ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 39. Tidak Kenal


__ADS_3

Abigail mengerjap, hal pertama yang ia lihat dan dengar adalah kegelapan dan kesunyian. Bahkan karena terlalu sunyi, ia bisa mendengar degup jantungnya sendiri. Jauh di depannya terlihat secercah cahaya yang membuat ia memaksakan kakinya untuk melangkah.


Abigail meringis, seluruh tubuhnya terasa sakit. Dengan langkah yang terseok-seok, ia tiba di dekat cahaya yang ternyata berasal dari celah pintu.


Abigail mengintip, matanya berusaha untuk menyesuaikan dengan penerangan yang berada di balik pintu. Sepertinya sudah sangat lama ia berada di dalam kegelapan hingga matanya terasa sakit saat melihat cahaya. Dan ketika ia mulai terbiasa, matanya membelalak sempurna.


Tidak jauh dari pintu, terlihat seorang kakek terlentang di lantai dengan leher bersimbah darah dan menatap ke arahnya. Dan sekitar satu meter di sampingnya, lebih dekat ke arah pintu, terlihat seorang wanita terlentang dengan daerah perut yang berlumuran darah.


Lantai ruangan tersebut dipenuhi banyak sekali darah, termasuk yang berasal dari tangan seorang pria yang tengah duduk terikat di sebuah kursi. Di hadapan kursi itu, berdiri pria lainnya dengan setelan jas rapi berwarna hitam. Abigail bisa melihat dengan jelas, tangan kiri yang memegang pistol tersebut mengenakan sebuah cincin emas berukuran besar pada jari tengahnya.


"Jika saja kau dan orangtuamu mau menyerahkan kursi kepemimpinan itu kepadaku, keluargamu tidak perlu berakhir tragis seperti ini." 


Abigail mendengar pria dengan pistol itu berbicara.


"Oo..orang ta..tamak sepertimu. Ti…tidak laa…layak menjadi pemim..pin."


Dada Abigail berdetak semakin cepat mendengar suara pria yang berada di kursi itu. Ia memegang mulut dengan kedua tangannya. Entah kenapa hatinya terasa sakit, padahal ia tidak mengenal siapa saja orang yang berada di dalam ruangan itu.


Sesaat kemudian, dengan gerakan yang lemah, pria tersebut menoleh ke arah pintu. Ia menatap Abigail dengan sendu.


"Tetaplah hidup. Kami semua menyayangimu."


Dan usai berkata demikian, pria tersebut jatuh ke belakang bersama kursinya akibat tembakan yang tepat mengenai dahi.


"Aaaaaaakkhhhh!!!" Abigail menjerit histeris, ia menangis sejadi-jadinya. Padahal ia merasa tidak mengenal para korban, tapi sekarang hatinya terasa sangat sakit. Dan kemudian dipenuhi kobaran amarah. Abigail terus menjerit sambil memukul-mukul dadanya.


Sesaat kemudian pintu terbuka, pria yang memegang pistol sudah berdiri menjulang di hadapannya.


"Siapa kamu?!" Pria tersebut menatap Abigail dengan tajam. Suaranya membuat tubuh Abigail meremang, namun tangisnya tidak bisa berhenti. Tubuh pria itu menjulang tinggi di hadapannya. Membuat Abigail merasa ia seperti anak kecil yang berhadapan dengan pria dewasa. 


Kemudian Abigail merasakan tubuhnya terguncang-guncang. Ia menatap pria tersebut namun penglihatannya kabur.


"Ai!!"

__ADS_1


Abigail bisa mendengar suara Mikha berasal dari mulut pria tersebut. Gadis itu mengernyit, ia merasa heran dengan apa yang ia lihat dan dengar saat ini.


"Ai!!"


Sekali lagi Abigail mendengar suara Mikha, dan disaat yang sama tiba-tiba tubuhnya bergerak sendiri ke arah belakang. Dengan sangat cepat, seperti ada yang menyeret dari belakang, tubuh Abigail menjauhi tempat pembantaian itu. Saat tarikan itu berhenti, samar-samar Abigail mulai bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.


Bunyi "bip" dari sebuah mesin yang merekam aktivitas jantung mulai terdengar jelas, disusul suara orang yang sedang menangis.


Abigail mulai membuka kelopak matanya meski sangat berat dan basah. Sepertinya ia benar-benar menangis. Abigail merasa tubuhnya menjadi sangat lelah. Kemudian ia mencoba menggerakkan jari-jarinya.


Gerakan Abigail membuat seseorang segera menghampirinya. Ia belum bisa melihat orang tersebut dengan jelas, namun yang pasti Abigail merasa semua akan baik-baik saja.


"Ai, ini Kakak."


Abigail mendengar suara Mikha tepat di telinganya.


"Ka..kak." Abigail merasa tidak bertenaga, namun ia sangat ingin merespon ucapan Mikha.


"Iya sayang, ini Kakak." Bagi Abigail, suara Mikha terdengar seperti baru selesai menangis. Mendengar itu, Abigail semakin berusaha dengan keras untuk bisa membuka mata. Ia ingin tahu apa penyebab Sang kakak menangis.


"Jangan dipaksa, pelan-pelan saja." Mikha berusaha menenangkan Abigail.


"Bagaimana dia bisa tenang kalau kamu menangis." Troy yang sedang mengamati perkembangan Abigail berkomentar. "Keluarlah dulu, aku akan menangani Abigail. Lagipula dia sudah sadar sekarang. Jadi kamu bisa beristirahat dengan tenang."


Abigail yang mendengar kalimat Dokter Troy, membuat ia ingin menggoda Mikha. Namun sepertinya tidak mungkin mengingat kondisinya saat ini.


Sesaat kemudian Abigail merasa matanya sangat berat. Usapan tangan Mikha pun memberikan rasa nyaman dan hangat di hatinya. Akhirnya Abigail kembali terlelap.


☘️☘️☘️


Satu Minggu Kemudian…


Pagi yang cerah, Abigail menikmati bunga-bunga yang sedang bermekaran di depan ruang perawatannya. Tadi malam, Dokter Troy sudah melepas berbagai macam selang yang terpasang di tubuhnya. Oleh sebab itu pagi ini Abigail bisa bergerak dengan leluasa.

__ADS_1


Klinik yang didirikan TLH awalnya hanya merawat agen yang terluka. Namun seiring berjalannya waktu, Mikha mulai mengizinkan perawatan bagi pasien biasa.


Tidak jauh dari Abigail berdiri, Mikha dan Troy sedang membicarakan kondisi Abigail. Tiba-tiba dua orang pemuda muncul dan berjalan dengan tergesa-gesa. Salah satunya bahkan menatap Abigail dengan tatapan yang membuat gadis itu merasa risih.


"Abi!" Salah satu pemuda itu berlari dan segera memeluk Abigail.


Refleks gadis itu bergerak setengah berbalik dan mengangkat tubuh Sang pemuda dengan bahunya. Kemudian dengan cepat ia menjatuhkan Sang pemuda ke lantai.


"Aakkhhh!!!" Pemuda itu berteriak kesakitan saat tubuhnya menghantam lantai dengan sangat keras dan salah satu tangannya ditahan dan dipelintir oleh Abigail.


"Ya ampun Abigail!!" Mikha dan Troy bergerak menghampiri.


"Siapa kau? Seenaknya saja kau memelukku! Sudah bosan hidup?!" Abigail merasa marah dipeluk oleh orang yang tidak dia kenal.


"Abigail, apa maksudmu? Kau tidak mengenali kami?" Pemuda yang lain angkat bicara.


"Abigail, lepaskan Darren. Kita akan bicara baik-baik."


Mendengar ucapan Mikha, Abigail segera melepaskan tangan Darren. Dan ia segera ditolong oleh Troy dan Trias untuk berdiri. Bahkan Troy segera memeriksa lengan Darren.


"Aku tidak suka anda memelukku Tuan." Abigail menatap Darren dengan perasaan jengkel. "Meski anda adalah teman Kakakku Mikha, tapi tolong jangan bertindak melewati batas terlebih aku tidak mengenal kalian."


Wajah kedua pemuda itu tampak sangat terkejut.


"Kakak? Miss Mikha bukan sebatas atasan Abigail? Dan apa maksudnya tidak kenal?"


Pertanyaan beruntun yang dilontarkan Triasaka membuat Mikha memijat pelipisnya. Sementara itu Darren yang sedang diperiksa Troy terlihat menatap Abigail dengan tatapan terluka.


"Lebih baik sekarang kita masuk." Mikha menuntun Abigail untuk kembali ke dalam ruang perawatannya dan meminta gadis itu untuk berbaring di tempat tidurnya. Sementara Troy, Darren dan Trias duduk di sofa tamu yang menghadap ke arah brankar Abigail.


"Aku tahu kau marah padaku karena tidak langsung menjengukmu. Tapi tolong jangan berkata kau tidak mengenalku Abi." Darren menatap Abigail dengan sendu. Gadis yang sangat ia rindukan kini menatapnya dengan dingin.


"Tapi aku memang tidak mengenal anda, Tuan."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2