
Runa keluar dari kamar Abigail dengan wajah gugup. Trias yang sejak tadi berbincang dengan Liam menatap kekasihnya dengan kening berkerut. Setelah berpamitan pada Liam, Trias segera menghampiri Runa.
"Hai." Sapa Trias dengan lembut. "Kau baik-baik saja?" Tanya Trias sembari merapikan rambut Runa.
"Aku baik-baik saja." Jawab Runa. "Hanya saja, aku ikut tegang seperti Abigail."
Trias terkekeh pelan. "Bagaimana kau bisa menenangkannya jika kau sendiri gugup, hmm?" Trias memegang dagu Runa dengan lembut. "Ajaklah dia mengobrol tentang hal yang kalian berdua sukai."
"Nah, itu dia masalahnya. Aku rasa otakku buntu." Runa menggaruk tengkuknya.
Trias tidak tahan lagi. Ia menarik Runa masuk dalam pelukannya dan tertawa gemas.
"Sudah, masuklah lagi dan tenangkan dia. Waktunya sebentar lagi akan tiba." Ucap Trias kemudian mengecup puncak kepala Runa.
Runa mengangguk, ia melepaskan tangannya dari pinggang Trias kemudian kembali masuk menemani Abigail.
☘️☘️☘️
Darren berdiri dengan gelisah, berkali-kali ia menatap ke arah belakang. Dan meskipun ia sudah rapi, Darren masih saja membenarkan letak dasi, memeriksa kancing, maupun membenarkan sarung tangannya. Pemuda itu tidak dapat menyembunyikan kegugupannya.
Rayn tersenyum geli dan melangkah mendekati putranya. Ia menepuk pundak Darren beberapa kali.
"Tarik nafas dalam-dalam."
Darren tersenyum kaku, namun ia tetap menuruti perkataan Sang Papa.
Dan benar saja, Darren mulai merasa lebih tenang sekarang. Ia menatap Papanya dan mengangkat ibu jarinya. Rayn tertawa kecil kemudian menepuk punggung Darren dengan pelan. Setelah itu ia kembali duduk di bangku kayu berwarna putih yang berada di belakang Darren.
Suasana tiba-tiba menjadi hening, semua tamu yang saling bertegur sapa segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Alunan instrumen yang memainkan nada-nada romantis khas orang jatuh cinta pun terdengar.
Tidak lama kemudian, tampak Yuka yang memakai baju putih berjalan di tengah lorong penuh bunga sambil menaburkan kelopak-kelopak bunga yang indah. Wajahnya yang cantik dan menggemaskan membuat para keluarga dan tamu yang datang segera mengabadikan memotret gadis kecil itu.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tidak jauh di belakang Yuka, Abigail berjalan sambil menggandeng tangan Liam.
Semua orang yang datang segera berdiri. Mereka memandang Abigail dengan penuh takjub. Apalagi Darren yang sudah berdiri menunggu di ujung lorong bunga. Ia terpaku, di matanya kini hanya ada Abigail.
Gadis itu menjelma bak bidadari berbalut gaun putih yang begitu indah. Wajahnya yang dirias begitu rupa terlihat semakin cantik. Dan cadar putih berenda yang menutupi muka hingga dadanya membuat penampilan Abigail semakin sempurna.
Abigail berseri-seri. Konon, saat wanita sedang berbahagia, terutama saat hari pernikahannya, wajah Sang Mempelai akan terlihat bercahaya.
Keduanya saling menatap, pandangan mereka pun mengunci satu sama lain. Dan bagi keduanya, saat ini hanya ada mereka berdua dan semua orang di sekeliling mereka seakan memudar.
Seperti halnya Darren yang mengagumi penampilan Abigail, pun Abigail merasakan hal yang sama. Di matanya, Darren nampak sangat memukau.
__ADS_1
Tubuhnya yang tinggi dan atletis dibalut oleh tuxedo berwarna hitam yang mendekap tubuhnya dengan sempurna. Kulit Darren yang putih terlihat semakin bercahaya. Wajah Darren terlihat semakin tampan. Senyuman manis pemuda itu tidak memudar barang sedikit pun. Menemani setiap langkah Abigail yang semakin mendekat.
Abigail dan Liam berhenti di depan Darren. Dan pandangan mata Darren tidak lepas dari Abigail meski gadis itu sudah berada di depannya.
"Dia menakjubkan bukan?" Tanya Liam pada Darren.
Sebagai jawaban, Darren hanya mengangguk sembari tetap menatap Abigail.
Liam menatap Abigail dalam-dalam, kemudian mengecup kening gadis itu. Buliran bening lolos begitu saja dari sudut mata Liam dan Abigail. Begitu pun dengan Mikha dan yang lainnya. Sedangkan Bibi Lan sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Runa.
Liam meraih tangan Darren dan kemudian menyerahkan tangan Abigail yang sedari tadi masih memegang tangan kiri Liam.
"Kami serahkan padamu, adik kami yang paling berharga. Tolong jaga dan ayomi dia, bahagiakan dia." Liam menatap Darren dengan tajam. "Namun jika kau berani menyakitinya, aku pasti akan membunuhmu."
Liam memegang kedua tangan pengantin itu dengan erat.
"Aku akan melakukan semua yang terbaik yang aku bisa." Jawab Darren dengan tegas. Liam mengangguk-anggukkan kepala lalu berbalik dan duduk bersama keluarga yang lain.
Upacara berlangsung dengan khidmat, tanpa gangguan sedikitpun. Darren dan Abigail mengucapkan janji suci dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Semua orang yang datang pun menitikkan air mata haru. Akhirnya Abigail menemukan kebahagiaannya.
Kedua keluarga tersebut sepakat untuk melangsungkan upacara secara tertutup. Bahkan setiap orang yang datang dilarang mengunggah momen sakral tersebut ke media sosial pribadi mereka.
☘️☘️☘️
Namun akhirnya perdebatan dimenangkan oleh Zico, karena Sang mempelai perempuan sendiri yang menjatuhkan pilihan. Canda tawa seakan tak pernah usai, terdengar di semua sudut lokasi pesta.
Saat Abigail dan Darren beristirahat, hanya duduk berdua di meja bundar khusus pengantin. Tiba-tiba Kakek Zico datang bersama seseorang dan meminta Darren dan Abigail mengikutinya.
Abigail sudah dapat berjalan dengan lebih leluasa karena sudah berganti mengenakan gaun resepsi yang berpotongan sederhana meski tetap panjang sampai mata kaki. Keduanya bergandengan tangan mengikuti kemana Kakek Zico pergi.
Zico membawa sepasang pengantin baru ke sebuah gazebo yang tidak terlalu jauh dari lokasi acara. Sekeliling mereka tidak banyak orang karena semua tamu berpusat di lokasi dansa.
Tamu yang menunggu kedatangan mereka segera berdiri setelah mendengar langkah kaki yang mendekat.
Tuan Lukas?
Gumam Abigail dalam hatinya begitu mengenali siapa orang yang sudah menunggu mereka.
Ternyata Tuan Lukas tidak sendiri, ia bersama dengan istri dan seorang perempuan yang mengenakan cadar.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga bahagia selalu." Tuan Lukas memberi selamat sambil menjabat tangan Darren dan Abigail. Langkah yang sama pun dilakukan oleh istrinya.
__ADS_1
Suami istri tersebut menoleh menatap perempuan bercadar yang terlihat ragu. Namun akhirnya perempuan itu berdiri dan menjabat tangan Abigail.
Abigail dapat merasakan tubuh perempuan itu bergetar.
"Se…selamat." Ucapnya dengan suara gemetar.
"Raline?"
Perempuan yang mengenakan cadar itu mengangguk. Rupanya Raline merasa malu dengan bekas luka yang ada di wajahnya. Sehingga ia memutuskan untuk memakai cadar saat berada di tempat umum.
"Maaf." Raline mulai terisak. "Maafkan aku, Abigail."
"Aku selalu saja iri kepadamu dan berbuat jahat kepadamu. Padahal kamu tidak pernah melakukan hal yang jahat terhadapku." Air mata mulai membasahi cadar Raline.
"Aku menyesal Abigail, maafkan aku."
Abigail melihat penyesalan dan ketulusan Raline dalam meminta maaf. Ia segera memeluk Raline dengan hangat.
"Aku menerima permintaan maafmu." Ucap Abigail dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Raline mendorong Abigail dengan pelan untuk mengurai pelukan mereka.
"Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia sampai akhir masa." Ucap Raline dengan tulus.
"Terima kasih."
Pandangan Raline beralih pada Darren yang masih menatapnya dengan tajam. Raline tahu, tidak akan mudah baginya mendapat maaf dari orang-orang yang sudah ia sakiti. Dan ia tidak merasa kecewa dengan hal itu. Semua sudah menjadi resiko yang harus ditanggungnya.
"Maaf Darren, dan selamat." Raline mengulurkan tangannya.
Darren tidak segera menyambut uluran tangan perempuan itu. Ia menatap sejenak tangan Raline, lalu beralih menatap lurus ke manik matanya.
Raline hampir menarik kembali tangannya saat dengan cepat Darren membalas menjabat tangan Raline. Perempuan itu tersenyum, meski tidak nampak karena kain yang menutupi wajahnya.
"Terima kasih, Raline." Ujar Darren. "Dan semoga kamu bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian ini."
Abigail mengangkat kedua alisnya dan menatap Darren sekilas. Rupanya Darren tidak semudah itu melepaskan orang.
Raline mengangguk. "Aku tahu, sekali lagi maaf."
Tuan Lukas dan istrinya tersenyum lega. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka pergi karena tidak ingin tertinggal pesawat yang akan membawa Raline ke luar negeri.
Awalnya Raline sempat menolak, ia menganggap kedua orang tuanya ingin mengasingkan dirinya. Namun setelah ia merenung, Raline akhirnya menerima tawaran itu. Selain untuk menyembuhkan luka di wajahnya, ia juga perlu suasana baru untuk kembali menata hidupnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1
...****************...