ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 38. Serangan Draco


__ADS_3

Abigail mengambil jalan memutar untuk menuju area yang diperkirakan akan didatangi pelaku pengrusakan kamera. Lebih baik Abigail menantinya di tempat yang jauh dari kabin. Ia tidak rela jika kabin tersebut akan hancur akibat penyerangan yang ditujukan kepadanya.


Ada perasaan familiar dengan tempat tersebut sejak Abigail tiba. Meski ia baru pertama kali mendatangi kabin itu, namun ia merasa seperti sudah pernah tinggal disana sebelumnya.


Abigail tiba di tempat yang berbatu-batu. Ia naik ke sebuah batu yang lebih tinggi dan menggunakan teropong binocular untuk mengamati area yang kameranya rusak.


Tepat di satu titik, pandangannya bertemu dengan seorang pria yang juga mengenakan teropong melihat ke arahnya. Pria itu menyeringai begitu melihat Abigail sudah menemukannya.


Abigail melepas teropong dan berlari mengejar pria tersebut yang sudah pasti telah berlari mencari tempat strategis. Dengan nafas terengah, Abigail berhenti, kembali memakai teropong untuk melihat kemana pria tadi.


Abigail menemukannya, pria tersebut sedang berlari menuju sungai. Dengan cepat gadis itu mengambil busur dan sebuah anak panah. Ia menarik tali busur tersebut dengan sudut 45° dan kemudian melepas anak panah.


Jauh di depan, seorang pria tengah berlari dengan senyuman yang lebar. Akhirnya ia menemukan mangsa yang ia cari. Namun sesaat kemudian ia merasa ada sesuatu yang akan menghujamnya dari atas. Pria tersebut mendongak sebentar kemudian berkelit dengan cepat.


"Akh!" Ia menjerit tertahan merasakan tajamnya sebuah benda mengikis pundaknya.


Rupanya ia terlambat berkelit, anak panah Abigail berhasil menggores bahu pria tersebut.


Abigail berlari cepat mengejar pria yang sudah mengambil kontrak untuk membunuhnya. Jika mereka mengira ia akan melarikan diri saat diburu, berarti pria tersebut salah memilih mangsa. Meski bayarannya besar, Abigail bukan anak rusa yang lemah yang akan pasrah saat akan dibantai.


Abigail berhenti di tepi hutan, dan sekitar 30 meter di depannya tampak seorang pria bertubuh kekar sedang membasuh lukanya dengan air sungai.


"Siapa dirimu? Aku kira kau akan berlari ketakutan saat tahu aku akan datang." Tanpa melihat Abigail, pria tersebut membuka percakapan.


"Kau tidak perlu tahu, siapa aku, Draco." Jawab Abigail dengan suara yang datar dan dingin.


Pria bernama Draco tergelak sambil menegakkan tubuh.


"Rupanya kau memiliki informan di Harlem." Draco kemudian menatap Abigail, kedua alisnya terangkat saat melihat wajah gadis yang harus ia bunuh.


Di bawah sinar matahari yang mulai redup, wajah Abigail terlihat sangat cantik dengan sedikit rona merah akibat berlari. Rambut yang diikat asal menampilkan leher jenjang yang membuat Draco menelan salivanya.


"Ternyata kau jauh lebih cantik dibanding di sketsa. Kalau begitu, jadilah wanitaku."

__ADS_1


Kini giliran Abigail yang tergelak mendengar ucapan Draco. Dan hal itu sukses membuat pria tersebut semakin terpesona.


"Tidak akan pernah."


Draco tersenyum sinis. "Tidak masalah, aku akan menikmati tubuhmu sebelum membunuhmu."


Secepat kilat Draco melempar sebuah pisau kunai, Abigail bergerak dengan cepat untuk menghindar. Dan dalam sekejap tangannya sudah bersiap menarik anak panah dari busur. Ketika posisinya sudah dianggap pas Abigail segera melepaskan anak panah tersebut.


Draco berhasil berkelit, namun ia tidak menyangka ada beberapa anak panah yang menyusul seakan-akan dilepaskan oleh beberapa orang. Pria tersebut berhenti berkelit ketika ia merasa tidak ada lagi anak panah yang mengincarnya.


Tepat saat itu Abigail sudah berdiri di depannya dengan memegang dua buah belati.


****! Gadis ini bukan bodyguard biasa. Gerakannya saat menggunakan panah maupun belati begitu cepat.


Draco tampak kewalahan menghadapi serangan Abigail yang bertubi-tubi. Saat ia melihat sketsa dan penawaran yang diajukan, Draco menganggap remeh gadis di dalam sketsa. Ia berpikir gadis itu hanyalah bodyguard dari agensi keamanan biasa.


"Uhhkkk!!"


Setelah berhasil mengatasi rasa sakitnya, Draco menegakkan badan sambil tertawa kecil.


"Cukup! Aku sudah salah karena meremehkanmu." Ujar Draco dan dengan secepat kilat ia mengambil sebuah pisau kunai kemudian melemparkannya. Abigail berkelit untuk menghindar.


"Aakhh!!!" Abigail limbung sambil memegangi bahu kirinya. Sebutir peluru berhasil menembus kulit dan dagingnya. Rupanya pisau tersebut hanyalah serangan tipuan Draco.


Kedua belati lepas dari tangan Abigail, ia membungkuk menahan sakit dengan ekor mata mengawasi Draco. Pria di depannya tersenyum licik, Draco senang karena serangannya berhasil. Ia kembali menggerakkan tangan untuk menembak. Namun Abigail dengan cepat melemparkan sebuah granat kecil berbentuk bulat yang berhasil ia raih saat menunduk.


Draco menghindar, begitu juga dengan Abigail yang segera menunduk menutup telinganya. Sepersekian detik kemudian muncul sebuah kilatan cahaya yang sangat menyakitkan, bahkan suara ledakan yang dihasilkan membuat Draco tumbang diiringi jeritan yang sangat kencang. Pria tersebut meringkuk menutup telinga dengan wajah yang terlihat sangat kesakitan.


Abigail tidak begitu mengalami efek ledakan granat kejut karena sudah memakai pelindung telinga yang berwarna transparan. Gadis itu tetap dalam posisinya selama beberapa saat karena ia yakin Draco pun tidak akan sanggup berdiri.


Setelah berhasil mengatasi rasa sakit di bahunya, Abigail segera berdiri. Ia berjalan mendekati Draco yang masih meringkuk. Namun begitu ia berhenti, tiba-tiba pria tersebut bergerak dan menarik kaki Abigail sehingga gadis itu jatuh.


"Aakkhh!!" Abigail merasakan sakit pada kepala dan tubuhnya karena jatuh menghantam kerikil.

__ADS_1


"Kau pikir bisa membunuhku dengan granat kejutmu hah?!!" Draco bangkit dengan wajah penuh amarah.


"Aaaakkkhhhh!!!" Abigail menjerit kesakitan saat kaki kanan Draco menekan luka tembaknya. Darah mengucur dengan deras dari luka yang diinjak Draco. Bahkan dengan sengaja pria tersebut menginjak luka Abigail menggunakan ujung sepatu dan memutar-mutar kakinya.


Melihat Abigail semakin kesakitan, Draco menjadi lebih bersemangat.


"Gadis bodoh!!!"


Draco duduk di atas tubuh Abigail dan mencengkram leher gadis itu dengan kuat.


"Hhgggg!!!" Abigail mulai panik saat tidak mendapat pasokan oksigen. Ia meronta, namun tubuh pria itu tidak bergeming sedikit pun.


"Mati saja kau!!!" Draco menggunakan kedua tangannya untuk menekan leher Abigail. Dan sesaat kemudian, tekanan dari Draco mulai berkurang.


Pria itu berguling ke sisi tubuh Abigail, ia beberapa kali mengerjapkan mata karena pandangannya menjadi kabur secara tiba-tiba.


Abigail bergerak, ia hendak bangkit namum kembali jatuh. Kepalanya terasa sakit dan berdenyut. Terlihat darah mulai mengalir dari luka baru di tempurung kepalanya akibat kerikil. Abigail mulai bermandikan darah karena luka-luka yang ia alami.


"Ap…apa yang kau lakukan kepadaku?"


Tanya Draco yang kini sudah berbaring bersisian dengan Abigail, nafas pria itu terdengar tersengal-sengal.


"Aku melepas zat beracun di air sungai." Jawab Abigail sambil meringis menahan sakit, pandangannya pun mulai kabur.


Draco tertawa kecut, ia teringat sebelum kedatangan Abigail ia membasuh luka di lengannya. Karena merasa gatal pada bagian luka akibat goresan anak panah gadis itu.


"Kau akan membunuh banyak orang di daerah hilir sungai."


Abigail tersenyum lemah. "Tentu saja tidak, aku sudah memasang alat penyaring racun tidak jauh dari sini." Gadis itu memejamkan matanya.


Namun ia kembali berusaha membuka mata saat merasakan aliran angin yang sangat kencang tepat di atas tubuhnya. Samar-samar Abigail melihat baling-baling helikopter dan lampu sorot. Setelah itu keadaan menjadi gelap, tidak ada lagi yang bisa ia lihat maupun dengar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2