
Abigail mengernyit saat menerima pesan dari sebuah nomor baru. Ia membuka pesan tersebut dengan cepat.
Temui aku di tepi danau Cermin, besok, jam satu siang. SENDIRI
Raline
Abigail mengabaikan pesan itu. Dan beberapa menit kemudian, pesan baru kembali masuk.
Jika tidak datang, aku akan terus mengganggu kalian berdua.
Abigail tersenyum sinis, Raline benar-benar pemaksa.
Ok
Hanya itu yang Abigail kirim sebagai balasan pesan pada Raline. Ia berjalan menuju sebuah ruangan khusus yang ada di dalam kamarnya. Lalu mengambil dua buah pistol kesayangannya serta beberapa kunai.
Tak lupa Abigail membuka sebuah koper kecil berisi kamera pengintai nirkabel yang dilengkapi microphone. Bentuknya sangat kecil dan memiliki pelindung agar tidak dapat dideteksi dengan alat pendeteksi kamera tersembunyi.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Abigail beranjak meninggalkan barang-barangnya di atas kasur.
"Oh, Kak Liam." Abigail membuka pintu lebih besar dan kembali masuk.
Liam melihat kesibukan Abigail dengan kening berkerut. Pemuda itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Apa ada misi lagi? Bukankah kau sudah berhenti?"
Abigail tersenyum tipis. "Besok Raline meminta ku bertemu dengannya di tepi danau Cermin. Dan ia ingin aku sendirian ke sana."
Liam terlihat mulai kesal. "Dia benar-benar tidak tahu diri." Geramnya pelan.
Mendengar itu Abigail menyunggingkan senyum mengejek.
"Tidak tahu diri, tapi pernah ada di hati kan."
Liam mendengus lalu pergi meninggalkan kamar Abigail.
☘️☘️☘️
Abigail memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat Raline berdiri. Dengan berat hati, Abigail berjalan mendekati Raline yang sudah menunggunya dengan wajah angkuh.
"Langsung saja." Ucap Abigail tanpa basa basi lagi.
__ADS_1
Raline mengangkat salah satu alisnya. Ia menatap ke sekitar memastikan kalau Abigail benar-benar datang sendiri.
Raline tersenyum sinis dan memberi kode dengan tangannya. Tak lama kemudian beberapa orang pria datang dan berdiri di belakang Abigail.
"Kau benar-benar bodoh…."
"Cepat katakan apa maumu!" Abigail tak membiarkan Raline menyelesaikan ucapannya. "Jangan bertele-tele." Imbuhnya lagi.
Raline mengepalkan kedua tangannya menahan marah. Dilihat dari situasi, seharusnya ia yang bisa mengintimidasi Abigail. Tapi kenyataannya, Abigail justru terlihat santai dan malahan mengaturnya.
"Tinggalkan Darren." Ucap Raline setelah berhasil mengatasi emosinya. "Aku yang lebih pantas bersamanya."
Abigail menatap datar dan tak berniat menanggapi ucapan Raline.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu jika sekarang juga kau menyerah atas hubungan kalian, dan pergi dari kehidupan Darren."
Ingin rasanya Abigail tertawa terbahak-bahak mendengar janji Raline.
"Kenapa kau sangat membenciku?" Tanya Abigail pada Raline.
"Karena kau merebut semua hal dariku. Pekerjaan yang seharusnya menjadi milikku, kau mengambilnya." Suara Raline terdengar bergetar.
"Aku tidak pernah merebut pekerjaanmu. Semua adalah permintaan klien. Aku tidak menginginkan itu."
Abigail mengerutkan dahinya. "Kenapa kau menyalahkanku atas hal yang diluar kendaliku? Kenapa tidak mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan orang lain?!" Ucapan Abigail yang pedas dan tajam membuat Raline kehilangan kendali.
"Cukup!" Hardiknya. "Tinggalkan saja Darren, aku yang akan menikah dengannya."
Abigail melipat kedua tangan di depan dada. "Memangnya, Darren mau menikahimu?"
Pertanyaan Abigail membuat Raline gugup untuk sesaat. Memang benar, jika Abigail pergi, belum tentu Darren mau menerimanya.
"Kau terlalu percaya diri. Jangan salahkan aku tidak akan sungkan lagi menyakitimu." Raline tersenyum sinis. "Baiklah jika tidak mau berhenti dengan baik. Sebagai informasi, jalanan sudah diblokir, tidak akan ada yang bisa menolongmu." Imbuhnya sambil mundur beberapa langkah.
Dalam hatinya, Abigail menertawakan kebodohan Raline. Karena Mikha serta yang lainnya sudah lebih dulu ada disana, jauh sebelum Raline datang.
Raline mengambil kamera dan mulai merekam. "Saat Keluarga Zee melihat rekaman ini, mereka tidak akan mau menerimamu lagi sebagai menantu. Bukan hanya mereka, tapi Keluarga lain pun begitu."
"Kenapa dulu kau tidak mati saja bersama keluarga kalian yang brengsek itu?!"
Perkataan kasar yang dilontarkan Raline menyulut kemarahan Abigail. Dengan cepat Abigail melangkah mendekati Raline, namun seorang pria menghadangnya.
__ADS_1
Tanpa bicara lagi, Abigail langsung mengambil kunai di balik lengan bajunya dan menyerang kaki pria tersebut. Gerakan Abigail yang cepat membuat pria itu tidak sempat berkelit.
"Aaakkhhh!!!" Teriak kesakitan terdengar saat kunai Abigail berhasil melukai kakinya.
Sontak rekan-rekannya datang membantu. Abigail bergerak maju dan menyerang mereka dengan membabi buta. Gerakan tangan serta kakinya yang cepat membuat lawan tak berdaya. Kemarahan membuat tenaga Abigail bertambah berkali-kali lipat.
Tidak ingin membuang tenaga, Abigail mencabut sebuah pistol dari belakang punggung. Dan mengarahkan ke kaki serta bahu lawannya. Suara tembakan terdengar beberapa kali diiringi jerit kesakitan. Wajahnya pun terkena cipratan darah dan Abigail mengabaikannya.
Melihat lawannya telah tumbang, Abigail segera berbalik melesat mendekati Raline yang sudah gemetar ketakutan. Ia tidak sempat lari karena dalam sekejap mata Abigail sudah berdiri di depannya.
Abigail mengulurkan tangannya dan mencekik Raline kemudian mengangkat wanita itu.
"Benci aku sesukamu, tapi jangan pernah menghina keluargaku!"
Suara Abigail terdengar berat dan dalam. Cipratan darah di wajah cantik Abigail yang tanpa ekspresi makin membuat Raline bergetar. Bahkan hawa dingin menguar dari tubuhnya. Raline semakin ketakutan, ia sudah menangis sambil memukul tangan Abigail dengan frustasi.
"Akk..akkk…" Raline berusaha untuk bicara. Kakinya pun menendang-nendang udara.
Abigail tidak menggubris, bahkan saat ia melihat air mata yang jatuh di sudut mata Raline, ia tidak peduli.
"Ai." Suara Mikha tiba-tiba terdengar dari belakang tubuh Abigail. "Lepaskan dia sayang. Tanganmu terlalu indah untuk dikotori oleh darah yang berbau busuk miliknya." Mikha dan yang lainnya telah keluar dari tempat persembunyian mereka.
Abigail tetap diam tak bergerak, sementara Raline mulai melemah.
Mikha maju, ia mengambil resiko. Ia berdiri di samping Raline yang sedang terangkat. Menatap Abigail dengan penuh kasih kemudian menyentuh tangan gadis itu dengan lembut.
"Ai." Panggil Mikha sekali lagi.
Abigail mengerjap, kemudian ia menghembuskan nafas dengan kasar. Setelah itu dengan satu gerakan ia melemparkan tubuh Raline ke arah samping.
Belum sampai menyentuh tanah, Venus sudah menyambut tubuh Raline dengan kakinya dan menendang tubuh Raline hingga terlempar.
"Akhh!" Suara kesakitan Raline sudah melemah akibat cengkraman Abigail di lehernya. Wanita itu tak sadarkan diri begitu tubuhnya masuk ke dalam semak-semak berduri.
Mikha meraih Abigail ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu. Mikha bisa merasakan tubuh Abigail yang menegang sudah mulai tidak kaku. Pertanda emosi gadis tersebut sudah mulai mereda.
Liam yang berada di belakang Abigail menatap wanita yang pernah ia cintai dengan dingin. Tidak ada perasaan iba di dalam hatinya untuk Raline. Apalagi setelah ia mendengar sendiri bagaimana Raline mengucapkan kata yang tidak pantas bagi keluarga Li.
"Ringkus mereka semua dan serahkan pada yang berwajib. Yang terluka bawa ke rumah sakit milik kepolisian. Termasuk bunga bangkai yang tersangkut di semak duri itu." Ucap Liam dan mengundang senyum di bibir anak buahnya yang mulai bergerak melaksanakan perintah.
"Bunga bangkai?" Venus mengangkat kedua alisnya dan tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Ya ya ya, aku dulu begitu menyukai bunga bangkai." Liam pasrah menjadi bahan bully.
...****************...