
Tiba-tiba terdengar suara gaduh yang berasal dari dalam perpustakan.
"Nona Muda, tolong jangan berlari." Suara beberapa orang wanita disertai bunyi sepatu yang digunakan untuk berlari.
Abigail menajamkan pendengarannya, diantara suara sepatu orang dewasa, terdengar juga suara langkah dari anak kecil.
"Pipoooo!" Suara melengking seorang anak perempuan terdengar diiringi dengan kemunculan tubuh kecil yang gemuk serta pipi chubby yang menggemaskan.
"Yuka." Kakek Zico menunduk di lantai dan merentangkan kedua tangannya. Menyambut kedatangan gadis kecil yang segera melompat masuk ke dalam pelukan Zico.
Tidak lama kemudian terlihat beberapa orang wanita berpakaian hitam dan juga seseorang yang berpakaian pink datang dengan nafas terengah. Namun begitu melihat Yuka sedang bersama Sang Kakek, mereka segera menunduk dan mengambil tempat berbaris di sisi lain.
Begitu Kakek Zico dan Yuka melepas pelukan mereka, mata Abigail membulat sempurna. Akan tetap ia dengan cepat bisa mengatasi keterkejutannya.
Sesaat kemudian Yuka melihat ke sekeliling, ia kemudian lari berhamburan ke dalam pelukan Darren.
"Uncle Ayen."
"Hai princess, Uncle rindu padamu." Darren terlihat memeluk erat Yuka. "Kamu makin cantik saja." Imbuhnya setelah menjauhkan tubuh Yuka kemudian mengusap kepala gadis kecil itu dengan sayang lalu menggelitik pinggang Yuka. Suara tawa Yuka yang renyah terdengar kemana-mana.
"Ampun Uncle!" Seru Yuka di sela-sela tawanya.
Darren menghentikan aksinya kemudian membawa gadis itu untuk duduk di pangkuannya.
"Kemari, Grandpa juga rindu." Rayn segera mengambil Yuka dari pangkuan Darren. Tidak lama kemudian muncul sepasang suami istri yang tidak asing bagi Abigail.
"Halo semuanya." Sapa Justin dengan senyuman yang ramah. Sedangkan istrinya, Camilla, segera berlari memeluk Kakek Zico.
Abigail berdiri dan berpindah ke belakang Trias. Ia mengamati keluarga itu sejenak kemudian menunduk.
"Nyonya Camilla adalah sepupu jauh Darren. Ia cucu dari Kakak Tuan Zico. Dan itu suaminya, Tuan Justin, walikota di kota Y." Suara Trias terdengar sangat pelan, namun masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran Abigail.
Abigail hanya tersenyum samar, selama ia mulai menjalani kehidupan sebagai agen, baru kali ini ia harus bertemu kembali dengan mantan klien.
Beberapa belas menit pertama sejak kedatangan Justin dan keluarganya, Abigail menarik nafas lega sebab ia tidak diperhatikan. Namun kelegaan Abigail harus segera berakhir saat Yuka dengan polosnya datang dan memeluk kaki Abigail.
"Nanny?"
Suara Yuka sukses menyedot perhatian keluarga Zee yang sedang melepas rindu.
"Ada apa sayang?" Camilla segera berdiri dan mendekati Yuka.
"Ini Nanny, Nanny kerennya Yuka." Jawab Yuka dengan telunjuk yang terarah pada Abigail.
Camilla mengernyit dan berusaha mengingat wajah agen yang mereka sewa untuk melindungi Yuka setahun yang lalu. Kemudian ia tersenyum dan menggeleng pelan.
"Pasti Yuka salah orang, ini bukan Nanny kerennya Yuka." Camilla memberi pengertian.
__ADS_1
Ya, sejak melihat aksi Abigail di sekolahnya, Yuka jadi mengidolakan Abigail. Dan sejak saat itu, ia selalu menanyakan Abigail yang ia sebut dengan Nanny kerennya Yuka.
Mendengar ucapan Sang Mama, Yuka menjauh dan menatap Abigail dalam-dalam. Membuat gadis itu berdebar, pandangan Yuka yang menyelidiki membuatnya merasa tegang.
"Tidak Mama, ini benar Nanny." Yuka bersikukuh.
Camilla tersenyum dan menggendong Yuka.
"Maaf ya, Yuka salah mengira pada anda Nona emm…."
"Abigail." Abigail memperkenalkan dirinya.
"Oh ya, Abigail." Camilla berbalik sambil membawa Yuka. Namun baru selangkah ia segera berhenti dan berbalik.
"Namamu mirip dengan mantan Nanny Yuka." Ujar Camilla kemudian.
"Ada banyak nama Abigail, Nyonya." Kilah gadis itu.
Camilla menatap langsung ke manik mata Abigail untuk beberapa saat.
"Benarkah itu?" Camilla tersenyum penuh arti dan kembali duduk dengan Yuka yang terus menatap pada Abigail.
Sementara itu Darren dan Trias terus saja memperhatikan Abigail sejak Yuka mendekati gadis yang sedang berdiri itu. Abigail bukannya tidak tahu jika sedang diperhatikan, namun ia memilih acuh dan tetap memasang wajah yang tersenyum samar.
☘️☘️☘️
Setelah makan bersama, Abigail memutuskan untuk ikut dengan Trias menikmati keindahan rainforest paludarium dan membiarkan Darren bercengkrama dengan orang tuanya.
Abigail dan Trias berbalik dengan cepat. Abigail menundukkan pandangannya memberi hormat setelah melihat kedatangan istri walikota kota Y itu.
Sekalipun dalam kenyataannya Abigail tidak pernah mengalami kekurangan dan terlahir dari keluarga mapan, namun keluarganya telah menanamkan nilai dasar etika dengan sangat kuat. Sehingga ia mampu membawa diri dimana pun berada, baik itu saat sedang menjalani misi maupun dalam kehidupan sehari-hari.
"Nyonya." Keduanya menyapa Camilla secara bersamaan.
Camilla mengibaskan tangannya. "Jangan bersikap terlalu formal kepadaku. Dan kau Trias, biasanya kau memanggilku kakak." Imbuh wanita itu sambil memasang wajah pura-pura kesal pada Trias.
Triasaka tersenyum. "Maafkan aku Kak. Karena sudah lama kita tidak bertemu, aku jadi merasa sedikit canggung." Sahut Trias yang mulai rileks.
"Sudahlah, kali ini aku maafkan." Camilla kemudian kembali menatap Abigail. "Jadi, apakah putriku salah?"
Abigail menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum seraya menunduk. "Intuisi Yuka tidak bisa dianggap sepele. Apa kabar Nyonya?" Abigail membungkuk sedikit memberi hormat.
"Syukurlah." Camilla terdengar sangat senang.
Bahkan ia berjalan dengan cepat dan memeluk Abigail dengan erat.
"Aku senang kita bisa bertemu lagi Abigail." Imbuhnya seraya menepuk punggung gadis itu.
__ADS_1
Abigail terkejut, ia tidak menyangka akan sambutan hangat Camilla. Meski saat menjaga keluarga mereka, ia tahu Camilla sekeluarga sangat ramah pada semua pekerja. Namun ia tetap tidak mengira akan disambut layaknya seorang teman lama.
Atau mungkin juga karena selama ini Abigail tidak pernah bertemu lagi dengan para kliennya setelah tugas selesai. Sekali pun berjumpa, mereka tidak mengenalinya lagi karena penampilan Abigail yang berubah.
"Terima kasih Nyonya, saya senang melihat anda sekeluarga dalam keadaan baik."
Camilla melepas pelukannya dan berganti memegang kedua tangan Abigail. Matanya menatap lurus kedua bola mata Abigail. Wajah cantik Camilla terlihat sangat serius.
"Jadi, siapa yang kau lindungi sekarang? Dan wajahmu, berganti lagi? Apakah ini penyamaranmu? Masalah apa yang kini dihadapi? Apakah Trias yang menjadi klienmu?" Camilla memberondong Abigail dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Ahha..Nyo…Nyonya." Abigail hanya bisa tertawa kecil karena kebingungan. Wanita dihadapannya tidak dapat menutupi rasa keingintahuannya yang sangat besar.
Camilla memegang pipinya. "Ya ampun, aku pasti membuatmu bingung dengan semua pertanyaanku. Maaf aku terlalu bersemangat."
Abigail tersenyum ramah dan sedikit menunduk. "Maaf Nyonya, segala sesuatu yang berhubungan dengan misi, tidak dapat saya beritahukan begitu saja." Jawabnya dengan diplomasi.
Camilla terperangah untuk sesaat, kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maaf mengecewakan anda Nyonya." Abigail kembali menambahkan.
"Aku juga yang terlalu penasaran, seharusnya aku sadar itu adalah pertanyaan yang jawabannya sangat berbahaya." Camilla berujar dengan suara lirih.
"Terima kasih atas pengertian Nyonya."
Wajah Camilla kembali ceria, ia menatap Abigail dengan mata berbinar. "Tidak peduli siapa yang kau jaga, aku senang karena kau bersama Darren dan Trias. Setidaknya aku tidak terlalu mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua. Terutama menjelang pengumuman masuknya Darren ke dalam perusahaan Zico Petroleum."
Abigail terdiam, ia sama sekali tidak mengetahui rencana jangka panjang Darren. Ia hanya tahu pemuda itu akan mundur dari dunia entertainment. Ternyata Darren juga akan bergabung dalam perusahaan keluarga mereka.
Dan tadi, Camilla menyebut nama perusahaan keluarga Darren adalah Zico Petroleum. Abigail pernah membaca daftar perusahaan penting yang sering bekerja sama dengan TLH, dan Zico Petroleum adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang minyak dan gas terbesar kedua di dunia. Seketika ingatan Abigail kembali kepada tugas yang sudah sangat lama saat ia masih dalam status trainee.
Abigail dan Morgan mendapat tugas pengamanan salah satu manajer dan beberapa staf dari perusahaan itu. Dan suatu ketika mereka membincangkan cucu pemilik perusahaan yang dijuluki Pangeran keluarga Zee. Namun sayangnya identitas serta wajah pemuda itu dirahasiakan. Rumor yang beredar pemuda tersebut sangat tampan. Abigail tidak menyangka, saat ini ia menjaga Sang Pangeran Keluarga Zee yang menjadi perbincangan itu.
Jadi identitas rahasia Darren adalah penerus perusahaan Zico Petroleum. Gumam Abigail dalam hatinya.
Abigail melirik Trias sesaat kemudian kembali menatap Camilla. "Saya hanya menjalankan perintah, Nyonya."
"Dan aku yakin kau akan menyelesaikannya dengan baik." Camilla membalas tatapan Abigail dengan penuh keyakinan.
Abigail menundukkan pandangannya. "Anda terlalu berlebihan menilai saya, Nyonya."
"Tidak, aku rasa Kak Camilla tidak berlebihan." Trias menanggapi.
Camilla tersenyum dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Trias.
"Jika kalian terus memuji saya, saya akan melayang dan sulit untuk bisa turun lagi." Sahut Abigail disambut dengan tawa Trias dan Camilla.
Abigail menatap kedua orang di depannya sambil tersenyum. Diam-diam dia menunduk dan menarik nafas dalam-dalam kemudian mengangkat kembali kepalanya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Benar-benar hari yang penuh kejutan.
...****************...