
Mikha yang baru saja akan memasuki kantor utama The Lighthouse terkejut dengan telepon yang masuk dari Trias.
"Halo."
"Miss Mikha, tolong segera kembali ke rumah sakit."
"Ada apa? Apakah ada hubungannya dengan Abigail?"
"I..iya."
"Ada apa dengan Abigail?! Ak…aku akan segera kembali." Ujar Mikha segera berlari kembali menuju mobilnya.
Liam yang berada di dalam kantor dan sudah menunggu Sang Kakak masuk, segera berlari keluar mengejar Mikha.
"Ada apa?!"
"Entahlah. Trias menelepon memintaku untuk secepatnya segera kembali ke rumah sakit."
Liam berfikir sejenak dan menatap mobil yang digunakan Mikha. Kemudian ia mendekati supir Mikha. "Bagaimana keadaan dijalanan?"
"Sebenarnya sedikit macet Tuan."
Liam menarik tangan Mikha untuk mengikutinya. "Ke Helipad sekarang. Kita tidak akan tiba tepat waktu jika menggunakan mobil."
☘️☘️☘️
Mikha membuka pintu ruang perawatan Abigail dengan kasar.
"Ada apa?! Apakah Troy sudah memerik….." Mikha begitu terkejut melihat siapa yang berada di dalam ruang rawat inap Abigail.
"M?" Zico dan Rayn serentak berdiri dan menatap ke pintu.
Mikha terpaku diambang pintu begitu mendengar suara Zico.
"Kakak." Abigail terlihat cemas. Ia terngiang dengan ucapan Kakek Zico sebelumnya. Terlebih lagi Trias benar-benar memanggil keluarganya.
Mikha mengerjap, ia menatap Abigail kemudian menatap Zico dan Rayn.
"Kakak?" Kakek Zico mengernyit.
"Iya, Miss Mikha adalah Kakak dari Abigail." Trias menjelaskan.
"M?" Zico menatap Mikha meminta penjelasan. "Kau punya adik? Tapi Luo bilang kau anak tunggal."
Mikha menelan salivanya dengan kasar. Kemudian menatap Abigail dengan cemas. Ia melangkah dengan berat memasuki ruangan, diikuti Liam.
Setelah menguasai diri, Mikha menundukkan kepala memberi salam pada Zico dan Rayn. "Apa kabar, Tuan Besar dan Tuan Muda?"
Abigail yang masih tidak mengerti semakin bingung. "Kakak mengenal keluarga Darren? Sejak kapan? Apakah karena mereka sering bekerja sama dengan TLH? Kenapa mereka bilang Kakak anak tunggal? Kalau kakak anak tunggal, aku anaknya siapa?"
Pertanyaan Abigail yang bertubi-tubi membuat mereka semua menatap gadis itu. Rayn memijat pelipisnya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.
"Maaf tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu nak." Rayn menatap Abigail sesaat. "Kami sudah saling mengenal sejak M muda dan menjadi asisten pribadi sekaligus kepala keamanan Luo Li." Rayn menjawab sambil tetap menatap Mikha yang terdiam.
__ADS_1
Abigail tertawa pelan. "Asisten pribadi? Untuk apa Kakak menjadi asisten Kakek? Lucu sekali."
Tuan Zico dan Rayn menoleh dengan cepat dan menatap Abigail dengan tajam.
"Kau menyebut apa? Kakek?" Rayn menatap Abigail dalam-dalam.
Dengan polosnya Abigail mengangguk. "Iya, Kakek Luo. Jadi kenapa Kakak harus bekerja jadi asisten Kakek sendiri?"
Mata Zico mulai berkaca-kaca. Ia mendekati Mikha dan mengguncang-guncang bahu wanita itu. Sedangkan Mikha hanya terus menunduk dengan mulut terkunci rapat. Bahkan wanita itu terlihat menahan tangis, begitu pun Liam, matanya berkaca-kaca.
"M! Katakan sesuatu! Jangan diam saja!" Suara Kakek Zico pun meninggi.
"Kakek." Darren mendekati Kakek Zico dan menyentuh pundak pria tua itu.
"M, apakah itu dia?" Sekali lagi Kakek Zico bertanya. Kali ini ia merendahkan suaranya.
Mikha mengangguk pelan, dan setelahnya ia pun menutup mulut dengan tangannya.
Kakek Zico segera berbalik dan menatap Abigail, sedangkan Rayn, tubuhnya mundur selangkah karena terkejut.
"Ai…Ai…" Zico berbalik, berjalan dengan cepat dan menarik Abigail masuk ke dalam pelukannya. "Ai, cucuku. Ai…"
Tangisan Mikha pecah bersamaan dengan suara tangisan Kakek Zico. Liam segera menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Kakak beradik itu menangis sambil berpelukan.
Trias dan Darren saling menatap, keduanya terlihat bingung melihat situasi di dalam ruangan. Apalagi saat Rayn ikut memeluk Abigail dan Zico.
"Ai, Nak." Lirih Rayn. "Maaf Paman tidak mengenalimu sayang."
Abigail diam, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun kepalanya terus saja memikirkan setiap kalimat yang terucap di dalam ruang perawatannya.
Rayn dan Zico mengurai pelukan mereka. Dan dengan tangan yang gemetar, Kakek Zico mengusap kepala Abigail dengan lembut.
"Kakekmu, Luo Li, adalah sahabat karibku. Bahkan sudah seperti saudara."
"Luo Li? Maksudnya Perdana Menteri Luo?" Trias tidak asing dengan nama tersebut. Dan ia bertanya untuk memastikan.
Rayn menoleh menatap Trias dan mengangguk.
"Tolong jelaskan padaku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi." Darren menatap Kakek dan Papanya bergantian.
"Aku pun tidak mengerti. Ada apa ini Kak?" Abigail menatap Mikha dengan wajah bingung.
"Sebaiknya kalian semua duduk." Suara Troy mengagetkan semua orang. Dokter tampan itu sudah berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan menyaksikan drama kecil di dalam ruang perawatan Abigail.
Kakek Zico dan Rayn mendengarkan ucapan Troy. Mereka mengajak Darren dan juga Trias untuk duduk di dekat mereka. Sedangkan Mikha, Liam juga Troy mengambil kursi dan duduk di dekat Abigail.
"Kak." Abigail menatap cemas. Ia menepuk sisi kirinya, meminta Mikha untuk duduk di sampingnya. Mikha pun menuruti permintaan gadis itu.
"M, darimana kita akan mulai menjelaskan?" Rayn mengerutkan keningnya.
"M?" Abigail menatap Sang Kakak. Sepertinya ia tidak asing dengan sebutan itu. "Ahhh!" Abigail merasa seakan ada sengatan kecil di kepalanya.
"Ada apa Ai?" Mikha memegangi pundak Abigail.
__ADS_1
"Entahlah Kak." Abigail memegang kepalanya.
"M, biarkan dokter memeriksa Ai." Pinta Kakek Zico yang sudah berdiri.
"M." Lirih Abigail lagi. Dan kemudian tiba-tiba kepala Abigail dipenuhi suara-suara.
M!
M! Ikut.
M! Ajari Ai.
M? Kenapa kita harus lari?
M, Ai tidak mau sembunyi disini.
M, Ai takut. Papa, Mama, Kakek. Kalian dimana?
"Aaaakkkhhhhh!" Telinga Abigail berdengung. Ditambah lagi dengan sensasi seakan tersengat listrik di bagian kepalanya.
Gadis itu merebahkan diri sambil memegangi kepalanya.
"Ai!"
"Abigail!"
"Biarkan aku memeriksanya!"
Suara kepanikan orang-orang di sekitarnya terdengar di telinga Abigail. Namun ia tidak mampu untuk membuka matanya. Detik berikutnya Abigail kembali tidak sadarkan diri.
☘️☘️☘️
Abigail membuka matanya perlahan. Di depannya terlihat sebuah celah dari sebuah pintu. Abigail berjalan mendekat dan mengintip.
Seketika itu juga Abigail berteriak dan membekap mulutnya sendiri. Pemandangan di dalam ruangan itu terlihat sangat mengerikan. Darah menggenang di lantai. Dan ia bisa melihat dengan jelas Kakek serta Mamanya tergeletak bersimbah darah.
"Papa." Lirih Abigail saat melihat seorang pria duduk dengan tubuh terikat di kursi.
Suara tembakan menggema, membuat Abigail terkejut, hatinya terasa sangat nyeri.
"Papaaaaaaaa!!!!" Abigail menjerit sekuat tenaga. "Aaaaaaaaaaaa Papaaaaaaa!!!!"
Abigail meronta sekuat tenaganya dan sesaat kemudian ia merasa seseorang telah menyuntik pergelangan tangannya. Tak butuh waktu lama, Abigail kembali tidak sadarkan diri.
☘️☘️☘️
Mikha menangis tersedu-sedu saat Abigail yang tengah tak sadarkan diri meronta. Troy dibantu beberapa perawat sampai harus memakaikan pengikat pada tubuh gadis itu agar dia tetap berada di brankarnya. Mata Abigail tetap terpejam namun mulut gadis itu menjerit memanggil Papanya.
Hati Mikha tercabik-cabik, ia bersimpuh di lantai menangis sejadi-jadinya sambil memukul dada. Ia tidak siap melihat keadaan Abigail yang seperti ini, sama dengan kondisi gadis itu 15 tahun yang lalu.
Darren dan Trias terlalu terkejut untuk bisa berkata-kata. Mereka menatap Abigail dengan nanar. Gadis itu kembali tertidur setelah Troy menyuntiknya dengan obat penenang.
"Abi." Gumam Darren pelan. Ia merasakan nyeri di dalam hatinya saat melihat kondisi gadis itu. "Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Abigail? Ada apa dengan Abi?"
__ADS_1
...****************...