ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 26. Takut?


__ADS_3

Selepas makan pagi, Abigail dan Trias mulai menghubungi beberapa rekan untuk mengundur jadwal pekerjaan Darren selama satu minggu.


Keduanya terlihat serius hingga tidak sadar saat Darren telah berada di sana dengan tatapan yang terpaku pada Abigail.


Ingatan saat melihat gadis itu bertarung selalu membayangi. Hal itu membuat Darren merasa terganggu. Karena merasa tidak nyaman, Darren memutuskan untuk pergi dari sana.


Matahari semakin meninggi, namun pekerjaan Abigail dan Trias belum selesai.


"Ehmmm!!! Maaf mengganggu." Mikha datang dengan sebuah tab di tangannya. "Aku rasa kalian perlu melihat ini." Imbuhnya sambil memutar video dan meletakkan benda pipih itu agar Abigail dan Trias dapat melihat dengan nyaman.


Ternyata video tersebut merupakan siaran berita televisi nasional yang mengabarkan tentang kematian Brody de Lima, putra calon presiden Robert de Lima.


Yang membuat Abigail dan Trias saling pandang, adalah penyebab kematian Brody. Disebutkan penyebab kematian pria tersebut karena terkena efek ledakan dari pipa gas di dermaga tua saat Brody sedang memancing.


Bahkan jenazah pria itu segera dimakamkan tanpa dilakukan proses autopsi terlebih dahulu.


"Meski begitu, kita tidak akan menurunkan kewaspadaan." Ujar Mikha saat video tersebut berakhir.


"Sepertinya Tuan Robert hanya mementingkan karir daripada keluarga." Gumam Abigail.


Mikha menatap Abigail dengan sendu. "Ia bisa melakukan hal yang terburuk sekalipun demi karirnya."


Trias segera berdiri. "Aku harus menemui Darren." Ujarnya berpamitan.


Mikha mengangguk dan mempersilahkan Trias untuk pergi. Sepeninggal Trias, Abigail menatap kakaknya dengan pandangan menyelidik.


"Ada apa?"


"Kita bicara di ruang kerjaku." Mikha pergi lebih dulu dan memasuki sebuah ruangan yang sudah dirancang agar kedap suara.


Abigail mengambil posisi duduk di depan Mikha.


"Berdasarkan pengakuan Rosalin dan juga kecurigaan Trias. Aku meminta seseorang untuk menginterogasi Ron." Wajah Mikha terlihat sangat serius.


"Ia mengaku lokasi pembunuhan mendiang Nyonya Brody adalah ide dari Rosalin."


Abigail mengernyit. "Jadi, Rosalin memang sengaja agar Darren menjadi saksi."


Mikha mengambil beberapa lembar kertas dan menyerahkannya pada Abigail.


"Itu adalah salinan percakapan Rosalin dengan mendiang asisten Darren terdahulu. Dari sana terlihat jika Rosalin memang mengetahui dengan tepat apa yang dilakukan Darren."

__ADS_1


Abigail menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Kemudian ia mulai membaca setiap chat Rosalin dengan mantan asisten Darren.


"Lalu, dimana Ron?"


"Liam melihatnya dieksekusi setelah Liam dan rekannya meninggalkan tempat itu." Jawab Mikha sambil memijat pelipisnya. "Bukan petugas kepolisian yang terlebih dahulu tiba. Melainkan kelompok lain."


Abigail menyandarkan punggungnya kemudian memejamkan mata dan menarik nafas berat.


"Banyak rahasia di kasus ini. Aku pikir misiku akan segera berakhir, ternyata dugaanku salah."


Mikha menatap Abigail dengan tajam. "Memang akan segera berakhir. Aku sudah memutuskan untuk menarikmu dari kasus. Ini bukan hasil pemikiranku saja. Setelah Liam dan rekannya selesai mengintai, ia segera memintaku menarikmu."


Abigail terdiam, ia merasa ada yang aneh. Seharusnya saat ini ia merasa senang, namun nyatanya ada perasaan sedih yang muncul saat mendengar ucapan Mikha.


☘️☘️☘️


Abigail menghampiri Darren yang sedang duduk di teras. Pemuda itu terlihat memikirkan sesuatu.


"Bisakah aku mengganggu waktumu?"


Darren terperanjat melihat kedatangan Abigail.


"Eh!! Ya, silahkan."


Darren mengernyit, ia kemudian menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang, berusaha mengingat-ingat kejadian yang telah lampau.


"Aku tidak tahu sedekat apa. Tapi beberapa kali aku pernah melihat mereka berdua bersenda gurau." Darren menatap Abigail dengan heran. "Ada apa?"


Abigail tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ada beberapa hal yang ingin aku ketahui untuk keamananmu. Apakah kamu keberatan?"


Darren tertawa kecil. "Keamananku ya. Aku pikir kamu ingin tahu sejauh apa hubunganku dengan Rosalin." Ujarnya sambil menatap Abigail dalam-dalam.


Abigail mengangkat kedua bahunya. "Mungkin, suatu saat aku juga akan menanyakan hal itu."


Darren tersenyum tipis. "Aku tak sabar menantikan saat itu tiba."


Suasana menjadi hening setelah Abigail selesai berbicara. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Dan pada akhirnya Darren memutuskan untuk mengakhiri kesunyian itu.


"Kenapa waktu itu kamu harus berpenampilan aneh?"

__ADS_1


Abigail menatap wajah Darren dan tersenyum tipis. Ia sudah menduga pemuda di hadapannya memiliki segudang pertanyaan tentang perannya.


"Aku mendapat kabar bahwa kamu tidak suka jika dijaga oleh seorang gadis. Jadi, pemimpin kami mencari cara agar aku tetap bisa berada di dekatmu tanpa membuatmu tidak nyaman karena dijaga oleh seorang gadis."


"Apakah hanya itu?" Darren terlihat tidak percaya. "Atau mungkin karena pemimpin kalian tidak ingin kecantikanmu dikagumi banyak pria."


"Hmmmm???" Abigail tertawa. "Itu konyol."


"Bisa saja kan, dia ingin kecantikanmu hanya untuk dirinya sendiri." Darren mulai tersulut emosi. Dalam pikirannya, pemimpin agensi yang menaungi Abigail adalah seorang pria paruh baya yang gemuk, pendek dengan wajah berminyak serta rambut yang mulai tipis.


Mendengar itu tawa Abigail semakin berderai. Bahkan matanya sampai berair. Darren semakin terpesona melihat Abigail tertawa lepas.


"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan." Ucap Abigail setelah tawanya reda.


Darren tersenyum simpul. "Aku bersyukur jika memang tidak seperti yang aku pikirkan." Bahkan ia menunjukkan raut wajah lega tanpa ditutupi.


Abigail merasa dadanya berdesir saat Darren berbicara dan menatapnya dengan intens. Ia menjadi gelisah. Bahkan tanpa sadar ada semburat merah muncul di pipinya.


"Ad..ada yang harus aku lakukan, permisi." Pamitnya pada Darren.


Abigail meninggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa. Namun ia merasa jika Darren masih memperhatikannya dari belakang.


Gadis itu tergesa-gesa masuk dan mengunci kamarnya. Ia memegangi dadanya yang berdetak tak karuan.


"Aku tidak bisa terlalu sering berdekatan dengannya. Tidak baik untuk kesehatan jantungku."


Ia duduk di sofa yang berada di sudut kamarnya tepat di samping jendela. Dengan kaki bersilang dan tangan yang menopang dagu, Abigail kembali memikirkan ucapan Mikha yang akan menariknya dari kasus ini.


Abigail merasa ada yang aneh dengan sikap Mikha. Ia menjadi lebih protektif bahkan tidak segan datang ke lokasi saat Abigail menjalani misi. Padahal selama ini Mikha tidak pernah seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang membuat Mikha cemas dan…takut.


Takut??? Tapi apa yang membuat Kakak takut??? Abigail menatap keluar jendela dengan tatapan menerawang.


Sementara itu Mikha menatap selembar foto lama yang memperlihatkan senyum bahagia Abigail dalam pelukan kedua orang tuanya. Mikha tersenyum dan mengusap wajah Abigail kecil.


Dada Mikha semakin sesak, air matanya mulai menggenang. Namun sesaat kesedihan itu berubah menjadi kemarahan. Ia mengusap air matanya dengan kasar.


"Jika ada kesempatan, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!!!" Ujarnya seraya menatap tab yang sedang menampilkan berita seorang pria paruh baya. Kilat matanya dipenuhi dengan kebencian.


...****************...


☘️

__ADS_1


☘️


☘️Vote dong kak😊🙏


__ADS_2