ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 17. Penyesalan Zai


__ADS_3

"Seandainya kamu bisa ikut." Darren menatap Abigail yang sedang memeriksa keperluan Darren untuk terakhir kalinya.


"Hanya satu hari." Abigail menanggapi keluhan Darren.


"Huhhhh!!!! Sutradara mata keranjang!" umpat Darren. Ia masih merasa kesal dengan permintaan sutradara yang mengerjakan video klip lagunya. Pria bertubuh gemuk itu tak ingin ada Abigail disana karena penampilan culun dan wajah Abigail yang tidak menarik.


Dengan terpaksa Trias menyetujui permintaan Sang Sutradara atau syuting untuk pembuatan video klip tersebut batal.


"Aku akan menghubungimu, jadi pastikan baterai smartphone milikmu selalu penuh."


"Iya, aku tahu."


Darren tidak puas dengan jawaban Abigail.


"Abi…."


"Dia bukan anak kecil Darren." Trias akhirnya turun tangan. "Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia pun tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri."


Abigail yang sudah menyelesaikan pekerjaannya tersenyum tipis mendengar penuturan Trias. Sementara Darren hanya bisa mendesah kasar.


"Semua sudah siap." Abigail menghempaskan tubuhnya di sofa besar yang ada disana.


"Jadi apa saja rencanamu hari ini?" Darren duduk di hadapan Abigail.


"Aku akan ke Sky City mengembalikan beberapa perlengkapan pada Miss Rosi, setelah itu aku pulang."


"Berhati-hatilah selama disana." Trias mengingatkan.


"Iya kak." Abigail melirik jam tangannya. "Kurasa sebaiknya kalian pergi sekarang jika tak ingin terjebak macet dan ketinggalan pesawat."


☘️☘️☘️


Abigail mengetuk pintu ruangan Roki. Meski tahu akan kembali bertemu Zai, namun Abigail tetap melakukan tugasnya.


"Oh, kamu. Masuklah." Zai berjalan lebih dulu setelah membuka pintu untuk Abigail.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini."


"Ya aku tahu." Zai menerima paper bag yang diserahkan Abigail. "Miss berpesan minumlah dulu sebelum pergi."


Abigail menatap beberapa jenis minuman kaleng dan air mineral yang ada di meja.


"Aku tak tahu mana yang kamu suka, jadi aku menyiapkan saja semuanya." imbuh Zai setelah mengikuti arah pandang Abigail.


"Terima kasih." Abigail mengambil sebuah botol air mineral, membuka dan segera meminumnya. "Aku permisi."


"Ya."


Abigail segera keluar dari ruangan Roki. Baru beberapa langkah berjalan, Abigail merasa kepalanya tiba-tiba berat.


****!!! Air minumnya!!!


Abigail menatap botol di tangannya, namun kemudian pandangannya menjadi gelap. Samar-samar ia mendengar suara perempuan tertawa, dan setelah itu Abigail benar-benar tak sadarkan diri.


☘️☘️☘️


Abigail mengerjapkan matanya, ia merasa sudah tidur dalam waktu yang cukup lama.


"Akhirnya putri tidur kita bangun juga." suara Dona membuat kesadaran Abigail dengan cepat kembali.


Abigail terkejut mendapati dirinya sedang diikat di sebuah kursi kayu dengan mulut diikat kain. Ia menatap tubuhnya sejenak, tak ada keinginan untuk meronta. Abigail menatap ke sekitarnya dengan tenang.


Tampaknya gadis itu membawa Abigail ke sebuah gudang terbengkalai. Di sekitar Abigail sudah ada lima orang pria bertubuh kekar yang menatap dirinya dengan lapar. Kemudian ada Dona yang duduk di sebuah kursi tak jauh dari Abigail sambil menikmati buat sepiring anggur.


Dari arah belakang, Abigail mendengar langkah kaki seseorang.


"Apa kamu takut?" bisik perempuan yang tak lain adalah Zai. Ia membuka kain yang menghalangi Abigail berbicara.


"Apakah hanya kalian? Atau masih ada lagi?" Abigail justru menjawab pertanyaan Zai dengan pertanyaan juga.


"Sombong! Mereka berlima cukup untukmu." ucap Dona dengan sinis. "Duduklah di sampingku Zai. Kita akan menyaksikan film dewasa secara langsung."


Zai segera menjauhi Abigail dan duduk di sebuah kursi kosong di samping Dona.

__ADS_1


Abigail berusaha menggerakkan tubuhnya, namun sia-sia. Mereka mengikatnya dengan sangat kuat.


"Lakukan sekarang!" perintah Dona.


"Nona, bisakah kami membuka talinya? Semakin dia berusaha untuk lari, semakin nikmat permainan ini." ujar salah satu pria.


"Ya, benar Nona. Biarkan kami menikmati ketakutannya lebih dulu sebelum tubuhnya." timpal yang lain.


"Terserah." Dona mengayunkan tangan memberi kebebasan pada orang-orang suruhannya.


Para pria itu tersenyum senang, begitupun dengan Abigail.


"Kalian akan menyesali permintaan kalian ini."


"Benarkah? Kami rasa tidak." ucap seorang pria yang bertugas membuka tali pengikat Abigail.


"Meski kamu jelek, tapi tubuhmu terlihat menggiurkan." ucap yang lainnya sambil memindai Abigail dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Setelah ikatannya terlepas, Abigail segera berdiri. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Abigail sadar, para pria itu tak akan menerkamnya sebelum ia lari. Karena jerit ketakutannya akan semakin meningkatkan gairah mereka. Oleh sebab itu Abigail menggunakan waktu yang ada untuk memulihkan tenaganya.


"Larilah sayang." ucap seseorang yang sudah tak sabar ingin mencicipi tubuh Abigail.


Abigail tersenyum, ia bergerak mundur beberapa langkah sedang kelima pria itu berjalan maju.


"Kau terlalu lama!" hardik seseorang dan mencengkram lengan kiri Abigail dengan kasar.


"Akhhh!!!" pria itu terkapar setelah pukulan tangan kanan Abigail mendarat tepat di ulu hatinya. Membuat cengkraman di lengan Abigail terlepas.


Bukannya ketakutan, keempat pria yang lain tertawa.


"Dipukul perempuan saja sudah terkapar." hina rekannya yang lain. Kemudian maju bersama seorang rekannya untuk memegang Abigail.


Namun Abigail dengan cepat menarik tangan salah satu dari keduanya dan memutar hingga persendiannya lepas. Abigail menjadikan tubuh pria itu sebagai tameng. Kemudian ia mundur dan menendang pria tadi dari belakang hingga menabrak rekannya yang lain. Keduanya tersungkur di lantai dengan posisi tumpang tindih.


"Aaakkkhhhhh!!!!"


Melihat rekannya tak berdaya, kedua pria yang tersisa maju bersamaan. Mata Abigail bergerak liar melihat ke sekelilingnya. Saat ia melihat beberapa potong besi teronggok di lantai tak jauh darinya, Abigail berlari dengan cepat ke arah potongan besi-besi itu.


"Mau lari kemana kau?!" seru salah satu pria.


"Jangan bermain dengan benda itu, kau bisa terluka." ucap seorang pria dengan sedikit tersengal-sengal.


Abigail hanya tersenyum tipis dan memainkan besi itu dengan lihainya.


"Baik kalau itu maumu, aku akan membuat wajahmu semakin jelek." kemudian para pria itu mengeluarkan belati masing-masing.


Abigail menyeringai dan menyambut serangan keduanya dengan tenang. Ia memutar tongkat besinya, membuat para pria tidak ada yang berani menghunuskan pisau mereka.


"Pengecut."


Merasa tak terima dengan hinaan Abigail, salah satu diantara kedua pria itu maju menyerang. Abigail berkelit dengan lincah, dan saat lawan lengah, ia mengayun besi mengincar pangkal paha.


"Aakkkhhh!!!" besi Abigail mengenai pangkal paha pria tersebut, dan membuatnya tumbang.


Serangan lain datang dengan cepat, beruntung Abigail cepat menghindar hingga pisau itu hanya mengenai ujung lengannya. Abigail melepas besinya, menangkap tangan pria yang menyerangnya dari belakang, kemudian memukul pangkal lengan itu dari bawah dengan kekuatan penuh sampai terlihat tulang mencuat.


Jerit kesakitan memekakkan telinga Abigail, gadis itu berbalik dan menendang perut lawan dan membuat pria itu terjungkal.


Abigail berdiri dengan cepat, ia melihat pria yang tadi jatuh tertimpa rekannya sudah berdiri. Dan dari gerakannya ia seperti ingin mengambil benda lain dari belakang bajunya. 


Abigail menyambar besi, berlari sedikit dan melempar besi di tangannya hingga mengenai kepala pria tersebut. Suara teriakan yang panjang mengiringi jatuhnya tubuh pria bayaran Dona ke lantai dengan sangat keras.


Abigail menatap sekeliling melihat lawannya, tak ada yang berani berdiri dan kembali menyerang. Ia memalingkan wajah dan menatap Dona serta Zai yang kini sudah berdiri dengan tubuh bergetar.


"Apakah pelajaran yang kuberikan tidak cukup, Zai?" Abigail berjalan dengan cepat mendekati Dona dan Zai.


Zai yang terlalu terkejut hanya bisa menggeleng seraya melangkah mundur dengan gemetar.


"A..aku…akkhhh!!!" Zai tercekat saat Abigail mencengkram leher dan mengangkat tubuh Zai ke atas.


Abigail melirik Dona yang hendak lari dan menghempaskan tubuh Zai ke lantai. Mendengar teriakan Zai, Dona berbalik dan detik berikutnya tangan Abigail sudah mencengkram lehernya.


Dona meronta, ia memukul-mukul tangan Abigail dengan frustasi. Air matanya mulai mengalir. Sesaat kemudian Abigail menghempaskan tubuh Dona ke lantai. Membuat gadis itu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.

__ADS_1


"Ulangi lagi dan akan ku pastikan kalian meregang nyawa." suara Abigail yang terdengar datar dan dingin membuat Dona dan Zai semakin terintimidasi sehingga mengangguk patuh.


Zai memejamkan matanya, ia merutuki kebodohannya sendiri. Begitu Roki kembali, ia pasti akan kehilangan pekerjaannya. Apalagi jika Abigail melapor ke polisi. Wanita itu pun menangis sejadi-jadinya.


Abigail melangkah meninggalkan mereka. Di luar gudang nampak beberapa orang bersenjata lengkap sudah menunggunya. Dan salah satunya adalah orang yang selalu bisa membuat Abigail salah tingkah.


"Lama sekali." seorang pemuda tampan memberi air mineral pada Abigail. Namun gadis itu tidak segera menerimanya.


"Aku tidak memasukkan obat apapun Athena."


Abigail tersenyum kecut. "Terima kasih Morgan. Aku ceroboh sekali."


"Tidak juga. Meski bukan air mineral yang kamu pilih, hasilnya tetap sama." Morgan mengangkat kedua bahunya dan mensejajari langkah Abigail.


"Maksudmu?"


"Seluruh minuman itu sudah diberi obat tidur." jelas Morgan. "Seorang agen mengambil minuman yang dibuang oleh Zai untuk menghilangkan barang bukti."


Abigail tertawa pelan. "Mereka tidak suka jika orang yang ditindas berbalik melawan."


"Begitulah." Morgan membukakan pintu mobil untuk Abigail. "Jangan lupa kacamatamu." ucapnya seraya memberikan kacamata baru untuk Abigail.


"Yang lama?"


"Rusak."


Abigail menipiskan bibir. "Mereka benar-benar merepotkan. Terima kasih Morgan."


"Jangan sungkan. Kau sudah seperti adik kandungku." ucap Morgan sambil menutup pintu.


Abigail menatap Morgan dari balik kaca dengan sendu. Hatinya tercubit mendengar kalimat Morgan.


Ya, sudah sangat lama Abigail mengagumi Morgan. Sebab pemuda itu mampu mengimbanginya saat latih tanding.


"Percayalah Ai, itu bukan cinta."


Suara Mikha membuat Abigail tersentak dan menoleh dengan cepat.


"Kakak!"


Saat Abigail sibuk menatap Morgan, Mikha keluar dari persembunyiannya dan duduk di tangan kursi yang digunakan Abigail.


Karena memakai kursi yang terpisah satu dengan yang lainnya, maka tercipta ruang di dalam mobil yang membuat pengguna bergerak dengan leluasa.


Abigail memeluk Mikha dari samping. "Aku lengah sampai tidak menyadari kehadiran Kakak."


Mikha menghembuskan nafasnya dengan berat. "Jangan diulangi lagi."


Abigail mengangguk dan mengurai pelukannya. Mikha mengetuk kaca jendela di sampingnya, tak lama kemudian seorang pria masuk dan duduk dibalik kemudi.


☘️☘️☘️


Darren merasa gelisah, beberapa kali ia menghubungi ponsel Abigail namun tidak bisa.


"Ada apa?" Trias duduk dan membawakan segelas teh di gelas kertas.


"Aku tak bisa menghubungi Abi." jawabnya sambil menerima teh dari Trias. "Aku sudah memeriksa CCTV apartemen dan ruanganku di agensi namun hasilnya nihil. Dia tidak ada sama sekali."


"Mungkin sudah pulang."


"Mustahil, setelah membawa paper bag ke ruangan Roki, Abigail tidak kembali ke ruangan untuk mengambil tasnya jika memang dia akan pulang."


"Aku akan menelepon pihak keamanan." Trias mengambil ponsel dan berjalan menjauh.


Darren menyugar rambutnya. "Abi, kamu dimana?" gumamnya seraya memandangi layar ponselnya yang menampakkan foto candid Abigail.


  


......................


Hai kak.


Sambil menunggu Asisten Culun up, baca novel keren karya teman othor yuk.

__ADS_1


Complicated Mission by AdindaRa



__ADS_2