ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 15. Gugup


__ADS_3

Abigail mengetuk pintu kamar Darren, sejak pulang dari Sky City pemuda itu mengurung diri.


"Ada apa?" terdengar suara Darren dari balik pintu.


"Saya akan pulang, tadi Kak Trias sudah menyiapkan makan malam anda Tuan."


Tak ada jawaban, diamnya Darren membuat Abigail segera berbalik dan mengemasi barang-barangnya. Ia tahu pasti Darren sedang marah.


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka, Abigail kembali berbalik dan terkejut Darren sudah berada di depannya. Dengan satu tarikan Abigail sudah berada di dalam pelukan Darren.


"Aku tak akan sanggup jika itu kamu Abi. Jika ada masalah keuangan ceritakan padaku dan Trias."


Awalnya Abigail merasa kesal dan tak nyaman, kemudian ia tersenyum geli mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Darren.


Masalah keuangan???Aku???


Abigail tertawa di dalam hatinya.


"Kalian sedang apa?"


Suara Trias membuat Abigail mendorong Darren dengan sangat kuat.


"Dia sangat cemas dengan kondisiku, jadi dia memelukku." jawab Darren dengan santai.


"Apa?!" Abigail tidak terima dengan jawaban Darren. "Aku…"


"Terima kasih untuk perhatianmu, Abigail."


Abigail terperangah, tak percaya Darren mengatakan hal itu. Ingin rasanya ia mencekik pemuda itu. Dengan perasaan kesal Abigail berbalik dan berpamitan untuk pulang.


Saat sedang menunggu lift turun, Darren menyusulnya sambil membawa sebuah paper bag dengan logo brand ternama.


"Abi."


Lantaran kesal Abigail tidak mengatakan apa-apa.


"Untukmu." Darren menyerahkan paper bag itu.


Abigail mengernyit. "Untuk apa?"


"Ucapan terima kasih karena sudah menolongku."


Abigail menatap lift yang terbuka dan tersenyum tipis. "Itu sudah tugas saya, Tuan." Ia menatap Darren dengan tajam. "Jadi tidak perlu ucapan terima kasih. Maaf Tuan, saya permisi." Abigail melangkah dengan cepat, kemudian berdiri di sudut.


Darren masih berdiri mematung hingga lift tertutup dan bergerak turun. Ia tak mengerti, Abigail hanya melirik paper bag itu, bahkan terlihat tidak berminat.


Akhirnya ia kembali ke apartemen dengan wajah lesu. Ia terus berjalan dengan pikiran yang berkecamuk, membuat Trias menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Bagaimana bisa mengambil hati Abigail? Kalau dia saja lupa apa yang disukai gadis itu.


"Darren, Rosalin sudah berada di apartemennya." Trias membuyarkan lamunan Darren.


Darren mengangguk, ia kembali ke kamar berganti baju. Kemudian keduanya pergi ke apartemen mantan kekasih Darren itu.


Rosalin menyambut dengan senyuman bahagia. Sudah sangat lama sejak terakhir kali Darren mengunjunginya. Meski bersama Trias, tidak masalah untuk Rosalin. Yang penting baginya Darren sudah datang.


Darren mengeluarkan selembar cek dan menyodorkannya di depan Rosalin.


"Ini adalah uang yang kau berikan pada Rui. Aku mengembalikannya."


Rosalin pias, ia kehilangan kata-kata.


"Jangan mengusikku lagi. Jika ingin menghapus gosip sebagai wanita simpanan, menikahlah. Sudah cukup kau memanfaatkan aku."


Darren berdiri, ia merasa berhadapan terlalu lama dengan Rosalin akan membuatnya kehilangan kendali atas emosinya.


"Permisi."


"Tunggu Darren!" Rosalin segera bangkit dan menghadang di pintu. "Ini hanya salah paham."


Rosalin menatap Darren dengan pandangan memelas, namun pemuda itu malah memalingkan wajahnya. Saat Rosalin menatap Trias, ia tercekat. Triasaka, yang selama ini dikenal ramah, lembut, kini menatapnya dengan pandangan membunuh.


Rosalin beringsut menjauhi pintu, membiarkan tamunya keluar. Saat keduanya sudah menuju lift, ia menatap kepergian Darren dan Trias dari ambang pintu dengan sorot mata penuh kebencian. Bahkan ia menutup pintu dengan sangat keras kemudian memecahkan beberapa guci yang ada di ruang tamu.


"Aku pikir kamu tidak akan mau membantunya." Trias melirik Darren sekilas.


"Awalnya, namun aku terusik. Jadi lebih baik kulakukan saja. Untuk ketenangan jiwaku." jawab Darren tanpa membuka matanya.


Trias tersenyum seraya menatap Darren sejenak dan kembali fokus ke jalan raya. 


...☘️☘️☘️...


Abigail membunyikan bel apartemen. Dan baru saja tangannya terangkat dari tombol, pintu sudah terbuka. Abigail mundur satu langkah, ia terkejut dan merasa Darren sudah menunggunya.


"Kenapa mundur?"


"Ti…tidak apa-apa Tuan." Abigail menggaruk tengkuknya kemudian bergegas masuk.


Abigail mengambil tab dan hendak membaca jadwal Darren. Seperti biasa, pemuda itu duduk di sofa sudut favoritnya, kemudian membiarkan Abigail membaca jadwalnya.


Saat Abigail masih sibuk membuka file mencari catatannya, tiba-tiba Darren menggeser tubuh agar duduk di tepi sofa.


"Bagaimana lukamu?"


Abigail melirik sekilas pada lukanya. "Sudah mulai membaik Tuan, terima kasih." jawabnya kemudian kembali mencari catatan tambahan jadwal Darren.

__ADS_1


Namun gerakannya terhenti saat tiba-tiba ia merasa tangan kirinya dipegang seseorang.


"Aku ingin melihat lukamu." ujar Darren dan memegang pergelangan tangan Abigail dengan lembut.


Saat kulit mereka bersentuhan, Darren merasa seakan ada aliran listrik yang menyengatnya hingga ia merasa darahnya berdesir hangat. Detak jantung Darren mulai berpacu. Ia menatap Abigail, dan gadis itu dengan santainya ikut menatap luka di tangannya.


Darren semakin gelisah, debaran di dadanya belum usai. Namun dilihat dari ekspresinya, Abigail tidak merasakan hal yang sama dengan yang dialami Darren.


Tanpa Abigail tahu, Darren sudah sangat gugup. Ia tidak bisa mengontrol jantungnya yang sudah bertalu seperti genderang perang. Rasa hangat menjalar ke semua rongga tubuhnya, ia mulai kecanduan, ingin memeluk Abigail lagi.


"Akhhh!!!" pekik Abigail saat tangannya dihempaskan dengan kasar oleh Darren.


"****! Ada apa ini Darren?" Trias yang baru membuka pintu terkejut dengan teriakan Abigail dan melihat gadis itu sedang memegang tangannya. Terlihat kain kasa itu mulai berwarna merah. Abigail meringis menahan sakit, darahnya kembali keluar.


Darren terkejut dengan perbuatannya, ia tak bermaksud melukai Abigail.


"Abi, aku…."


"Aku akan memeriksanya." Trias beranjak mengambil peralatan pertolongan pertama.


"Abi, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya….." Darren menggantung ucapannya, ia merasa malu mengatakan yang sebenarnya. "Maaf Abi."


Abigail mengernyit, ia bingung harus menjawab apa. Ia mendesah dengan kasar lalu menatap Darren.


"Aku tidak mengerti apa yang anda pikirkan. Tapi kalau memang pekerjaan saya buruk, tolong sampaikan dan akan saya perbaiki."


Ucapan tegas Abigail membuat pemuda itu menatap Abigail dalam-dalam. Kemudian ia berdiri tepat di depan gadis itu.


"Abi….."


"Aku akan mengganti kain kasa ini." ujar Trias memotong ucapan Darren.


Melihat kedatangan Trias, Darren segera kembali ke kamarnya.


Tak lama kemudian Trias sudah selesai mengganti perban. Ia masuk dan hendak mencari ke seluruh ruangan. Namun begitu melihat gorden yang melambai kian kemari, ia lantas menuju balkon.


"Ada apa?" ucapnya saat melihat Trias datang. Sedangkan  Trias, ia segera bersedekap.


"Jelaskan, kenapa bisa tangannya kembali berdarah?"


"Aku…gu…gugup. Jadi kulempar tangannya."


Trias menyugar rambutnya dengan kasar. "Kau menjadi gugup hanya karena memegang tangan Abigail?"


Tawa Triasaka siap untuk pecah. Namun setelah ia melihat kesedihan di mata Darren mengurungkan niatnya.


"Jangan usil kepada Abigail lagi." Trias menepuk bahu Darren, kemudian keluar dari kamar Sang Penyanyi.

__ADS_1


......................


__ADS_2