ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 31. Distrik Harlem


__ADS_3

Distrik Harlem pada waktu yang sama……


Morgan menenggak bir sambil menyaksikan pertarungan bebas yang sedang berlangsung di atas ring. Gedung tersebut dipenuhi dengan suara teriakan penonton yang memberi semangat pada jagoan masing-masing. Terlihat juga para pembantu bandar besar yang sibuk mengumpulkan uang taruhan.


"Aku pikir tidak akan bertemu denganmu untuk waktu yang lama." Seorang gadis cantik dengan rambut merah menyala menghampiri Morgan dengan senyuman manis yang terus bertengger di bibirnya.


Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih membuat banyak pria menatapnya dengan lapar. Akan tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk berbuat jauh. Meski mereka adalah penjahat, tetap saja mereka masih menghargai nyawa sendiri.


Morgan hanya melirik gadis itu sesaat. "Bukankah dirimu yang sangat sibuk, Venus?"


Gadis bernama Venus tertawa riang, namun suaranya tenggelam dalam teriakan penonton yang membahana. Rupanya sudah ada pemenang untuk pertarungan kali ini.


Venus meraih tangan Morgan dan mengajak pemuda itu untuk mencari tempat yang lebih tenang agar lebih nyaman saat berbicara.


"Temani aku makan." Ujarnya sambil menoleh ke belakang menatap wajah Morgan yang tetap datar. "Kau tidak berubah sedikitpun." Venus terkekeh.


Morgan dan Venus memasuki sebuah restoran yang menyajikan makanan oriental. Tidak perlu mencari tempat duduk yang aman, karena setiap meja diletakkan di dalam bilik yang terbuat dari kaca anti peluru.


Harlem adalah tempat berkumpulnya para pelaku kejahatan dalam skala internasional. Hukum yang digunakan disana hanyalah hukum jalanan. Oleh sebab itu semua pemilik usaha mempunyai cara untuk mengamankan propertinya masing-masing.


"Ada apa memanggilku kemari?" Morgan memulai inti pembicaraan setelah menghabiskan makanannya.


"Kucing kecilku masuk dalam kontrak." Venus menatap Morgan dengan datar, wajah cerianya berubah menjadi dingin. "Kalian melibatkannya dalam masalah apa?" Sekilas terlihat ada kemarahan dalam tatapan Venus.


"Dia melindungi saksi pembunuhan menantu Robert de Lima."


"APA??!!" Venus menggebrak meja dengan sangat kuat. "Sudah kukatakan, jauhi bajingan tua itu! Apa yang ada dalam pikiran M?! Apa isi otaknya?!! Dan kau, tidak bisakah kau juga Liam menghalangi M?!"


Venus meradang, ia berapi-api saat berkata-kata. Morgan hanya menatap Venus dengan tenang, ia sudah menduga gadis itu akan marah besar mengetahui masalah Abigail.


Morgan menyesap wine dan meletakkan gelasnya dengan pelan. "Bukankah untuk ini ia dilatih dan dikirim dalam berbagai misi?"


"Ya, memang benar. Tapi bukan untuk melawan pria itu secepat ini." Venus meraup wajahnya dengan kasar. "Jika aku tahu akan begini, lebih baik aku membawanya saat meninggalkan TLH."


"Venus!"


"Apa?!!!"


Morgan menarik nafas dalam-dalam. "Dia bukan gadis kecil lagi. Dia sudah banyak berubah."


Venus tersenyum getir. "Buatku, dia masih gadis kecil. Yang seharusnya dilindungi, bukan dijadikan umpan untuk memancing ikan besar." Sindir Venus lagi.


"Hal itu terpaksa dilakukan untuk melihat apa saja yang dimiliki tua bangka itu di balik punggungnya." Jelas Morgan.


Keduanya terdiam untuk beberapa waktu. Morgan menatap Venus dalam-dalam. Gadis itu tidak banyak berubah, tetap cantik dan liar di mata Morgan.


Venus dulunya adalah agen TLH, berbeda dengan yang lain. Venus tidak ingin menjadi agen sekaligus model. Meski wajah dan tubuhnya sangat menunjang, namun Venus tetap pada pendiriannya.


Ia keluar dari agensi karena berbeda pendapat dengan Mikha saat misi terakhirnya. Venus ingin melenyapkan bos utama sebuah jaringan besar yang melakukan aktivitas perdagangan manusia dan juga narkoba. Namun Mikha memilih menyerahkan mereka pada kesatuan polisi militer lintas negara.


Venus yang kecewa berat akhirnya memilih hengkang dari TLH. Dan kini ia menjadi salah satu pembunuh bayaran wanita paling ditakuti. Sebab ia tidak segan untuk membunuh orang yang menggunakan jasanya jika orang tersebut juga melakukan kejahatan besar. Ia tidak mencari uang, Venus hanya mencari keadilan untuk para korban dengan gayanya.

__ADS_1


"Siapa yang memasukkan identitas Abigail dalam kontrak?"


Venus menghela nafas. "Akun phantom, dan info yang masuk hanya berupa sketsa wajah." Ia meneguk air mineral di tangannya.


"Dan uniknya, kontrak Abigail diikuti oleh kontrak lain dengan nilai yang tidak kalah fantastis. Jika ingin membuka kontrak tersebut, harus menyelesaikan yang pertama." Imbuh Venus.


"Siapa yang menjadi target kedua?"


"Seorang publik figur, seorang penyanyi."


"Darren Wang."


Venus mengernyit. "Bagaimana kau tahu?"


"Karena pemuda itu adalah saksi pembunuhan menantu keluarga de Lima."


Venus mengambil tas dan mengeluarkan flashdisk kecil berwarna hitam. Ia menyodorkan benda itu kepada Morgan.


"Itu adalah semua informasi yang kalian butuhkan tentang orang yang mengambil kontrak."


Morgan menerima pemberian Venus dan segera menyimpannya.


"Jika kontrak selesai dalam waktu empat bulan, maka akan ada bonus besar yang menanti." Imbuh Venus.


Morgan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tepat sebelum pemilihan presiden."


Venus tertawa sumbang. "Bedebah itu benar-benar tidak tahu diri." Ujarnya lagi kemudian tertawa.


"Ada janji?" Morgan bereaksi.


"Ada yang harus kubeli." Jawab Venus. "Klienku memerlukan sepasang kornea mata. Dan malam ini ada kornea baru yang akan dilelang. Dan menurut keterangan, kornea tersebut cocok."


Venus berdiri menghadap Morgan dan menatap pemuda itu dalam-dalam.


"Terima kasih sudah bersedia menemuiku. Sampai jumpa." Ujarnya dan segera berbalik.


Namun secepat kilat Morgan menangkap lengan Venus dan membuat gadis itu berbalik menghadap ke arahnya.


"Kau tahu aku sanggup melindungi dan menghidupimu kan."


Venus tertawa renyah, sangat cantik hingga membuat Morgan kembali berdebar. "Hei, usiaku lebih tua darimu. Dan jawabanku tetap sama seperti dulu."


"Aku tidak peduli."


Venus mengangkat kedua alisnya dan tersenyum tipis. Ia melepaskan tangan Morgan dan kembali berbalik untuk melangkah pergi.


Dan sekali lagi Morgan menarik Venus hingga gadis itu menabrak dada bidangnya. Secepat kilat Morgan menekan tengkuk Venus dan mencium bibir gadis itu.


Pemuda itu tidak peduli meski mereka berada di keramaian. Karena kenyataannya, tidak ada satu orang pun yang memperdulikan kemesraan mereka.


Venus mendorong Morgan sekuat tenaga. "Kau tidak pernah menyerah juga." Ujarnya dengan terengah-engah. Wajah Venus memerah karena pada akhirnya ia membalas ciuman Morgan bahkan hanyut di dalamnya.

__ADS_1


Morgan tersenyum tipis, dan itu membuat Venus mengerjap. Pemandangan yang langka.


"Aku anggap itu sebagai iya." Ucap Morgan dan kembali melabuhkan ciuman pada bibir Venus.


☘️☘️☘️


Hari sudah larut malam, namun Mikha masih tetap duduk di balik meja kerjanya. Ia memeriksa beberapa laporan.


"Hai Ve, lama tidak berjumpa." Ucap Mikha tiba-tiba. "Aku senang kau datang, masuklah."


Sesaat kemudian sebuah bayangan berkelebat dan dalam sekejap seseorang sudah berdiri di depan Mikha.


"Aku baik, terima kasih sudah bertanya." Jawab Venus sambil tersenyum sinis.


Mikha meletakkan kertas yang ia baca dan menatap Venus. Sekalipun ia kecewa Venus pergi begitu saja, namun tidak ada dendam atau kemarahan dalam hati Mikha.


"Jika ingin melihatnya, kenapa tidak langsung menemuinya? Kau tidak perlu mengendap-endap."


Wajah Venus berubah drastis, ia terlihat sedih. "Aku tidak memiliki keberanian sebesar itu."


Mikha berdiri dan mengambil dua kaleng minuman bersoda dari lemari pendingin.


"Dia tidak akan marah kepadamu." Ucap Mikha seraya memberi sekaleng soda pada Venus.


Setelah memberikan Venus sebuah minuman. Ia memberi kode agar gadis itu mengikutinya.


Rupanya Mikha membawa Venus menuju kamar Abigail. Saat Mikha akan mengetuk, Venus menahan dengan sangat cepat. Ia menggeleng saat Mikha menatapnya dengan heran.


"Jangan sekarang, aku belum siap."


Mikha mengerti, akhirnya mereka berdua masuk ke dalam perpustakaan dan duduk di sofa yang terletak di pinggir jendela.


"Morgan sudah menceritakan kepadaku."


Venus menatap minuman di tangannya dan tersenyum tipis. "Dia tidak membuang-buang waktu."


"Saat Draco gagal, ambillah kontrak itu."


Venus segera mengangkat wajahnya dan menatap Mikha dengan tajam.


"Ayo kita akhiri ini untuk selamanya." Imbuh Mikha.


"Apakah Abigail tahu, jika ia digunakan sebagai umpan?"


Mikha menggeleng pelan. "Ia bahkan tidak tahu siapa yang dia hadapi."


Kedua alis Venus bertaut. "Kalian belum menceritakan peristiwa itu kepadanya? Apakah ingatan Abigail belum kembali?"


Mikha menjawab kedua pertanyaan Venus dengan sebuah gelengan.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2