
Abigail menatap mobil yang akan membawanya pergi dari rumah aman. Jika biasanya ia akan melangkah dengan ringan saat pekerjaannya selesai, kali ini ada sesuatu yang membuatnya merasa berat.
Namun Abigail sadar, jika sudah berhubungan dengan nyawa, hati dan perasaan harus dikesampingkan.
Hhhhhh...Jika aku terus bersamanya, aku akan menjadi sumber malapetaka baginya.
Akhirnya ia membuka pintu mobil dan segera masuk. Abigail memasang sabuk pengaman, dan hanya mengarahkan pandangannya ke depan.
Beberapa saat kemudian Mikha pun menyusul masuk dan mobil bergerak meninggalkan rumah aman diiringi sebuah mobil di depan dan di belakang mobil yang ditumpangi Kakak beradik tersebut.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Mikha sambil menggenggam tangan Abigail.
Mendengar pertanyaan itu, Abigail menoleh menatap Mikha sambil mengulas senyum tipis. "Aku baik-baik saja kak."
Abigail kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela, menatap rimbunnya hutan. Selama puluhan menit ia tetap dalam posisi yang sama.
Hingga akhirnya ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Kak." Abigail menoleh menatap Mikha yang sedang berkutat dengan notebook miliknya.
"Ya. Ada apa Ai?" Mikha melepas kacamata dan memusatkan perhatian pada adiknya.
"Aku sudah membuat keputusan." Wajah Abigail terlihat penuh tekad.
"Keputusan?" Dahi Mikha mengernyit, ia belum mengerti kemana arah pembicaraan Sang adik.
Abigail mengambil nafas dalam-dalam. "Aku akan mengundurkan diri dari agensi." Ucapnya dengan cepat.
"Yes!!! Yes!!! Yes!!!" Mikha mengepalkan tangan ke udara beberapa kali. Ia terlihat sangat senang.
Abigail terkejut, tidak menyangka dengan reaksi Sang kakak. Mulutnya terbuka dengan mata yang membola.
"Akhirnya kamu mundur tanpa diminta." Mikha yang telah meletakkan notebook ke lantai meraih Abigail dan memeluknya dengan hangat.
"Aku kira kakak akan kecewa."
Mikha mengurai pelukannya dan mengusap rambut Abigail. "Tidak, aku senang dengan keputusanmu ini."
"Baguslah, aku lega."
Sementara itu di rumah aman, Trias menghampiri Darren yang duduk di rerumputan menghadap ke danau.
"Kenapa tidak mengantarnya pergi? Sejak meninggalkan ruang makan pun kau terus mengurung diri di dalam kamar."
Darren tersenyum kecut tanpa menatap Trias. "Panggil saja aku pengecut."
"Kau belum mengatakan kepadanya?"
__ADS_1
Darren menggeleng pelan kemudian menunduk dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
Trias mendesah. "Kalau begitu, kenapa tidak menahannya?"
"Keselamatannya lebih penting." Lirih Darren. "Jika aku terus bersamanya, tidak ada satupun dari kami yang akan selamat."
Trias hanya bisa menepuk punggung Darren untuk memberi pemuda itu semangat.
Darren mengangkat wajahnya dan menatap Trias sesaat dengan mengulas senyuman. Kemudian ia menengadah menatap langit yang terlihat cerah dengan sedikit kelompok awan putih disana.
"Seandainya saja aku pun bisa melindunginya." Lirih Darren memecah kesunyian.
☘️☘️☘️
Setelah perjalanan panjang dan beberapa kali berganti mobil, akhirnya mereka tiba di mansion Mikha. Meski sudah sangat merindukan rumahnya sendiri, namun Abigail terpaksa memenuhi permintaan Sang kakak.
Halaman depan mansion sangat asri, dikelilingi dengan taman yang luas dan dilengkapi kolam ikan. Tanaman yang tumbuh subur dan ditata rapi membuat bangunan megah itu terlihat menyatu dengan alam.
Begitu turun dari mobil mereka telah disambut Liam dengan wajah yang tegang.
"Ada apa?" Mikha bergegas menghampiri pemuda itu.
"Rosalin bunuh diri."
Nafas Mikha dan Abigail tercekat.
"Tidak mungkin." Abigail menggelengkan kepala.
Wanita itu ditemukan tewas menggantung diri di apartemen pribadinya. Di atas sebuah meja tak jauh dari jenazahnya, di temukan sepucuk surat. Dalam suratnya Rosalin mengaku depresi dan tidak kuat dengan pemberitaan yang selalu menyudutkan dan menuduhnya sebagai wanita simpanan.
"Beberapa bulan ini, tinggalah disini dan jangan kemana-mana." Mikha menatap Abigail dengan wajah memohon.
"Tapi, apa hubungannya denganku?" Abigail kebingungan.
"Jangan bertanya, turuti saja permintaanku ini. Aku mohon." Sambung Mikha lagi.
Abigail terkesiap, tidak pernah sekalipun Mikha meminta dengan wajah dan tatapan duka seperti itu. Akhirnya ia mengangguk pasrah menyetujui permintaan Sang kakak.
"Terima kasih." Mikha memeluk Abigail. "Aku tidak ingin kehilanganmu."
Liam menatap keduanya dengan berkaca-kaca. "Aku akan memperketat penjagaan di sekitar mansion." Ucapnya seraya berjalan keluar ruangan.
Liam menghubungi seseorang menggunakan ponsel yang tidak mudah dilacak.
"Perketat penjagaan di rumah aman. Aku akan segera mengirimkan bantuan." Perintahnya setelah seseorang mengangkat panggilan Liam. Dan tanpa menunggu jawaban, pemuda itu segera memutuskan sambungan.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Abigail memanggang daging favoritnya sebagai menu makan siang. Namun bukan wajah bahagia yang terlihat seperti biasa saat berhadapan dengan kesukaannya, ia nampak murung.
Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk mengangkat daging tersebut. Meletakkannya di sebuah piring dan segera memotong bagian ujungnya.
Dengan menggunakan sumpit, Abigail mengambil potongan tersebut. Meniupnya sebentar dan langsung melahapnya.
Ia mengunyah dengan perlahan, berusaha menikmati makanannya. Dan sekali lagi, raut wajah Abigail terlihat tidak puas.
Kepala rumah tangga dan beberapa pelayan yang berdiri salah satu sudut dapur hanya bisa menatap Abigail dengan heran tanpa berani menegurnya.
"Abigail!!! Ada apa ini?" Mikha yang baru datang terkejut dengan belasan piring berisi daging panggang berbagai macam ukuran.
Mikha berkacak pinggang mengamati semua piring itu. Hanya ada satu kesamaan, terdapat potongan kecil di salah satu tepi daging.
"Aku ingin makan daging panggang."
"Lalu? Kenapa memanggang sebanyak ini?"
Abigail menatap semua piring yang ada dengan raut wajah kesal. "Entahlah! Aku tidak bisa mendapatkan rasa yang pas seperti waktu itu. Semua daging ini terasa aneh, sama sekali tidak enak."
Mikha mengernyit. "Waktu itu?"
Abigail mengangguk. "Waktu di rumah aman."
Mendengar jawaban Abigail, Mikha terdiam dan berpikir. Sesaat kemudian ia tersenyum geli menatap Sang adik.
"Potong-potong daging ini sebagai tambahan lauk makan malam kalian dan yang lain." Ucap Mikha pada kepala rumah tangga.
Pria berambut putih itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia memerintahkan semua pelayan yang berdiri bersamanya mengangkat piring-piring berisi daging panggang dari atas meja.
"Panggil chef, dan buatkan kami berdua telur, sunny side up bersama spaghetti carbonara. Hidangkan itu di balkon." Imbuh Mikha.
Mereka semua melaksanakan perintah Mikha selagi wanita itu membawa Abigail keluar dari dapur.
"Kakak rasa, daging yang kamu panggang tadi lezat." Mikha membuka perbincangan saat mereka tiba di balkon lantai dua yang mengarah ke danau dan lapangan golf mini.
"Tidak, rasanya biasa saja bahkan buruk." Abigail menyandarkan tubuhnya dan menutup mata.
"Aku tidak mengerti, seingatku dagingnya sama dengan yang kita makan saat itu. Apakah kualitas daging di langganan kita sudah menurun?" Abigail membuka mata dan menatap Sang kakak di akhir kalimatnya.
Mikha tertawa kecil menanggapi pertanyaan Abigail.
"Bukan dagingnya yang berbeda. Tapi orang yang memanggang dan suasananya yang tidak sama." Mikha berkomentar dengan ekspresi wajah menahan tawa.
"Ohh…sepertinya rasa daging panggang penuh cinta dengan rasa daging panggang penuh rindu sangatlah jauh berbeda." Imbuh Mikha sambil menatap ke danau, tidak mengindahkan tatapan tajam Sang adik.
"Tidak ada hubungan antara perasaan dan rasa daging panggang." Protes Abigail.
__ADS_1
Mikha tertawa tanpa ada niat menjelaskan pernyataannya pada Abigail.
...****************...