ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 14. Terpaksa Berkhianat


__ADS_3

Perlahan-lahan Abigail mulai menggerakkan kelopak matanya. Kesadarannya mulai pulih, dan hal pertama yang ia rasa adalah panas di tangan kirinya. Abigail merintih pelan, ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya.


"Mana yang sakit?"


Suara Darren mengagetkan Abigail, dengan sedikit memaksa ia membuka kelopak mata yang terasa berat untuk digerakkan. Gadis itu semakin terkejut kala melihat wajah tampan Darren tepat di atas wajahnya.


"Tuan?" Abigail merasa terlalu lemah untuk berbicara.


"Iya Bi. Mau minum?"


Abigail mengangguk lemah. Dengan cepat Darren membuka air mineral dan sedotan yang sudah ada di sampingnya.


Begitu Darren membantunya meraih sedotan, Abigail segera minum sebanyak yang ia bisa. Saat ini ia merasa tenggorokannya sangat kering.


Kemudian dengan lembut Darren menyeka sisa air di sudut bibir Abigail setelah gadis itu melepas sedotan.


Abigail kembali memejamkan mata, ia mengumpulkan kekuatan untuk bisa bangun dan duduk dengan benar. Sebab posisinya saat ini membuat Abigail merasa tidak nyaman.


Setelah dirasa sudah cukup, Abigail mengerjap dan berusaha bangkit. Namun ternyata Darren tidak tinggal diam.


"Jangan bangun, istirahat saja dulu." pinta Darren sambil menahan bahu Abigail.


"Tapi, saya tidak ingin merepotkan anda, Tuan."


"Kamu ini, kenapa suka sekali membantah?!" Darren terlihat mulai kesal. Namun saat sudut matanya melihat luka Abigail, ia mendesah kasar.


"Bukankah dokter sudah mengatakan proses mengeluarkan racun itu sangat menyakitkan? Jadi istirahat saja, aku mohon. Aku tidak ingin dianggap menyiksa staf di dalam timku." suara Darren terdengar melunak.


Abigail terdiam, ia tak ingin membantah lagi. Luka di tangannya kembali berdenyut. Sekuat tenaga ia menahan rasa nyeri dan sensasi terbakar dari luka tersebut. Keringat dingin mulai keluar, namun tak ada sedikitpun suara yang dikeluarkan.


Beberapa saat kemudian, ia merasakan sentuhan kain yang lembut pada wajahnya. Saat Abigail sedikit membuka matanya, ia melihat tangan Darren menyeka peluh di wajahnya menggunakan sapu tangan.


"Terima kasih." lirihnya.


"Istirahatlah."


Trias yang menyaksikan interaksi Abigail dan Darren melalui kaca spion hanya tersenyum tipis.


Dua jam kemudian, mobil yang dikemudikan Trias memasuki basement apartemen Darren. Dengan menggunakan tubuh bagian kanan sebagai penyangga serta bantuan Darren, Abigail berusaha untuk bangkit.


"Aku akan menggendongmu."


"Ti…tidak perlu Tuan. Saya bisa sendiri." Abigail merasa canggung. "Lagipula saya merasa sudah lebih baik setelah beristirahat. Terima kasih banyak Tuan."


Darren menatap Abigail dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia pun mengangguk karena tak ingin memaksa.


Abigail turun dengan perlahan dan terkejut saat melihat Trias sudah membawa tas miliknya dan seikat bunga mawar.


"Bunga yang cantik."


Trias menatap bunga di tangannya kemudian tersenyum. "Bunga dari Rosalin, untuk Darren."


"Buang saja." pinta Darren setelah menatap bunga itu dengan enggan.

__ADS_1


Abigail berjalan beriringan dengan Trias. Setelah masuk dalam lift, ia kembali menatap bunga yang belum disingkirkan Trias.


"Setiap Tuan Darren mengisi acara, Nona Rosalin selalu tahu. Benar-benar perhatian." ucap Abigail. "Sayangnya setelah bunga datanglah teror." gumam gadis itu lagi untuk memancing Trias berpikir. Sebab tak mungkin Abigail mengatakan secara gamblang kecurigaannya pada mantan kekasih Darren.


Trias menghadapkan tubuhnya dan menatap Abigail dengan serius.


"Apa maksudmu?"


"Yahhh, saya hanya merasa ada yang aneh. Kebetulan setiap Nona Rosalin mengirim bunga untuk Tuan Darren, setelah itu selalu saja ada hal aneh."


Trias memikirkan ucapan Abigail, ia pun mengingat kembali kejadian yang dimaksud Abigail. Sedangkan Darren yang mendengar penuturan Abigail mulai merasa gelisah.


"Bukankah kita sudah sepakat, jadwalku hanya diketahui oleh tim?" Darren menoleh menatap Trias.


"Memang benar, mungkin…."


"Besok lakukan penyelidikan internal." Darren memotong ucapan Trias.


"Baiklah." ucap Trias lagi.


Ketiganya memasuki unit apartemen Darren dengan helaan nafas lega.


"Malam ini, tidurlah disini." ucap Darren pada Abigail.


Perkataan itu sukses membuat Abigail terperangah. "Sa…saya tidak bi..bisa, Tuan."


"Kalau kamu pulang, siapa yang akan merawatmu?"


Trias memegang bahu Darren dari belakang dan menggelengkan kepalanya saat Darren menoleh. Itu adalah tanda agar Darren tidak terlalu keras pada Abigail.


"Kalau begitu istirahatlah di kamar tamu. Setelah makan malam, aku akan mengantarmu pulang." Trias mengambil jalan tengah.


Kali ini Abigail tak menolak, ia mengangguk patuh dan masuk ke kamar yang dimaksud.


"Dia selalu menurut padamu." ada rasa aneh yang menyusup di hati Darren. Ia menatap pintu kamar yang digunakan Abigail dengan sendu.


Trias terkekeh pelan dan memasukkan kedua tangan di saku celananya. "Sebab aku tidak pernah memaksakan kehendak kepadanya."


Kalimat yang dilontarkan Trias membuat Darren mencebik dan memasuki kamarnya.


...☘️☘️☘️...


Ruangan rapat untuk tim manajemen Darren terasa mencekam. Aura Trias terlihat berbeda saat memimpin pertemuan tersebut.


"Tulis semua nomor rekening kalian." suara bariton Trias terdengar mengintimidasi.


Tak ada yang melawan, semua segera menulis nomor rekening pada secarik kertas yang dibagi oleh Trias sebelum pertemuan itu dimulai.


"Kejadian kemarin yang memaksaku mengambil tindakan ini. Maaf." Trias kemudian pergi dari sana.


Abigail yang hendak mengikuti Trias berhenti karena tangannya dipegang oleh Rui. Dan yang lebih aneh, Rui terlihat berkaca-kaca. Dari tatapan Sang penata rias yang terlihat gelisah dan takut, Abigail sudah mengerti.


"Ayo bicara dengan Tuan Darren, aku akan menemani."

__ADS_1


Rui mengangguk, dengan langkah gontai ia berjalan mengikuti Abigail.


"Ada apa?" Trias mengernyit melihat wajah sendu Rui saat Abigail dan sang penata rias memasuki ruangan Darren.


Abigail menatap Rui dan menepuk pundaknya untuk memberi kekuatan. Rui menatap Trias dan Darren yang sedang duduk secara bergantian.


"Ibuku menderita kanker ovarium stadium 2." Rui menautkan jari-jarinya. "Aku membutuhkan uang yang banyak untuk mengobatinya. Jadi saat Rosalin menawarkan uang dalam jumlah besar, aku menyanggupi."


Trias dan Darren berdiri dengan wajah marah.


"Tenang dulu." Abigail mengingatkan.


"Tugasku sangat mudah, hanya memberitahu kapan Darren mempunyai jadwal di luar Sky City." imbuh Rui. "Maaf, aku tak tahu akan terjadi hal seperti kemarin." Rui menatap Abigail dengan perasaan bersalah.


Namun Abigail hanya tersenyum tipis dan mengusap lengan Rui. "Aku baik-baik saja."


Darren menyugar rambutnya dengan kasar, sementara Trias kembali duduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


"Maafkan aku. Aku tak pernah ada niat untuk menjadi pengkhianat. Namun aku tak memiliki jalan lain."


"Kenapa tidak cerita pada kami tentang penyakit ibumu?!" Trias membuka tangan dan menatap kesal pada Rui.


"Kalian terlihat aneh akhir-akhir ini. Jadi aku pikir akan lebih merepotkan jika aku menceritakannya."


"Kapan kau menerima uang dari Rosalin?" wajah tampan Darren terlihat menakutkan.


"Baru beberapa hari yang lalu, saat terakhir kali ia datang menemuimu. Ia meminta jadwal kemudian mentransfer uang saat itu juga."


"Berapa nominalnya?" Trias berdiri dan mendekati Rui. Melihat itu Abigail ikut mendekat, ia takut Trias akan melakukan tindak kekerasan.


"Li…lim…lima milyar." Rui semakin takut, namun ia pun sudah pasrah.


Trias menarik nafas dalam-dalam dan menatap Rui dengan tajam. "Aku akan meminta penata rias yang baru. Untuk sementara kau dibebastugaskan."


Rui hanya mengangguk pelan mendengar itu. Ia sudah cukup bersyukur Trias dan Darren tidak memecatnya.


"Pergilah, aku akan minta mereka menempatkanmu pada penyanyi yang baru debut."


Rui menangis, ia ingin memeluk Trias namun pemuda itu mundur. Akhirnya Rui memeluk Abigail untuk menyalurkan kegembiraannya karena masih diijinkan untuk bekerja.


Mata Darren memicing, dengan langkah lebar ia mendekati keduanya kemudian memisahkan Abigail dan Rui secara paksa-paksa.


"Jangan peluk-peluk!"


Rui terkejut, namun karena posisi Darren ada diantara dia dan Abigail, jadi Rui segera memeluk Darren sebagai ganti Abigail.


"Terima kasih tampan, terima kasih." Rui bahkan melingkarkan salah satu kakinya ke pinggang Darren.


Trias bergidik ngeri menyaksikan itu, sedangkan Abigail menutup mulut dan menahan tawa saat melihat Darren berusaha mengurai pelukan Rui.


.....................


Mau dong VOTEnya😊

__ADS_1


__ADS_2