
Kakek Zico menatap Abigail dalam-dalam. Semalam, setelah menerima telepon dari Mikha, ia segera menghubungi Abigail dan meminta untuk bertemu.
Abigail pun sadar, Kakek Zico pasti sudah menerima kabar dari Mikha perihal ketakutannya. Dan Abigail sama sekali tidak mempermasalahkan itu.
"Apakah sekarang sudah merasa lebih baik?" Kakek bertanya dengan hati-hati.
Abigail tersenyum tipis, nyaris tidak nampak. "Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan Kakek." Abigail menautkan jari-jarinya. "Karena saat aku sedang sendiri, aku akan kembali merasa cemas."
Ada banyak hal yang ia cemaskan. Bukan hanya tentang keselamatan keluarganya. Tapi juga bagaimana jika ia tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Darren? Bagaimana jika ia tidak bisa menjadi ibu yang baik? Bagaimana jika setelah hidup bersama, perasaan Darren kepadanya dan sebaliknya, akan berkurang? Bagaimana jika pernikahan mereka tidak berhasil?
Dan masih banyak "bagaimana" yang memenuhi kepalanya.
Abigail mencurahkan semuanya pada Kakek Zico. Karena jika ia menceritakannya pada Mikha dan Venus, hal itu akan sia-sia karena mereka belum pernah menjalani pernikahan. Abigail merasa, menceritakan segalanya pada Kakek Zico adalah hal yang tepat.
"Hampir semua calon pengantin pasti mengalami hal ini. Jadi menurut Kakek, tidak ada hubungannya dengan kejadian di masa lalu." Ucap Kakek setelah diam beberapa saat usai Abigail berkeluh kesah.
"Ai, sayang. Semua pekerjaan memiliki resiko karena hidup kita ini hanya selangkah dengan maut. Masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah pun bisa memiliki musuh."
"Musuh bisa datang bukan saja karena dia memiliki harta atau kekuasaan seperti yang keluargamu alami. Musuh bisa datang karena kita yang tidak bisa menjaga lisan."
Kakek Zico menuturkan semua kalimatnya dengan tenang dan pelan. Agar Abigail dapat mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
"Penyakit hati yang tidak teratasi adalah sumber kejahatan. Dan sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan, kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Serta menerima bahwa kejadian di masa lalu memang sudah ditakdirkan untuk terjadi."
Abigail memikirkan kembali setiap ucapan-ucapan Kakek Zico. Kalimat-kalimat yang menenangkan itu pun mampu membuka pikirannya.
"Jika yang kamu takutkan adalah keselamatan keluargamu, maka itu adalah hal yang sulit untuk dijamin. Tapi bisa diusahakan." Ujar Kakek disertai senyuman yang lembut. "Dan untuk kekhawatiranmu yang lain….."
Kakek Zico terdiam, matanya terlihat menerawang untuk beberapa saat.
"Saat terjadi masalah di antara kalian berdua, ingatlah masa di awal hubungan kalian. Bagaimana kalian saling mempercayai dan mencintai."
__ADS_1
"Hanya sesederhana itu?" Abigail terheran-heran. "Kakek menjaga pernikahan Kakek hanya dengan cara sederhana seperti itu?"
Kakek Zico terkekeh mendengar pertanyaan Abigail.
"Caranya memang sederhana, tapi saat menerapkannya. Mmm, bagaimana Kakek harus mengatakannya ya?" Kakek Zico memijat pelipisnya. "Yah, rasanya manis asam asin serta sedikit pahit."
Abigail menipiskan bibirnya. "Kakek." Rajuknya.
Kakek Zico kembali tertawa kecil. "Sayangku, setiap pribadi kita berbeda meski berasal dari ibu yang sama atau dalam tubuh mengalir darah yang sama. Oleh sebab itu, situasi dalam keluarga yang dibangun pasti juga akan berbeda. Kita tidak bisa menyamaratakan begitu saja."
"Lagi pula, jika Kakek menceritakan detailnya, Kakek takut akan membuatmu menjadi takut. Selain itu, yahhh, banyak hal yang Kakek sudah lupa."
Mata Abigail membola. "Apakah separah itu?"
Kakek kembali tertawa, wajah Abigail terlihat konyol di matanya. "Tentu saja tidak, Kakek hanya menggodamu." Kakek Zico berdehem sejenak. "Kalau menikah begitu menakutkan, maka tidak mungkin ada orang yang melangsungkan pernikahan."
Abigail ikut tersenyum, ia menertawakan dirinya sendiri. Dalam hati ia menyalahkan diri sendiri. Jika memang belum yakin dan belum siap, mengapa ia harus menerima lamaran Darren. Karena takut akan satu hal, akhirnya merembet ke hal yang lainnya.
☘️☘️☘️
Darren mengernyit melihat Raline berdiri di dekat mobilnya. Tidak lama kemudian gadis itu memasang senyum terbaiknya begitu melihat kedatangan Darren. Padahal tadi Darren sempat melihat bibirnya bergerak seperti orang mengoceh dengan wajah yang kesal.
"Apalagi yang akan ia lakukan?" Keluh Darren sambil terus melangkah.
Ia bukannya tidak ingin menghindari Raline. Namun ia sudah merasa lelah dan ingin segera pulang. Petugas parkir sudah membawa kendaraannya ke dekat pintu utama kantor, maka semua yang akan terjadi beberapa detik kedepan akan menjadi konsumsi publik. Raline benar-benar tahu memanfaatkan keadaan.
"Hai." Sapa Raline dengan riang seraya melambaikan tangannya.
Melihat itu Darren hanya mengangguk pelan tanpa tersenyum. Ia tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku baru saja mengantarkan sebuah berkas penting. Dan sialnya, supirku terlambat menjemput. Bisakah kau mengantarkanku pulang?" Tanpa ditanya, Raline segera menjelaskan keadaannya sekaligus mengungkapkan tujuannya berdiri di dekat mobil Darren.
__ADS_1
Darren menatap Raline dengan datar. Sedangkan gadis itu masih setia dengan senyuman maut yang bertengger di bibirnya.
"Aku akan meminta petugas keamanan memanggilkan taksi untukmu. Maaf tapi aku sedang terburu-buru."
"Aku juga, aku sedang terburu-buru. Jadi lebih baik jika kita bersama." Sahut Raline cepat.
Darren menatapnya dengan tajam. "Jika tahu sedang buru-buru, kenapa tidak menyuruh supir untuk menunggu?"
"Ahh, itu…" Raline tersenyum canggung.
"Apa kau sedang berusaha merebut calon suami gadis lain?!" Tidak ingin berlama-lama, Darren langsung saja mengungkap kedok Raline. Bahkan ia sengaja membesarkan volume suaranya.
Wajah Raline memerah, ia sampai menoleh ke sekitar mereka. Terlihat beberapa pegawai menatapnya dengan pandangan merendahkan dan mulai berbisik-bisik.
"Ka…kau sa..salah paham."
"Jika aku salah paham maka pulanglah dengan taksi atau kau bisa duduk di lobi sembari menunggu supirmu."
Darren segera membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kencang. Kepalanya semakin berdenyut akibat kelelahan, ia memijat pelan pelipisnya.
Namun entah darimana, tiba-tiba Abigail sudah membuka pintu penumpang di sisi pengemudi. Darren memang memiliki kebiasaan tidak langsung mengunci semua pintu begitu masuk ke dalam mobil.
Abigail segera duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan yang lebih mengejutkan, tiba-tiba Abigail mendekat dan mengecup singkat bibir Darren. Membuat Darren terpana dan terus memandangi wajah gadisnya.
Raline yang berdiri di sudut bagian depan bisa melihat semua yang terjadi di dalam mobil sebab kaca depannya tidak terlalu gelap. Ia menutup mulut dengan kedua tangan setelah melihat keagresifan Abigail.
Bahkan Raline sempat melangkah mundur karena Abigail menatapnya dengan tatapan yang sangat mengerikan. Dengan ibu jarinya Abigail menunjuk ke arah Darren kemudian menunjuk dirinya sendiri diikuti gerak bibir yang bisa dimengerti Raline.
Mine, gumam Raline dalam hatinya saat mengartikan gerakan bibir Abigail.
Raline memperlihatkan wajah penuh permusuhan, ia menatap Abigail dengan nyalang. Kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Bahkan sampai mobil Darren bergerak meninggalkan halaman, ia masih saja menatap dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
...****************...