
Abigail meletakkan alat curly di meja riasnya. Rambutnya yang indah kini bisa bernafas lega karena selama ini bersembunyi di balik wig.
Tak ada lagi lapisan aneh yang membuat bibirnya terlihat berkerut dan tak sedap dipandang. Tak ada lagi kacamata besar maupun titik-titik hitam di wajahnya. Kini terpampang jelas wajah yang mulus dan tanpa cela.
Abigail mengoles lip gloss sebagai sentuhan akhir yang menyempurnakan make up 'no make up look' pada wajah cantiknya.
"Sempurna." gumamnya kemudian beranjak dan mengambil barang-barangnya.
Ketika keluar dari lift yang berada di basement, senyum Abigail semakin merekah.
"Kakak!" serunya sambil berlari masuk dalam pelukan Mikha yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Selamat ulang tahun." Mikha mengusap punggung Abigail dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih."
Mikha mengurai pelukan. "22 tahun." Mikha membelai pipi Abigail. "Tidak terasa."
Abigail tahu ada genangan air mata yang siap luruh di balik kacamata hitam Mikha. Ia segera memeluk kakaknya.
"Tidak ada air mata." suara Abigail terdengar tegas.
Mikha mengangguk dalam pelukan adiknya.
"Ayo, waktumu tidak banyak." Mikha menarik tangan Abigail agar segera masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.
Mobil segera melaju ke arah pinggiran kota. Gedung pencakar langit kini telah berganti dengan hamparan padang rumput hijau yang menyegarkan mata.
Abigail menekan tombol untuk membuka moonroof. Setelah kaca terbuka sepenuhnya Abigail segera berdiri dan mengeluarkan sebagian anggota tubuhnya. Melihat hal itu, Mikha segera menurunkan kecepatan.
Abigail memejamkan mata dengan kedua tangan terbentang, membiarkan angin mempermainkan rambutnya. Dan sinar matahari yang hangat menyinari wajah serta sebagian tubuhnya. Senyuman indah tidak pernah luntur dari wajah cantik Abigail.
Sebelum memutuskan untuk kembali duduk, Abigail menghirup nafas dalam-dalam. Dan saat matanya kembali terbuka, dari kejauhan sudah terlihat puncak menara lonceng gereja tua.
"Hampir tiba." ujarnya dengan riang setelah kembali memasang seat belt.
Mikha tersenyum lebar melihat wajah bahagia Abigail.
Tak lama kemudian mobil memasuki area pemakaman. Di sisi kanan dan kiri jalan terlihat nisan berbagai macam bentuk juga patung malaikat dalam berbagai ukuran. Dipuncak bukit yang menjadi pusat pemakaman tersebut berdiri dengan megah sebuah gereja yang sudah tua.
Mobil yang dikemudikan Mikha berbelok memasuki blok pemakaman keluarga. Area yang dipagari dengan pagar hijau itu berbeda dari yang lain. Sebab di dalam pagar hanya terdapat empat makam saja. Dan area sekitar dipakai untuk menanam bunga berwarna warni.
Keduanya turun dan memasuki area makam dengan bergandeng tangan. Begitu tiba, Mikha segera melepas tangan Abigail dan berjalan mengitari makam untuk memeriksa apakah ada kerusakan atau tidak.
Sedang Abigail, ia menatap nisan di hadapannya sambil tersenyum tipis. Dulu ia merasakan sesak dalam dada setiap kali mengunjungi makam orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, Abigail mulai terbiasa dan bisa menerima kenyataan.
Keduanya tak melakukan banyak hal, sebab makam tersebut sangat terawat. Abigail mengambil sekop kecil dan bibit bunga di bagasi mobil. Seperti biasa, ia akan menanam satu jenis bunga setiap kali datang berkunjung. Sedangkan Mikha, ia membakar lilin besar yang sudah dipersiapkan.
...☘️☘️☘️...
Perhentian berikutnya dan yang terakhir adalah mansion milik Mikha.
Sudah menjadi tradisi bagi Abigail, ketika ulang tahun ia akan mengunjungi makam keluarga kemudian bercengkrama dengan Mikha.
Keduanya duduk di tepi kolam renang sambil menikmati kue berlapis krim dan buah segar yang menjadi favorit Abigail. Sesekali terdengar tawa dari Mikha saat mendengar cerita Abigail tentang kehidupannya sebagai asisten Darren.
"Aku jadi merasa ini adalah titik terendah dalam hidupku. Dihina, ditindas, tapi aku tak bisa melawan." Abigail terlihat menahan kesal. "Meski yang mereka hina bukan bentuk fisikku yang sebenarnya, tetap saja rasanya menyakitkan."
__ADS_1
Mikha meletakkan piring kecil yang ada di tangannya.
"Itulah mengapa kami meragukanmu. Karena selama ini tak pernah satu pun penyamaran yang membuatmu terlihat begitu jelek dan kampungan." Mikha menahan tawa.
"Yahhh, tapi setidaknya aku jadi bisa tahu sifat seseorang." Abigail tersenyum kecut. "Tapi Darren memang sangat menyebalkan. Aku tahu dia tertekan, tapi kenapa dia memilih bersembunyi? Seharusnya dia bisa mengubah tekanan itu menjadi keberanian serta tekad kuat untuk mempertahankan nyawanya."
Mikha menggeleng pelan. "Ai, sama seperti sifat manusia yang berbeda-beda, begitu juga mental seseorang. Darren tidak sama dengan dirimu. Cara kalian menerima dan menghadapi masalah pun berbeda."
"Tapi kenapa aku yang menjadi sasaran pelampiasannya?" Abigail menipiskan bibirnya.
"Karena kau terlihat lemah, sama dengan sisi lain jiwanya. Di satu sisi Darren ingin terlihat kuat dan melawan, namun disisi lain ia dikuasai ketakutan, ia lemah. Itulah sebabnya ia melampiaskan semua kepadamu. Mungkin dia menganggapmu sebagai perwujudan sisi lemahnya."
"Maksud kakak, ia pun membenci kelemahan di dalam dirinya?"
Mikha mengangguk menjawab pertanyaan Abigail.
"Tapi Itu hanya asumsiku saja."
"Bisa dimengerti." Abigail mengangguk-angguk.
"Penerimaan orang atas orang lain tidaklah sama. Ada orang yang bisa menerima sesamanya, tak peduli bagaimana penampilan dan latar belakangnya. Namun ada juga yang hanya bisa menerima orang lain yang sesuai kriterianya dalam mencari teman."
Mikha meraih tangan Abigail dan menggenggamnya dengan lembut.
"Ai, kamu sudah semakin dewasa. Kakak ingin, kamu menjadi gadis yang rendah hati meski kamu memiliki penampilan dan wajah yang cantik serta penghasilan besar. Kamu sudah merasakan sakitnya dihina dan direndahkan. Jadi jangan perlakukan orang lain seperti kamu diperlakukan saat ini."
"Iya kak, Ai mengerti."
"Semakin berisi semakin merunduk. Kakak harap kau menerapkannya. Bukan saja keahlian yang berkembang, namun kecerdasan emosional mu juga harus mengikuti. Agar kamu bisa menjadi gadis yang tidak bermuka dua, dan benar-benar menjadi panutan."
Abigail menunduk dan tersenyum masam. "Kakak benar, di misi kali ini aku belajar banyak hal."
Abigail berdiri dan memeluk Mikha dengan hangat.
"Terima kasih kak. Aku menyayangimu."
Mikha tercekat, ia merasakan bahagia dan sakit di waktu yang sama.
"Kakak juga menyayangimu, Ai." ucapnya sambil menepuk punggung Abigail dengan pelan.
"O iya. Apa maksud ucapanmu saat kau bilang bisa mengetahui sifat asli orang terkenal juga yang kau kenal?"
"Oh itu." Abigail tersenyum dan mengeluarkan ponsel rahasianya yang tidak diketahui Darren dan Trias.
Abigail menyerahkan ponselnya pada Mikha saat benda tersebut mulai memainkan sebuah rekaman video.
Tangan Mikha mengepal, wajahnya memerah karena marah. Apalagi saat ia mendengar ucapan Raline.
"Apa kau sudah menunjukkan video ini pada Liam?"
Abigail menggeleng. "Belum kak, aku takut."
"Takut kenapa?"
"Aku takut Kak Liam terpuruk karena sedih melihat kelakuan kekasihnya. Tapi aku juga menyayangi Bibi Lan. Aku tidak rela beliau memiliki menantu seperti Raline."
Mikha memijat pangkal hidungnya. "Seharusnya kau ceritakan pada Liam."
__ADS_1
"Aku tak mau Kak Liam terpancing emosinya dan malah membongkar penyamaranku." Abigail menengadah dan memejamkan matanya rapat-rapat. "Aku sayang Kak Liam, tapi bagaimana caraku mengatakan kalau Raline tak sebaik yang terlihat."
Abigail menghela nafas dengan kasar.
"Katakan saja, apa susahnya?"
Suara Liam membuat Mikha dan Abigail melompat dari duduknya.
"Liam!"
"Kak Liam!"
Abigail dan Mikha saling berpandangan dan gugup.
"Aku sudah ada disini sejak rekaman itu kau putar Ai." Liam melangkah mendekati kedua sepupunya. "Aku kecewa, tapi lebih baik sekarang aku tahu daripada saat sudah menikah."
"Lalu? Apa tindakanmu selanjutnya?" Mikha menatap iba.
Liam mengangkat kedua bahunya. "Aku belum tahu, tapi yang pasti aku akan menangkap basah dirinya. Agar adikku yang cantik ini tetap aman dalam penyamarannya." tangan Liam terulur mengusap kepala Abigail.
"Maaf kak." ucap Abigail saat masuk dalam pelukan Liam.
"Bukan salahmu." Liam mengecup kepala Abigail dengan penuh kasih sayang. "Selamat ulang tahun Ai. Jadilah gadis yang memiliki kepribadian yang baik."
Abigail mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Ok, cukup. Sekarang aku sudah lapar. Kalian berdua, jamulah pemuda yang sedang patah hati ini." Liam memasang raut sedih saat menatap Mikha dan Abigail secara bergantian.
"Baiklah." Abigail melepas pelukannya dan menggandeng Liam untuk masuk ke dalam rumah.
...☘️☘️☘️...
Trias memijat pelipisnya, ia pusing dengan tindakan Darren yang gelisah. Bahkan berkali-kali pemuda itu berteriak memanggil Abigail untuk mengerjakan sesuatu baginya.
"Seharusnya aku tak berkata iya." sungut Darren.
"Seharusnya kau berpikir lebih dulu sebelum menjawab." sahut Trias dengan kesal.
Darren menatap Trias dengan tajam. Ia ingin marah, namun perkataan Trias memang benar.
Darren mengambil ponsel dan menghubungi Abigail. Sayangnya nomor yang dipakai Abigail untuk berkomunikasi dengan dirinya dan Trias tidak aktif.
"Sudahlah Daren, biarkan dia menikmati waktu istirahatnya."
Darren hanya menatap Trias sekilas lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menatap kertas-kertas yang berserakan di meja dan lantai. Tak ada sedikitpun keinginan untuk melanjutkan aktivitasnya. Darren terlihat seperti orang yang hilang arah dengan emosi yang tidak stabil.
......................
...Jangan lupa:...
...👆Vote...
...👍Like...
...🎁Hadiah...
Terima kasih❤️❤️❤️
__ADS_1