
Dua bulan kemudian…..
Abigail duduk dengan nyaman di sebuah sofa yang sengaja diletakkan di selasar tepi kolam renang. Di hadapannya terdapat laptop yang menampilkan laporan keuangan bistro miliknya.
Gadis itu terlihat serius menatap layar laptopnya. Terkadang ia mengernyit dan tak jarang memijat pelipisnya juga. Abigail merasa perlu melakukan rapat dengan karyawannya, namun dalam kondisi sekarang, hal itu tidak mungkin untuk dilakukan.
Sejak tiga atau empat tahun yang lalu, ia memang sudah memiliki keinginan untuk membangun usaha kecil. Bukan hanya sekedar cita-cita, namun Abigail segera mewujudkannya setelah tabungan miliknya cukup. Karena ia tidak pernah berpikir akan selamanya berada di agensi baik itu sebagai model maupun agen. Abigail sadar, kondisi fisik akan menurun seiring bertambahnya usia.
Selain itu, ia memiliki keinginan untuk membangun keluarga. Akan sulit rasanya jika tetap berada di agensi dengan banyak hal rahasia yang harus ia tanggung.
Abigail melanjutkan pekerjaannya untuk beberapa waktu. Saat ia memutuskan untuk berhenti dan menutup laptop, tampak Liam datang dan segera duduk di salah satu sisi.
"Bagaimana syutingnya?" Abigail yang awalnya tersenyum ceria melihat kedatangan Liam, segera mengubah ekspresi ketika wajah lelah dan tertekan terlihat jelas di wajah Liam.
"Lancar." Jawab Liam singkat.
"Kak Liam bertengkar dengan Raline lagi ya?" Kilatan iseng terlihat jelas di manik mata Abigail.
Liam mengangkat wajahnya dengan cepat sambil mengulum senyum.
"Karena kesibukan waktu itu, aku lupa memberitahu. Beberapa hari setelah ulang tahunmu, aku memutuskan hubungan dengan Raline." Liam terlihat santai nyaris tanpa beban saat mengucapkan itu.
"Kenapa?" Kedua ujung alis Abigail menyatu saat ia mendengar kabar negatif itu.
"Aku melihatnya bermesraan dengan pimpinan salah satu rumah produksi terkenal." Liam tersenyum kecut, menertawakan kemalangannya. Hubungan yang sudah terjalin selama tiga tahun, akhirnya kandas. Ternyata Raline tidak sebaik yang ia lihat. Sebersit rasa iba muncul di hati Abigail.
Dari awal, Mikha dan Abigail tidak menyukai jika Liam menjalin hubungan dengan Raline. Namun karena Liam bersikukuh, akhirnya mereka menerima keputusan pemuda itu.
"Dia benar-benar menggunakan segala cara untuk bisa berada di atas." Komentar Abigail sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Abigail berdiri dan mengubah posisi duduk, ia mengambil tempat di samping Liam. "Jadi, selama syuting tadi, kalian berdua……."
"Aku mengganti Raline dengan model lain, Sagita. Sudah jelas dalam kontrak. Jika model terkena skandal asusila, akan segera dipecat dari TLH." Tiba-tiba Mikha datang dan segera bergabung dengan keduanya. "Lagipula mengapa kamu bertanya tentang Raline. Aku pikir kamu akan bertanya tentang pemilik lagu."
"Penyanyinya tidak akan muncul di lokasi syuting kalau bukan masalah yang mendesak." Entah sadar atau tidak, Abigail mengucapkannya dengan wajah kesal yang sangat terlihat.
__ADS_1
Darren sudah kembali beraktivitas, namun banyak kontrak yang ia tolak dan batalkan. Hal ini pun Abigail ketahui dari Mikha berdasarkan laporan agen yang menjaga Darren. Pemuda itu perlahan mulai mundur dari dunia hiburan.
Hhhhhhhh……
Abigail menghela nafas berat dengan mata menunduk menatap bantal sofa yang berada di pangkuannya.
"Kalau rindu, temui saja." Seloroh Liam.
"Bagaimana bisa? Statusku kan tahanan rumah." Jawab Abigail sambil memanyunkan bibirnya. Selama dua bulan ini tidak pernah keluar sedikitpun.
"Tahanan demi memperpanjang umurmu." Imbuh Mikha.
"Manusia kan bisa mati kapan saja kak." Abigail tidak ingin kalah.
"Kalau penyebab kematian karena sakit atau memang kuasa Tuhan, bagiku tidak masalah. Tapi kalau karena dibunuh, bukankah itu bisa dicegah?" Mikha bahkan duduk sambil menegakkan tubuhnya saat mengucapkan kalimat itu.
"Haiissshhhh…." Abigail tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menyanggah pernyataan Mikha.
Liam tergelak melihat Abigail yang tidak berdaya, sedangkan Mikha tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi, akan ada sesi dimana kami akan bertemu dan berada dalam satu frame dengan Darren. Dan menurut skenario, Darren akan sedikit bermesraan dengan Sagita." Liam membocorkan skenario produser untuk video clip lagu terbaru Darren.
"Lagu Darren kan bercerita tentang orang ketiga yang sadar dan berhenti mengganggu kebahagiaan orang lain. Jadi, akan ada scene dimana Darren berperan menjadi orang ketiga itu."
"Seperti apa adegannya." Mikha sedikit melirik Abigail saat bertanya.
"Yaahhhh, mungkin berpelukan." Liam menekan kata terakhirnya. "Juga mencium……"
"MENCIUM??!!!" Abigail berdiri dari duduknya dengan wajah memerah karena marah.
"Iya, mencium pipi Sagita." Imbuh Liam dengan santai.
Abigail mengerjap. "Eh…pi..pipi?"
Liam mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, pipi. Memangnya kau pikir apa."
__ADS_1
Abigail meneguk salivanya dengan susah payah. Dalam benaknya, ia membayangkan Darren akan berpelukan mencium bibir Sagita.
Abigail menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ti..tidak. Bukan apa-apa." Ia tersenyum canggung. "Aku ke kamar dulu."
Selesai berkata demikian, Abigail segera pergi menuju kamarnya dengan perasaan malu. Ia menyesal sudah bereaksi seperti tadi. Abigail segera masuk, meninggalkan Liam dan Mikha yang tertawa terpingkal-pingkal dan saling menepuk tangan.
Sepanjang perjalanannya menuju kamar, Abigail beberapa kali menepuk mulut dan merutuki kecerobohannya sendiri.
Setelah Abigail tidak tampak dari pandangan, Mikha segera mengendalikan dirinya.
"Apakah benar Darren akan mencium Sagita?" Tanya Mikha.
"Tentu saja tidak, aku hanya mengarang. Kita harus sering-sering menggoda Abigail seperti ini." Ujar Liam saat tawanya mulai mereda. "Ternyata sangat menyenangkan." Imbuhnya lagi sambil mengusap air matanya.
"Lakukan, jika kamu ingin kehilangan setengah dari pasukanmu akibat dibunuh olehnya saat latihan."
Tanggapan Mikha membuat Liam benar-benar berhenti tertawa. "Kalau begitu berikan anak buah Morgan sebagai ganti anak buahku."
"Tidak akan." Jawab Mikha sambil tertawa dan pergi meninggalkan Liam.
"Iiisshhh…Kakak!" Liam menggerutu sambil mengikuti Mikha.
Di dalam kamarnya, Abigail duduk bersila di tengah kasur sambil memukul-mukul sebuah bantal berbentuk buah semangka dengan gemas.
"Aaarrrggghhhhh….Malunyaaaa!!!"
Pada akhirnya Abigail membenamkan wajahnya di bantal tersebut.
"Aku ini kenapa sih?! Kenapa juga aku harus emosi hanya karena berita yang dibawa Kak Liam." Abigail mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Benar-benar berbeda dengan apa yang aku rasa ke Morgan."
Selama dua bulan ini kenangan tentang Darren selalu mengusik ketenangan Abigail. Semua berita yang menyangkut pemuda itu menjadi topik yang bisa menggetarkan hatinya. Hanya mendengar orang menyebut namanya saja bisa membuat Abigail berdebar.
Dan saat mendengar ucapan Liam, ada perasaan sakit dan tidak rela jika Darren bermesraan dengan gadis lain sekalipun itu hanya untuk keperluan syuting.
Abigail tahu benar, ia tidak seharusnya bereaksi seperti itu. Namun kali ini hati dan pikirannya tidak sejalan.
__ADS_1
Sedangkan mengenai Morgan, Abigail masih tetap bersikap seperti biasa. Namun ia tidak lagi memandang pemuda itu dengan penuh kekaguman atau mencuri pandang saat keduanya bertemu. Abigail mulai menyadari kebenaran ucapan Mikha, yang ia rasa ke Morgan hanyalah kagum, tidak lebih dari itu.
☘️☘️☘️