
Abigail tersenyum saat mengetahui ada Sang Kakak di dalam van. Namun sesaat kemudian ia meringis menahan perih dan sakit di wajahnya.
"Kakak!" Abigail segera memeluk Mikha yang sudah menantinya dengan penuh kecemasan.
Mikha terdiam, ia menahan tangis apalagi saat melihat wajah Abigail yang bengkak dengan luka di sudut bibirnya.
"Sudahlah kak, bukankah aku pernah mengalami luka yang lebih parah dari ini?" Abigail mengusap punggung Mikha.
"Ya, aku tahu." Suara Mikha terdengar sangat lirih.
Ai, seandainya kamu tahu siapa yang sedang kamu hadapi. Mikha merasakan tekanan besar di dalam dadanya.
Beberapa saat mereka berpelukan hingga suara Louisa menyadarkan Mikha.
"Jika kamu terus memeluknya, bagaimana aku akan mengobati Abigail?" Louisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maafkan aku." Mikha mengurai pelukannya dan mengusap air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Louisa memeriksa wajah Abigail dengan seksama dan mengobati sudut bibir gadis itu.
"Apakah ada yang lain?"
"Lenganku." Jawab Abigail sambil membuka kemejanya. Sementara itu mobil mulai bergerak meninggalkan lokasi.
Abigail melihat keluar jendela dan terlihat sedikit bingung. Mikha mengetahui apa yang membuat risau adiknya itu.
"Darren dan Trias berada di mobil lain dan sudah ditangani oleh Troy."
Abigail menganggukkan kepala dan terlihat lega.
☘️☘️☘️
Abigail turun dari mobil tepat setelah Mikha. Ia mengedarkan pandangan dan menarik nafas lega. Mereka kini berada di halaman sebuah villa yang biasa digunakan Mikha untuk dijadikan rumah aman saat menghadapi kasus tertentu.
Kakak beradik itu masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar yang akan ditempati Abigail.
"Mandi dan berganti baju. Kita bertemu lagi di ruang makan." Kata Mikha sambil menepuk bahu Abigail dengan pelan.
"Apakah aku harus?" Abigail memutarkan telunjuk di depan wajahnya sendiri.
Mikha menggeleng pelan dan tersenyum. "Tidak perlu menyamar lagi. Toh mereka sudah melihat wajahmu."
Abigail menghembuskan nafas dengan berat dan tersenyum kecut. "Kali ini aku tidak bisa mempertahankan penyamaranku."
Mikha tidak menanggapi ucapan adiknya itu. Ia hanya tersenyum dan keluar dari kamar Abigail.
Beberapa saat kemudian Abigail sudah mandi dan berganti baju. Ia segera keluar menuju ruang makan.
Sebelum memasuki ruang makan, ia menjerit karena terkejut dengan kemunculan Darren dari sebuah kamar yang berada di dekat ruang makan.
__ADS_1
"Ya ampun Tuan, anda mengagetkan saya." Abigail memegang dadanya.
Darren tidak langsung menjawab, ia menatap penampilan Abigail yang berubah drastis. Saat ini gadis itu mengenakan dress pendek tepat di atas lutut dengan rambut diurai.
Abigail ikut melihat ke arah baju dan kakinya, kemudian memandang Darren dengan alis bertaut.
"Ada yang salah dengan baju saya?"
"Oh, it..itu. Tidak ada." Lalu Darren berjalan lebih dulu dengan perasaan malu karena ketahuan mengamati Abigail.
Berbeda dengan Abigail, ia masih penasaran dengan apa yang diamati Darren pada dirinya. Oleh sebab itu ia berhenti sejenak di depan sebuah kaca besar tak jauh dari sana dan mematut diri.
"Tidak ada yang salah kok." Gumamnya kemudian.
Ia mengangkat kedua bahunya kemudian kembali melangkah. Di meja makan rupanya selain Darren sudah ada Mikha dan Trias.
"Hai kak Trias." Sapanya ringan.
"Hai juga." Trias tampak canggung, belum terbiasa dengan wajah asli Abigail.
Suasana makan malam terasa aneh, mereka menikmati makan dalam diam.
"Kemana yang lainnya?" Setelah makan Abigail terlihat bingung tidak melihat Louisa dan lainnya.
"Mereka makan di di tempat lain." Jawab Mikha singkat.
"Jadi, mulai sekarang kalian bertiga akan tinggal di tempat ini untuk sementara." Mikha membuka pembicaraan.
"Situasi di luar masih belum aman. Apalagi Brody de Lima sudah dipastikan tewas. Kami masih belum tahu langkah apa yang akan diambil Tuan Robert de Lima sebab tadi sore ia telah dinyatakan lolos seleksi kandidat dan secara resmi menjadi calon presiden."
Trias mengangguk paham. "Apakah ada peralatan yang bisa kami gunakan untuk mengirim beberapa email untuk pembatalan pekerjaan?"
"Ada, kami akan menyediakan semua itu." Jawab Mikha.
Darren yang terlihat bingung, akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Jadi, siapa namamu yang sebenarnya?" Darren menatap Abigail dalam-dalam.
"Aku Abigail."
Trias mengernyit. "Kau menyamar menggunakan nama asli?" Ia menatap Abigail dengan heran.
"Begitulah dia." Kali ini Mikha ikut menimpali dan disambut dengan senyum kecut Abigail.
Abigail menatap Darren dan Trias secara bergantian.
"Maaf jika membuat kalian merasa tertipu."
Trias tersenyum tipis. "Jadi, selama ini Abigail adalah agen yang anda tempatkan di sekitar kami?"
__ADS_1
Mikha mengangguk. "Iya benar."
"Tidak kusangka." Trias tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Identitas tersembunyi si asisten culun adalah agen rahasia yang hebat."
Abigail menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagaimana dengan lukamu?" Darren terlihat cemas.
"Aku sudah ditangani dokter yang hebat." Jawab Abigail seraya tersenyum.
"Sudah larut, aku akan beristirahat." Mikha berdiri disusul yang lainnya.
"Aku juga. Terima kasih untuk makan malamnya." Abigail tersenyum manis.
Trias menatap Darren yang terlihat tak dapat melepaskan tatapan dari Abigail.
"Kami berdua masih ingin disini. Apakah boleh?" Trias meminta izin pada Mikha.
"Tentu saja. Dan kalian tidak perlu cemas, disini sangat aman."
☘️☘️☘️
Abigail menatap bulan dari jendela kamarnya. Entah sudah berapa lama gadis itu berdiri disana. Sesaat kemudian ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
Saat akan memutuskan kembali berbaring, ia menatap ke arah halaman dan matanya bertemu pandang dengan Morgan yang sedang berpatroli. Abigail segera melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Dan seperti biasa, Morgan hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyum yang samar kemudian melanjutkan tugasnya bersama beberapa orang anak buah untuk berkeliling villa.
Abigail menarik vitras untuk menutupi jendela dan kembali teringat ucapan Mikha beberapa waktu lalu. Tanpa sadar ia memegang dadanya.
"Apakah benar itu bukan cinta?"
Abigail merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba saja bayangan saat Darren menggenggam tangannya di dalam lift melintas di benaknya. Abigail merasa jantungnya mulai berdetak semakin cepat.
"Ada apa denganku?"
Gadis itu segera bangkit dan meneguk segelas air putih yang terletak di nakas.
"Sebaiknya aku tidur saja."
Ia kembali ke kasur dan segera merebahkan diri. Namun setelah beberapa saat ia tak kunjung terlelap.
Abigail memutuskan untuk bangkit dan kembali ke jendela. Saat melihat halaman ia terkejut dengan sosok Darren yang sedang berada di luar bahkan tidak jauh dari jendela kamarnya. Pemuda itu sedang memandang langit dengan kedua tangan berada di saku celana.
Abigail kembali memegangi dadanya yang mulai bergemuruh. Dan begitu Darren terlihat akan bergerak, Abigail buru-buru bergeser dan bersembunyi di samping jendela. Meski ada vitras yang bisa menghalangi pandangan, namun Abigail tak ingin mengambil resiko.
"Aku seperti pencuri saja." Gumamnya.
Kemudian dengan hati-hati ia berjalan kembali ke ranjangnya dan bersembunyi di balik selimut.
...****************...
__ADS_1