
Abigail masih duduk di pinggiran bathtub sambil memandangi cincin di tangan kanannya. Wajahnya terus menyunggingkan senyum. Kini ia sudah resmi menyandang gelar sebagai Nyonya Darren.
Sekali lagi ia menarik nafas panjang, merapikan bathrobe-nya yang panjang kemudian keluar dari kamar mandi. Abigail menatap ke sekeliling kamar hotel itu, tidak terlihat sosok Sang suami di penjuru president suite yang mereka tempati.
Abigail menarik nafas lega. Ia segera mengambil tas perawatan tubuh dan mulai memakai pelembab. Seperti kebiasaannya, ia sangat suka memakai pelembab sebelum tidur. Selain membuat kulit terawat, aroma yang menenangkan membuat tidurnya jadi lebih nyenyak. Abigail kemudian mengganti bathrobe dengan gaun tidur berbahan satin yang dilengkapi dengan jubah.
Saat keluar dari kamar mandi setelah berganti baju, Abigail tertegun melihat Darren yang sudah duduk di tepi ranjang dengan mata yang menatapnya dengan lekat. Keduanya saling berpandangan beberapa saat sampai akhirnya Darren berdiri dan mendekat dengan perlahan.
Abigail gugup, tidak mungkin ia kembali ke kamar mandi. Akhirnya ia berjalan menyamping bagai kepiting.
"Takut?" Suara Darren terdengar begitu dalam.
Abigail menggeleng sebagai jawabannya.
"Lalu? Kenapa menghindar?"
Abigail mengerjap, ia tak menemukan kalimat apapun di kepalanya. Saat berpikir itu ia berhenti melangkah. Dan Darren memanfaatkan keadaan untuk menangkap lengan Abigail.
Dada Abigail bergemuruh hebat saat Darren mencengkram lengannya dengan penuh perasaan.
"Sayang, ada apa?" Darren tahu Abigail yang sedang tegang. Oleh sebab itu ia berniat untuk semakin menggoda istrinya.
Darren menundukkan wajah dan menempatkan bibir di dekat telinga Abigail.
"Sayang, kau terlihat sangat segar dan lezat." Darren berbisik seduktif dan meniup telinga Abigail.
Abigail menjauhkan wajahnya dan memejamkan mata rapat-rapat. Ada rasa menggelitik yang menerjang seluruh tubuhnya.
"Darren." Abigail tanpa sadar mendesis menyebut nama suaminya.
"Ya sayang." Darren mengendus leher jenjang Abigail. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh ratu di hatinya.
"Geli." Abigail mendorong dada bidang Darren. Wajahnya sudah memerah dengan sempurna.
Darren tertawa kecil. "Nanti akan lebih geli lagi. Tunggu aku ya." Darren mengerling dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Abigail menarik nafas lega. Ia meletakkan tangannya di dada untuk meredakan jantungnya yang berdentum. Namun bukannya tenang, ia merasa jantungnya semakin berdetak kencang.
Abigail tidak tenang. Ia ingin pergi ke kamar Mikha, tapi apa yang akan dia katakan? Masa ia harus bilang takut diterkam Darren. Ingin ke kamar Runa, sama saja. Pasti Runa akan mengadu pada Kak Mikha dan mereka akan menyeretnya kembali ke kamar pengantin.
Karena tidak tahu harus bagaimana, Abigail akhirnya menggeser pintu kaca dan keluar. Kedua tangannya berpegangan pada besi pembatas balkon. Abigail tersenyum, angin malam yang dingin membuat dirinya merasa sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Pikiran Abigail berkelana dan kembali mengingat momen pentingnya saat mengikat janji suci bersama Darren. Ia menggigit bibirnya sambil tersenyum, dadanya menghangat. Dan saat jarinya menyentuh cincin yang melingkar di tangan sebelah kanan, sebuah kesadaran baru menghampiri Abigail.
Rupanya ketenangan Abigail tidak berlangsung lama. Karena beberapa menit kemudian tangan kekar Darren melingkar di pinggang rampingnya dari arah belakang. Bahkan Darren mulai mengecup kepala Abigail bertubi-tubi.
"Hubby." Lirihnya. Ya, Abigail memutuskan untuk mengganti panggilannya terhadap Darren.
Darren segera berhenti. Ia menjulurkan kepalanya dari sebelah kanan agar bisa menatap wajah Sang istri. Tangan kanannya bahkan menekan pipi kiri Abigail agar menatap ke arahnya.
"Kau memanggilku apa?" Meski sudah mendengarnya, namun Darren masih tidak percaya. Wajahnya semakin berbinar-binar.
"Kau sudah mendengarnya tadi." Jawab Abigail sambil menipiskan bibir.
"Tapi aku ingin mendengarnya lagi. Aku mohon."
Abigail tersenyum malu-malu. "Hubby."
Darren tersenyum bahagia, ia memajukan wajahnya dan menghadiahi Abigail dengan kecupan-kecupan di seluruh wajah istrinya. Abigail tertawa dan berusaha menjauhkan wajahnya.
Darren menghentikan serangannya. Ia menatap Abigail dalam-dalam.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, hubby." Balas Abigail tanpa mempedulikan perasaan malu yang mendera.
Darren mendekatkan wajahnya dan langsung ******* bibir Abigail. Ia bahkan memperbaiki posisi Abigail agar ia lebih leluasa mencumbu Sang Istri. Abigail terbawa suasana, ia pun meletakkan kedua tangannya di leher Darren.
Dengan terpaksa, Darren menghentikan aktivitas mereka. Bukan karena benar-benar berhenti, tapi karena ia ingin berpindah tempat. Setelah tautan bibir mereka benar-benar terlepas, ia segera membopong Abigail masuk kembali ke dalam kamar dan membaringkan istrinya di tempat tidur.
Tanpa menunggu lama, Darren melanjutkan cumbuannya. Bahkan tangannya sudah menjelajah ke seluruh tubuh Abigail yang bisa dijangkau dengan tangannya yang besar. Abigail hanya bisa pasrah, toh mereka berdua sudah sah. Dan yang dilakukan Darren adalah haknya.
Tubuh Abigail menggeliat tak menentu, bahkan tanpa sadar ia mengeluarkan suara-suara yang membuat Darren semakin bersemangat.
Hingga akhirnya Abigail merasakan sakit yang luar biasa, yang membuat tubuhnya seakan terbelah menjadi dua bagian.
"Hub..hubby, sa..kit." Rintihnya dengan air mata yang berlinang.
Darren yang sudah sepenuhnya masuk tak bergerak. Ia mengusap rambut istrinya, mencium kening Abigail dengan penuh perasaan, turun ke hidung, lalu ke bibir.
Awalnya hanya kecupan lembut, berubah menjadi luma tan dan pagu tan yang penuh ga i rah. Darren dengan lihai menggoda lidah Abigail. Mencecap setiap inci mulut Sang istri. Hingga Abigail mulai terbiasa dan tidak lagi menangis.
Darren mulai berpacu, dari lambat menjadi semakin cepat. Tak peduli dengan rengekan, rintihan dan desa han Abigail. Hal itu tidak membuatnya berhenti, tapi malah membuatnya semakin bersemangat untuk membawa mereka sampai ke puncak.
__ADS_1
Saat ia merasa akan meledak, Darren menempelkan dahinya dengan dahi Abigail.
"Aku mencintaimu istriku." Ujarnya di sela-sela nafas yang memburu.
Abigail menggigit bibirnya, ia berusaha menahan suara-suara aneh yang keluar.
"Mmmppphh, ak..aku juga men…mencintaimu." Tangan Abigail mencengkram punggung Darren dengan kuat, tubuhnya menegang. "Hubby!" Pekik Abigail.
"Ya...Ya sayang!"
Darren menggeram panjang dan akhirnya ambruk di atas tubuh Abigail.
☘️☘️☘️
Keesokan paginya, wajah tampan Darren adalah hal pertama yang Abigail lihat. Rasa sakit, lelah dan pegal yang merata di sekujur tubuhnya terobati oleh pemandangan indah itu. Ia tersenyum sambil terus memandangi suaminya yang masih mengarungi mimpi.
Abigail tiba-tiba teringat bagaimana mereka berdua bertemu. Salah satu senar gitar Darren sampai putus karena Darren terlalu kaget melihat wajah dan penampilan Abigail.
Abigail pun kadang merasa ngeri sendiri jika mengingat bagaimana aneh dirinya saat menjadi asisten Darren.
Asisten Culun, Abigail tertawa dalam hatinya. Dari asisten menjadi istri.
Tiba-tiba Darren menggeliat, Abigail segera memejamkan mata berpura-pura tidur.
"Tadi senyum-senyum terus, sekarang pura-pura tidur."
Suara Darren membuat Abigail segera membuka matanya. Wajahnya mulai memerah karena ketahuan mengamati wajah Darren.
"Ternyata kamu sudah bangun." Abigail tersenyum kecut.
"Sudah dari tadi." Jawab Darren disertai tatapan nakal.
Darren berbaring menyamping dan menyangga kepala dengan tangan kanannya. "Dari asisten menjadi istri ya." Darren menaik turunkan alisnya menggoda Abigail.
Sontak wajah Abigail sepenuhnya memerah. Ternyata tadi tanpa sadar Abigail menyuarakan apa yang ada di pikirannya.
Abigail segera menarik selimut dan menutupi wajahnya.
Malunya….
...****************...
__ADS_1