ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 56. Iri Hati


__ADS_3

Abigail sedang berbincang dengan keluarganya saat Sarah mendekat.


"Selamat datang di Keluarga Zee, calon menantu." Ucapnya disertai dengan senyuman manis yang malah membuat Abigail bergidik ngeri. "Aku sudah tidak sabar lagi akan mempunyai teman bercerita."


"Mohon bimbingannya Nyonya. Abigail perlu belajar banyak hal." Bibi Lan menanggapi ucapan Sarah.


"Tentu saja, dengan senang hati." Sarah tersenyum, namun saat matanya bertatapan dengan mata Abigail, ada sesuatu yang tersembunyi yang tersirat disana. "Permisi."


"Silahkan Nyonya." Abigail mengangguk kecil memberi hormat.


Setelah kepergian Sarah, Kakek Zico datang bersama beberapa orang penting yang sangat mengenali Kakeknya.


Abigail kewalahan meladeni obrolan dari banyak sekali orang yang dulu menjadi loyalis kakeknya.


"Jadi, kemanapun arah politik anda, kami akan siap mendukung." Ujar salah seorang diantara mereka. "Apalagi besok adalah pemilihan presiden."


Abigail tersenyum, ia tidak pernah berpikir ke arah sana.


"Untuk saat ini, saya belum memikirkan apapun tentang politik, Tuan. Maaf mengecewakan." Abigail menanggapi dengan berkata jujur.


"Tidak apa-apa Nona. Lagi pula anda baru tampil ke publik. Jadi kami memaklumi itu. Dan maaf jika kami terlalu bersemangat."


Abigail tersenyum dan menundukkan kepala. Kemudian ia berpamitan untuk pergi ke kamar kecil.


☘️☘️☘️


"Runa, apakah kau melihat Abigail?" Tanya Darren begitu ia berhenti di samping Trias.


Runa mengernyit. "Tidak Kak. Aku pikir dari tadi Kak Darren bersama Ai."


"Ada apa?" Trias melihat gurat kekhawatiran di wajah Darren.


"Aku sudah berkeliling kesana kemari untuk mencarinya. Bahkan sekarang Mikha dan Liam sudah ikut mencari."


Darren menarik nafas dalam-dalam, wajahnya terlihat sangat cemas. Ia kemudian bergegas keluar dari ballroom hendak mencari Mikha yang ia tahu berada di ruang ganti Abigail. Namun belum jauh Darren melangkah, Sarah sudah mengikutinya.


"Darren!"


Darren mendengus kesal. Ia tidak berhenti meski terdengar wanita itu berlari.


"Aku tahu dimana Abigail."


Ucapan Nyonya Sarah itu membuat Darren menghentikan langkahnya. Pemuda itu bahkan berbalik mendekati Sarah dengan cepat.


"Dimana dia?!"

__ADS_1


Sarah tersenyum licik. "Batalkan keputusanmu untuk bergabung dengan perusahaan, lalu aku akan memberitahumu." Wanita itu mulai melakukan tawar menawar dengan Darren.


"Jadi kau menculik Abigail demi harta?" Darren segera tahu kemana arah pembicaraan wanita itu.


Sarah mengangkat kedua bahunya. "Itu hanya salah satunya."


Darren terdiam, ia memikirkan permintaan Sarah. "Baiklah, tapi aku ingin melihat Abigail lebih dulu."


Sarah tersenyum puas, jawaban Darren sama persis dengan perkiraan kekasihnya.


"Jika sesuatu terjadi pada Abigail, aku akan membunuhmu." Imbuh Darren lagi.


Sarah terkekeh melihat Darren yang sudah tersulut emosinya.


"Aku tahu itu. Ayo." Sarah berjalan mendahului Darren.


Tanpa keduanya ketahui, ada seseorang yang mengikuti mereka dengan kamera di tangan.


☘️☘️☘️


Sarah membawa Darren keluar dari hotel dan menuju halaman belakang hotel mewah itu. Mereka memasuki sebuah ruangan dan kemudian menuruni tangga. Darren menduga tempat itu adalah gudang penyimpanan anggur yang menjadi stok untuk hotel.


Mereka tiba di sebuah tempat yang lebih luas. Disana Abigail sudah duduk di sebuah kursi dalam keadaan terikat. Seorang wanita yang dengan pakaian serba hitam berdiri di sampingnya. Dan di depan Abigail, duduk seorang pria dengan setelan jas yang rapi.


Darren membeku begitu melihat pria itu. Ia tidak lagi melangkah mengikuti Sarah, ibu tirinya. Keterkejutan Darren tidak berhenti sampai disitu. Karena detik berikutnya pria tersebut berdiri menyambut Sarah dan kemudian memagut bibir wanita itu.


Sarah mendorong dada pria tersebut dan berbalik menatap Darren sambil mengusap bekas saliva di bibirnya.


"Reaksimu berlebihan." Sarah tersenyum merendahkan. "Ikat dia!"


Dari belakang Darren muncul beberapa pria dan langsung meringkus pemuda itu. Mereka mendudukkan Darren disebelah Abigail.


Abigail yang mulutnya sedang diikat kain hanya bisa menatap Darren dengan datar.


Dengan perlahan Sarah mendekati Abigail kemudian membuka kain yang mengikat mulut gadis itu.


"Selamat malam Tuan Robert de Lima. Apa kabar? Lama tidak berjumpa." Abigail menyunggingkan senyuman tipis. "Terakhir kali bertemu, aku sedang bersembunyi dan melihat kalian berdua berciuman di depan jenazah keluargaku setelah kau melubangi kepala papaku dengan pelurumu."


Darren terperangah, ia menatap Abigail dengan mata yang melebar sempurna. Ia tidak menyangka peristiwa yang dialami Abigail semengerikan itu. Kemudian pemuda itu menatap Sarah yang terlihat salah tingkah.


Sekarang Darren mengerti alasan Mikha menarik Abigail dari misi waktu itu. Ternyata orang tua Brody yang membantai Keluarga Li.


Robert terkekeh mendengar penuturan Abigail. "Kabarku baik, dan akan segera menjadi Presiden negara ini." Jawab pria itu dengan penuh percaya diri.


Abigail mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak terlihat sedikit pun rasa takut di wajah gadis itu.

__ADS_1


"Jadi.." Wajah Robert dipenuhi dengan kemarahan. "Kau membalas kematian keluargamu dengan membunuh putraku, Brody?"


Kening Abigail mengernyit. "Rosalin yang menembaknya, kenapa anda berpikir saya yang membunuh Brody?"


"Tentu saja karena kau memojokkan Rosalin." Sarah geram dan menarik rambut Abigail hingga gadis itu terpekik saat kepalanya terpaksa mendongak.


"Tukang selingkuh membela tukang selingkuh." Darren tertawa kecil dan terdengar mengejek.


Sarah melepaskan rambut Abigail dan mendekati Darren kemudian menampar pemuda itu. Merasa belum puas, Sarah menarik pistol di pinggang wanita yang tadi menculik Abigail. Ia segera menodongkan senjata itu ke arah Darren.


"Aku sudah muak dengan semua penghinaan dari mulutmu!!!" Ucap Sarah dengan emosi yang meluap-luap.


"Sabar sayangku." Robert mengusap pundak Sarah dan mengambil pistol dari tangannya. "Jangan kotori tanganmu dengan darah mereka. Biarkan wanita itu yang melakukan eksekusi." Ucap Robert sambil menatap wanita berbaju serba hitam itu.


Abigail menatap Robert dengan datar. "Jadi kau akan menyatukan aku dan keluargaku?"


Robert mengangkat alisnya. "Tentu."


"Walau aku tahu tidak ada gunanya, tapi aku ingin tahu. Mengapa kau membunuh mereka?" Mata Abigail berkaca-kaca. Bukan karena takut akan kematiannya, namun karena rasa sakit yang ia derita setiap kali mengingat peristiwa itu.


Meski tahu akan menderita, Abigail tetap bertanya pada Robert. Sejak ingatannya kembali, ia selalu penasaran dengan motif Robert de Lima menghabisi keluarganya.


"Sederhana saja. Kakek tua itu tidak mau mengeluarkan surat rekomendasi agar aku bisa mengikuti pemilihan ketua partai. Kemudian ayahmu selalu saja menentang usulanku yang berhubungan dengan keuangan partai." Jawab Robert dengan mudahnya.


"Hanya itu?" Abigail tidak menyangka. "Kenapa harus sampai membunuh?"


"Karena di masa depan jika terjadi temuan, mayat tidak bisa bersaksi." Robert terkekeh pelan. "Keluargamu mempengaruhi banyak orang untuk menentangku. Mereka egois, padahal aku pun bisa memimpin jauh lebih baik dari mereka. Usulan ku hanya untuk kesejahteraan partai, kenapa selalu ditolak?"


"Karena mereka tahu kau yang selalu korupsi menghabiskan uang." Seloroh Darren.


Robert tertawa mendengar ucapan Darren. "Aku tidak peduli dengan cara. Yang penting hasilnya adalah uang. Keluargamu terlalu lurus dunia politiknya."


"Dan anda, Nyonya Sarah?" Abigail menatap dengan pandangan tajam. "Seingatku, kau sahabat mama."


Robert merangkul Sarah dan mengecup pipi wanita itu. "Karena mereka akan segera mati, lebih baik ceritakan saja."


Sarah hanya tersenyum kecut, ia menatap Abigail dengan sinis.


"Sahabat? Aku tidak menganggap ibumu sebagai sahabat. Dia hanya mesin uang bagiku. Sedikit saja bercerita dan mengeluarkan air mata, ibumu yang bodoh itu akan percaya dan memberi uang."


Tangan Abigail yang terikat di belakang mengepal. Ia tidak terima mendiang mama dihina.


"Dia tidak suka aku menjalin hubungan dengan Robert. Selain itu aku juga iri kepada Bella, mamamu itu. Dia hidup mewah dan nyaman, punya uang serta keluarga yang bahagia." Sarah tertawa miris. "Aku tidak berhasil menggoda Jonas. Jadi lebih baik mereka mati saja daripada tidak bisa aku miliki."


Abigail terdiam, dari cerita kedua orang itu ia mengambil kesimpulan. Iri hati yang menjadi dasar mereka melakukan hal yang kejam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2