
"Pindah, pindah pindah." gerutu Darren saat mereka sudah berada di dalam lift menuju unit apartemen Darren yang baru.
Sejak petugas dari jasa pindah rumah datang hingga mereka akan memasuki tempat tinggal baru, Darren terus saja menggerutu dan melayangkan protes.
Abigail hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Darren. Sedangkan Trias, ia menatap Darren dengan tatapan iba.
Lift berhenti di lantai 20, Abigail keluar lebih dulu untuk melihat keadaan. Hanya kebiasaan saja, sebab kali ini jasa pindah rumah adalah agen yang sudah disiapkan oleh Mikha. Jadi Abigail bisa sedikit bersantai.
"Aku sudah mengatakan pada semua tim kita. Segala hal menyangkut pekerjaan akan kita bahas di kantor. Tidak ada lagi yang akan datang ke apartemenmu." jelas Trias saat mereka sudah memasuki unit yang digunakan Darren.
"Karena hanya kita bertiga yang mengetahui lokasi Darren, jadi aku minta kau bisa menutup mulut, Abigail." pinta Trias pada Abigail yang sedang mengamati setiap sudut ruangan.
Mendengar namanya disebut, Abigail segera menatap Trias dan mengangguk tanda ia mengerti.
"Kenapa dia juga harus tahu?" Darren kembali melayangkan protes.
"Karena aku membutuhkan Abigail. Sejauh ini pekerjaannya bagus." Trias berargumen.
"Ya, dan juga penampilannya yang menyakiti mata. Beruntung kau sudah melepas kawat gigi aneh itu." Darren menatap Abigail dengan sinis, ia kini tahu apa yang berbeda dari gadis itu.
Abigail hanya menatap tanpa ekspresi. Kemudian ia berbalik untuk melihat-lihat ruangan yang lain.
Sebenarnya jauh di dalam hati Abigail, ia merasa tak terima. Darren selalu melakukan hal yang menyebalkan atau pun mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyakitkan.
Selama ini, klien yang dikawal Abigail, selalu mengetahui identitas Abigail sebagai pengawal mereka. Oleh sebab itu tak ada yang memandang remeh atau berbicara kasar kepadanya.
Baru kali ini ia mendapat misi melindungi seseorang dan orang tersebut tidak mengetahui siapa pelindungnya.
Ketika Abigail bertanya pada Tania, mengapa harus dirahasiakan, jawabannya cukup sederhana. Darren gengsi jika dilindungi oleh seorang perempuan.
Saat Trias menghubungi Tania, ia berkali-kali mengatakan, jika memungkinkan, biarlah Tania mengutus seorang laki-laki. Demi menjaga harga diri Darren.
Namun saat melihat detail kasus Darren. Tania meminta agar Trias bisa menerima dengan lapang dada jika pada akhirnya agen yang cocok melindungi Darren adalah seorang gadis. Dan karena Abigail yang mengambil misi ini, maka Mikha langsung turun tangan membantu, seperti biasanya.
Abigail menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dari tempatnya berdiri, ia menatap Darren dengan kesal.
......................
Abigail mengendarai mobil mengantar Darren ke daerah pinggir kota. Trias tak bisa menemani mereka karena ada hal lain yang harus ia kerjakan.
"Kenapa harus menyewa mobil ini?" Darren kembali bertanya, namun bukan untuk dijawab, melainkan hanya bentuk protes darinya.
Abigail melirik sesaat melalui kaca spion, kemudian kembali fokus menyetir.
"Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?" keluh Darren lagi.
Dan kalimat Darren berhasil mengusik Abigail. Benar yang diucapkan pemuda itu, mau sampai kapan Darren selalu hidup dalam ketakutan. Dan mau sampai kapan Abigail melindunginya seperti ini?
Abigail kembali melirik Darren, dan tepat saat itu ia melihat raut wajah Darren yang tegang. Setelah memastikan jalan di depan aman dan jauh dari kendaraan lain, Abigail mengikuti arah pandang Darren. Tak jauh dari mereka, terlihat sekelompok pemotor mengenakan jaket hitam.
Abigail sengaja menambah kecepatan, saat jarak mereka tidak terlalu jauh, terlihat kalau itu hanya jaket hitam biasa. Sesaat kemudian terdengar helaan nafas lega dari Darren. Abigail melirik melalui spion untuk memastikan keadaan pemuda itu. Terlihat raut wajah gusar yang ditampilkan Darren.
Dia pasti stres, semalam mimpi wanita itu lagi dan sekarang dia selalu khawatir dengan pengendara motor berjaket hitam. Gumam Abigail dalam hati. Sebelum mereka berangkat, ia mendengar percakapan Darren dan Trias.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka tiba di pinggiran danau yang menjadi tempat pertemuan Darren dengan informan yang ia miliki di kepolisian. Abigail tetap di dalam mobil seperti kata Darren. Namun tanpa Darren ketahui, Abigail sudah memasang penyadap pada kancing kemeja Darren.
Setelah Darren meninggalkan mobil, Abigail segera memasang headset untuk mendengar percakapan mereka.
"Ada apa?" Darren segera bertanya pada dua orang pria yang sudah menunggunya.
"Maaf bro, tiba-tiba kasus ini ditutup dengan alasan menemui jalan buntu. Tidak ada bukti lain yang ditemukan." jawab seseorang.
"Apa? Ditutup? Felix, jangan bercanda." Darren terdengar kesal.
"Aku tidak bercanda." sahut pria bernama Felix itu. "Bahkan aksesku untuk menyelidiki juga ditutup. Jadi petunjuk yang kau berikan tidak bisa kutelusuri."
"Memberitahu identitas korban kepadamu saja sudah mempertaruhkan nyawa kami." terdengar rekan Felix turut berbicara.
"Aku yakin kandidat calon presiden itu juga terlibat." suara Darren terdengar penuh emosi. "Ia pasti yang mengintimidasi pemimpin kalian agar menutup kasus ini."
"Kau cukup pintar Darren, memang seperti itu kenyataannya." Felix membenarkan ucapan Darren.
"Lalu bagaimana dengan nasibku? Mereka menerorku, bahkan beberapa malam aku bermimpi wanita itu datang kepadaku. Aku tidak bisa tidur Felix." keluh Darren.
Abigail menatap melalui spion kanan, terlihat Felix dan rekannya saling pandang. Wajah mereka pun terlihat putus asa.
"Maaf bro, seandainya kami memiliki pangkat yang tinggi dan juga uang yang banyak." Felix terdengar iba pada Darren.
"Mereka pasti sengaja ingin merusak mentalmu. Jadi saat kau tidak tahan lagi dan berbicara ke publik untuk mengungkap kasus ini, mereka bisa mengatakan kau memiliki gangguan mental."
"Aku setuju dengan pendapat Kay." ujar Felix kemudian.
Daren terdiam, ia menarik rambut dengan kedua tangannya. "Mungkin mereka akan berhasil. Rasanya sebentar lagi aku akan menjadi gila."
Felix menepuk pundak Darren untuk menguatkan. "Mungkin kami memang tidak bisa membantumu dengan status pekerjaan kami. Namun jika kau perlu belajar melindungi diri, kami berdua siap membantu. Tadi Kay berniat mengajarimu menembak. Dan kau bisa berlatih bela diri denganku." ujar Felix menawarkan bantuan.
Darren diam, nampaknya ia memikirkan penawaran teman-temannya.
"Aku akan bertanya pada Trias terlebih dahulu." ujar Darren pada akhirnya.
"Baiklah, kami tunggu kabar darimu. Sampai jumpa, dan tetaplah hidup."
"Sial** kau Kay!" umpat Darren dan disambut tawa Felix serta Kay.
Ketiganya berpisah, Darren melambaikan tangan pada kedua temannya yang mengendarai motor.
......................
Abigail terkejut melihat Darren yang sudah berdiri di depan pintu apartemen. Abigail melirik jam tangan yang ia kenakan, belum jam 6 tepat, dia sudah bangun? Atau dia tidak tidur lagi.
"Selamat pagi." Abigail memberi salam.
"Pagi." Darren menyerahkan sebuah kemeja putih. "Cepat bersihkan kemeja ini. Jangan sampai ada setitik noda yang tertinggal. Akan aku pakai ke Sky City."
Abigail hanya mengangguk saat menerima kemeja putih dari tangan Darren.
"Dan hari ini aku tidak ingin terlambat datang ke Sky City. Itu artinya kau pun tidak boleh terlambat." tanpa menunggu jawaban Abigail, Darren segera berbalik.
__ADS_1
"Masih pagi sudah membuat orang kesal." gerutu Abigail dengan pelan.
"Aku tahu kau menggerutu." teriak Darren dari dalam.
Abigail menghela nafas panjang.
Hhhhh...Sabar Ai, sabar.
Dengan sedikit menghentakkan kaki, ia masuk ke dalam apartemen Darren. Abigail tidak menyiapkan keperluan Darren terlebih dahulu, ia memilih untuk mulai bertarung dengan noda di kemeja itu.
Satu jam kemudian, Abigail sudah berhasil membersihkan noda pada kemeja putih Darren. Bahkan ia sudah mengeringkan kemeja itu menggunakan hair dryer kemudian menyetrikanya.
Abigail mengetuk pintu kamar Darren untuk memberikan kemeja yang sudah dibersihkan. Betapa terkejutnya Abigail saat pintu terbuka dan melihat Darren sudah memakai kemeja putih yang lain.
"Bukankah anda akan mengenakan kemeja putih ini untuk pergi ke Sky City, Tuan?" dengan menahan emosi, Abigail bertanya.
"Iya, memang." jawab Darren dengan santai. "Tapi aku kan tidak bilang mau dipakai hari ini. Aku hanya bilang akan memakai kemeja ini untuk ke Sky City, tapi kan aku tidak bilang mau dipakai saat pergi hari ini."
Tangan Abigail mengepal, ia tetap menyerahkan kemeja putih itu.
"Kemejanya Tuan, saya akan menyiapkan perlengkapan anda." ujarnya dengan menahan emosi.
Setelah Darren menerima kemeja itu, Abigail segera berbalik.
"Kamu marah?"
Mendengar pertanyaan itu, Abigail berhenti. Ia menyunggingkan senyum terlebih dahulu sebelum membalikkan badan.
"Tidak Tuan." jawab Abigail dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah itu ia berbalik dan pergi dari hadapan Darren dengan tergesa-gesa. Darren terkekeh pelan melihat respon Abigail.
Beberapa menit kemudian, Trias muncul dengan membawa menu makan pagi untuk mereka bertiga. Awalnya ia terkejut melihat wajah kesal Abigail. Namun saat ia melihat Darren yang terus tersenyum sumringah, ia menggelengkan kepalanya. Trias yakin Abigail sudah menjadi korban keisengan Darren.
Ketiganya berangkat setelah menyelesaikan makan pagi. Dan sepanjang perjalanan tak sepatah kata pun terucap dari mulut Abigail. Ia hanya menjawab pertanyaan Trias dengan anggukan dan gelengan. Mood Abigail berantakan karena ulah Darren.
Setibanya di Sky City, mereka langsung memasuki lift menuju lantai lima. Sebab pagi ini Darren akan langsung berlatih koreografi.
Di dalam lift, seorang staf wanita yang naik dari lantai dua terlihat mencurigakan. Ia terlihat berbisik-bisik dengan rekan di sampingnya sambil sesekali melihat Abigail yang berdiri di samping mereka namun posisinya sedikit lebih ke depan.
Abigail bisa melihat kasak kusuk itu dengan ekor matanya. Namun ia memilih untuk pura-pura tidak mengetahui.
Beberapa saat kemudian, wanita tadi bergeser perlahan hingga tepat berdiri di belakang Abigail. Kemudian secara tiba-tiba kedua tangannya terulur hendak mendorong Abigail dari belakang untuk mempermalukan gadis itu.
Abigail mengetahui rencana mereka setelah menyadari keberadaan si wanita di belakangnya. Ia pun bergeser di saat yang tepat hingga perempuan tadi kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke depan mempermalukan dirinya sendiri.
Trias dan Darren mengangkat alis karena melihat gerakan Abigail. Keduanya menatap Sang Asisten, namun yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya. Beberapa staf lain yang melihat kejadian itu tertawa sambil menutup mulut.
Sedangkan Trias, ia mulai merasa Abigail bukan gadis biasa yang kadang suka gagap saat bicara. Sebab kecepatan bergeser yang ditunjukkan Abigail bukan karena keberuntungan maupun kebetulan.
'Ia pasti sudah mengetahui serangan itu.'
Abigail menatap wanita yang tersungkur itu dengan sinis. Saat si wanita berbalik menatapnya dengan kemarahan, ia tercekat melihat tatapan mengerikan dibalik kacamata aneh milik Abigail.
__ADS_1
Dengan dibantu rekannya, wanita tadi bergegas berdiri sambil merapikan baju. Wajahnya terlihat merah karena malu.
......................