ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 58. Sarah Yang Dungu


__ADS_3

Venus dan anak buahnya membekap Abigail dan Darren secara bergantian dengan menggunakan sapu tangan yang sudah dibasahi obat bius. Keduanya segera tertidur lelap.


Robert memijat pelipisnya, keadaan di dalam ruangan tidak seperti yang ia harap dan bayangkan. Yang menjadi tawanan adalah Abigail dan Darren, namun entah bagaimana saat ini ia merasa bahwa ialah yang menjadi tawanan di sana.


Sarah berbuat onar, wanita itu tidak bisa mengendalikan diri dan masuk dalam jebakan Abigail. Sedangkan ia tidak bisa membungkam Abigail karena terikat dengan pembunuh bayaran yang ada disisinya saat ini.


"Kenapa kau tidak langsung membunuh mereka seperti saat kau membunuh orang tuanya dulu?!" Sarah kembali melayangkan protes.


Robert mendesah kasar. "Sudah kukatakan, aku tidak ingin tanganku kembali berlumuran darah. Besok adalah hari yang penting buatku!" Jawab Robert dengan nada yang tinggi.


Pria itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menatap Venus. "Kau! Cepat bawa dia dan segera eksekusi." Titah Robert pada Venus.


"Apakah anda tidak ingin mampir ke tempat saya untuk melihat pertarungan kami, Tuan?" Tawar Venus. "Pasti akan seru. Karena sepertinya dia adalah lawan yang seimbang bagiku."


"Tidak." Wajah Robert menggambarkan bahwa pria itu sedang tidak berminat.


Venus mengangkat kedua bahunya. "Sayang sekali. Padahal anda punya kesempatan melihat gadis ini mati perlahan."


"Aku mau." Sarah berbinar-binar mendengar tawaran Venus.


"Tidak, kau harus ada disamping suamimu." Robert tidak ingin dibantah. "Aku harus pulang dan beristirahat, karena besok penampilanku harus terlihat prima." Imbuhnya lagi sambil menarik tangan Sarah. Wanita itu terlihat sangat kesal.


Sebelum keduanya keluar dari ruangan, Robert menoleh menatap Venus. "Setelah mengeksekusi mereka segeralah menemuiku. Kau harus mengawalku."


Venus mengernyit. "Itu tidak ada di dalam perjanjian."


Robert mendengus. "Aku akan menambah bayaranmu."


Setelah berkata begitu Robert dan Sarah bergegas meninggalkan lokasi.


☘️☘️☘️


Keesokan harinya, Sarah bangun dengan perasaan senang. Ia tidak peduli jika di sampingnya saat ini tidak ada Rayn. Ia menduga pria itu tengah kebingungan mencari Darren. Sarah mandi namun tidak berdandan, ia sengaja agar bisa berpura-pura sedih di depan Rayn dan Zico.


Namun ia terkejut saat mendekati meja makan dan melihat suami serta mertuanya sedang menikmati makan pagi mereka dengan santai. Seolah tidak terjadi apapun tadi malam.


"Selamat pagi." Sapa Rayn yang melihat kedatangan Sarah. "Kau tidur nyenyak sekali. Ayo sarapan."

__ADS_1


Mata Sarah membola, Rayn mengajaknya makan dengan wajah tersenyum manis.


"Se..selamat pa..pagi." Sarah terbata menjawab sapaan Rayn dan segera duduk di samping pria itu.


"Cepat makan, kita akan pergi menggunakan hak suara kita." Ujar Zico dengan datar, seperti biasa.


"Ba…baik ayah." Sarah terburu-buru mengambil roti gandum dan mengoleskan madu kemudian memakannya. Ingin sekali rasanya Sarah bertanya tentang Darren yang tidak terlihat di meja makan.


Namun ia takut akan menimbulkan kecurigaan. Selain itu ia pun takut jika Rayn tiba-tiba bertanya kenapa semalam ia pulang lebih dulu.


Zico dan Rayn saling melirik, mereka membiarkan Sarah menikmati sarapannya dengan tenang.


"Setelah ini segeralah bersiap, kita akan pergi ke tempat pemilihan." Ujar Rayn seraya mengusap sudut bibir Sarah yang belepotan akibat madu.


Sarah terlihat salah tingkah mendapat perlakuan manis dari Rayn. Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


Dalam hati Rayn mengutuk kebodohan dirinya sendiri karena mempersunting Sarah. Ia jatuh dalam rayuan wanita itu dengan begitu mudahnya. Tanpa mengetahui kalau Sarah juga terlibat dalam pembunuhan sahabatnya.


Rayn menyetujui ucapan Darren yang mengatai Sarah dungu. Karena sampai detik ini wanita tersebut makan dengan lahap tanpa menyinggung kejadian semalam.


Setelah menghabiskan makannya, Sarah segera kembali ke kamar untuk berganti baju dan sedikit bersolek. Ia sempat menyesal karena tadi tidak berdandan saat akan turun ke ruang makan.


Sarah tidak menghabiskan banyak waktu karena suami dan mertuanya telah menunggu. Ia tidak ingin mendengarkan kata-kata tajam dan menyakitkan hari ini. Sarah ingin mempertahankan rasa bahagianya hingga nanti Keluarga Zee mendengar kabar kematian Darren.


Wanita itu berjalan dengan semangat menghampiri suaminya yang telah menunggu di pintu utama.


"Kau terlihat cantik." Puji Rayn melihat kedatangan Sarah.


Wanita itu tersipu malu dan mengibaskan tangannya. "Istri seorang Rayn Zee haruslah cantik." Ucapnya menanggapi pujian Rayn.


"Ayo, ayah sudah menunggu di dalam limo."


Mata Sarah semakin berbinar. Meski menjadi menantu keluarga Zee, ia sangat jarang bisa duduk di dalam limosin milik mertuanya.


Mimpi apa aku semalam? Hingga mendapat hal baik seperti ini. Gumam Sarah dengan riang di dalam hati.


Rayn membukakan pintu di sisi kiri untuk istrinya. Meski ada supir yang sudah siap, ia ingin bersikap manis pada Sarah.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Sarah sebelum masuk ke dalam. "Ayah." Sebelum duduk dengan benar ia menyapa Zico yang sudah duduk di sisi pintu sebelah kanan.


Zico tidak bersuara, ia hanya mengangguk pelan. Sarah tersenyum dan menggeser duduknya dengan hati-hati agar terlihat anggun. Dan saat ia mengangkat wajahnya menatap ke depan, jantung Sarah seakan berhenti dan jatuh.


Nafasnya terdengar tercekat, telunjuk kanannya terangkat ke depan. Mulutnya membuka dan menutup namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tubuh wanita itu bergetar hebat.


Ia mengerjap beberapa kali dengan cepat. "Ka…ka…kalian…"


☘️☘️☘️


Kediaman Robert de Lima, pada waktu yang sama.


"Bagaimana penampilanku?"


Venus mengangkat kedua alisnya, ia tak percaya Robert akan meminta pendapatnya.


"Rapi, berwibawa." Jawab Venus singkat.


Robert berdecak, ia tidak suka dengan penilaian singkat Venus. Pria itu segera melangkah menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Venus.


"Apakah dia anak buahmu juga?" Robert menatap Venus sambil menunjuk Morgan yang membukakan pintu baginya.


"Benar, Tuan."


Robert mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum puas.


Mobil yang disiapkan oleh Venus memiliki empat buat kursi yang saling berhadapan. Yaitu kursi yang tepat berada di belakang supir. Robert meminta Venus untuk duduk disampingnya, dan Morgan mengambil posisi di depan Venus, bersebelahan dengan ajudan Robert.


Setelah beberapa menit meninggalkan kediaman, Robert berdehem dan menatap dengan penuh arti.


"Nona, jika kamu mau tinggal disisiku. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu tidak perlu lagi bekerja dengan mempertaruhkan nyawa seperti ini." Pria itu bahkan tersenyum manis.


Mata Venus melebar, namun secepat mungkin ia kembali mengubah raut wajahnya. "Saya mencintai pekerjaan saya, Tuan." Ia menatap Robert tajam kemudian mengalihkan wajahnya ke depan.


Oh ya ampun!!! Keluh Venus dalam hati saat melihat wajah Morgan. Pemuda itu tengah dilanda cemburu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2