ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 32. Aku Rindu


__ADS_3

"Selamat pagi semuanya." Sapa Abigail dengan riang saat memasuki ruang makan. Mikha dan Liam yang sudah lebih dulu berada disana pun menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Good morning sunshine. Kamu terlihat luar biasa." Ujar Liam sambil mengerlingkan matanya.


Abigail terkekeh geli sambil duduk di hadapan pemuda itu. "Siapa yang sedang Kak Liam incar. Sampai harus berlatih seperti itu."


"Ckk…seharusnya kamu tersenyum sambil tersipu. Bukan tertawa geli begitu." Liam tidak puas dengan respon Abigail. "Aku sedang mendekati Runa."


Jawaban Liam membuat Abigail segera menghentikan aktivitasnya mengoles selai coklat pada roti tawar.


"Sudah bosan hidup?" Abigail bertanya sambil mengacungkan pisau roti berlumur coklat di tangannya.


Runa adalah sahabat Abigail yang berasal dari desa yang sama. Saat ini Runa pun bekerja di The Lighthouse dalam unit teknologi, juga sebagai tangan kanan Abigail dalam mengawasi bisnisnya saat Abigail sedang menjalankan misi.


"Ahh, kau ini. Kakakmu ini kan bukan playboy. Masa tidak boleh mendekati Runa." Liam memasang wajah memelas.


Abigail menggeleng tegas. "Tidak! Pokoknya tidak!!" Jawabnya tegas dan menyelesaikan mengolesi selai pada rotinya.


Liam menyeruput kopi dengan wajah masam. "Apa kurangnya aku? Aku tampan, pemuda baik-baik, tidak merokok, tidak main judi, penyayang, tidak suka menipu, tidak…."


"Perjaka." Abigail memotong ucapan Liam.


Spontan Mikha menyemburkan jus yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Wajah Liam berubah menjadi tegang saat melihat reaksi Mikha.


"Itu tidak benar. Aku tidak pernah melewati batasan." Liam menggoyang-goyangkan kedua tangannya menatap Mikha yang sudah bersedekap sambil memasang tatapan yang mengintimidasi.


"Tapi Raline cerita kalian sudah berhubungan saat valentine." Tanpa rasa bersalah melihat ketakutan di wajah Liam, Abigail terus berkata-kata sambil menikmati roti coklatnya.


"Ya ampun Abigaiiilllll." Liam meraup wajahnya dengan kasar. "Kami sungguh tidak melakukan apa-apa. Dia hanya membual di depan kalian."


"Benarkah begitu?" Akhirnya Mikha bersuara.


Suara datar Mikha membuat bulu kuduk Liam berdiri.


"Kalau berani mendekati Runa, hilang sudah masa depanmu itu." Mikha mengancam sambil melirik ke arah bawah.


"Hhhhh…baiklah." Liam mendesah pasrah.


Abigail tersenyum tipis melihat wajah kesal Liam. Ia bahkan menjulurkan lidahnya saat Liam meliriknya. Gadis itu tidak terima jika sahabatnya didekati Liam. Aneh memang, seharusnya ia bahagia akan menjadi saudara ipar dengan Runa, namun Abigail tidak rela jika nantinya Runa menjadi bulan-bulanan Raline di tempat kerja.


Mungkin Abigail berlebihan, ia berpikir terlalu jauh. Namun lebih baik mengantisipasi daripada keadaan menjadi semakin runyam.


"Kak Mikha." Abigail memecah keheningan setelah ia membuat Liam kelabakan tadi.


"Ya, ada apa?" Mikha yang sedang membaca tablet segera meletakkan benda tersebut dan menatap Abigail.

__ADS_1


"Mmm, aku ingin ke bistro hari ini. Apakah boleh?" Abigail menatap Mikha dengan penuh harap. Sudah berbulan-bulan dan ia sudah tidak sabar ingin melihat tempat usahanya. Sebuah bisnis kecil yang Abigail siapkan untuk masa pensiunnya.


Mikha mempertimbangkan permintaan Sang adik, suasana kembali hening. Abigail tanpa sadar menunggu sambil menahan nafas. Sedangkan Liam, ia pun tidak sabar ingin mendengar keputusan Mikha.


"Jangan pernah menghilang dari mata Liam." Ucap Mikha pada akhirnya.


"Apa?!" Liam menatap Abigail dengan kesal.


"Yes!" Pekik Abigail.


Dua reaksi yang berbeda. Liam tampak tidak setuju dengan keputusan Mikha, sedangkan Abigail gadis itu terlihat gembira, ia tidak peduli meski harus dijaga selusin pasukan, asal ia bisa pergi.


☘️☘️☘️


Abigail masuk ke dalam bistro dengan senyum yang terus bertengger di wajah cantiknya. Beberapa pegawai terkejut dengan kedatangannya dan segera membungkuk memberi hormat.


"Dimana Runa?" Tanya Abigail pada seorang pegawai.


"Nona Runa sedang menemani seorang tamu berbincang-bincang."


Abigail mengernyit. "Seorang tamu?"


Pelayan tersebut mengangguk. "Mari Nona, saya antar kesana."


"Tidak perlu, biarkan saja." Abigail tersenyum dan segera menuju dapur untuk memeriksa.


Dengan cepat Abigail berbalik, matanya mencari sosok Darren yang sempat ia lihat tadi.


"Dia kesana." Liam memegang kedua lengan Abigail dan memutar tubuh gadis itu.


Abigail melihat Darren menghampiri seseorang yang sedang duduk bersama Runa.


"Runa?" Dahinya mengernyit.


Dari tempatnya dan Liam berdiri, Abigail bisa mengamati dengan leluasa tanpa diketahui orang lain kecuali mereka melihat dengan baik. Sebab keduanya berdiri di antara dua buah lemari besar yang posisinya tidak sejajar hingga menciptakan ruang zig zag.


Tidak lama kemudian, pria yang sedang berbicara dengan Runa pun berdiri. Saat pria tersebut berbalik hendak pergi, Abigail semakin terkejut.


"Kak Trias?" Gumam Abigail. "Sedang apa mereka disini?"


Namun kemudian tatapan Abigail terpaku pada Darren. Pemuda itu tampak membicarakan sesuatu dengan Trias.


Abigail tersenyum samar, tanpa sadar tangan kanannya terangkat dan memegang dadanya. Detak jantungnya mulai berpacu dengan cepat.


"Cepat temui dia." Bisik Liam dari belakang.

__ADS_1


Abigail menggerakkan tubuhnya hendak maju, namun ia kembali mengurungkan niatnya. Gadis itu menggeleng dengan terus menatap Darren hingga pemuda itu serta Trias meninggalkan bistro.


"Ada apa? Bukankah kamu sangat ingin bertemu dengannya?"


Abigail tidak menjawab Liam, ia menghela nafas berat dan berbalik masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Liam. Tepat disaat yang sama Darren berbalik, matanya menatap ke arah lemari yang berada di belakang kasir.


"Ada apa?" Trias menatap Darren dengan heran.


"Sepertinya ada yang sedang mengamatiku." Ucap Darren lagi.


Trias ikut melihat ke arah Darren memandang. "Tidak ada siapa-siapa disana."


Darren tersenyum kecut kemudian berbalik meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan itu Darren hanya diam dan memejamkan matanya. Mengingat wajah gadis yang sangat ingin ia temui.


Abi, kamu tahu, aku sempat merasakan keberadaanmu tadi. Abi aku rindu.


☘️☘️☘️


Liam duduk di depan meja kerja Abigail dengan tatapan heran.


"Jangan melihatku seperti itu." Abigail membuang muka tidak ingin membalas tatapan Liam.


"Ada apa?" Liam semakin penasaran.


"Aku yakin Kak Mikha sudah memberitahu Kak Liam." Jawab Abigail.


"Memberitahu apa?"


Abigail berdecak kesal, ia sangat yakin jika Liam mengerti arah pembicaraannya. Namun pemuda itu bersikap seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.


Melihat tingkah Liam, Abigail menghela nafas dengan kasar. "Aku menjadi target yang harus dibunuh dalam waktu dekat."


Liam mengangkat salah satu alis dan memperbaiki duduknya.


"Jadi….."


"Aku mendengar semua saat Morgan berbicara dengan Kak Mikha." Abigail menatap Liam dengan tajam. "Mereka bisa membunuh Darren hanya jika aku sudah mati."


Liam terdiam, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku harus tahu siapa yang sudah mengambil kontrak itu."


Abigail menahan sesak di dadanya, ia sampai harus menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2