ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 28. Ditarik Dari Misi


__ADS_3

Abigail tidak menyangka Mikha akan mengancam dengan kata-kata seperti itu. Ia ingin membantah ucapan kakaknya, namun takut jika Mikha akan benar-benar menikahkan dirinya dan Darren. Sedangkan Darren hanya tersenyum kikuk.


Mood Abigail kembali membaik setelah makan malam dimulai. Keempatnya berbincang dengan topik yang ringan bahkan sesekali terdengar gelak tawa.


"Terima kasih, makan di luar ruangan membuatku semakin rileks." Ucap Darren dengan tulus pada Mikha.


Abigail yang mendengar itu jadi berpikir, beberapa hari ini ia tidak menyadari perubahan Darren. Jika diingat lagi, dalam beberapa hari ini pemuda itu tidak lagi menjadi pemarah atau mengalami perubahan mood yang ekstrim.


Sepertinya beban psikis yang ditanggung Darren sudah mulai berkurang. Tanpa sadar Abigail menunduk menarik nafas lega dan tersenyum.


Saat ia kembali mengangkat wajah, tatapan matanya bertemu dengan mata Darren. Abigail seakan terhanyut dalam tatapan Darren yang hangat dan dalam. Darahnya berdesir, namun ia tidak bisa memutus kontak mata tersebut.


Trias dan Mikha menyadari hal itu, dan keduanya memilih untuk tidak menghiraukan. Mereka memperbincangkan topik lain tanpa mengganggu kedua sejoli yang sedang saling menatap.


Namun sesaat kemudian, setetes air hujan jatuh tepat di wajah Abigail. Membuat gadis itu mengerjap dan segera mendongak sambil mengusap pipinya. Benar saja, bintang yang tadi terlihat indah menghiasi langit, kini telah tertutup.


"Mari kita masuk, sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan." Mikha mengajak semuanya untuk kembali ke dalam rumah.


Tidak lama kemudian hujan pun turun dengan lebatnya. Bahkan angin bertiup sangat kencang. Namun hal itu hanya sebentar, karena kemudian hujan turun dalam intensitas sedang.


Abigail berdiri di beranda yang langsung menghadap taman tempat mereka makan. Ia ingin menelaah pikiran dan perasaannya yang belakangan ini menjadi aneh saat bersama ataupun melihat Darren. Ia sadar betul, yang ia rasakan jauh berbeda saat bersama atau melihat Morgan.


Gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya dilipat ke depan seakan memeluk tubuhnya. Sebab ia mulai merasa kedinginan setelah puluhan menit berdiri.


Tiba-tiba ia merasakan lembutnya sebuah kain menyentuh pundak dan lengannya. Abigail menatap ke samping kiri dan melihat sebuah selimut berbahan kain flanel telah membungkus bagian atas tubuhnya.


Abigail mengangkat wajah dan menatap orang yang menyelimutinya.


"Darren." Lirih Abigail.


Darren tersenyum lembut. "Jika seperti ini, kamu bisa jatuh sakit. Hawanya terlalu dingin." Ucapnya dengan diikuti tangan yang menarik kedepan selimut tersebut agar membungkus bagian depan tubuh Abigail dengan baik.


"Sudah merasa hangat?"


Abigail mengangguk samar sebagai jawaban atas pertanyaan Darren. Namun tatapannya tidak lepas sedikit pun dari mata pemuda itu.


Darren semakin merapatkan tubuhnya. Ia memeluk Abigail dari belakang, bahkan tidak peduli jika gadis itu akan dapat mendengar degup jantungnya.

__ADS_1


"Apakah sudah lebih hangat?"


Abigail mengerjap saat merasakan tangan Darren semakin erat mendekapnya. Ia menunduk menatap kedua tangan Darren yang berada di perutnya.


"Selimut ini saja sudah cukup." Ucap Abigail seraya mengangkat wajah dan menoleh ke samping kiri untuk kembali menatap Darren.


Pemuda itu mendongak dan memejamkan matanya untuk sesaat. Darren menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Kemudian ia kembali menunduk menatap gadis yang berada dalam pelukannya.


"Masalahnya, hatiku juga pikiranku mengatakan ini belum cukup." Lirihnya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Abigail.


Saat ia hendak mendaratkan bibirnya pada bibir Abigail, tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh diiringi jeritan dan benda-benda yang berjatuhan ke lantai.


"Adduuuuhhhhh, pantatku!!! Kakiku!!! Aadduuuuhhhhhh!!!" Jerit seseorang.


Dengan cepat Darren dan Abigail menjauhkan tubuh dan melihat ke belakang. Tampak seorang pelayan duduk di lantai sambil memegangi pantatnya.


Wajah pelayan wanita itu terlihat kesakitan. Sebuah nampan dan sebuah gelas berserakan tak jauh dari tubuhnya. Bahkan cairan berwarna coklat pekat mengotori lantai.


Abigail dan Darren bergegas membantu wanita paruh baya itu. Mereka memapah Sang pelayan dan mendudukkannya di sebuah kursi tidak jauh dari sana.


"Aku ambil kotak P3K dulu." Ucap Abigail sambil berlari menuju kamarnya yang tidak jauh dari sana.


"Mana yang sakit?"


Sebelum menjawab pertanyaan Abigail, pelayan itu melirik Darren untuk sesaat.


"Kaki kiriku, Nona."


Abigail menarik celana wanita itu dan memeriksa. Kemudian ia mengambil sebuah botol dan menyemprotkannya pada area yang mulai terlihat memerah.


"Lantainya licin dan sepertinya anda kurang berhati-hati Nyonya." Ucap Darren.


"Benar Tuan, saya ceroboh. Tadi saya refleks hendak berbalik saat melihat Tuan dan Nona ber…." Pelayan tersebut segera menutup mulut dengan kedua tangannya.


Wajah Abigail merona dan menjadi semakin merah. Sedangkan Darren beberapa kali berdehem berusaha menutupi rasa malunya.


Melihat reaksi kedua sejoli itu, Sang pelayan turut tersipu malu. "Maafkan saya Tuan, Nona. Saya hanya berniat mengantar coklat panas yang diminta Nona."

__ADS_1


"I..iya. Ti..tidak apa-apa." Abigail berdiri. "Ayo, aku antar Nyonya ke kamar. Aku akan lanjut mengobati Nyonya disana."


Abigail membantu Sang pelayan untuk berdiri.


"Ehmm, aku…aku akan memanggil seseorang untuk membereskan gelas itu." Kata Abigail pada Darren.


Saat Abigail berbicara, Darren jadi dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu yang sepenuhnya telah memerah. Pemuda tersebut hanya mengulum senyum dan mengangguk.


"Dia semakin menggemaskan." Lirih Darren setelah Abigail dan Sang pelayan berjalan semakin jauh darinya.


☘️☘️☘️


Setelah makan pagi, Mikha meminta Trias dan Darren untuk tetap tinggal sebab ada yang akan ia bicarakan.


Ia mengambil sebuah map dari atas sebuah nakas tidak jauh dari sana kemudian memberikannya pada Trias.


"Maafkan aku, tapi mulai hari ini aku akan menarik Abigail dari misi dan akan memberikan seorang agen pengganti hingga kontrak selesai." Ucap Mikha seraya kembali ke tempat duduknya.


"Apa?!!!" Darren dan Trias sama-sama terkejut.


"Tapi, apa alasannya?" Trias menatap Mikha dalam-dalam.


Mikha menarik nafas dalam sebelum menjawab. "Keselamatan Abigail sedang terancam. Aku tidak ingin mengambil resiko."


Darren mengernyit. "Aku kira disini akulah orang yang sedang terancam. Kenapa sekarang penjagaku juga membutuhkan penjaga?"


"Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan. Salah satunya adalah perkembangan kasus ini. Kasus kematian seorang anak politikus besar ditutup begitu saja. Tidak ada penyelidikan seperti biasanya. Beritanya pun diredam begitu cepat."


Trias memijat pelipisnya, tubuh Darren terlihat lemas bersandar pada kursi.


"Rosalin menghilang tanpa jejak." Imbuh Mikha. "Dia sudah melihat wajah asli Abigail, hal itu akan menyulitkan agenku ini untuk terus menjagamu. Ia akan menjadi sasaran utama sebelum menghabisimu." Mikha menatap Darren dengan lembut berusaha memberikan pengertian.


Seketika itu juga kepala Darren terangkat dengan cepat dan menatap Abigail. Sorot matanya terlihat bingung dan sedih. Kemudian dengan tatapan penuh keyakinan Darren mengalihkan pandangannya dan menatap Mikha.


"Aku mengerti, tidak masalah bagiku." Ujar Darren tanpa keraguan.


Mendengar jawaban Darren, hati Abigail terasa nyeri. Pada awalnya ia berpikir Darren akan berusaha agar Mikha mengubah keputusannya. Namun ternyata ia salah, Darren terlihat menerima kabar tersebut dengan baik.

__ADS_1


Abigail menunduk menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Gadis itu bahkan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang semakin terasa.


...****************...


__ADS_2