ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 9. Sifat Asli


__ADS_3

Abigail menikmati makan siang yang dibawa Rosalin. Daging sapi premium yang dipanggang dengan bumbu madu bercampur lada hitam, kentang tumbuk, dan juga kacang almond, wortel serta asparagus yang dimasak dengan sedikit minyak zaitun dan ditaburi chia seed.


Abigail hafal menu itu? Jelas saja, itu adalah salah satu menu andalan bistro miliknya.


Trias geleng-geleng kepala melihat Abigail yang makan dengan terus tersenyum.


"Pelan-pelan, tidak ada yang akan merebutnya darimu." Trias mengulurkan tisu. "Sudut bibirmu belepotan."


Abigail mengambil tisu itu dengan meringis kemudian mengusap sudut bibirnya.


"Apa seenak itu?" Darren yang dari tadi mengamati Abigail makan dengan lahap jadi penasaran.


Abigail hanya mengangguk karena mulutnya penuh. Ia mengacungkan kedua jempolnya untuk meyakinkan Darren.


"Jika kau mau, aku akan memesannya lagi Darren." Rosalin berusaha keras membuat suaranya terdengar selembut mungkin. Untuk menutupi kekesalan yang memuncak akibat melihat Abigail makan bekal yang ia bawa.


"Tidak perlu." jawab Darren dengan ketus.


Sekilas Abigail melihat ke arah Rosalin, wanita itu memang sedang tersenyum, namun mata selalu saja jujur. Pancaran amarah sangat kentara saat keduanya bertatapan.


"Suapi aku."


Abigail mengerjap, tiba-tiba saja Darren sudah berdiri dengan sedikit membungkuk di sisi kirinya.


"Apa?" Abigail masih bingung.


"Suap, aku ingin mencicipi."


"Oh." Abigail segera paham. Ia berdiri hendak mengambil peralatan makan yang baru.


"Mau kemana?" protes Darren.


"Ambil peralatan makan yang baru."


"Tidak perlu, pakai saja punyamu. Cepatlah." Darren memaksa.


Trias mengangkat kedua alisnya kemudian mengulum senyum penuh arti. Pemuda itu lantas menoleh menatap Rosalin ingin melihat reaksi wanita itu. Sebab setahu Trias, saat menjalin hubungan dengan Rosalin, Darren tidak pernah sekalipun minta disuap. Apalagi sampai memakai peralatan makan yang sama.


Kedua tangan Rosalin mengepal, rahangnya mengeras. Matanya memancarkan kebencian yang luar biasa. Apalagi posisi Darren yang menghadap ke arahnya. Membuat Rosalin dapat melihat ekspresi wajah Darren yang tersenyum saat Abigail dengan wajah masam menyuap pemuda itu.


"Hmm, enak." Darren menikmati makanan di mulutnya. "Lagi."


"Makan saja sendiri." Abigail mulai kesal.


"Tidak mau. Cepatlah! Kalau tidak gajimu dipotong 75%." ancam Darren lagi.


"Aku pulang!!!" terdengar Rosalin berseru, namun Darren maupun Abigail tidak mendengarnya karena mereka sibuk berdebat.


Trias hanya melambaikan tangan saat Rosalin menatapnya, kemudian kembali menikmati pemandangan langka di hadapannya.


"Ini enak sekali." puji Darren lagi.


"Kalau begitu aku akan memesannya lagi. Kak Trias juga mau?" tawar Abigail.


"Boleh juga." Trias tersenyum lembut menatap gadis berkacamata aneh di hadapannya itu.


"Memangnya kamu tahu dimana Rosalin membelinya?" Darren menatap tak percaya.


"Tentu saja. Bagaimana?" Abigail menatap keduanya dengan semangat. Sekalian promo menu di bistro, gumam Abigail. Otak bisnisnya tiba-tiba menguasai kepala.


Trias dan Darren mengangguk bersamaan membuat Abigail senang. Ia segera berdiri, namun Darren menahan bahunya.


"Habiskan dulu makananmu." kemudian ia pergi mengambil dua botol air mineral dan meletakkannya di depan Abigail.


"Ini minumnya, aku sudah membuka segelnya."


Abigail mengernyit sejenak kemudian mengangguk karena mulutnya penuh. Sedangkan Trias menatap Darren dengan tatapan tidak percaya.


"Apa?" Darren menautkan alis saat matanya bertemu mata Trias. Ia tidak mengerti dengan cara Trias memandangnya. Pemuda itu meneguk air minumnya dengan santai. Sepertinya ia juga tidak sadar sudah memperlakukan Abigail dengan baik.


☘️☘️☘️


"Darren, sepertinya pembullyan yang dialami Abigail sudah semakin keterlaluan." Trias dan Darren sedang duduk menunggu kedatangan Abigail yang mengambil beberapa aksesoris dari Roki.


"Aku dengar dia sering diganggu oleh wanita-wanita di agensi yang memujamu." imbuh Trias lagi.


Darren terdiam beberapa saat. "Aku rasa Abigail harus bisa mengatasi hal itu. Ia harus bisa profesional, bekerja di bawah tekanan dan dalam situasi tidak menyenangkan. Tapi tolong urus setiap pembully itu. Dan jangan sampai Abigail tahu."


Trias tersenyum penuh arti. "Baiklah, akan aku kerjakan."


Tiba-tiba ponsel Trias berdering. Wajah pemuda itu menegang saat membaca nama penelepon yang tertera di layar.


"Halo paman."


"Halo Trias, apakah Darren bersamamu?" tanya seorang pria di ujung sambungan.


"Iya paman." jawab Trias sambil melirik Darren yang sedang membuat tanda silang dengan kedua tangannya.


"Apa kami bisa berbicara dengannya?" pinta pria itu.

__ADS_1


"Mmm…" Trias ragu.


"Baiklah, kami mengerti. Kami hanya merindukannya saja."


"Maafkan aku paman."


"Paman mengerti, jaga diri kalian."


"Ya paman, terima kasih. Kami akan segera berkunjung. Secepatnya."


"Kami tunggu."


Trias menarik nafas lega setelah sambungan telepon itu ditutup oleh si penelepon.


"Aku tak ingin mereka terlibat dan menambah masalah." gumam Darren dengan wajah sendu. Ia sangat merindukannya orang tua serta kakeknya, namun selama ia masih berada dalam bahaya, ia tak ingin menyeret keluarganya juga.


"Aku tahu." jawab Trias yang hendak meletakkan ponselnya. Namun tiba-tiba sebuah notifikasi masuk membuat pemuda itu urung meletakkan ponselnya.


...Abigail:...


...Kak, aku masih menolong Nona Sarah....


Trias tersenyum kecil membaca pesan dari Abigail. Ia segera membalasnya.


Sementara itu di lantai dua, Abigail tengah mengganti rok panjangnya dengan rok pendek tepat di atas lutut milik Sarah. Ketika Abigail keluar, penyanyi itu membelalakkan matanya dengan mulut terbuka.


"Abigail." Sarah terpukau. "Kakimu seksi sekali."


Sarah tak dapat menutupi kekagumannya saat melihat kaki jenjang Abigail. Selama ini mereka selalu melihat Abigail menggunakan rok panjang yang menutup seluruh kakinya. Atau celana besar yang terlihat aneh.


Abigail hanya tersenyum salah tingkah.


"Saya akan segera mengembalikan rok anda Nona."


"Tidak perlu." ucap Sarah masih dengan binar-binar spongebob di matanya. "Aku iri sekali dengan tubuhmu."


"Nona, anda berlebihan." Abigail menggerakkan kakinya karena tak nyaman. "Saya permisi, Tuan Darren sudah menunggu."


"Ya ampun, aku hampir lupa. Aku temani, biar dia tidak berani memarahimu."


Abigail mengangguk dan mengikuti Sarah menuju lift naik ke lantai tiga.


Begitu tiba di ruangan Darren, Abigail segera bersembunyi di balik Sarah. Tatapan mata Darren seakan hendak menerkamnya.


Sarah menjelaskan, tadi Abigail menolongnya yang sedikit pusing. Dan saat berada di ruangan Sarah, Abigail tanpa sengaja menyenggol vas bunga hingga benda itu jatuh dengan posisi masih berada di mejanya, dan air di dalam vas tumpah membasahi rok Abigail.


"Jangan memarahinya karena terlambat datang." ucap Sarah penuh penekanan.


"Ini semua dari Roki?"


"Iya kak." jawab Abigail.


"Kalau semua baik-baik saja, aku kembali. Abigail, terima kasih banyak ya." Sarah tersenyum tulus.


"Sama-sama Nona."


Setelah Sarah keluar, Darren melangkah dengan cepat untuk menutup pintu dan menguncinya.


"Apakah kau ingin menggoda orang?" ucapnya ketus ke arah Abigail.


"Maksudnya Tuan?" Abigail bingung.


"Dengan rok seperti itu, apa kau ingin menggoda laki-laki di gedung ini?"


"Memangnya rok ini kenapa? Saya rasa masih wajar Tuan. Lagi pula han……"


"Ganti dengan yang lain! Kamu seperti wanita penggoda yang sedang memamerkan kaki seksi itu."


Abigail mengerutkan kening, dan kali ini Trias tak lagi menahan diri. Pemuda itu tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohan Darren. Mendengar gelak tawa Trias, Darren seketika itu juga sadar. 


"Tapi saya tidak menggoda siapapun Tuan." protes Abigail. "Dan saya bukan wanita penggoda!" imbuhnya lagi, terpancing emosi.


"Ah sudahlah!!!" Darren segera masuk ruang pribadinya dengan membanting pintu.


"Astaga, ada apa denganku?" gumam Darren setelah berada di dalam ruangannya.


Di luar Abigail menekuk wajahnya, ia bingung dengan sikap Darren yang berubah-ubah hari ini.


Trias duduk di samping Abigail, ia menatap gadis di sampingnya dengan iba.


"Kau pasti kewalahan menghadapi sikapnya."


Abigail tersenyum kecut, ia tak ingin menanggapi ucapan Trias.


"Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini kepadamu." 


Abigail menatap Trias karena merasa pemuda itu ingin bicara serius. Setelah mendapat perhatian Abigail, Trias melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya ada masalah besar yang dihadapi Darren. Ia berada dalam tekanan. Oleh sebab itu sikapnya berubah menjadi sangat menyebalkan."

__ADS_1


"Seharusnya dia tidak melampiaskan itu kepada orang yang tidak bersalah." Abigail tersenyum sinis.


"Kau benar Abigail. Apapun alasannya, bersikap buruk kepada orang memang tidak dibenarkan. Tapi aku harap kau bisa mengerti keadaannya. Ada masalah yang tidak bisa kami ceritakan kepadamu."


Aku sudah tahu masalah itu, gumam Abigail dalam hati.


"Baiklah kak, aku akan berusaha mengerti." Abigail mengalah.


"Terima kasih. Dan aku akan bicara pada Darren agar tidak menjadikanmu tempat melampiaskan kekesalan."


☘️☘️☘️


Abigail duduk dengan gelisah. Ia sudah memberikan berbagai alasan agar tidak ikut dalam makan malam ini. Namun Trias tetap memaksanya. Karena tak dapat memberikan alasan yang jelas, Abigail akhirnya ikut. Dan yang lebih mengejutkan, tiba-tiba Roki datang dengan membawa sebuah long dress berwarna hitam.


"Maaf lama menunggu." suara seorang pemuda yang sangat dirindukan Abigail.


Ketiganya lantas berdiri menyambut kedatangan kedua model yang akan bekerja sama dengan Darren.


Setelah berjabat tangan, Raline mengambil tempat tepat di hadapan Abigail. Model itu tersenyum ramah pada Abigail yang dibalas dengan senyum canggung.


"Ini asisten baru Darren, namanya Abigail." ujar Trias memperkenalkan diri.


"Namanya sama dengan nama seorang rekan kami." sahut Raline.


"Ya benar." Liam menimpali sambil mengerling pada Abigail.


Melihat itu Abigail hanya bisa tersenyum kecut, berbeda dengan Raline yang sempat terlihat marah. Namun dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.


"Nama saja yang sama, tapi penampilan jauh berbeda." sindir Raline.


Trias berdehem, kemudian memanggil pelayan. Setelah itu perbincangan mereka hanya seputar tema lagu Darren.


Raline diam-diam merasa kesal karena Liam dan Abigail beberapa kali saling curi pandang. Bahkan kekasihnya itu tersenyum setelah menatap Abigail.


Setelah makanannya habis, Abigail minta ijin untuk pergi ke toilet. Tanpa Abigail ketahui, beberapa menit setelah Abigail pamit, Raline pun segera menyusul.


Abigail terkejut ketika keluar dari dalam bilik, Raline sudah berdiri di depan kaca sambil merapikan riasannya. Abigail berdiri di samping Raline dan mencuci tangan.


"Nona." sapa Abigail dengan ramah.


"Apakah kau tidak sadar diri? Lihatlah wajahmu dan penampilanmu yang buruk itu." sahut Raline ketus. "Dasar culun, buruk rupa."


Abigail terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Raline.


"Maaf Nona, apa salah saya?"


"Salahmu? Salahmu adalah kau dengan sengaja menggoda kekasihku, Liam. Bahkan kau berani duduk di samping Darren. Seharusnya kau itu makan di rumah makan murahan, bukan bersama kami. Sekalipun kau adalah asisten Darren, seharusnya kau tidak perlu ikut." Raline menggebu-gebu dalam mengungkapkan kekesalannya.


"Dan seharusnya, malam ini hanya aku yang menjadi pusat perhatian Darren." imbuh Raline.


Abigail mengernyit. "Bukankah kekasih anda adalah Tuan Liam?"


"Memangnya kenapa kalau aku bisa memikat Darren juga?" Raline menatap Abigail dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sinis. "Kau harus bisa membujuk Darren agar mau makan malam berdua denganku. Kalau tidak, aku akan menghancurkanmu."


Setelah mengancam Abigail, Raline segera pergi meninggalkan gadis itu.


"Sepertinya kak Liam sudah salah memilih kekasih. Aku tidak mau punya kakak ipar seperti Raline." gerutu Abigail. Beruntung ia selalu memasang penyadap pada tubuhnya sendiri. Alat itu dipasang pada bros yang disematkan di dada kirinya.


Sepanjang sisa pertemuan itu, Abigail terlihat masam. Namun berbeda dengan Raline, di depan Darren, Trias dan Liam, ia menunjukkan sikapnya yang ramah pada Abigail.


Setibanya di apartemen, Abigail segera melakukan panggilan video dengan Mikha. Ia menceritakan semua kejadian yang ia alami. Kecuali pertemuannya dengan Raline dan Liam.


"Jadi, apa kau akan menyerah pada misi ini?" Mikha terlihat penasaran.


Abigail menggeleng. "Tidak kakak. Aku mulai menikmati peranku." Abigail tersenyum senang. "Dengan penampilan seperti ini, aku jadi bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri sifat asli orang-orang terkenal dan yang aku kenal."


"Yang kau kenal?" Mikha mengernyit. "Siapa?"


"Aku akan menceritakannya saat aku mengambil cuti."


"Masih lama". desis Mikha tak sabar.


"Tidak kok." Abigail tersenyum jahil.


"Kamu ini, suka sekali buat kakak penasaran."


Abigail tertawa melihat wajah kesal kakaknya itu. 


Di tempat lain seorang pria berpenampilan layaknya seorang pejabat, tampak marah kehilangan jejak tempat tinggal Darren.


"Jangan marah sayang. Kita bisa kembali meneror nya di tempat kerja." usul seorang wanita berpakaian seksi sambil bergelayut manja.


"Tidak semudah itu baby. Jika ada staf lain mengetahui dan terungkap ke publik. Fans Darren akan menekan kepolisian untuk mengusut kasus teror itu." sahut sang pria sambil membelai paha wanita itu.


"Kamu tahu sendiri kan kekuatan netizen seperti apa?" imbuhnya lagi sambil mengendusi leher dan bahu kekasihnya.


"Terserah kau saja." desis wanita itu tertahan.


Darren...Darren, malangnya nasibmu. Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


......................


__ADS_2