ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 54. Malaikat Maut


__ADS_3

Abigail bersedekap sambil memandangi Runa dan Trias secara bergantian. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya dan Manajer tampan itu sudah menjalin hubungan.


"Waktu itu aku akan memberitahumu." Lirih Runa.


Abigail mengingat terakhir kali ia dan Runa bertemu di bistro. "Waktu aku dan Kak Liam ke bistro?"


Runa mengangguk cepat. "Iya, waktu itu aku ingin beritahukan kepadamu. Tapi ucapanku terjeda karena Kak Mikha meneleponmu."


Abigail mengangguk-anggukkan kepalanya. Selama Abigail menjaga Darren, ternyata Trias bertemu Runa secara tidak sengaja. Dan Trias jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu. Dengan pendekatan yang gencar Trias lakukan, akhirnya Runa menerima cintanya.


"Maaf terlambat memberitahumu." Runa merasa bersalah. Trias meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan lembut.


"Tidak perlu, kesibukan yang membuat kita jarang berkomunikasi." Abigail tersenyum. "Lagipula aku juga…."


"Sayang, aku mem……..Oh, Hai Trias, Runa." Darren masuk dengan membawa kantong kertas. "Kalian sudah lama?"


"Sayang?" Kali ini giliran Runa yang terkejut.


Abigail meringis. "Itu yang tadi ingin kukatakan kepadamu."


"Ada yang aku lewatkan?" Tanya Darren sambil duduk di samping Abigail seraya membuka satu bungkus snack bar varian almond kismis dan memberikannya pada gadis itu. Abigail menerima dengan senyum yang mengembang sempurna. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum mulai menikmati cemilan favoritnya.


"Ternyata Runa adalah sahabat Abigail." Trias menjawab dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Benarkah itu?" Darren menatap Abigail dan Runa bergantian. Dan kedua gadis itu mengangguk sebagai jawabannya.


"Baguslah kalau begitu. Aku jadi tidak perlu repot-repot ingin mengenal orang-orang disekitarmu." Darren mengusap kepala Abigail dengan lembut. "Pelan-pelan makannya." Imbuhnya lagi sambil mengusap sudut bibir Abigail menggunakan ibu jarinya.


Abigail merona, ia merasa malu Darren memperlakukannya seperti itu di depan orang lain.


"Kamu malu?" Tanya Darren saat melihat rona merah di pipi Abigail. Gadis itu tidak menjawab, dia hanya menatap Darren dengan kesal.


"Tumben malu. Biasanya malah memalukan." Imbuh Darren lagi dan berimbas pada cubitan yang ia terima di pinggangnya. "Aww!!! Sakit sayang."


Runa tertawa melihat tingkah pasangan di depannya. Dan sedetik kemudian Trias sudah merangkulnya dan mencuri sebuah kecupan di bibirnya yang membuat tubuh Runa membeku seketika.


"Apakah kalian sedang double date?" Suara Mikha membuat kedua pasang kekasih itu serempak menatap pintu.


Runa tidak berani mengangkat wajahnya. Ia sangat malu karena Mikha pasti melihat saat Trias menciumnya.


"Kakak sudah datang. Lihat, Runa membuat kue yang sangat enak." Abigail menunjuk ke arah kotak yang berada di meja.


"Kebetulan sekali, aku membutuhkan yang manis-manis." Mikha segera masuk.


Dengan cekatan Runa memotong kue dan memberikannya pada Mikha. "Semoga rasanya tidak mengecewakan Kakak."


"Kue buatanmu belum pernah gagal." Sahut Mikha. "Terima kasih ya."

__ADS_1


"Apakah barang-barangmu sudah siap?" Tanya Mikha pada Abigail setelah menelan potongan kecil dari kuenya.


"Sudah kak. Lagipula tidak banyak karena Kak Liam sudah membawanya sebagian."


"Kamu sudah bisa pulang?" Runa terlihat lega.


"Iya, kondisinya sudah lebih baik. Lagipula tidak mungkin dia bertunangan di Rumah Sakit." Mikha lebih dulu menjawab pertanyaan Runa sebelum Abigail bersuara. Ia sengaja melakukan itu untuk memberi tahu rencana Darren dan Abigail pada Runa.


"Tunangan?" Matanya melebar, Runa terkejut.


Abigail mencebik. "Rencananya aku akan memberitahukan padamu setelah aku pulang. Tapi Kak Mikha tidak sabaran." Ia menatap Sang Kakak dengan kesal.


"Jadi yang Kak Trias maksud tadi adalah pertunangan mereka?" Runa menatap Trias meminta penjelasan.


Pemuda itu tersenyum. "Iya benar."


Runa segera berdiri dan memeluk Abigail. "Aku ikut merasa bahagia."


Abigail membalas pelukan sahabatnya dengan hangat. "Setelah ini kalian harus segera menyusul." Ucapnya ditengah pelukan mereka.


"Tentu."


Jawaban Trias membuat Runa berdebar, bahkan tubuhnya menegang. Dan tentu saja Abigail bisa merasakannya. Gadis itu tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Runa untuk menenangkan sahabatnya itu.


☘️☘️☘️


"Cantik." Suara Bibi Lan terdengar bergetar.


"Bibi." Abigail segera berbalik dan memeluk wanita itu dengan erat. "Aku kan hanya bertunangan, bukan pindah negara. Kenapa sedih?"


Bibi Lan mengurai pelukan mereka. Ia menjauhkan tubuhnya dan mengamati penampilan Abigail dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Bibi sedih karena baru tersadar, kau sudah dewasa dan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Bahkan sekarang ada pemuda yang tampan dan baik meminangmu. Bibi teringat akan keluargamu Nak. Seandainya mereka ada disini."


Mendengar penjelasan Bibi Lan, kedua tangan Abigail terulur dan memegang pundak wanita itu.


"Apa yang Bibi bicarakan? Bibi adalah keluargaku. Jadi Bibi yang mewakili mereka."


Bibi Lan kembali memeluk Abigail namun hanya sebentar. "Iya, kau benar.


Terdengar suara ketukan di pintu. Bibi Lan segera melangkah untuk membukanya.


"Anda mencari siapa?" Ia bertanya pada tamu yang berdiri di depannya.


"Saya Sarah Zee, Ibunda Darren. Apakah saya bisa melihat calon menantu saya?" Nyonya Sarah tersenyum manis.


"Oh, maafkan ketidaktahuan saya. Silahkan Nyonya." Bibi Lan menyingkir untuk memberi jalan pada Sarah. "Nak, Ibunda Darren ingin menemuimu. Bibi akan keluar sebentar agar kalian lebih leluasa mengobrol.".

__ADS_1


"Iya Bibi."


"Permisi Nyonya." Bibi Lan juga berpamitan pada Sarah.


"Iya silahkan." Wanita itu tersenyum sangat ramah. Membuat tubuh Abigail meremang.


Begitu Bibi Lan menutup pintu, wajah Sarah berubah. Senyum manis yang bertengger di bibirnya lenyap. Sorot matanya dipenuhi kebencian saat menatap Abigail.


"Jangan kau pikir karena sudah berhasil mengambil hati mertua dan suamiku, kau merasa sudah menang dan rencanamu berjalan mulus." Sarah mulai menabuh genderang perang.


"Rencana apa Nyonya? Saya tidak mengerti."


"Cih!" Sarah menyunggingkan senyuman sinis dan menghina. "Aku tahu semua rencanamu untuk menguasai harta keluarga Zee melalui Darren. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


"Gadis dari desa sepertimu pasti akan menggunakan segala cara untuk menaikkan strata sosial bermodalkan paras yang cantik." Imbuhnya lagi.


Abigail tersenyum mendengar ucapan pedas Sarah. "Terima kasih sudah memuji saya cantik."


"Apa?!" Mata Sarah membulat sempurna. "Siapa yang memujimu?!"


Senyuman di wajah Abigail tetap terpampang nyata tak tergoyahkan. "Bukankah tadi anda sendiri yang mengatakan saya menaikkan strata sosial bermodalkan paras yang cantik?"


"Kau….."


"Saya bukan anda." Abigail menyeringai. "Yang demi hidup mewah, tega melenyapkan teman sendiri bahkan berciuman dengan pembunuh di depan jenazahnya."


Sebuah gelombang besar menghantam dada Sarah. Ia mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi.


"Ap…apa maksudmu?!" Sarah terbata. Ia semakin ketakutan saat melihat wajah Abigail yang tersenyum jahat.


"Haruskah saya mengingatkannya?" Abigail melangkah maju menekan Sarah yang melangkah mundur. "Anda bilang anda tidak menyesal. Karena selama ini Bella sudah hidup bergelimang harta dan cinta. Karena anda tidak bisa merebutnya dari Bella, maka dia pun tidak boleh hidup untuk menikmati kebahagiaan."


Nafas Sarah tercekat, keringat dingin mulai keluar. Ia menatap wajah Abigail lekat-lekat. Dan seketika itu juga ia tersadar. Sarah menutup mulut dengan kedua tangannya. Tatapan sinis dan merendahkan menguap begitu saja berganti dengan tatapan penuh ketakutan.


"Tidak!!! Tidak mungkin!!!" Sarah menjerit histeris.


Tubuhnya bergetar hebat. Ia berbalik dan berusaha mencapai pintu meskipun langkahnya gontai.


"Tidak ada yang tidak mungkin." Sahut Abigail dingin.


Sarah berbalik dengan takut, ia menatap Abigail sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita itu bergegas berbalik dan keluar meninggalkan Abigail seorang diri di dalam ruang ganti itu.


"Aku sudah mengundang malaikat mautku sendiri."


"Kaulah malaikat maut mereka." Suara Mikha terdengar melalui alat yang berbentuk anting-anting.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2