
Abigail melangkah dengan tenang meski ia tahu ada orang yang membuntuti. Sebuah minivan berwarna hitam bergerak mengikuti dengan pelan sejak Abigail keluar dari minimarket yang letaknya tidak jauh dari apartemen.
Setelah tiba di sebuah perempatan, Abigail tidak berjalan terus menuju gedung tempatnya tinggal. Ia sengaja berbelok ke arah kiri menjauhi apartemen dan berjalan dengan cepat. Hingga kemudian Abigail tiba-tiba berlari dengan begitu cepat.
Pintu minivan terbuka, beberapa pria turun dan langsung mengejar Abigail. Sedangkan kendaraan itu pun segera tancap gas untuk membantu pengejaran.
Abigail masuk ke dalam sebuah gang yang tidak dapat dilalui kendaraan dan berhenti di sebuah tempat yang lapang. Tepat di belakangnya, sekelompok pria ikut berhenti dan berusaha mengatur nafas.
Abigail meletakkan belanjaannya di atas sebuah tumpukan karton bekas, kemudian berbalik dan menatap orang-orang yang mengikutinya satu per satu.
"Cepat ringkus dia!" Perintah salah seorang dari para pengejar. Dan sesaat kemudian beberapa diantara mereka maju sambil mengeluarkan benda tajam dari balik baju mereka masing-masing.
Melihat itu, Abigail segera mengambil sebuah tabung besi dari saku celananya. Ia menarik benda tersebut hingga menjadi sebuah tongkat yang tidak terlalu panjang namun sangat lentur. Tangan kirinya meraih sebilah pisau kecil yang terselip di pinggang. Abigail tidak berniat untuk sekedar melumpuhkan lawannya kali ini.
Pertarungan pun terjadi, gerakan Abigail yang begitu cepat membuat para penyerangnya kebingungan. Baru beberapa detik berjalan, mulai terdengar jerit kesakitan dari para pria tersebut.
Meskipun begitu cepat, sesekali Abigail pun terkena pukulan dari posisi yang begitu sulit mengingat lawan yang sangat banyak. Ia mengangkat kaki dan menendang dengan begitu kuat hingga pria di depannya melesat ke belakang dan terjungkal.
Abigail diam, ia mengatur nafas dengan bola mata yang liar memindai sekeliling. Terlihat beberapa pria yang dari awal sengaja tidak ikut menyerang sedang menyeringai. Rupanya mereka mengatur strategi dengan maju dalam dua tim. Saat Abigail sudah menunjukkan tanda kelelahan, maka tim kedua akan segera maju menyerang.
Tidak lama kemudian, tim kedua berjalan dengan cepat memasuki area perkelahian, dan tim pertama beringsut mundur.
"Akkkhhh!!!" Pria paling belakang dari tim kedua tiba-tiba berteriak kesakitan. Dan kemudian terjadi perkelahian.
Abigail menggunakan kesempatan itu untuk ikut menyerang. Meski ia tidak tahu siapa yang datang, Abigail merasa itu adalah bantuan.
Seorang pria mengincar kepala Abigail menggunakan tongkat bisbol. Dengan cepat gadis itu menunduk dan mendaratkan cemetinya ke pangkal paha pria itu, membuat pemilik paga berguling kesakitan di tanah. Dan disaat yang sama dari arah berlawanan sebuah tangan telah terarah ke perutnya.
Abigail pasrah, posisinya saat ini tidak memungkinkan baginya untuk menangkis serangan tersebut. Namun tiba-tiba sebuah tangan menghadang tepat sebelum tangan si penyerang mengenai badannya.
Gadis itu dengan cepat menegakkan tubuh dan memukul punggung lawannya yang lain dengan sangat kuat. Saat berbalik hendak menyerang orang yang berada di belakangnya, Abigail terkejut dan menahan serangannya di udara.
"Darren!!!"
__ADS_1
Darren yang juga sedang menahan tinjunya di udara hanya mengerling. "Belakangmu!!!" Kemudian ia memukul pria di belakang Abigail dengan sangat kuat.
Karena gerakan Darren yang memukul penyerang di belakangnya, Abigail tersadar kemudian kembali fokus. Sesekali Darren dan Abigail bersama-sama melumpuhkan seorang penyerang.
Dan tidak jarang Abigail gagal fokus akibat melihat wajah tampan Darren yang begitu maskulin saat kedua rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam nan mematikan. Gadis itu bahkan harus mengerjap agar dapat kembali kepada situasi sebenarnya.
Keduanya bertarung bahu membahu mengalahkan para penyerang hingga tidak ada satupun dari mereka yang dapat kembali berdiri.
"Mereka, kuat sekali." Suara Trias yang terengah-engah dari arah belakang membuat Abigail dengan cepat memutar tubuhnya.
"Sepertinya mereka menggunakan steroid atau semacamnya." Timpal seorang pemuda yang mengikuti Trias.
"Ya, benar."
Abigail mengenali pemuda yang terakhir, yang tidak lain adalah Kay.
"Aku menyesal tidak membawa pistol." Imbuh Kay sambil mengusap sudut bibirnya dengan perlahan.
Menyadari ada banyak kerutan di dahi Abigail, Trias segera memperkenalkan pemuda yang berada di belakangnya.
"Abigail, kenalkan, ini Felix, salah satu temanku, Darren dan juga Kay."
Abigail mengangguk dan tersenyum pada Felix. "Halo, senang bertemu dengan anda."
"Halo, begitu juga denganku." Sahut Felix setelah beberapa saat mengamati gadis di hadapannya itu.
Abigail menuju tumpukan karton untuk mengambil kantong belanjaannya. Ia mengambil sebotol air mineral dari dalam kantong dan langsung meminumnya. Namun baru beberapa kali teguk, Darren segera merebut dan langsung meminum air tanpa mengusap bekas bibir Abigail.
Meski kesal, gadis itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia membiarkan Darren untuk minum lebih dahulu.
"Manis." Ucap Darren sambil mengembalikan botol yang isinya tinggal sedikit pada Abigail.
"Buatku rasa air ini biasa saja." Sahut Abigail menerima botol dari tangan Darren.
__ADS_1
Pemuda itu menyunggingkan senyum usil. "Mungkin karena ada bekas bibirmu disana." Bisik Darren tepat di depan wajah Abigail.
Melihat Darren yang sedang menggodanya, Abigail hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. "Saya lelah, dan tidak ingin berdebat."
Darren tersenyum. "Ayo pulang." Serunya kepada yang lain. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Kenapa saat berlari tadi kau tidak membuang kantong belanjamu?" Tanya Kay tiba-tiba saat melihat Abigail.
Abiga menatap kantong di tangannya. Ia pun tidak mengerti kenapa ia sampai nekat lari bersama kantong itu.
"Ehmm…entahlah." Jawabnya kemudian.
Sesampainya di dekat mobil, Darren membuka pintu penumpang bagian depan dan meminta Abigail untuk masuk. Ia tidak ingin membuat gadis itu tidak nyaman jika harus duduk bersama pemuda lain di belakang.
"Bagaimana kalian menemukanku?" Abigail bertanya pada Trias yang sudah mengemudikan mobil meninggalkan tanah lapang itu.
"Kami hampir belok masuk ke halaman apartemen saat melihatmu berbelok dan diikuti sebuah minivan. Oleh sebab itu kami segera menyusul." Jawab Trias.
Abigail mengangguk-anggukkan kepala. "Begitu rupanya." Gumamnya lagi.
Kemudian gadis itu berbalik menatap Darren, Kay, Felix dan Trias secara bergantian. "Terima kasih banyak sudah membantu." Ucapnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang tulus.
Tiba-tiba Darren menggunakan kedua tangannya menutup wajah Abigail. Ia bahkan memicingkan mata menatap Kay dan Felix. Darren tidak rela jika teman-temannya melihat senyuman manis Abigail.
"Apa yang anda lakukan Tuan?" Abigail berusaha menarik tangan Darren ke bawah karena menghalangi pandangannya.
Trias terkekeh geli, begitu juga dengan Felix dan Kay.
"Ayolah Darren, itu hanya sebuah senyuman. Tidak bisakah kau membaginya sedikit dengan kami yang masih sendiri ini?" Goda Felix.
"Tidak akan!" Jawab Darren dengan penuh penekanan.
...****************...
__ADS_1