ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 18. Monster


__ADS_3

Trias berjalan mendekati Darren untuk menyampaikan kabar yang ia terima. Namun sebelum ia sampai, sutradara telah memanggil Darren sehingga Trias mengurungkan niatnya bahkan terlihat lega. Karena pada awalnya ia khawatir berita tentang Abigail akan membuat Darren kehilangan fokus pada pekerjaannya.


Menjelang sore, Darren sudah menyelesaikan kegiatannya. Syuting tidak dapat dilanjutkan karena terjadi beberapa kendala teknis. Kabar ini disambut gembira oleh Trias dan Darren yang segera menuju bandara untuk pulang.


"Ada kabar tentang Abigail?"


Trias memasang sabuk pengamannya sebelum menjawab pertanyaan Darren.


"Mereka mengatakan Dona dan beberapa orang membawa Abigail yang terlihat tidak sehat."


"Tidak sehat? Dia baik-baik saja saat kita berangkat." Darren terlihat tidak menyukai kabar itu. "Aku curiga, mereka melakukan hal yang buruk pada Abigail."


Trias tak berkata apa-apa lagi, ia pun khawatir dengan keselamatan gadis yang ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Kalau begini aku jadi menyesal menolak jet pemberian Kakek." Darren mengusap wajahnya dengan kasar.


Perjalanan 50 menit itu terasa seperti berhari-hari bagi keduanya. Begitu tiba mereka segera menuju Sky City bahkan meninggalkan tim lain yang masih mengurus barang.


Tiba di Sky City, Trias meminta kepala keamanan yang juga temannya untuk memeriksa kamera keamanan. Rekaman dari ruangan Roki membuat kecurigaan Darren menjadi nyata.


"Zai dan Dona!" desis Darren dengan geram.


"Darren, ayo." Trias mengajak Darren keluar dari ruang pusat keamanan Sky City.


"Mau kemana?"


"Apartemen Abigail." jawab Trias singkat.


Mereka berjalan menuju mobil dengan setengah berlari.


"Kamu tahu unitnya?"


"Tidak, tapi kita bisa bertanya." Trias melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tidak ada protes dari Darren karena ia pun ingin segera tiba disana.


Setelah tiba, Trias segera menuju petugas keamanan yang berdiri di pintu masuk dan bertanya nomor unit yang ditempati Abigail.


"Kalau boleh saya tahu, Tuan-tuan ini ada hubungan apa dengan Nona Abigail?"


"Atasannya." jawab Trias.


"Tunggu sebentar."


Petugas tersebut menuju sebuah ruangan kecil yang tak jauh dari sana.


"Halo, ada yang mencari unit Nona Abigail. Apa yang harus saya jawab?" petugas tersebut menelepon seseorang.


"Siapa mereka?" suara seorang wanita diujung sambungan.


"Mereka mengaku atasan Nona Abigail."


"Berikan saja informasi yang mereka minta."


"Baik Nyonya."


Petugas keamanan itu meletakkan gagang telepon dan menemui Darren juga Trias.


"Permisi Tuan, Nona Abigail tinggal di unit 407. Silahkan naik menggunakan lift sebelah kanan."


"Terima kasih." Darren menepuk pundak petugas tersebut kemudian menuju lift yang ditunjukkan.


Begitu tiba di lantai 4, ia segera berlari membuat Trias terkejut dan tertawa kecil.


Setelah menemukan unit yang dimaksud, mereka segera menekan bel. Namun setelah lama menunggu, pintu tak kunjung dibuka.

__ADS_1


"Abi!!" Darren menggedor pintu apartemen dengan tidak sabar.


"Darren, jangan seperti itu."


Tiba-tiba salah satu pintu unit lain terbuka. Seorang wanita keluar dan terlihat akan pergi.


"Permisi." Trias berlari kecil menghampiri wanita tersebut. "Apakah anda melihat Nona Abigail?"


"Oh, Abigail. Tadi dia sempat datang, namun tak lama dia pergi lagi dengan kakak perempuannya."


"Apakah dia terlihat sakit?" Darren menghampiri dan ikut bertanya.


Wanita itu tampak berpikir sejenak. "Maaf, saya tidak terlalu memperhatikan."


"Terima kasih Nyonya." Trias melangkah ke samping memberi jalan.


Keduanya berpandangan sejenak dan kembali ke depan unit apartemen Abigail. Setelah tetap diam dan menunggu beberapa saat, Trias menepuk pundak Darren untuk mengajaknya pergi.


Malam itu Darren tidur dengan tidak nyenyak. Meski tahu Abigail bersama keluarganya, ia tetap merasa khawatir.


☘️☘️☘️


Abigail menjengit, sebab sebelum ia menekan bel, pintu apartemen Darren sudah terbuka.


"Selamat pagi. Kak Trias sampai jam berapa?"


Senyum Abigail luntur setelah Trias menarik tangannya dan membanting pintu dengan kencang.


Trias menuntun Abigail sampai di tengah ruangan dan memindai tubuh gadis itu.


"Kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka? Apakah Zai dan Dona menyakitimu? Kemana mereka membawamu?"


Abigail terperangah, ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan Trias. Namun belum hilang rasa terkejutnya, Darren muncul dan berjalan dengan cepat ke arahnya.


Bahkan pemuda itu memegang kedua bahu Abigail setelah ia berhenti tepat di depan gadis yang membuatnya tak dapat tidur semalaman.


Abigail melepas tangan Darren seraya tersenyum tipis. Ia menarik nafas sejenak sebelum menjawab.


"Aku baik-baik saja, dan tidak terluka sedi…."


"Kami melihat rekaman di ruangan Roki." tukas Trias.


Abigail diam, ia tersenyum tipis. "Kalian lihat sendiri, tidak ada luka sedikitpun di tubuhku. Dan mengenai kejadian di ruangan Roki, itu…."


"Apa kau takut dianggap menuduh tanpa bukti?" Darren memotong ucapan Abigail.


Gadis itu menggeleng. "Aku hanya tidak tahu bagaimana menceritakannya. Karena saat sadar aku sudah berada di gudang kosong."


Nafas Darren tercekat, dan detik berikutnya Abigail sudah berada di dalam pelukannya.


"Tu…Tuan."


Darren mengurai pelukannya dan menatap Abigail lekat-lekat.


"Aku tidak akan melepaskan mereka." ucapan Darren terdengar datar dan dingin. "Ayo kita menemui Dona." ucap Darren pada Trias dan disetujui dengan anggukan.


Abigail tidak membantah saat Darren menarik tangannya. Namun dalam perjalanan menuju lift ia melepas tangannya perlahan. Darren yang menyadari itu dengan cepat menahan tangan Abigail dan menautkan jari jemari mereka.


Abigail merasa seperti ada aliran listrik di tangannya, menjalar ke seluruh tubuh dan membuatnya berdebar. Di dalam lift pun Darren tidak melepas tangannya.


Abigail menggoyang tangannya agar Darren melihat ke arahnya. Setelah Darren menatapnya, ia mengedikkan dagu untuk menunjuk tangan mereka yang bertaut.


Darren melihat tangannya sesaat kemudian kembali menatap Abigail, dalam dan penuh kehangatan.

__ADS_1


Abigail mengernyit saat Darren mendekatkan wajahnya.


"Aku tidak akan melepaskanmu."


Suara Darren yang berat dan dalam menciptakan perasaan asing di dalam hati Abigail. Rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, terhadap Morgan sekalipun.


☘️☘️☘️


Dona bergetar saat melihat kemarahan di wajah Trias dan Darren. Ia mundur hingga terjatuh di sofa ruang tamunya.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Abigail?!" Trias dengan penuh intimidasi melangkah maju mendekati Dona.


"Ap..apa mak..maksudmu?"


"Kami melihat rekaman CCTV di ruangan Roki." ucap Darren dan mengambil tempat di depan Dona.


Wajah Dona semakin pucat pasi seakan tak memiliki darah.


"Jika tidak ingin mengaku, kami akan mengirim rekaman itu ke polisi." ucap Trias lagi.


Dona menelan salivanya dengan susah payah. "Ak..aku. Aku…aku hanya ingin menakut-nakutinya."


"Menakuti dengan apa?" Darren memicingkan matanya menatap Dona.


"It.itu. Aku…aku."


"AKU APA?!!" suara Darren menggelegar disertai dengan gebrakan tangan di meja.


"Aku menyewa preman untuk memperkosanya."


Dona tanpa sadar mengucapkan hal sebenarnya karena terkejut dengan bentakan Darren. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya ketika menyadari kecerobohannya sendiri.


"Kau!!!" Darren berdiri dengan kilatan menakutkan di matanya.


Dona tersungkur di lantai. "Ti..tidak ada yang berhasil menyentuh gadis itu. Sebab dia berubah menjadi monster."


Trias menarik paksa lengan Dona agar gadis itu berdiri. "Katakan yang jelas."


Dona meremang, ia merasa nyawanya tidak akan lama lagi. Tatapan dan suara Trias membuatnya sesak nafas.


"Tidak ada satupun preman yang bisa menyentuh Abigail. Gadis itu seperti monster yang menakutkan." cicit Dona.


Trias melepas tangannya dengan kasar dan mendorong Dona.


"Ak..aku tidak akan mengganggu Abigail lagi. Percayalah, aku tidak ingin melihat monster itu."


"Kau yang merubahnya menjadi monster." ucap Darren sambil tersenyum sinis pada Dona.


"Abigail, benarkah preman itu tidak menyentuhmu?" Trias bersuara dengan keras agar Abigail menampakkan dirinya.


Mendengar pertanyaan Trias, Abigail berdiri di ambang pintu dan menatap Dona dengan datar. Membuat Dona refleks memegang lehernya. Ia tiba-tiba teringat saat Abigail mencekiknya dengan kuat.


"Iya Kak, benar."


"Jangan mengasihaninya Abi." Darren mendekati Abigail dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Abigail tersenyum tipis menatap Darren kemudian berbalik pergi.


Melihat kelembutan Darren pada Abigail, Dona tersenyum getir.


"Mengapa harus dia yang buruk rupa yang bisa menarik perhatianmu?" suara Dona terdengar bergetar.


Darren menatap Dona dengan tajam kemudian pergi menyusul Abigail.

__ADS_1


"Bangkai, meski dibungkus dengan kertas cantik, tetaplah bangkai." Trias tersenyum sinis melihat Dona yang menjatuhkan tubuhnya ke sofa begitu saja dan melangkah keluar dari apartemen itu.


......................


__ADS_2