ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 66. Obat Sakit Kepala


__ADS_3

"Apakah kau akan merusak semuanya?"


Suara berat seorang pria membuat Raline tersentak. Ia segera berbalik dan melihat Lukas sedang menatap tajam pada dirinya.


"Sedang apa Papa disini?" Raline terheran-heran dengan keberadaan Sang Papa. Sebab tadi Raline bersikeras mengantarkan sendiri berkas ke kantor utama Zico Petroleum.


"Tentu saja mengikutimu." Jawab Lukas dengan datar. Pria itu pun berbalik dan berjalan menuju mobilnya.


Meski tidak diajak, Raline menyusul dan mengikuti Papanya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa mengikutiku? Papa tidak percaya aku akan mengantar berkas dengan baik?" Wajah Raline terlihat kesal.


Lukas menoleh dan menatap putrinya dengan tajam. "Bukan berkas yang Papa khawatirkan. Tapi kelakuanmu. Dan kekhawatiran Papa terbukti."


Raline gugup, dengan susah payah ia menelan salivanya. "Pa…Papa me…melihat semua?"


"Ya."


Raline menyelipkan anak rambut yang masih rapi ke belakang telinga, meski kenyataannya tidak ada yang berantakan. Ia melakukan itu karena sedang gugup dan takut.


"Ak…aku melakukannya demi masa depan perusahaan." Ungkap Raline mulai mencari alasan. "Kalau aku bisa menikah dengan Darren, bukankah akan bagus bagi kedua perusahaan?"


Lukas menarik nafas dalam-dalam, ia benar-benar sedang menekan rasa marahnya pada Raline.


"Papa tidak akan melakukan itu. Pernikahan bukanlah bisnis."


Lukas tahu kalau Raline hanya mencari alasan. Yang ia lakukan murni karena obsesinya pada Darren, atau obsesinya untuk mengalahkan Abigail. Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan kembali menatap ke depan.


"Jika ingin menghancurkan diri sendiri, lakukan. Tapi jangan bawa-bawa perusahaan. Karena bukan hanya keluarga kita yang Papa pikirkan, tapi juga ribuan pekerja yang kita miliki."


"Apa maksud Papa?" Raline mendengus tidak suka.


"Papa tahu kau begitu terobsesi pada Darren dan juga mengalahkan Abigail. Bukankah kau sering menceritakan hal buruk tentang Abigail ke sepupumu? Padahal itu semua hanyalah rivalitas dalam pekerjaan. Yang seharusnya bisa kau hadapi dengan pikiran dingin. Bukankah Abigail tidak pernah jahat terhadapmu?"


Mata Raline membesar, ia terkejut karena Lukas mengetahui semuanya.


"Kau harus tahu batasanmu Raline. Kau harus tahu kapan waktunya untuk berhenti. Jangan berbuat jahat pada orang yang tidak pernah menyakitimu."


Bukannya menerima nasehat dengan baik, hati Raline semakin terbakar oleh rasa marah.


"Kenapa Papa malah membela Abigail? Aku ini anak Papa!" Ucap Raline dengan suara meninggi. "Dan semua tindakanku ini tidak akan membuat Keluarga kita rugi, tapi akan semakin untung."


"Jangan membawa keluarga untuk tindakan jahatmu. Kau egois, hanya mementingkan dirimu sendiri!" Hardik Lukas dan membuat Raline seketika itu juga terdiam membisu.


Dengan nafas yang memburu karena terbakar amarah Raline membuang muka menatap keluar jendela. "Aku tidak akan berhenti." Desisnya lagi.


"Maka kami pun tidak akan ikut campur, apapun yang terjadi, kau sendiri yang bertanggung jawab. Jangan menyeret keluarga."


"Baiklah. Dasar pengecut!" Lirih Raline dan masih bisa didengar oleh Lukas.


Dengan cepat kepala Lukas menoleh menatap tak percaya pada putrinya. Hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan itu. Pria paruh baya itu menarik nafasnya dalam-dalam selama beberapa kali.


"Alan, menepi." Titah Lukas pada Sekretarisnya yang sedang mengemudi.


Raline memalingkan wajah dan menatap Lukas dengan heran.


"Keluar." Ucap Lukas pelan dan menatap Raline sesaat kemudian kembali berpaling.


"Apa?" Raline masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Keluar!" Lukas tidak lagi menahan suaranya.


Bentakan Sang Papa membuat Raline terperanjat hingga memegang dadanya.


"Bukankah menurut anda saya adalah pengecut?! Jadi keluar sekarang juga!"


Raline tidak menyangka sungutnya tadi terdengar oleh Lukas. Seketika itu juga ia dihantam oleh rasa takut. Ia ingin meminta maaf atas ucapannya, namun terlambat, karena Alan sudah membuka pintu di samping Raline.


Meski tidak terima, Raline menuruti ucapan Lukas. Ia bergegas keluar dari mobil dengan wajah kesal.


Setelah mobil Sang Papa melaju pergi. Raline menghentak-hentakkan kakinya sambil bersungut-sungut.


"Lihat saja, jika aku berhasil, aku tidak akan membagi sepeser pun harta keluarga Zee dengan kalian."


☘️☘️☘️


Sementara itu, di luar mansion Keluarga Li, Darren masih mengurung Abigail di dalam mobilnya. Pemuda itu menyudutkan Abigail di kursinya dan terus menikmati bibir ranum Sang calon istri.


Beberapa kali Abigail memukul pelan dada Darren, meminta pemuda itu untuk berhenti. Dan dengan berat hati Darren mengakhiri ciumannya.


"Maaf." Darren mengerling sambil mengusap bibir Abigail yang membengkak.


Wajah gadis itu semakin kesal. "Mana ada orang minta maaf sambil main mata begitu." Sungutnya.


Darren terkekeh pelan. "Ada, barusan aku melakukannya."


"Kamu ini." Abigail mengulurkan tangan dan mencubit lengan Darren.


"Eh, sayang. Aduh, sayang." Darren dengan susah payah menangkis serangan Abigail. Cubitan-cubitan kecil yang dilakukan gadis itu tidak main-main, benar-benar sakit.


"Aduh sayang, sakit." Keluh Darren lagi.


Keduanya masuk ke dalam mansion dan disambut oleh beberapa pelayan.


"Dimana Kakakku?"


"Miss Mikha belum kembali. Beliau berpesan agar Nona Muda makan lebih dahulu tanpa menunggunya." Ucap salah seorang pelayan menyampaikan pesan Mikha.


"Kalau begitu tolong siapkan meja untuk kami berdua."


"Baik Nona."


Selepas kepergian pelayan tersebut, Abigail mengajak Darren untuk duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari ruang makan.


Begitu Abigail duduk, Darren segera merebahkan tubuh dan meletakkan kepalanya di paha Abigail.


Darren mendesah dengan berat. "Hari ini pekerjaan membuat kepalaku benar-benar sakit. Ditambah lagi dengan wajah sahabatmu itu, rasanya aku bisa meledak."


Kata sahabat yang ditekankan oleh Darren membuat Abigail tertawa kecil.


"Karena dari awal dia tidak menyukaiku, jadi aku tidak pernah menganggapnya sahabat, tapi tidak juga menganggapnya musuh. Bagiku dia hanya rekan kerja." Tutur Abigail sambil mengingat masa-masa debutnya saat menjadi model.


"Terima kasih sudah mengobatiku."


Abigail menatap Darren dengan kerutan di dahinya. "Aku tidak memberimu obat apapun."


Darren tersenyum dan menyentuh bibir Abigail dengan ibu jarinya. "Tadi, di mobil."


Wajah Abigail langsung memerah, ia segera memalingkan wajahnya. Dan hal itu membuat Darren terkikik pelan.

__ADS_1


"Selain itu, aksimu di depan Raline juga membuatku kaget. Kau benar-benar penuh kejutan." Ucap Darren sambil berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Abigail merasa malu dan malah menjauhinya.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Jawab Abigail sambil mengangkat kedua bahunya. "Karena sepertinya dia tidak akan berhenti."


Keduanya terdiam beberapa saat. Abigail masih terus mengusap kepala Darren, sedangkan Darren sibuk mencium tangan Abigail yang bebas.


"Kau milikku dan aku milikmu." Lirih Darren sambil menatap wajah Abigail yang sedang menerawang. "Kita akan membuat Raline benar-benar sadar tentang hal itu."


Abigail tersenyum kecut. "Tapi kalau dia tidak berhenti, jangan salahkan aku kalau menggunakan kekerasan."


Darren menipiskan bibir tanda tidak peduli. "Aku rasa Kakek dan Papa juga tidak akan keberatan."


Senyum Abigail mengembang untuk sesaat.


"Itu masalah dengan orang luar. Bagaimana kalau ada masalah diantara kita berdua?" Tanyanya pada Darren.


"Kita selesaikan berdua dengan kepala dingin. Dan dalam keadaan marah, atau apapun yang terjadi, jangan pulang kembali ke tempat ini atau ke rumah Bibi Lan. Hadapi, jangan melarikan diri. Aku pun akan begitu." Jawab Darren dengan tegas.


"Tapi, bukankah terkadang kita perlu waktu sendiri saat sedang marah?"


Darren segera bangun dari tidurnya dan duduk merapat pada Abigail. "Maka aku akan membangun sebuah mansion yang lebih luas lagi agar terdapat banyak ruang untuk kita berdua menyendiri dan mengintropeksi diri."


"Mansion lagi? Untuk apa? Bukankah sudah ada milik Kakek Luo dan Kakek Zico?"


"Kan aku sudah bilang kita akan mandiri setelah menikah."


Abigail mencibir. "Kalau Kak Mikha, aku yakin akan mengijinkan. Tapi Kakek dan Papa?" 


Darren menggaruk kepalanya sambil tersenyum geli. "Yahhh, aku juga tidak yakin."


Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat.


"Jadi, apa kau bersedia mengubur mimpimu untuk hidup terpisah?" Tanya Darren pada Abigail.


Abigail sedikit memiringkan kepala untuk berpikir. "Sepertinya tidak."


"Ya, aku pun."


"Tapi kita akan dianggap durhaka. Bagaimana ini?" Raut wajah Abigail terlihat cemas.


Darren menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. "Ternyata memikirkan rencana ke depan setelah menikah sama pusingnya dengan pekerjaan di kantor."


Abigail terkikik. "Iya, aku juga baru menyadari itu."


"Kalau begitu aku butuh obat sakit kepala lagi." Ucap Darren sambil mendekatkan wajahnya.


Namun dengan cepat Abigail menutup wajah pemuda itu menggunakan kedua tangannya.


"Kau sudah menghabiskannya tadi."


"Apa harus dijatah juga?" Sungut Darren.


"Tentu saja, aku tidak ingin terlihat seperti sedang panas dalam." Jawab Abigail sambil menurunkan kedua tangannya dari wajah Darren.


"Tapi…."


"Tidak ada tapi-tapian!!!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2