ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 53. Padang Bunga


__ADS_3

Abigail menatap hamparan bunga di depannya dengan pandangan kosong. Atas seizin Troy dan Mikha, Darren membawa gadis itu ke padang bunga liar tidak jauh dari Rumah Sakit.


"Bi." Suara Darren terdengar mendayu memanjakan telinga Abigail. Saat tangan Darren menyentuh pundak Abigail, gadis itu tersadar kemudian menoleh menatapnya.


Abigail merasakan kehangatan menjalar dari pundaknya yang disentuh Darren menuju ke seluruh tubuh. Tatapan teduh pemuda itu pun menggetarkan hatinya. Tanpa sadar Abigail tersenyum, bahkan tangannya terulur menyentuh pipi Darren.


Beberapa hari ini ia mendapatkan curahan kasih sayang yang begitu besar dari Kakek dan Papa Darren. Belum lagi kedatangan Bibi Lan dari desa, membuat hari Abigail terasa hangat.


Meski kini ia tahu kalau Bibi Lan bukan keluarga sedarah dengannya, namun Abigail tidak mempermasalahkan itu. Baginya, Mikha dan keluarganya di desa tetaplah keluarganya. Tidak ada yang berubah meski ingatannya sudah kembali.


Dan karena kehangatan keluarga itulah Abigail mengambil keputusan. Untuk bisa terus melihat senyum bahagia dan merasakan kasih sayang keluarga, ia harus menghadapi penyebab kehancuran masa kecilnya.


"Apa yang kau pikirkan, hmm?" Darren memegang tangan Abigail yang berada di pipinya dan mengecup dengan lembut.


"Aku ingin mengakhiri ini semua." Jawab Abigail dengan tenang.


Kening Darren berkerut. "Apa maksudnya sayang? Jangan membuatku was-was."


Abigail tertawa kecil melihat ekspresi Darren. Namun itu hanya sebentar karena detik berikutnya wajah Abigail terlihat datar tanpa ekspresi.


"Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?" Abigail melayangkan pertanyaan itu dengan tatapan mata yang tajam dan dalam. Ia menatap manik mata Darren dengan lekat.


Darren membalas tatapan Abigail, ia sadar gadisnya sedang sangat serius. "Ya. Jawab pemuda itu tanpa ragu.


"Apa rencanamu untuk hubungan ini?" Abigail tidak mengalihkan tatapannya walau hanya sekejap.


"Aku akan mempersuntingmu, kita akan menikah, menua bersama, dan terus saling mencintai sampai maut memisahkan."


Abigail tersenyum penuh arti. "Sayangnya itu tidak akan terwujud jika aku belum menyelesaikan masa laluku." Abigail melepas tangannya dari pipi Darren dan kembali menatap ke depan.


Darren segera berjalan ke depan dan bersimpuh di kaki Abigail yang duduk di kursi rodanya.


"Tidak bisakah kau melepaskan orang itu?"


Abigail menggeleng pelan dan tersenyum sedih. "Aku tidak ingin hidup dalam lembaran baru dengan luka lama yang terus hadir bahkan mengejar. Kalau dia tahu aku sudah ingat bahkan aku mengetahui tentang peristiwa itu, pasti dia akan memburuku untuk menuntaskan rencananya."


Gadis itu menghirup nafas sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan kasar. "Aku tahu inner child-ku sangat terluka. Bahkan terkadang mempengaruhiku diriku yang dewasa ini. Namun aku tidak ingin hidup dalam kesakitan. Kali ini aku akan melawan, aku tidak ingin dihipnotis lagi agar lupa dengan rasa sakitnya."


Darren mengerti dengan maksud gadis itu. Ia menggenggam kedua tangan Abigail dan mengecupnya bergantian.


"Aku akan mendukung apapun yang menjadi rencanamu." Darren ingin Abigail sadar, ia siap menanggung setiap beban bahkan rasa sakit itu bersama.


"Terima kasih." Abigail tersenyum dengan tulus.


Darren mendekatkan wajah dan mengecup bibir Abigail dengan lembut. Setelah wajah Darren menjauh, Abigail merentangkan kedua tangannya, meminta pemuda itu untuk memeluknya. Dengan senang hati dan bibir yang tersenyum lebar Darren menurutinya. Satu hal yang baru ia tahu, Abigail bisa menjadi sangat manja.


Dan itu membuat kepercayaan diri Darren yang sempat turun karena melihat gadis itu bertarung, menjadi naik. Meski memiliki tenaga yang besar, namun Abigail tetaplah seorang gadis yang memiliki sisi feminim serta manja. Itulah yang membuat Darren semakin menyayangi gadis itu. Darren merasa sangat dibutuhkan Abigail.

__ADS_1


"Ayo, kita pulang. Aku tidak ingin diserang Liam." Ujar Darren sambil berdiri dan menuju ke belakang Abigail untuk mendorong kursi roda gadis itu.


Abigail terkekeh mendengar nama Liam disebut. Pemuda itu masih saja menatap Darren dengan aura permusuhan.


"Kak Liam tidak bisa merelakanku jadi kekasihmu."


"Dia melebihi seorang ayah yang menjadi cinta pertama putrinya." Ujar Darren sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Berhenti." Tiba-tiba Abigail mengangkat tangannya.


Darren segera berhenti dan menunduk untuk melihat wajah Abigail dari samping. "Ada apa Bi?"


Terlihat Abigail menggigit bibirnya untuk sesaat dan menunduk.


"Emmmm." Ia terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menoleh menatap Darren. "Gendong." Ucapnya dengan manja.


Darren mengangkat kedua alisnya dan menahan tawa. "Dengan senang hati." Darren mengecup kepala Abigail. Kemudian beralih ke depan dan berjongkok membelakangi gadis itu.


Dengan senyuman yang mengembang sempurna, Abigail turun perlahan dan naik ke punggung Darren.


"Sudah siap?" Darren bertanya dengan penuh semangat.


"Tentu."


Jawaban Abigail membuat Darren berdiri dengan tiba-tiba.


"Aaahhh!" Abigail terpekik karena terkejut saat tanpa aba-aba Darren langsung berdiri. Namun kemudian ia tertawa, apalagi saat beberapa kali Darren menaikkan tubuhnya dengan cara sedikit melompat.


Abigail tertawa renyah. "Siapa suruh membuatku hampir terjungkal ke belakang." Abigail melepaskan tangannya dari leher Darren dan meletakkan dagunya di bahu Darren.


Dua orang pengawal yang melihat keduanya meninggalkan kursi roda segera berlari mengambil benda itu.


"Aku mencintaimu." Ucap Abigail lirih saat mereka hampir mencapai mobil.


Darren berdebar, dan Abigail bisa merasakan itu.


"Kau berdebar ya." Ujarnya dengan nada yang seolah-olah mengejek.


"Ti..tidak." Darren semakin gugup. "Itu debaran karena aku terengah akibat sedang menggendongmu."


"Tidak, kau berdebar karena bisikanku tadi." Abigail terus menggoda Darren. Bahkan jari telunjuknya menusuk-nusuk pipi kanan Darren.


"Tidak benar."


"Iya, aku tidak salah." Abigail bersikukuh.


Darren tertawa kecil menyadari tidak akan menang dari Abigail. Begitu membuka pintu, Darren segera menurunkan Abigail di kursi penumpang samping kemudi. Kemudian memasangkan seatbelt pada tubuh gadis itu.

__ADS_1


Meski dikawal, mereka tetap ingin menggunakan mobil sendiri, karena Darren ingin menghabiskan waktu berdua dengan Abigail.


☘️☘️☘️


Abigail terlihat sedang bahagia. Sedari tadi senyumnya tidak luntur. Keluar berdua dengan Darren adalah ide yang sangat tepat. Beberapa perawat yang memeriksanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ekspresi gadis itu.


"Bagaimana kondisinya?", Dokter Troy masuk dan meminta catatan hasil pemeriksaan Abigail.


"Semuanya baik. Hanya saja Nona Abigail tidak berhenti senyum." Jawab perawat itu dengan senyum tertahan.


"Namanya juga sedang jatuh cinta." Ujar Troy menanggapi.


Abigail yang mendengar ucapan Troy hanya bisa menahan malu. Ia pun tidak bisa mengontrol bibirnya untuk tidak tersenyum. Saat ini hatinya terlalu bahagia.


"Permisi." Suara seorang gadis diambang pintu membuat semuanya menoleh.


"Oh, kau Runa." Dokter Troy melambai meminta Runa untuk masuk. "Ingin menemani sahabatmu kan."


Runa mengangguk sambil tersenyum. "Iya Dokter."


"Kalau begitu kami permisi." Troy mengangguk pada Abigail dan Runa kemudian meninggalkan ruangan diikuti perawat-perawat tadi.


Setelah semua keluar, Runa buru-buru menutup pintu dan berlari kecil menuju Abigail. Ia memeluk sahabatnya sebentar kemudian duduk di kursi yang berada di dekat brankar.


"Maaf baru bisa datang."


Abigail tersenyum. "Tidak apa-apa. Pasti tugasmu sangat banyak."


"Tidak juga sih, hanya beberapa alat berukuran mini yang diminta Kak Mikha."


Abigail mengernyit. "Alat baru?"


"Iya, Kakak bilang kamu akan membutuhkannya. Ada misi baru? Padahal kan kamu belum sembuh." Runa memindai tubuh Abigail.


"Aku sudah semakin baik." Abigail tertawa dan menutup mata Runa dengan jarinya, keduanya lantas tertawa.


Runa membuka kue yang ia buat untuk dinikmati bersama. "Aku senang kondisimu sudah lebih baik. Jadi tidak sia-sia aku membuat kue coklat ini."


Abigail melihat kotak makanan yang dibuka Runa dengan antusias. Namun suara ketukan di pintu membuat keduanya mengalihkan perhatian.


"Masuk!" Seru Abigail mempersilahkan.


Begitu pintu dibuka, Runa segera berdiri setelah melihat siapa yang berdiri diambang pintu.


"Kak." Runa terkejut.


"Sayang?"

__ADS_1


"Sayang?" Abigail menatap Trias dan Runa bergantian.


...****************...


__ADS_2