
Setibanya di kabin, Abigail segera meletakkan semua peralatan pada tempatnya. Ia lalu membersihkan diri dan langsung memeriksa keamanan setelah selesai berganti baju.
Begitu ia merasa tidak ada yang mencurigakan, Abigail mengaktifkan alarm pada setiap kamera. Setiap ada manusia yang melintas, alarm tersebut akan langsung berbunyi di Kabin maupun di ruang kendali rahasia milik Mikha yang terpisah dari ruang kendali utama TLH.
Abigail meletakkan sebilah belati dan pistol di dekat bantalnya. Kemudian mengambil alat komunikasi khusus untuk menghubungi Mikha.
"Kenapa kakak tidak memberitahu tentang keberadaan Darren di padang rumput? Atau menyuruh mereka pergi dari sana." Begitu terhubung dengan Sang Kakak, Abigail segera ke inti pertanyaan.
"Itu tidak mungkin Ai. Tidak semua orang di dalam agensi tahu apa yang sedang kita rencanakan. Jadi kita tidak bisa memberitahu agen yang mengawal mereka."
Abigail membenarkan keputusan Mikha di dalam hatinya. Sejauh ini, mereka belum pernah mengalami kebocoran informasi di dalam TLH. Namun bukan berarti mereka menjadi lengah. Tetap saja ada hal-hal atau informasi-informasi yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas.
Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan Abigail. Mikha akan lebih selektif dalam membagi informasi atau mengutus pasukan yang akan membantu Sang adik.
"Aku harap mereka sudah pergi saat Draco datang."
Saat ini Abigail begitu mencemaskan keselamatan Darren. Jika terjadi sesuatu pada pemuda itu, maka sia-sialah ia tinggal di hutan untuk memancing kedatangan Draco, si pembunuh bayaran.
Mikha menghela nafas. "Aku, Liam dan Tania akan memikirkan rencana lain jika mereka tidak kunjung menyelesaikan syuting."
"Aku percaya kepadamu Kak." Tidak ada pilihan lain bagi Abigail selain menyerahkan semua pada Sang kakak.
Jika pikirannya terus terbagi dengan memikirkan Darren, maka ia bisa kehilangan fokus dan membahayakan dirinya sendiri. Tentu saja hal itu sangat berbahaya.
"Tentu, aku tidak akan membiarkan adik iparku terluka sedikit pun."
Terdengar kekehan Mikha di ujung sambungan. Hal itu membuat Abigail kembali teringat dengan keintimannya dan Darren beberapa jam yang lalu. Seketika wajahnya terasa panas. Jika ia bercermin, pasti ia akan terkejut melihat rona merah di seluruh wajahnya.
"Kkak..it..itu…"
__ADS_1
"Kamu sudah dewasa, tidak masalah buat Kakak. Hanya saja Liam seperti hendak menelan layar plasma ketika melihat adegan itu."
Mikha kembali tertawa mengingat bagaimana Liam menggeram melihat adik mereka dicium oleh Darren.
Abigail seketika menjadi gugup, ia menggigit bibir bawahnya. Gadis itu bisa membayangkan bagaimana wajah Liam yang marah. Sama seperti saat Abigail ketahuan memiliki kekasih di Senior High School. Liam begitu marah dan meneror senior yang menjadi cinta monyet Abigail.
Bahkan selama berjam-jam Liam menginterogasi kedua sejoli itu secara terpisah. Ia ingin tahu sejauh apa hubungan Abigail dengan seniornya dan apa saja yang dilakukan mereka berdua.
Sejak saat itu Abigail memutuskan hubungannya dengan Sang senior dan tidak pernah lagi menerima perasaan dari pemuda-pemuda yang jatuh cinta kepadanya. Meskipun saat ini usianya sudah masuk dalam kategori wajar memiliki pasangan, tetap saja muncul rasa takut mengingat tindakan Liam saat itu.
"Kak Liam pasti sangat marah." Suara Abigail yang terdengar seperti cicitan membuat Mikha menghentikan tawanya.
"Aku sudah memberi pengertian kepadanya. Liam hanya belum siap melihatmu tumbuh dewasa dan akan mempunyai sandaran lain. Sepertinya ia merasa tersaingi, ia takut rasa sayangmu kepadanya akan berkurang." Mikha menahan tawa. "Liam sudah seperti seorang Ayah yang takut kehilangan putrinya. Dia jadi begitu posesif."
Abigail tersenyum kecut. "Selain Draco, aku juga jadi mengkhawatirkan tindakan Kak Liam terhadap Darren."
"Jangan risaukan dia."
"Jadi, siapa saja yang melihat adegan itu?" Meski merasa sangat malu, Abigail memberanikan diri untuk bertanya. Ia menggigit kukunya saat menunggu Mikha menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
"Aku, Liam, Tania, Louisa, Troy dan juga Morgan."
"What?!! Sebanyak itu??" Abigail mengerang, ia menutupi wajahnya dengan bantal.
"Bahkan Morgan berkata akhirnya kamu bisa membedakan mana cinta monyet, mana jatuh cinta dan mana yang hanya sekedar kagum." Mikha tersenyum lebar mengingat respon Morgan saat melihat adegan mesra Abigail dan Darren.
"Kalau kabin ini tidak hancur, lebih baik aku tinggal disini untuk selamanya." Desis Abigail. Ia merasa sangat malu dan tidak tahu akan seperti apa jika kembali ke markas dan bertemu orang-orang yang disebut Mikha tadi.
Mikha tergelak. "Sudahlah, jangan risaukan itu. Lebih baik sekarang kita beristirahat."
__ADS_1
"Baiklah Kak. Aku menyayangimu."
"Aku juga menyayangimu, tidurlah yang nyenyak Ai. Kakak akan menjagamu."
Ungkapan sayang Mikha membuat hati Abigail menjadi hangat. Ia memutus sambungan telepon dan memejamkan matanya dengan tersenyum. Abigail bersyukur, meski tidak lagi memiliki orang tua, namun ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.
☘️☘️☘️
Hari sudah petang ketika Abigail memeriksa busur di tangannya dengan seksama. Tidak jauh dari sana tergeletak dua buah tabung berwarna hitam yang terisi penuh dengan anak panah. Di atas meja yang berada di depannya juga tergeletak beberapa buah pisau lempar dan dua buah belati.
Setelah busurnya siap, Abigail membenahi senjata tersebut, memasukkan semua benda tajam yang ada di meja ke dalam satu tas. Kemudian ia melakukan olahraga ringan yang bertujuan untuk memperkuat tangan dan lengannya.
Sesekali bayangan wajah Darren melintas di benaknya. Hal itu membuat Abigail tersipu dan akhirnya seulas senyuman pun bertengger di bibirnya.
"Ya ampun, aku sudah seperti orang dengan gangguan jiwa yang suka senyum-senyum sendiri." Gumam Abigail menyadari tingkahnya yang aneh.
Ia lantas menggeleng dengan kuat kemudian mengambil air mineral dan segera meneguknya. Abigail melangkah ke depan monitor dan mendapati ada beberapa kamera yang rusak sehingga tidak menampilkan gambar.
Abigail menuju nakas di samping tempat tidurnya. Mengambil sebuah alat kecil berwarna hitam kemudian menekan sebuah tombol yang terletak di tengah. Seketika itu juga lampu indikatornya menyala dan mengaktifkan sebuah alat yang sama persis pada tangan Mikha.
Dadanya mulai berdebar, namun ia masih sangat fokus. Abigail mengaktifkan sebuah robot penghisap debu yang sudah ditempel manekin pada bagian atasnya. Kemudian ia meraih dua buah tas yang sudah ia persiapkan. Satu tas berisi senjata dan tas lain berisi makanan dan minuman.
Abigail keluar melalui pintu belakang kabin dengan membawa dua buah tas dan sebuah tablet di tangannya. Senjata api yang ia punya telah diletakkan di beberapa titik di hutan. Hal ini bisa menolongnya saat ada keadaan darurat, misalnya bila tiba-tiba senjatanya macet, ia tidak perlu pergi ke kabin untuk mengambil senjata cadangan.
Gadis itu menatap ke arah padang rumput untuk sejenak.
"Semoga kamu sudah berada di tempat yang aman, Darren."
...****************...
__ADS_1