciuman pada bibir Abigail. Tangannya tidak lagi berada di pipi gadis itu melainkan berada di pinggang ramping Abigail dan menarik gadis itu agar merapat pada tubuhnya.


Abigail menjauhkan wajahnya hingga tautan bibir keduanya terlepas. Kemudian ia membenamkan wajah di dada Darren. Menikmati pelukan pemuda itu.


"Tunggu aku." Ucap Abigail setengah berbisik.


"Pasti." Darren mengecup punca kepala Abigail berulang kali sebelum akhirnya mengurai pelukan mereka.


Ada rasa tidak rela dalam hati Abigail saat tubuhnya tidak lagi merasakan kehangatan pelukan Darren. Namun ia sadar, sudah saatnya mereka kembali kepada kenyataan.


Abigail bergegas berbalik dan menaiki motor terbang itu. Ia menguatkan hatinya agar tidak lagi menoleh ke belakang. Karena ia sangat yakin, jika ia berbalik dan melihat wajah Darren, ia tidak akan sanggup pergi dari sana.


Motor itu segera bergerak setelah Abigail memasang sabuk pengaman di pinggangnya. Meninggalkan Darren yang terpaku dengan kedua tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya. Menahan nyeri di dalam dada.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2