
"Kak, tolong kirim bantuan ke apartemen Darren sekarang." Abigail memutus sambungan dan segera menyusul Trias dan Darren.
Ia menghampiri Trias yang sedang menutup dan mengunci pintu kamar Darren.
"Kenapa dikunci Kak?"
"Dia sedang mabuk, aku tak ingin kamu kenapa-kenapa." Trias mengusap kepala Abigail. "Kakak pergi dulu, sebentar saja. Jangan buka kamar Darren. Mengerti kan?"
Abigail tersenyum, ia mengerti kekhawatiran Trias.
"Iya Kak, aku mengerti."
Satu jam berselang, Trias datang membawa sup untuk meredakan pengar. Ia sendiri yang mengurus Darren tanpa melibatkan Abigail.
"Sepertinya malam ini kita akan menginap. Apakah bisa?" Trias bertanya pada Abigail begitu selesai mengurus Darren.
"Tidak masalah Kak." Abigail mengangguk yakin.
"Terima kasih banyak Abigail. Pakailah kamar yang biasanya."
Abigail mengambil tasnya dan memasuki kamar yang biasa ia gunakan. Setibanya di dalam, ia segera mengeluarkan pistol Desert Eagle kesayangannya. Tak lupa dua buah pisau kecil.
Abigail meletakkan semua di ranjang kemudian mulai memeriksa perlengkapannya.
Beberapa saat kemudian ponsel jalur khusus miliknya berbunyi. Ia melihat nama Morgan tertera di sana.
"Ya."
"Kami sudah di posisi."
"Biarkan mereka masuk."
"As you wish, Athena." Morgan memutus sambungan dengan diiringi tawa kecil.
"Ada apa?" seorang anggotanya heran.
"Athena sedang ingin bermain-main sejenak. Sepertinya dia sedang kesal."
☘️☘️☘️
Kira-kira dini hari, Abigail terjaga saat mendengar suara berisik di depan pintu sebelum akhirnya listrik padam secara tiba-tiba. Ia memakai night vision sebelum keluar dari kamar.
"Morgan." Abigail berbicara melalui headset berwarna putih.
"Aku disini."
"Situasi di ruang elektrik?"
"Clear, kami sudah meringkus pelaku setelah memadamkan aliran listrik. Mereka milikmu, aku akan datang dalam dua menit."
Abigail memfokuskan pandangan, perlahan ia bergerak ke ruang depan. Namun saat melihat dua orang yang masuk mengendap-endap, Abigail bersembunyi di balik salah satu sofa.
Salah satu penyusup melintasi Abigail. Dengan cepat Abigail menarik orang itu dari belakang, kemudian memukul tepi leher yang mengakibatkan penyusup jatuh tak sadarkan diri.
Abigail mengernyit mendapati penyusup menggunakan night vision dan peralatan lengkap.
Suara langkah kaki lain mendekat, penyusup kedua mencari sumber suara.
Abigail sedikit berdiri dari balik sofa dan mengintip. Kemudian berputar untuk melakukan serangan dari belakang.
__ADS_1
Penyusup tersebut sadar, ia berbalik dan segera mengayun senjatanya untuk memukul Abigail. Dengan tangkas Abigail menghindar dan mengarahkan tendangan ke pinggang penyusup.
Memanfaatkan tubuh lawan yang limbung, Abigail memukul pangkal leher penyusup dengan sangat kuat hingga orang itu jatuh terjerembab.
"Abigail." Trias keluar membawa lampu emergency, dengan cepat Abigail melepas night vision yang ia gunakan.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah tabung berisi puluhan glow stick dan membuangnya ke penjuru ruangan.
"Ada apa ini?" Trias kebingungan melihat seseorang terkapar di dekat Abigail.
"Penyusup." jawab Abigail singkat. "Bersiaplah kak." Abigail menyerahkan senjata berperedam milik penyusup kepada Trias.
"Aku tidak pernah menggunakan senjata api." Trias menolak senjata yang diberikan Abigail. Gadis itu mengangkat kedua bahunya dan berlari menuju dinding pembatas ruang dalam dan ruang tamu.
Ia berdiri menunggu penyusup lain yang mendekat. Trias pun melakukan hal yang sama dan berdiri di belakang Abigail.
Tak lama kemudian seorang penyusup lewat, Abigail tak langsung bergerak. Karena sesaat kemudian muncul lagi seorang rekannya.
Dengan satu gerakan cepat, Abigail memukul penyusup terakhir hingga ia terhuyung dan menabrak rekan di depannya.
Perkelahian jarak dekat tidak dapat dihindarkan. Trias maju membantu Abigail. Hingga akhirnya mereka berkelahi satu lawan satu.
Abigail melumpuhkan musuhnya dengan cepat. Tepat dengan masuknya Morgan dan beberapa anak buahnya. Pemuda itu menodongkan senjata ke arah penyusup terakhir hingga perkelahiannya dengan Trias berakhir.
Tanpa saling menyapa, Morgan segera meringkus keempat penyusup di apartemen Darren.
"Maaf kami terlambat." ucap Morgan berbasa basi pada Trias.
"Tidak apa-apa." Trias menyeka peluhnya. "Apakah semua sudah diringkus?"
"Sudah semua, termasuk beberapa orang yang menanti di depan dan yang berjaga di ruang elektrik."
Morgan berbicara pada seseorang melalui headset dan sesaat kemudian aliran listrik kembali normal.
"Akan kami sampaikan." Morgan tersenyum. "Nona, anda luar biasa." dengan sengaja Morgan mengerling menggoda Abigail seakan-akan mereka tidak saling mengenal.
"Terima kasih Tuan." Abigail menipiskan bibirnya.
Morgan meninggalkan apartemen Darren sambil mengulum senyum mengingat reaksi Abigail.
Di dalam apartemen, Trias menatap Abigail dengan memicingkan matanya.
"Kenapa Kakak menatapku seperti itu?"
"Siapa dirimu sebenarnya?"
"Aku?" Abigail menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja aku Abigail."
Trias menarik nafas. "Kamu bisa bela diri. Aku tidak tahu itu."
"Kakak tidak pernah bertanya. Lagipula itu adalah keterampilan tambahan yang tidak perlu ditulis dalam CV." kilah Abigail.
Trias menatap Abigail sejenak, kemudian mengangguk-anggukkan kepala. "Ayo kita istirahat."
Abigail tersenyum samar kemudian berjalan mendekati jendela. Jauh dibawah sana ia melihat beberapa iring-iringan mobil meninggalkan kompleks apartemen.
"Ada apa ini?" Darren terlihat kacau, ia berdiri di ambang pintu kamarnya dan menatap keadaan ruang tengah yang berantakan.
Abigail menoleh dengan cepat dan menatap Darren dengan kesal. Ia masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu dengan kencang.
__ADS_1
Darren menatap Trias untuk meminta penjelasan, namun yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya kemudian menutup pintu.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya Abigail bangun lebih awal dan membereskan ruangan yang kacau akibat perkelahian semalam. Meski ia hanya tidur selama dua jam, namun ia tidak merasa lelah.
Selagi berbenah, Trias keluar dari kamar dan mengatakan akan mencari makan pagi untuk mereka. Abigail menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia ingin bersantai dan menunggu kabar dari Mikha.
Abigail tahu Darren sudah keluar dari kamar dan sedang memperhatikannya. Namun ia sengaja mengacuhkan pemuda itu karena masih kesal.
Abigail menuju pantry untuk meletakkan alat kebersihan dan membersihkan tangannya. Tetapi saat akan kembali, Darren menghadang jalannya.
"Kamu marah?"
"Iya, aku kesal." jawab Abigail dengan wajah marah yang tidak ditutup-tutupi.
"Maaf." Darren menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Abigail bersedekap dan semakin kesal pada Darren.
"Apakah alkohol bisa menyelesaikan masalahmu?" tanpa sadar nada bicara Abigail meninggi. "Lihatlah! Bukannya selesai kau malah membuat dirimu dan kami celaka."
"Abi, aku…"
"Selama aku bekerja padamu, aku tidak suka jika kau mabuk sampai lupa diri."
"Aku tidak lupa diri, Rosalin yang terus memberiku minuman." Darren membela diri.
"Itu tidak akan terjadi jika kau tidak pergi kesana!!! Apa kau sudah bosan hidup? Atau kau sengaja membuatku sesak nafas karena khawatir?"
Abigail mengerjap, pertanyaannya yang terakhir membuat Darren menatapnya sambil tersenyum.
"Jangan senyum-senyum! Minggir, aku mau lewat!" Abigail yang merasa sudah salah bicara berusaha menghindari tatapan Darren.
Bukannya menyingkir, Darren malah melangkah maju dengan senyuman bertengger di wajahnya.
"Katakan lagi."
"Katakan apa?!" jawab Abigail dengan ketus.
"Pertanyaan terakhir lagi. Tolong ulangi."
"Tidak akan." Abigail mundur hingga punggungnya menabrak dinding. "Berhenti Darren! Atau aku akan menghajarmu." Abigail mengangkat kedua tangannya yang mengepal.
Darren tertawa kecil melihat tingkah Abigail. "Aku akan melepasmu kali ini. Tapi lain kali, jangan harap."
"Tidak akan ada lain kali." Abigail mendengus saat Darren sudah melangkah mundur menjauhinya.
Darre berhenti berjalan mundur dan menatap Abigail lekat-lekat.
"Aku minta maaf atas kebodohanku kemarin. Tak akan kuulangi lagi."
"Jangan berjanji jika tidak bisa kau tepati."
"Aku bisa, karena aku tak ingin membawa masalah padamu. Tolong maafkan aku."
Abigail menarik nafas dalam-dalam. "Jangan hanya minta maaf kepadaku, pada Kak Trias juga."
"Ya, aku tahu. Aku akan meminta maaf dengan benar pada kalian berdua."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan Abigail seorang diri.
......................