ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 13. Pisau Beracun


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Trias memasuki halaman X Senior High School menyusul minivan hitam yang membawa tim lain. Keamanan pihak sekolah sudah bersiap dan berbaris membentuk pagar untuk mencegah siswa siswi mengerumuni Darren.


Teriakan histeris terdengar saat satu per satu tim keluar dari mobil. Terlebih saat Darren turun dan melambai ke arah siswa siswi yang sudah menunggu.


"Kamu tidak apa-apa?" Darren berbisik pada Abigail saat keduanya memasuki tenda khusus bintang tamu.


Abigail merasa heran, namun ia hanya mengangguk.


"Tutup saja telingamu kalau sakit mendengar teriakan mereka."


"Saya tidak apa-apa Tuan."


Mendengar jawaban Abigail, Darren berhenti dan menatap tajam pada Sang Asisten. "Yang penting aku sudah mengingatkan." ujarnya dengan ketus dan segera duduk.


Abigail terdiam, kedua alisnya bertaut. Sekali lagi ia melihat Darren yang berubah-ubah. Kadang dia menyebalkan, suka marah, suka menghina, usil namun sekejap kemudian ia berubah perhatian.


Ada apa dengan Darren?


Abigail hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Ia akan bertahan, karena tak lama lagi misi ini akan berakhir.


Menurut perhitungan Mikha, tak lama lagi pelaku sebenarnya pasti akan beraksi. Karena sepertinya dalang pembunuhan itu lupa, terkadang jika manusia sudah tertekan dan terlalu takut, mereka bisa berubah berani atau nekat. Dan dilihat dari karakternya, Darren pasti akan nekat.


Di luar tenda, teriakan-teriakan para siswa semakin bergemuruh. Terdengar MC sedang membuka acara. Rui dan Roki sibuk membenahi riasan dan juga outfit yang digunakan Darren.


Abigail hanya memperhatikan dari jauh, dan adakalanya tatapannya dan Darren bertemu. Abigail tak perlu repot-repot memutus kontak mata itu, sebab pandangan mereka terhalang beberapa orang yang hilir mudik di antara Abigail dan Darren.


Beberapa belas menit kemudian, Darren dipersilahkan menuju panggung yang letaknya agak jauh dari tenda. Trias dan Abigail mengikuti dari belakang.


Tanpa Trias dan Darren ketahui, mata Abigail liar memindai seluruh lokasi.


Sial!!!Terlalu ramai!!! Rutuk Abigail dalam hatinya.


Sekalipun Mikha sudah menempatkan beberapa penembak jitu, namun Abigail tetap was-was. Di tempat lain, Mikha pun merasakannya. Ia gelisah, sekalipun headset tak pernah lepas dari telinganya. Entah kenapa sejak Abigail memasuki misi ini, Mikha selalu diliputi cemas.


Abigail mengamati, jika ia salah memberi informasi, anak di bawah umur akan meregang nyawa dengan sia-sia. Abigail memutar tubuhnya, ia kehilangan fokus.


"Athena! Ada apa?" suara seorang pria dari headset menyadarkannya.


"Entahlah Morgan, aku sangat gelisah." Abigail menggigit bibir bawahnya.


"Mundurlah, kami akan menggantikanmu." 


"Tidak bisa, orang akan curiga jika kalian datang."


"Fokuslah Athena!" tiba-tiba suara Mikha pun terdengar.


"Kakak." Abigail tercekat.


"Kami ada dibelakangmu. Kakak ada dibelakangmu." Mikha menenangkan Abigail.


"Terima kasih." Abigail kembali fokus.


Sementara itu di pusat ruang kendali The Lighthouse, Mikha menghempaskan tubuh ke kursinya dengan kasar.


"Ada apa?" Tania yang baru tiba heran dengan wajah Mikha.


"Kirim tim medis ke lokasi Athena sekarang. Firasatku mengatakan akan terjadi hal yang buruk."


Wajah Tania berubah pias. "Bagaimana dengan Athena?"


"Ia gelisah."


Jawaban singkat dari Mikha sudah cukup untuk membuat Tania segera memasang headset dan memanggil tim medis yang sudah berjaga dua blok dari sekolah itu.


"Troy, kode biru! Datang ke lokasi Athena!"


Tania memutus sambungan, ia menatap Mikha dengan cemas.


"Tenanglah." pintanya.


"Entahlah Tania, aku dan Abigail tidak pernah segelisah ini saat menjalankan misi."


"Dia akan baik-baik saja."

__ADS_1


Mikha memejamkan matanya, ia menarik nafas dalam-dalam. "Siagakan Liam dan pasukannya. Jika terjadi sesuatu pada Abigail. Aku tidak akan melepaskan mereka."


Tania menegang, sudah lama ia tak melihat wajah Mikha yang seperti ini. Terakhir kalinya adalah 15 tahun lalu saat kecelakaan itu menewaskan seluruh keluarga Abigail.


☘️☘️☘️


Di panggung, Darren tampil dengan sangat apik. Suaranya yang merdu, berpadu sempurna dengan koreo yang powerful.


Wajah tampan Darren dipenuhi peluh, namun tak mengurangi kesempurnaan penampilannya. Bahkan saat ia menyeka keringat dengan gaya yang cool, siswi dan para guru perempuan berteriak histeris.


Abigail sibuk mengedarkan pandangan hingga tak menyadari, dari atas panggung Darren sempat menatapnya selama beberapa detik. Hingga seorang penari latar menyenggolnya untuk mengembalikan fokus Darren.


Dua lagu yang Darren bawakan berhasil memanaskan panggung pensi. Hingga ia turun, teriakan-teriakan histeris tak kunjung berhenti.


Abigail menatap takjub kepada para penonton. Mereka tak tanggung-tanggung dalam mengeksplor pita suara.


"Bagaimana?" Darren bertanya pada Abigail saat melihat gadis itu menatap takjub ke sekeliling.


"Anda luar biasa Tuan." Abigail menatap Darren dengan mata yang berbinar-binar. Dan Darren suka dengan tatapan itu.


"Ayo, segera kembali." suara Trias membuat Abigail kembali fokus.


Baru beberapa langkah, Abigail terkejut saat ada suara benda terjatuh dengan keras. Diikuti puluhan siswi berlari menuju Darren.


"Gawat!!! Pembatasnya!!!" dengan setengah menyeret Trias memaksa Darren untuk lebih cepat lagi. Ia tahu Sang penyanyi lelah, tapi ini untuk keselamatan Darren juga.


Abigail memindai ke sekitar. Tiba-tiba ia menangkap pergerakan aneh dari seorang wanita berpakaian biasa. Sudah jelas dia bukan berasal dari lingkungan sekolah.


Dengan cepat wanita tadi menghampiri seorang siswi, kemudian siswi lain berbisik pada rekannya.


Pisau!!!


Abigail sempat melihat ujung benda tersebut. Dengan cepat ia menuju siswi tadi, bahkan Abigail mendorong dengan kasar setiap orang yang berada di depannya. Ia tak peduli dengan umpatan yang ditujukan kepadanya.


Siswi tadi berpindah, Abigail melihat ia mendekati siswi lain lagi. Setelah berada di belakang targetnya, Abigail menangkap lengan siswi terakhir itu.


"Mana pisaunya?!" Abigail mencengkram lengan si gadis muda dengan kuat.


"Sial!!!" Abigail menghempas dengan kasar.


Namun ujung matanya menangkap pergerakan lain di sisi kiri Darren. Abigail mendorong dua orang siswi di depannya. Saat jalan terbuka lebar, Abigail mengambil langkah lebar.


Siswi tersebut menyeringai saat melihat kedatangan Abigail. Dengan cepat ia mengayunkan tangan kanannya yang membawa pisau.


Disaat yang sama Abigail segera mengulurkan tangan kiri hendak menarik Darren.


"Aakkhhhh!!!!"


Darah mulai mengalir, Abigail mengangkat kaki kirinya dan menendang pelaku.


"Abi!!!"


Jerit kesakitan Abigail membuat Darren terperanjat. Apalagi saat melihat seorang siswi terjatuh dengan pisau masih berada di genggamannya.


"Kak Trias, bawa Darren pergi!!!"


Baru saja gadis itu hendak bangkit dan kembali menyerang, sebuah tembakan berhasil melukai bahu kanan gadis itu.


Suasana gaduh terdengar. Teriakan yang mengelu-elukan Darren berubah menjadi teriakan jerit ketakutan. Para siswi yang menyaksikan kejadian itu berlari berhamburan.


Darren menghempaskan tangan Trias, ia menghampiri Abigail dan membawanya ke tenda. Sedangkan pihak keamanan yang disewa sekolah sudah mengamankan pelaku.


Ketika Darren hampir mencapai tenda, tiba-tiba beberapa orang berseragam perawat menghampiri.


"Mari ke sebelah sana." Mereka menunjuk ambulance yang sudah terbuka.


Darren membantu Abigail naik, dan ia pun bersiap masuk. Namun seseorang menahannya dan melarang Darren naik.


"Aku tidak akan kemana-mana!"


Perawat tadi menatap Dokter yang sudah ada siap memeriksa Abigail. Setelah mendapat persetujuan, ia mempersilahkan Darren masuk.


Dokter mulai memeriksa luka sayatan pada tangan Abigail. Lukanya memang tidak dalam, namun pinggiran luka tersebut sudah berubah menjadi biru.

__ADS_1


Abigail menelan salivanya dengan kasar. "I..ini."


"Pisaunya beracun." gumam Sang Dokter.


Abigail menatap Dokter di hadapannya dengan cemas.


"Tenanglah."


Abigail mengangguk, lagipula selama ini Dokter Troy selalu bisa menyelamatkannya dari racun.


Troy mengambil sebuah ampul berisi cairan berwarna kuning keemasan dan merah tua dari dalam kotak pendingin berukuran kecil.


Ia menyedot kedua cairan tersebut dan menyuntikkannya kepada Abigail.


"Apa itu?" Darren menghentikan gerakan Dokter.


"Ini untuk mengeluarkan racunnya." jawa Troy dengan tenang.


Setelah Darren melepas cekalan tangannya, Troy kembali melaksanakan tugas.


Abigail merasa sakit yang luar biasa menjalar di dalam pembuluh darahnya Ia menggigit bibir untuk mengurangi rasa sakit yang hanya berlangsung sekejap.


Setelah itu Troy membersihkan dan segera membalut luka Abigail. Ia juga memberi obat untuk Abigail minum.


"Proses purgingnya akan sangat sakit…"


"Aku bisa mengatasinya." Abigail memotong ucapan Troy.


Dokter itu tersenyum di balik maskernya. "Baiklah." ia kemudian mengambil sesuatu dari antara benda di belakangnya.


"Ini kartu namaku, jika ada sesuatu dengan asisten anda segera hubungi kami." Troy menyodorkan kartu namanya pada Darren. Abigail yang melihat itu hanya menipiskan bibirnya.


"Terima kasih Dokter."


Darren mengambil kartu dan membantu Abigail untuk keluar dari dalam Ambulance.


Begitu keduanya pergi, Troy segera menghadap ke sebuah kamera tersembunyi.


"Dia akan baik-baik saja." ucapnya pada Mikha di ruang pusat kendali.


☘️☘️☘️


Selagi Darren menemani Abigail, Trias bertemu kepala sekolah dan mengajukan komplain atas penyerangan yang terjadi. Kepala sekolah yang tidak mengerti apapun berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut.


Meski Trias tidak puas dengan jawaban Kepala sekolah, ia tak mungkin menekan pria paruh baya itu. Sebab ia pun sadar, kejadian ini masih ada hubungannya dengan teror yang dialami Darren.


Saat akan kembali menuju tenda, Trias dikejutkan dengan asisten Rosalin yang datang sambil membawa seikat bunga.


"Bunga untuk Tuan Darren." ucap pemuda itu kemudian pergi.


Trias hanya menghela nafas dengan kasar dan masuk ke dalam tenda. Di dalam sana Roki dan Rui tak berhenti bertanya pada Abigail tentang keadaannya.


"Ayo kita pulang!" seru Trias.


"Dari mana bunga itu?" tanya Roki antusias.


"Rosalin."


Trias tidak ingin berlama-lama, maka ia meminta seluruh tim untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


Darren memegang tangan Abigail dengan hangat. "Abi, ayo."


Karena efek racun yang dan penawar yang mulai bekerja, Abi yang baru berdiri tiba-tiba goyah dan jatuh pingsan dalam pelukan Darren.


Dengan bantuan Trias dan Roki, mereka mengangkat Abigail dan meletakkan gadis itu di jok belakang bersama Darren.


"Apakah kita harus ke rumah sakit?" dari balik kemudi Trias tampak cemas.


"Tidak perlu. Dokter sudah memberinya obat. Kita pulang saja ke apartemenku."


Trias mengangguk dan segera melajukan mobil meninggalkan tempat parkir sekolah itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2