ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 60. Akhir Dari Robert


__ADS_3

Situasi memanas, massa terlibat bentrok dengan aparat keamanan yang mengambil paksa tubuh Robert dan asistennya. Kerusuhan pun pecah tanpa bisa terhindarkan. Massa meminta pemerintah dan aparat keamanan memberikan Robert kepada mereka. Di lain sisi, Robert yang tidak sadarkan diri segera dilarikan ke rumah sakit.


Tidak lama setelah ambulans mulai bergerak, Robert bangkit dari brankar tempat ia berbaring. Ternyata ia hanya berpura-pura tak sadarkan diri.


Pria itu menatap perawat yang duduk disampingnya dengan tajam. "Berikan aku air minum."


Perawat tersebut mengambil sebotol air mineral kemudian memberikannya pada Robert. Dengan sekali gerakan pria itu menghabiskan seluru air tanpa sisa.


"Sialan! Aku sudah dijebak! Seharusnya aku mengikuti kata-kata Sarah!" Umpat Robert dengan pelan, lebih seperti gumaman.


Kemudian ia terdiam beberapa saat. Memikirkan langkah apa yang harus diambil. Tepat disaat yang sama perawat disampingnya membuka masker yang perawat itu gunakan. Awalnya Robert tidak memedulikan perawat tersebut, namun karena gerakan yang dibuat oleh wanita itu, Robert akhirnya menoleh.


"Ka…kau…!" Robert mulai tersulut emosi melihat wanita yang sudah ia bayar untuk membunuh Abigail.


Akan tetapi gerakan lain yang dibuat wanita itu membuat Robert menunggu dengan tegang. Perawat tersebut membuka lapisan di wajahnya. Benda itu adalah topeng yang menyerupai kulit asli wajah manusia.


Robert tercekat, ia mengenali wajah di balik topeng itu.


"Ka…kau pengawal pribadi Luo." Wajah Robert pucat pasi seakan melihat hantu. "Tidak mungkin!!! Seharus....seharusnya kau...kau sudah mati!!!" Seru Robert lagi.


Venus mengangkat kedua bahunya. "Maaf mengecewakanmu." Jawab wanita itu sambil menyunggingkan senyuman sinis.


Dengan cepat Robert mengarahkan tangannya dan mencekik leher wanita itu dengan sangat kuat. "Aku akan membunuhmu dengan benar kali ini!"


Venus meringis menahan sakit, air matanya mulai keluar. Wajahnya pun memerah. Venus berusaha memukul tangan Robert, namun hal itu sia-sia.


Semakin lama, cengkraman Robert semakin melemah. Pria itu melepas tangannya dari leher Venus kemudian mencengkram dada kirinya. Nafas Robert mulai tersengal-sengal.


"Ap…apa….?" Robert berusaha menggapai Venus.


Wanita itu menyeringai sambil mengangkat botol air mineral yang sudah kosong itu. Mata Robert melotot, ia baru sadar sudah menenggak racun.


Akhirnya pria itu ambruk. Tubuh Robert mengejang untuk sesaat, dengan tangan yang masih mencengkram dada. Perlahan tapi pasti, tangan itu mulai terkulai lemas dan tidak lagi terdengar tarikan nafas yang dipaksakan.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Konferensi pers dilakukan pada malam hari. Menurut tim dokter yang memeriksa, Robert meninggal akibat serangan jantung. Robert sempat dievakuasi dari kerumunan massa, namun nahas, pria itu menghembuskan nafas terakhirnya sebelum mencapai rumah sakit.


Akhir seorang Robert de Lima, tidak sebanding dengan yang ia lakukan terhadap keluarga Luo Li, kematiannya terlalu mudah. Namun pada akhirnya nyawa sudah dibayar dengan nyawa.


Abigail berjalan keluar mansion untuk mencari Mikha dan mengabarkan berita yang baru saja disiarkan di televisi nasional. Setelah bertanya pada para penjaga dan pelayan, akhirnya ia tahu jika Sang Kakak berada di area parkir.


Abigail mengernyit saat melihat sebuah ambulans dan Mikha berdiri di dekat kendaraan tersebut, sedang berbincang dengan seseorang. Abigail semakin berdebar saat melihat nama rumah sakit yang tertera di sisi ambulans itu. Itu rumah sakit yang sama dengan rumah sakit dimana Robert dilarikan.


"Kak." Abigail memanggil dengan lirih. Posisi Mikha membelakanginya dan lawan bicaranya pun tertutup badan mobil.


"Oh, hai." Mikha tersenyum melihat kedatangan Abigail.


"Apa itu Kak Venus?" Abigail begitu merindukan wanita yang sudah mengajarkan banyak sekali pelajaran untuk bertahan hidup. Padahal mereka baru saja bertemu dan Venus menjelaskan alasannya menghindari Abigail saat Robert meninggalkan ruang penyimpanan anggur.


Perlahan, Venus berjalan ke sisi Mikha. Dan tanpa banyak bicara Abigail berjalan cepat dan memeluk Venus.


"Kak Venus." Abigail tersenyum bahagia sambil memeluk Venus. Jika saja saat itu ia tidak tahu rencana mereka, pasti ia sudah memeluk Venus di depan Robert.


Abigail menjauhkan tubuh Venus dengan cepat. "Kakak." Abigail tidak suka digoda seperti itu dan Venus hanya terkekeh pelan.


"Apakah kakak yang membuat Tuan Robert terkena serangan jantung?" Abigail tidak lagi menyembunyikan apapun yang ada di pikirannya.


Venus sedikit menjauh dari Abigail. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Maaf, hatiku tidak seluas hatimu dan Mikha." Ucapnya tanpa berkedip, menandakan kebulatan tekadnya.


"Siapa bilang aku orang yang seperti itu?" Mikha bergabung dengan senyuman penuh misteri.


Abigail tertawa kecil. "Lebih baik aku tidak tahu apa yang sudah kalian berdua lakukan. Karena apapun itu, aku pasti menyetujuinya."


Mikha dan Venus tergelak mendengar ucapan Abigail.

__ADS_1


"Tapi kita harus memberikan reward untuk Runa. Kamera baru yang ia ciptakan benar-benar luar biasa." Puji Mikha.


"Ya itu benar." Venus menimpali.


Ketiganya berjalan masuk ke dalam mansion sambil terus berbincang.


☘️☘️☘️


Di dalam tahanan sementara, Sarah meringkuk di sudut dengan kepala menempel di jeruji besi. Berkali-kali ia memandangi ruangan yang ia tempati dengan pandangan jijik.


Setiap ada petugas yang lewat, Sarah segera meminta untuk dibebaskan. Bahkan ia tidak segan-segan menawarkan uang sebagai imbalan. Namun tidak satu pun dari petugas tersebut yang bersedia. Bahkan mereka terus berjalan saat Sarah memanggil.


Sarah hampir putus asa, namun ia terus saja membuat keributan agar dapat dibebaskan.


"Keluarkan aku dari sini. Aku adalah Nyonya besar Keluarga Zee!!!" Sarah terus berteriak. "Kalian tidak boleh menahanku seperti ini!!!"


"Diam!!!" Tahanan yang berada di ruangan lain mulai terganggu. "Besok aku akan memotong lidahmu jika kau tidak berhenti berteriak!!!" Ancam tahanan itu lagi.


Lidah Sarah terasa kelu, ia ketakutan dengan ancaman itu. Ia meringkuk dengan memeluk kakinya sendiri dan mulai menangis.


"Rayn…. Rayn…." Ditengah tangisannya, ia memanggil nama Sang Suami. Suami yang bertahun-tahun ia bohongi. Pria yang ia nikahi hanya untuk mendapatkan harta dan hidup yang mewah.


"Rayn, keluarkan aku dari sini." Sarah membekap mulut agar isakannya tidak terdengar tahanan lain. Rupanya ancaman tadi begitu mempengaruhinya.


Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki mendekat dan berhenti tepat di samping Sarah. Wanita itu mengusap air matanya dan mendongak untuk melihat siapa yang datang.


Terlihat seorang petugas membawa tablet di tangannya. Petugas tersebut memutar sebuah video, rupanya itu adalah berita sebuah konferensi pers.


Sarah bingung, namun saat petugas tersebut menghadapkan tablet ke arahnya, ia tidak bertanya dan hanya menyaksikan dalam diam.


"Dengan berat hati, kami umumkan, Tuan Robert de Lima telah menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit. Waktu kematian diperkirakan……"


Sarah tidak lagi mendengar apa yang diucapkan juru bicara. Dunianya berubah gelap. Hal terakhir yang ia dengar adalah teriakan Sang petugas memanggil namanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2