ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 42. Gym


__ADS_3

Malam harinya Mikha, Abigail, Darren dan Trias makan malam di apartemen Darren. Dan Mikha memutuskan untuk menginap di apartemen Abigail. Selain karena permintaan dari Sang adik, ada hal lain yang ingin dibahas oleh Mikha.


Setelah pulang dari unit Darren, Abigail membongkar baju dan beberapa barang kemudian mengatur semua ke dalam nakas yang sudah tersedia di kamarnya. Apartemen yang ditempati Abigail sudah memiliki perabotan yang lengkap. Ia hanya perlu membawa baju dan barang-barang pribadinya saja karena semua sudah disiapkan oleh Trias dan Darren.


"Ai, bagaimana menurut pendapatmu tentang keputusan Darren tinggal dan kerja di tempat yang sama?" Tanya Mikha setelah mereka bersiap untuk istirahat dan Abigail terlihat telah selesai mengaplikasikan skin care.


Abigail duduk di tepi tempat tidur yang menghadap ke sofa tempat Mikha duduk sambil menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.


"Ini akan melelahkan Kak. Karena banyak sekali orang yang akan keluar masuk gedung." Abigail memberikan pendapat. "Kecuali mereka melakukan proses screening dengan baik untuk tiap kru yang bisa masuk keluar gedung dengan mudah."


Abigail termenung untuk sesaat. "Apakah sebelumnya ada anggota tim yang berkhianat?"


"Ada, menurut laporanmu waktu itu Sang penata rias bernama Rui. Ia terpaksa melakukannya karena memerlukan uang yang besar untuk kesembuhan salah satu anggota keluarganya."


Abigail mengangguk-anggukkan kepala. Ia semakin penasaran dengan jalannya misi yang tidak bisa ia ingat lagi sementara ini. "Kemungkinan seperti itu tidak bisa diabaikan lagi. Bisa saja akan muncul pengkhianat baru." Ujarnya.


Tiba-tiba Abigail beranjak dan duduk di samping Mikha setelah ia terdiam beberapa saat.


"Ada apa?" Mikha menjengit, ia terkejut karena Abigail membuat gerakan berpindah dengan tiba-tiba seperti itu. Apalagi tatapan Sang adik yang melihat langsung ke manik matanya.


"Apakah benar aku dan Darren pernah berciuman?" 


Abigail mengabaikan degupan jantungnya yang semakin cepat. Ia menahan malu saat bertanya tentang hal itu pada Mikha. Bahkan Abigail sudah bisa menebak jika saat ini wajahnya sudah pasti memerah.


"Kakak khawatir jawaban kakak akan membuatmu kehilangan fokus." Jawab Mikha dengan mengulum senyum.


Abigail menutup wajah dengan kedua tangannya. "Dari ekspresi kakak sudah bisa terlihat jelas jawabannya."


Mikha mengusap kepala Abigail dengan penuh sayang. "Adikku sudah besar, tidak terasa."


"Ini memalukan." Sahut Abigail sambil menurunkan tangannya.


Mikha tersenyum tipis. "Apapun yang terjadi, ingatlah selalu. Kontrak kalian belum selesai. Akan ada orang yang datang dan berusaha menyelesaikan itu. Jadi tetaplah fokus."


"Aku tahu. Seperti yang biasa kakak bilang. Akan ada masa-masa dimana kakak tidak bisa menolongku sama sekali." Abigail memegang tangan Mikha yang berada di kepalanya. "Tapi terima kasih, sudah berusaha untuk selalu ada mendampingiku."


Mikha menarik Abigail ke dalam pelukannya. "Itulah gunanya keluarga."


Abigail membalas pelukan Mikha dengan hangat. Bahkan gadis itu memejamkan matanya menikmati kasih sayang yang dicurahkan Mikha. Sepertinya ucapan Darren yang mengatakan dirinya manja ada benarnya.


Setelah Mikha mengurai pelukannya, ia memegang kedua tangan Abigail dan menatap lurus ke dalam mata gadis itu.

__ADS_1


"Kali ini, aku meminta Venus untuk merebut kontrak Draco yang gagal. Namun sebelumnya, akan ada 1 kelompok pemburu amatiran yang berniat mencoba."


Mata Abigail mengerjap beberapa kali mendengar nama Venus keluar dari mulut Mikha.


"Kak Ve…" Abigail tidak dapat menyembunyikan rasa sedih di hatinya.


Venus sudah ia anggap sebagai Kakak sendiri. Kedekatan emosional keduanya melebihi hubungan pelatih dan orang yang dilatih. Wajar jika saat mendengar namanya Abigail merasa sedih dan rindu. Apalagi sudah sangat lama Venus tidak menemuinya. Dan mirisnya saat nanti bertemu lagi mereka akan berada di dua sisi yang berseberangan.


"Mengapa setiap menemui Kakak, dia tidak pernah mau menemuiku juga?"


Mikha terdiam, ia pun tidak tahu apa yang menjadi alasan Venus.


"Untuk hal itu, aku sendiri pun tidak tahu."


Abigail mendesah dengan kasar. Ia ingin tahu alasan Venus, bahkan dulu ia sempat bertanya-tanya di dalam hati, mungkin ia telah berbuat sesuatu yang membuat Venus kecewa hingga tidak ingin menemuinya.


"Yahhh...Lebih baik kita istirahat saja."


Mikha hanya menatap Abigail yang sudah bergerak menuju tempat tidur. Ia tahu, hati Abigail pasti terluka karena Venus menghindarinya. Namun Mikha tidak mungkin merahasiakan rencana ini dari Abigail. Ia takut, Abigail akan terkejut saat bertemu dengan Venus meski nanti Venus hanya bersandiwara.


☘️☘️☘️


Abigail sudah berada di dalam apartemen Darren setelah mengantar Mikha sampai di tempat parkir. Gadis itu membaca sebuah kertas pemberian Trias yang berisi daftar pekerjaannya.


"Andai ingatanku tidak hilang, aku pasti tidak akan bingung untuk memulai pekerjaan." Gumam Abigail sambil memeriksa stok vitamin yang akan diminum Darren.


"Seandainya ingatanmu tidak hilang, mungkin aku sudah mencumbumu saat ini."


Suara Darren membuat Abigail tersentak dan setengah melompat saat berbalik. Ia tidak menyangka jika pemuda itu telah berada disana.


"Anda mengagetkan saya, Tuan." Ujar Abigail dengan telapak tangan berada di dada.


Bibir Darren mengulas senyum kecut. Ia merasa tidak suka dengan cara Abigail berbicara dengannya saat ini. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Maaf sudah mengagetkanmu." Darren segera pergi meninggalkan Abigail seorang diri.


Gadis itu kembali berbalik, ia segera mengambil gelas dan mengisi benda itu dengan air mineral kemudian meminumnya. Nafasnya sedikit terengah karena masih dalam keadaan terkejut.


"Apa katanya tadi? Mencumbu diriku?" Abigail memegang kepala dengan kedua tangannya. "Ya Tuhan, aku tarik kembali ucapanku. Aku bersyukur kehilangan sebagian ingatanku."


Dengan susah payah Abigail mengembalikan fokusnya. Sesaat kemudian gadis itu sudah kembali melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


Ia turun ke lantai dua untuk membawa sebuah botol berisi air mineral dan sebuah botol berisi jus buah. Di depan pintu yang bertuliskan gym, Abigail memasukkan kode yang sudah diberikan Trias dan masuk begitu saja tanpa melihat sekitarnya.


Setelah meletakkan kedua botol di meja yang tidak jauh dari pintu, Abigail segera berkelit ke samping kiri karena merasakan serangan dari arah belakang.


Tanpa melihat siapa yang menyerangnya, Abigail memutar tubuh untuk melakukan perlawanan. Tampak seorang pemuda yang memiliki tinggi sama seperti Darren berusaha melumpuhkannya.


Abigail menangkis gerakan pemuda tersebut yang selalu mengincar perut dan lehernya. Dalam satu kesempatan terlihat posisi pemuda tersebut terbuka. Abigail memanfaatkan celah tersebut untuk membalas dan menepuk dada penyerangnya dengan sangat kuat.


Pemuda itu mundur beberapa langkah. Abigail mengejar, dan dengan gerakan yang sangat cepat, gadis itu berhasil memukul di beberapa titik seperti pangkal lengan, punggung dan juga pinggang.


Perkelahian dengan tangan kosong itu terlihat tidak imbang. Abigail lebih dominan, serangannya lebih banyak yang berhasil mendarat di tubuh pemuda itu.


Kombinasi tangan dan kaki Abigail memaksa pemuda itu menangkis serangan dengan berjalan mundur. Hingga kemudian ujung kaki kanan Abigail terangkat lurus dan berhasil menekan leher si penyerang yang telah tersudut di dinding.


"Siapa yang menyuruhmu? Kenapa menyerangku?" Abigail terlihat sangat mengintimidasi.


Namun belum sempat pemuda itu menjawab, suara Trias dan Darren membuat Abigail terkejut dan menurunkan kakinya.


"Abi! Hentikan."


"Kay!"


Abigail merapikan baju dan rambutnya saat Darren menghampirinya. Sedangkan Trias membantu Kay untuk berdiri dengan baik.


"Dia yang menyerangku lebih dulu." Ucap Abigail saat Darren menatapnya dan Kay secara bergantian.


"Aku tidak pernah melihatnya, jadi aku pikir dia penyusup yang mencoba mencelakai Darren." Ujar Kay membela diri.


"Tapi aku sama sekali tidak mengendap-endap." Sahut Abigail.


"Maaf, aku begitu terkejut hingga langsung menyerang. Seingatku hanya Darren, Trias, Felix dan aku yang bisa masuk ke tempat ini. Jadi wajar kalau aku langsung bertindak." Kay memasang senyum kecut. Ia tidak percaya sudah dikalahkan oleh seorang gadis.


Trias mengusap wajahnya. "Ini salahku. Perkenalkan, gadis ini adalah Abigail, asisten pribadi Darren. Dan ya, Abigail, pemuda yang menyerangmu ini adalah Kay."


Abigail menatap Kay dengan datar. "Halo, dan maaf sudah melukaimu."


Kay menarik nafas dalam-dalam. "Ini memalukan. Aku dikalahkan oleh seorang gadis." Desisnya sambil menunduk untuk sesaat.


"Hai, senang bertemu denganmu." Imbuh Kay lagi saat kepalanya sudah terangkat. Ia bahkan mengacungkan kepalan tangannya sebagai ganti jabat tangan.


Abigail membalas kepalan tangan Kay dan akhirnya pergi tanpa berkata-kata lagi. Di dalam hatinya ia bersyukur, serangan tadi seperti latihan baginya untuk meningkatkan kepekaannya terhadap serangan mendadak.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2