ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 63. Hanya Dia Satu-Satunya


__ADS_3

Abigail dan Darren berjalan beriringan keluar dari ruang kerja pemuda itu. Abigail sama sekali tidak ingin berpegangan tangan, ia tak mau menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.


Mendekati lift, keduanya berhenti karena melihat Kakek Zico dan Papa Rayn keluar bersama seorang wanita cantik dan pria paruh baya.


"Raline." Gumam Abigail dan Darren bersamaan. Keduanya sama-sama terkejut dan saling pandang, kemudian kembali menatap rombongan yang baru keluar lift.


"Sudah mau pulang?" Tanya Rayn pada Abigail.


"Iya Papa." Jawab Abigail. Meski belum resmi menikah, tapi Rayn sudah meminta bahkan memaksa calon menantunya itu untuk memanggilnya dengan sebutan Papa.


Raline terlihat tidak senang dengan kehadiran Abigail. Apalagi saat mendengar cara Abigail menjawab.


"Cihh!!! Belum resmi menikah sudah panggil Papa. Terlalu percaya diri." Gumam Raline namun masih terdengar oleh yang lain.


Kakek Zico menatap Raline sejenak kemudian tersenyum penuh arti, sedangkan yang lainnya mencoba tidak peduli.


"Abigail, Darren, perkenalkan. Ini adalah Tuan Lukas dan Putrinya, Raline." Kakek Zico memperkenalkan tamunya.


Abigail dan Darren mendekat dan menjabat tangan Tuan Lukas. Saat tiba pada Raline, Abigail tidak tersenyum, namun juga tidak terlihat memusuhi.


"Apa kabar Raline?" Sapa Abigail tanpa embel-embel seperti yang selama ini ia lakukan. Mendengar itu Raline menatapnya dengan tajam. Namun karena kemudian Darren mendekat, ia segera tersenyum lembut.


"Luar bisa, seperti yang kamu lihat." Raline menghentak tangan Abigail dengan kasar dan segera menjabat tangan Darren.


"Senang bertemu lagi dengan anda. Saya tidak menyangka kita bisa kembali bertemu." Ucap Raline sembari memegang tangan Darren yang membalas jabatan tangannya menggunakan tangan kiri bahkan sedikit mengusap tangan kekasih Abigail itu.


Darren menarik tangannya dengan paksa hingga tubuh Raline agak condong ke depan. Menunjukkan bahwa wanita itu tidak ingin tangan Darren lepas. Wajah Tuan Lukas memerah melihat perilaku putrinya.


"Putri anda sangat agresif, Tuan Lukas." Ujar Rayn disertai senyuman penuh arti. "Saya permisi." Imbuhnya sambil menganggukkan kepala.


Tubuh Raline menegang, ia sadar sudah membuat kesalahan. Dan dengan cepat ia kembali menatap Abigail dengan tajam.


"Ai, Nak. Ayo sayang, Papa akan mengantarmu pulang." Rayn mengulurkan tangannya pada Abigail dan segera disambut oleh gadis itu.


"Kakek." Abigail mengangguk sedikit pada Zico.


Pria tua itu tersenyum dan memberi kode melalui mata pada Darren agar segera mengikuti Rayn dan Abigail.


Abigail yang mendengar langkah Darren mendekat menghembuskan nafas lega tanpa ia sadari. Entah kenapa melihat Raline membuat Abigail merasa was was dalam hatinya. Mungkinkah ia menjadi waspada mengingat dulu terang-terangan Raline ingin mendekati Darren.


Abigail menggeleng pelan saat ia sudah berada di dalam lift.


"Tenang saja, Papa cuma mau kamu yang menjadi menantu Papa." Rayn menggenggam tangan kanan Abigail dengan hangat.


Pria itu begitu menyayangi Abigail. Sebagai sahabat, Rayn tahu bagaimana perjuangan kedua orang tua Abigail untuk bisa mendapatkan buah hati. Dan setelah mendapatkan Abigail, takdir berkata lain. Mereka ternyata hanya mempunyai waktu yang singkat bersama putri mereka.


Abigail terkejut dan merasa malu, sebab kecemasannya begitu nampak.

__ADS_1


"Dan aku hanya menginginkanmu menjadi istriku." Imbuh Darren sambil merangkul pundak kanan Abigail dan dengan sengaja menyenggol bahu Papanya yang berdiri di sebelah kanan Abigail.


Rayn melebarkan mata dan menatap putranya dengan sinis. Begitupun sebaliknya Darren, ia menatap Papanya penuh persaingan. Keduanya bersaing ingin menghibur Abigail.


"Abigail kekasihku!" Klaim Darren tidak ingin digugat.


"Dan dia menantuku!" Rayn tidak mau kalah.


Abigail menatap keduanya secara bergantian dan tersenyum geli.


"Aku cucu Kakek Zico." Ujarnya sambil mengulum senyum. Dan perkataan Abigail membuat ketiganya tertawa renyah.


Selepas kepergian Anak dan cucunya, Kakek Zico menyentuh pundak Tuan Lukas.


"Mari Tuan Lukas, kita bicara di dalam ruangan saya." Kakek Zico tidak mengindahkan keberadaan Raline disana.


Sejak awal, Raline sudah memberi kesan tidak menyenangkan di hatinya. Oleh sebab itu, Zico membuat batasan tegas antara bisnis dengan kepentingan pribadi.


Raline melangkah mengikuti kemana Papanya pergi. Sebab ia tidak memiliki tujuan lain setelah Darren pergi.


☘️☘️☘️


Abigail dan Mikha sibuk memilih model gaun pengantin yang dipajang di sebuah butik ternama. Bahkan Morgan serta Liam yang mengawal pun ikut melihat-lihat. Keduanya menjadi sumber keributan di butik tersebut. Pasalnya, seluruh pegawai butik adalah kaum hawa. Ketampanan Liam dan Morgan menjadi sumber keributan dan segera saja membuat para pegawai berdengung seperti lebah.


"Aku yakin Morgan memilih gaun untuk Kak Venus." Suara Abigail membuat kedua pemuda itu berbalik. "Tapi Kak Liam, untuk apa melihat-lihat. Pacar saja tidak punya."


"Wah, ternyata belum ada pasangan."


"Aduh, sayang ya. Ganteng-ganteng tapi jomblo."


"Sama aku saja."


"Wajahnya tampan, kok belum laku. Jangan-jangan….."


Selentingan-selentingan yang terdengar jelas itu membuat wajah Liam semakin ditekuk. Ia seperti hendak menelan Abigail utuh-utuh. 


"Cepat pilih gaunmu." Titah Liam sambil menahan geram.


Abigail tidak peduli, ia hanya menangkat kedua bahunya dan berbalik pergi.


"Anak ituuuu!" Geram Liam.


Morgan menepuk-nepuk punggung Liam untuk menenangkan pemuda itu. "Sabarlah, tidak lama lagi Darren yang akan menjadi sasaran keisengannya. Masa-masa kebebasanmu hampir tiba."


Liam mengangguk-anggukkan kepala. Ia kemudian menarik dan menghembuskan nafas untuk meredakan kekesalannya.


Sementara itu, jauh di dalam butik, di antara gaun-gaun indah. Abigail akhirnya menemukan gaun yang menarik hatinya. Ball gown berpotongan sederhana dengan lengan yang panjang serta penuh taburan kristal terbaik, tampak begitu memikat.

__ADS_1


"Ingin mencoba yang itu?" Tanya Mikha pada Abigail.


Abigail mengerjap beberapa kali, berusaha menarik kesadarannya untuk kembali karena terpukau dengan keindahan karya desainer sekaligus pemilik butik.


"Bolehkah?" Abigail menatap Miss Lucy, Sang desainer.


"Tentu saja." Jawab Miss Lucy dengan ramah.


Wanita itu memanggil tiga orang pegawainya untuk membantu Abigail. "Jangan lupa untuk sedikit menata rambutnya." Pesannya pada salah seorang pegawai.


☘️☘️☘️


Tiga puluh menit kemudian, tirai kembali dibuka. Mikha yang sedang duduk berbincang dengan Lucy beranjak dengan mata yang membulat sempurna. Bahkan terdengar beberapa pegawai yang ada di sekitar mereka menahan nafas. Morgan dan Liam pun terpana.


Abigail tersenyum dan tersipu malu dengan semua tatap penuh kagum yang ditujukan kepadanya. Pipinya bahkan sudah terlihat merona.


"Ba..bagaimana?" Tanyanya dengan suara yang terbata dan wajah yang menunduk melihat ke gaun yang ia kenakan.


"Sempurna."


Mendengar suara itu kepala Abigail terangkat dengan cepat, begitu pun dengan semua yang sedang menatap kagum kepadanya.


Di belakang Liam dan Morgan, Darren sedang berdiri dengan mata yang terpaku pada Abigail. Pemuda itu tidak sungkan-sungkan menatap Abigail dengan penuh puja.


Pandangan keduanya saling mengunci sesaat, sebelum akhirnya Abigail memilih untuk menunduk. Dadanya berdebar hebat melihat cara Darren menatapnya.


"Aku berharap adikku akan menjadi satu-satunya gadis yang kau tatap seperti itu." Ucap Liam penuh intimidasi.


Dengan tenang dan penuh keyakinan Darren menatap langsung manik mata calon Kakak Ipar yang Protektif itu.


"Tentu saja." Jawab Darren dengan tegas. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, menatap pada Abigail dengan penuh cinta.


"Hanya dia satu-satunya."


Abigail melambung mendengar ucapan Darren.


"Kecuali….." Darren sengaja menjeda ucapannya.


Senyuman Abigail meredup dengan cepat, ia bahkan menatap Darren dengan cemas.


"Kecuali apa?!" Liam mulai terpancing.


"Kecuali kalau kami dikaruniai seorang putri." Lanjut Darren sebelum seseorang menghajarnya akibat salah paham.


Abigail segera berbalik dan meminta tirai untuk ditutup. Jantungnya bisa meledak kapan saja dalam situasi ini.


Mikha yang sedari tadi tidak bersuara tersenyum haru melihat kebahagiaan di wajah Adiknya itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2