ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 43. Khawatir?


__ADS_3

Abigail memeriksa jadwal pertemuan Darren. Keputusan pemuda itu untuk mundur perlahan membuat banyak waktunya yang kosong. Dan yang membuat Abigail bertanya-tanya adalah di setiap waktu kosong tertera kata latihan. Namun ia memutuskan tidak mau terlalu ambil pusing tentang hal itu.


"Abi, tolong katakan pada Trias untuk menunggu Nyonya Sarah di lantai dasar. Ponselku sedang dicharge." Ucap Darren.


"Baik." Abigail segera beranjak.


Namun baru beberapa langkah ia berbalik.


"Apakah hanya i….Ya ampun!!" Abigail terkejut Darren bertelanjang dada dan hanya memakai celana denim pendek.


"Kenapa? Terpesona dengan bentuk otot perutku?" Darren menaik turunkan kedua alisnya menggoda Abigail.


Bukannya terpesona atau merona karena malu, Abigail malah tertawa terpingkal-pingkal. Membuat Darren yang awalnya begitu percaya diri mulai salah tingkah.


"Saya sudah sering melihat bentuk perut seperti itu Tuan."


Di tempat pelatihan, pemuda dan pemudi di gabung saat akan melakukan kegiatan. Sudah menjadi pemandangan umum para pemuda akan berjalan kesana kemari  tanpa menggunakan kaos di sela-sela waktu istirahat. Perut rata dengan enam bongkahan otot adalah sesuatu yang biasa di kamp. Wajar jika Abigail merasa biasa dan tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut.


Abigail lalu menutup mulutnya untuk menghentikan tawa. "Apakah hanya itu yang harus saya sampaikan ke Kak Trias?"


Darren menghela nafas dengan kasar. "Tidak ada, hanya itu saja." Ia sempat berpikir Abigail akan terpesona, ternyata ia salah.


Abigail mengangkat kedua bahunya, tak peduli dengan perubahan wajah Darren yang terlihat sedikit kecewa. Tetapi sesaat kemudian kedua alis Abigail bertaut saat melihat beberapa memar di kulit Darren. Ada yang sudah mulai memudar, dan ada yang terlihat masih baru.


Abigail merasa terusik, dan muncul perasaan khawatir. Seketika ingatannya kembali tentang jadwal Darren yang dipenuhi dengan "latihan". 


Tidak mungkin kan latihan vokal sampai memar-memar. Hanya latihan fisik yang bisa membuat memar di tubuh. Gumam Abigail di dalam hatinya.


Ia begitu sibuk berpikir hingga tidak menyadari jika Darren sudah berdiri di depannya.


"Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang kamu alami." Ujar Darren yang seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan Abigail.


"Ap..apa?" Abigail mengerjap, ia mulai merasa gugup. Tanpa sadar ia berjalan mundur dan Darren terus mengikutinya.


"Dari tadi kamu mengamati memar di tubuhku kan. Oleh sebab itu aku berkata ini tidak ada apa-apanya."

__ADS_1


Abigail merasa pasokan oksigen di ruangan itu tidak cukup untuk mereka berdua, kepalanya menggeleng pelan.


"Hen..hentikan Tuan." Abigail berhenti seraya mengangkat kedua tangannya.


"Aku tahu Abi."


Suara Darren yang berat dan dalam menciptakan gelenyar di seluruh tubuh Abigail. Ia mengangkat wajah dan menatap Darren yang dari tadi memang tidak mengalihkan pandangan dari wajahnya.


Pandangan keduanya bertemu, membuat dada Abigail bergemuruh. Hingga ia merasa semakin sesak dan memerlukan lebih banyak oksigen.


"Permisi Tuan, saya akan mencari Kak Trias." Abigail segera keluar dari unit apartemen itu dengan tangan meraba dadanya. Meninggalkan Darren yang mematung sambil menatapnya dari belakang dengan senyuman penuh arti.


Begitu menutup pintu, Abigail menarik nafas dalam-dalam. Ia sempat bingung hendak bagaimana, beruntung, Trias sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Ada apa?" Trias menatap heran pada Abigail yang terlihat sedang menunggunya.


"Tuan Darren meminta kakak untuk menunggu Nyonya Sarah di lantai dasar."


Trias tersenyum masam. "Aku baru saja bertemu dengan Nyonya Sarah. Ada lagi?"


Dahi Trias berkerut, ia menatap Abigail dengan heran. Namun sejenak kemudian ia tersenyum. "Bukan Sue Sarah, penyanyi yang pernah kamu tolong. Ini Nyonya Sarah yang lain."


Abigail mengangguk-angguk paham. "Oo, begitu rupanya. Kalau begitu, aku mau ke apartemenku dulu."


Trias mengangguk dan segera masuk ke unit Darren. Dan seperti ucapannya pada Trias, Abigail segera menuju unit apartemennya.


Ia menuju kamar tidur dan mengambil sebuah kotak berisi berbagai macam obat yang sudah disiapkan Dokter Troy. Setelah mendapatkan obat yang ia cari, Abigail mengembalikan kotak tersebut kemudian bergegas hendak pergi kepada Darren.


Namun baru sampai di ambang pintu kamar, ia segera menghentikan langkah. Tiba-tiba ia teringat bagaimana tadi tubuhnya bereaksi hanya karena mendengar suara Darren yang terdengar sangat dalam.


"Bagaimana caranya aku akan memberikan obat ini jika jantungku tidak normal saat berhadapan dengan Darren?" Abigail bertanya pada dirinya sendiri.


Ia bersandar pada dinding dan memukul-mukul kepalanya dengan pelan menggunakan wadah obat yang ada di tangannya. Abigail merasa cemas akan kondisinya, dan disaat yang sama, jauh di dalam hati, ia lebih mengkhawatirkan keadaan Darren.


"Ah sudahlah, yang penting luka di tubuhnya harus ditangani. Dan sepertinya setelah ini aku harus memeriksakan kesehatan jantungku pada Dokter Troy." Abigail keluar dari apartemen untuk membawa obat tersebut kepada Darren.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Begitu Abigail masuk, Darren ternyata sedang bersiap dan sementara merapikan kancing kemejanya.


"Abi, tolong siapkan sebuah jas yang sudah disiapkan Roki. Setahuku ada di ruang wardrobe."


Abigail tidak segera melaksanakan perintah pemuda itu. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melangkah mendekati Darren.


"Tuan, anda bisa menggunakan salep ini terlebih dahulu." Abigail mengulurkan wadah kaca yang ia bawa.


Darren menghentikan aktivitasnya dan menatap benda di tangan Abigail. "Untuk apa?"


"Salep ini bisa membantu memudarkan memar sekaligus menyembuhkan luka di tubuh anda."


Darren tersenyum seraya mengangkat salah satu alisnya. "Kamu, khawatir?"


Abigail yang ditatap seperti itu oleh Darren mendadak jadi salah tingkah. Entah kenapa ekspresi Darren yang menggodanya seperti itu terlihat sangat tampan. Untuk bisa meredakan gejolak di dadanya, Abigail sengaja membuang wajah menatap ke arah lain.


"Tentu saja, anda kan atasan saya. Jika terjadi sesuatu pada anda, siapa yang akan membayar gaji saya?"


Mendengar jawaban Abigail, Darren terkekeh dan menjentikkan jari pada dahi gadis itu hingga Abigail kembali mengarahkan pandangannya pada Darren.


"Terima kasih. Aku akan memakainya sendiri." Darren mengambil salep dari tangan Abigail. "Karena jika aku meminta bantuanmu, aku khawatir kamu tidak akan tahan untuk terus meraba tubuhku."


Seketika itu juga wajah Abigail memerah. "Apa?"


Darren hanya tertawa dan masuk ke dalam kamarnya. "Jangan lupa siapkan jasku." Ucapnya sebelum menutup pintu.


Abigail menghentakkan kakinya, ia tidak terima dengan ucapan pemuda itu. Darren selalu bisa membuat perasaannya terhempas kesana kemari tidak karuan. Suatu waktu pemuda itu bisa membuat Abigail gugup, berdebar hingga sesak nafas, dan kemudian berubah menjadi kesal, seperti saat ini.


Begitu mendengar suara pintu apartemen ditutup, Darren segera membuka kamar dan menatap ke arah pintu utama.


"Meski saraf di otakmu tidak mengingatku, namun aku tahu, hatimu tidak lupa."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2