ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 61. Berkualifikasi Atau Tidak


__ADS_3

Enam Bulan Kemudian…


Abigail menatap cermin untuk mengoleskan lip balm. Kemudian memastikan tabir surya yang ia kenakan sudah merata dan terserap sempurna. Setelah itu ia bergegas mengambil kotak bekal yang berada di meja dan keluar dari ruangannya. Hari ini ia akan makan siang bersama dengan Darren.


Sebelum keluar, ia menatap ke sekeliling bistro. Belum jam makan siang, tapi keadaan sudah mulai ramai. Abigail tersenyum senang. Berarti menu makanan di bistronya mendapat tempat di hati banyak orang.


Gadis itu berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di area khusus. Hatinya benar-benar terasa ringan setelah melewati bulan-bulan yang penuh dengan pemeriksaan polisi. Ia dipanggil sebagai saksi terkait peristiwa pembunuhan yang dialami keluarganya.


Abigail bersyukur, tewasnya Robert seakan meredupkan semua usaha ilegal yang berada di lingkup kepolisian. Perombakan besar-besaran terjadi. Oleh sebab itu Abigail bisa menjalani pemeriksaan dengan tenang tanpa dibayangi intimidasi dari kaki tangan Robert layaknya Darren dulu.


Abigail tiba di kantor utama Zico Petroleum beberapa menit sebelum jam makan siang. Gadis itu sengaja memakai masker sebelum turun dari mobilnya.


"Selamat siang, saya…."


"Oh Nona Abigail. Selamat datang."


Belum sempat Abigail menyelesaikan kalimatnya, Sang Resepsionis segera memotong ucapannya. Meski tidak sering mengunjungi kantor, namun sepertinya Keluarga Zee sudah memberikan briefing terkait dirinya kepada pegawai yang berada di bagian depan kantor. Hingga tidak ada seorang pun yang mempersulit Abigail sejak gadis itu pertama kali menginjakkan kaki di kantor utama.


Abigail tertawa pelan. "Padahal saya pakai masker."


Resepsionis itu ikut tertawa. "Sudah hafal suara dan postur tubuh Nona. Silahkan Nona, seperti biasa pakai lift pimpinan. Tuan Muda sudah menunggu."


"Terima kasih ya."


"Sama-sama Nona."


Abigail berjalan dengan cepat menuju area lift meninggalkan resepsionis yang memandangnya dengan tatapan memuja. Semenjak diumumkan sebagai calon istri Darren, sosok Abigail menjadi figur yang dikagumi kalangan pegawai Zico Petroleum. Bukan saja cantik, tapi pembawaannya yang ramah dan hangat membuat Abigail disukai banyak orang.


Sering Abigail atau bahkan keluarga Zee mendengar selentingan orang yang membanding-bandingkan Sarah dan Abigail. Sebagai satu-satunya perempuan yang akan berada di tengah-tengah keluarga Zee, Abigail dinilai lebih baik mengangkat citra keluarga ketimbang Sarah.


Bukan karena Abigail berasal dari keluarga Li. Namun karena sikap ramah dan santun yang ditunjukkan Abigail terhadap semua orang tanpa memandang status. Bahwasanya percuma menyandang nama keluarga yang terkenal jika tidak dibarengi dengan sikap yang baik. Ketenaran tidak menjamin penerimaan positif dari orang lain.


Abigail keluar dari dalam lift dengan jantung berdebar. Sudah lebih dari dua minggu mereka tidak bertemu karena Darren harus pergi ke luar negeri. Dan saat ini ia benar-benar merindukan kekasihnya.


Namun senyum Abigail segera hilang setelah melihat Darren sedang berbincang dengan seorang perempuan yang dengan aktif menyentuh Darren. Meski beberapa kali Darren menghalau tangan perempuan itu, tampaknya tidak membuat si pemilik tangan menjadi jera.

__ADS_1


Tangan Abigail mengepal, ia kesal karena Darren tidak pergi menjauh. Ia tetap berada di dekat perempuan itu meski tahu betapa liarnya tangan lawan jenis yang berada di depannya.


Abigail mengamati wajah perempuan tersebut, kemudian dengan kesal ia membuka maskernya. Sebelum Abigail kembali berjalan, terlihat Zico bersama seorang pria muncul dan mendekati Darren.


Abigail segera berjalan lebih dekat agar bisa mendengarkan percakapan mereka. Ditengah kesibukan pegawai yang lalu lalang, mereka tidak terlalu menyadari kehadiran Abigail yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sepertinya Tara sangat menyukai Darren." Ucap pria disamping Zico.


Kakek Zico tertawa pelan. "Siapapun akan menyukai wajah cucuku, Tuan Benedict."


"Bagaimana kalau mereka berdua kita jo…."


"Saya sudah punya calon istri, Tuan Benedict. Terima kasih atas penawarannya." Darren segera memotong ucapan rekan kerja Sang Kakek.


Benedict tertawa, ia tidak terlihat kesal dengan penolakan Darren. "Ya ya, kau benar. Namun jika gadismu ternyata tidak berkualifikasi sebagai Nyonya Zee, putriku masih ada. Bahkan usianya masih sangat muda, baru 20 tahun."


Abigail mendengar kalimat merendahkan itu dengan sangat jelas. Mempertanyakan kualifikasi seseorang, apalagi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, bukanlah hal yang sopan. Pantas tidaknya seseorang menjadi menantu di keluarga lain bukan materi percakapan yang layak diperbincangkan. Sebab penilaian manusia itu terbatas dan cenderung tidak adil. Apalagi jika yang mempertanyakan adalah orang yang bukan berasal dari keluarga tersebut.


Abigail menarik nafas dalam-dalam, ia berusaha mengontrol emosinya. Setelah dirasa lebih baik lagi, Abigail pun segera mendekat.


"Ai, sayang." Senyuman Kakek mengembang sempurna. Dengan cepat Darren berbalik untuk melihat kekasihnya. Wajah tampan Darren pun menampilkan senyuman terbaik menyambut datangnya pujaan hati.


Dan itu semua tidak luput dari perhatian Tara. Ia mendengus pelan, kesal melihat perubahan pada wajah Darren. Sedari tadi pemuda itu hanya diam tanpa ekspresi menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya. Namun begitu mendengar nama seorang gadis disebutkan, ekspresinya segera berubah total.


"Selamat siang semuanya." Abigail menundukkan kepala dan tersenyum manis. Sesaat kemudian ia mendekati Kakek Zico dan memeluk pria tua itu dengan hangat.


"Apakah saya mengganggu?" Abigail lanjut bertanya dan memandang Kakek serta tamunya bergantian setelah mengurai pelukannya.


"Sama sekali tidak sayang." Kakek melirik Darren yang tidak berhenti memandang Abigail. "Tuan Benedict, perkenalkan ini Abigail, cucu menantu."


Tara segera menatap tajam pada Abigail. Dan dengan berani Abigail membalas tatapan gadis yang memiliki postur tubuh jauh lebih pendek darinya itu.


"Senang bertemu dengan anda, Nona." Benedict mengulurkan tangan dan disambut dengan baik oleh Abigail. Namun gadis itu segera menarik tangannya begitu melihat Benedict terang-terangan memindainya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Tapi Tuan, apakah anda tidak takut terkena skandal karena meminang gadis di bawah umur untuk cucu anda?"

__ADS_1


Kakek Zico hanya tertawa. "Saya rasa tidak Tuan. Selagi cucu saya bahagia, apapun akan saya lakukan." Zico memandang Abigail dengan hangat. "Berapa usiamu Nak?"


"22 tahun Kek." Jawab Abigail disertai senyuman.


Benedict mengangkat kedua alisnya, ia bahkan menatap Tara, putrinya, dan Abigail bergantian. Tara memang cantik, ditambah make up yang ia gunakan. Namun kenyataannya Abigail yang tanpa make up terlihat lebih cantik dan mempesona, bahkan lebih muda.


"Maafkan kelancangan saya, Nona Abigail."


Abigail tersenyum ramah. "Tidak apa-apa Tuan. Saya mengerti, setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya."


Benedict terkejut mengetahui Abigail mendengar ucapannya tadi.


"Maaf saya tidak bermaksud apa-apa."


"Saya mengerti. Namun alangkah lebih baik jika menyerahkan berkualifikasi atau tidaknya sebagai menantu kepada pihak keluarga saja. Karena mereka yang akan menjalani kehidupan, bukan orang lain." Tandas Abigail dengan senyuman yang masih tetap tersungging tak tergoyahkan meski hatinya panas.


Benedict tertawa menanggapi ucapan Abigail yang dituturkan dengan tenang tanpa emosi.


"Baiklah, sekarang saya jadi mengerti kenapa Tuan Darren menatap Nona dengan pandangan memuja seperti itu." Ujar pria itu sambil menunjuk Darren dengan dagunya.


"Baiklah Tian Zico, saya permisi. Senang bisa bertemu dengan anda dan keluarga." Benedict menyalami Zico, Abigail serta Darren. "Cepat resmikan, sebab saya juga mempunyai seorang putra." Imbuhnya menggoda Darren.


"Saya tidak akan menyerah untuk yang satu ini, Tuan." Seloroh Darren disambut tawa Benedict.


Pria itu berpamitan dan segera mengajak putrinya untuk pergi. Tara berbalik dengan wajah kesal, apalagi saat melihat Darren kembali menatap Abigail setelah Sang Papa berbalik.


Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Ia kemudian berbalik lagi dan berjalan cepat ke arah Darren yang hendak berbicara pada Abigail. Tangan Tara merentang dengan cepat saat sudah berada di dekat Darren. Sambil memejamkan mata Tara langsung memeluk tubuh yang ada di depannya.


Tara tersenyum ketika merasakan tepukan di punggungnya.


"Baiklah, hati-hati dijalan ya."


Dengan cepat Tara membuka matanya dan mendongak. Bukan Darren yang berada di pelukannya, melainkan Kakek Zico. Tara segera melepas pelukan dan menjauh. Ternyata Darren berada di belakang Sang Kakek. Lebih tepatnya, Sang Kakek segera menjadi tameng saat tahu Tara akan nekat memeluk cucunya.


Wajah Tara memerah karena menahan malu. Darren dan Abigail memandangnya sambil menahan senyum. Begitu juga dengan beberapa pegawai yang ada disana.

__ADS_1


Tanpa berkata apa-apa lagi Tara segera berbalik dan bergegas menyusul Benedict yang sudah menatapnya dengan wajah menahan amarah dan malu.


...****************...


__ADS_2