ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 49. Kecelakaan


__ADS_3

"Aku perhatikan sejak tadi kamu diam saja." Trias menegur Abigail yang tampak melamun saat mereka berdua sedang berdiri di salah satu sisi mobil dan menunggu Darren yang sedang berpamitan. Keduanya sengaja lebih dulu ke mobil memberi privasi pada pemuda itu untuk berpamitan dengan keluarganya.


"Apa yang mengusik pikiranmu?"


Abigail menghela nafas dan menatap Trias. "Kak Mikha bilang, kalian menutupi masalah pembunuhan yang dilihat Darren dari keluarganya. Apakah itu benar?"


"Hmm, ya itu benar." Trias mengangguk yakin.


"Rasanya sangat tidak enak saat menjalankan tugas dan kau lupa sebagian peristiwa dari tugas itu." Keluh Abigail lagi.


Trias tertawa dan menepuk bahu Abigail dengan pelan. "Jangan menggerutu, suatu saat pasti kamu akan ingat lagi."


"Aku tahu, tapi tetap saja sangat merepotkan. Aku harus bertanya tentang semua hal." Wajah Abigail bahkan terlihat sangat kecewa. Ya, gadis itu memang sedang kecewa dengan keadaannya sendiri.


"Jadi, apa tujuanmu kamu bertanya perihal keluarga Darren tadi?"


"Oh, itu." Abigail kembali ingat pertanyaannya. "Seingatku kami sering bekerja sama dengan Zico Petroleum. Bahkan Kak Venus pernah dikontrak selama satu tahun penuh oleh mereka."


"Benarkah itu?" Trias mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sayangnya aku hanya sebatas manager Darren, jadi tidak tahu menahu tentang kerja sama perusahaan." Imbuhnya lagi dan diakhiri dengan senyuman.


"Begitu rupanya." Gumam Abigail. "Aku hanya berpikir, mustahil Tuan Zico tidak mengetahui apapun tentang teror itu."


Kini Trias terdiam, ia jadi teringat beberapa kali menerima email dari Tuan Zico yang isinya menanyakan keadaan mereka. Selama Darren memutuskan terjun ke dunia entertainment, baru kali itu Tuan Zico sering menghubunginya untuk menanyakan kabar Darren.


Tidak lama kemudian tampak Darren sedang berjalan ke arah mereka. Abigail membukakan pintu untuk pemuda itu. Setelah Darren masuk, Abigail dan Trias kompak menundukkan kepala memberi hormat pada keluarga Zico yang masih berdiri di depan pintu utama mansion.


Saat mengangkat kepala, tatapan Abigail bertemu dengan Nyonya Sarah. Wanita itu terlihat menyeringai. Dan hal itu membuat Abigail dengan sengaja membalas tatapan Sang Nyonya rumah dengan tajam.


Ketika Trias menyentuh sikunya, barulah Abigail berbalik dan masuk ke dalam mobil.


Menyadari tatapan Abigail, Tuan Zico segera berbalik dan menatap menantunya.


"Dia terlihat seperti gadis penggoda apalagi setelah tahu identitas asli Darren. Pasti dia akan membuat sampai Darren menikahinya." Sarah segera membela diri begitu melihat tatapan intimidasi mertuanya.

__ADS_1


"Seperti dirimu dulu?" Tuan Zico menatap dingin pada menantunya dan segera masuk ke dalam.


Ucapan Zico membuat wajah Sarah menjadi pias. Ia menatap Rayn mencoba mencari pembelaan, namun pria itu hanya menghela nafas dengan kasar kemudian mengikuti jejak Sang Ayah.


"Ayah." Rayn menyusul Zico sampai ke dalam ruang kerja dan segera mengunci pintu. "Jangan perlakukan Sarah……"


"Selama beberapa tahun ini ia adalah wanita simpanan si bajingan Robert, dan aku yakin masih sampai saat ini." Zico memotong ucapan anaknya kemudian mengambil amplop coklat dari dalam brankasnya dan menyerahkan itu pada Rayn.


Tangan pria itu bergetar, ia berjalan dengan gontai menuju kursi di depan meja kerja Sang Ayah dan menjatuhkan diri disana. Dengan perlahan Rayn membuka amplop dan mengeluarkan banyak sekali foto dari dalamnya.


Dadanya bergejolak melihat foto demi foto yang menunjukkan kemesraan istrinya bersama seorang pria.


"Kenapa baru sekarang Ayah menunjukkan ini?" Suara Rayn terdengar sangat terluka. Meski hatinya sakit, namun ia tetap membuka lembar demi lembar foto yang diberikan Zico.


"Karena Darren akan bergabung dengan perusahaan. Jadi langkah apapun yang kau ambil tidak akan mengguncang perusahaan yang menyebabkan cucuku sulit untuk makan. Selain itu anggap rahasia ini adalah hukumanmu karena memaksa untuk menikahi wanita itu."


"Ayah…." Suara Rayn tercekat, kerongkongannya terasa sangat sakit. Ia menatap Sang Ayah dengan tatapan tidak percaya.


"Apakah kau tidak ingat bagaimana dulu kau mengancamku dan ibumu demi wanita itu? Kau anak kami satu-satunya, tapi kau….." Zico duduk di kursi kerjanya. Ia mendongak dan menutup mata mengenang mendiang istrinya.


Rayn menutup wajah dengan kedua tangannya. Saat ini hatinya benar-benar hancur.


"Sarah mendatangi kami dan mengatakan bahwa dia pasti menang. Dengan begitu pongahnya ia berkata bahwa kami tidak akan bisa menghalangi pernikahan kalian, kami akan kalah."


Rayn berusaha mengendalikan emosinya. Cukup lama tidak ada satupun suara yang terdengar di dalam ruangan itu. 


"Ayah membiarkanku menjalani pernikahan seperti ini?"


Tuan Zico menarik nafas dalam-dalam. "Ayah pikir, jika kau tahu pasti kau akan segera menceraikannya."


"Ya itu benar." Rayn menjawab dengan yakin.


"Dan hal itu akan berimbas pada kedudukanmu di perusahaan. Para pemegang saham tidak akan percaya lagi kepadamu. Usia Ayah sudah terlalu tua untuk mengurus perusahaan. Jika perusahaan goyang, bagaimana dengan kehidupan Darren, cucuku. Bagaimana dengan badan amal yang kita kelola? Oleh sebab itu Ayah menunggu hingga Darren mau bergabung dan memberitahu kebenaran ini padamu."

__ADS_1


Penjelasan Ayah Zico membuat Rayn kembali memijat pelipisnya. Ia memerlukan waktu untuk mencerna semuanya.


"Ayah, aku permisi." Rayn berdiri dengan wajah terluka.


"Maafkan Ayah, Nak." Suara Zico terdengar bergetar. Wajahnya pun terlihat sangat sedih dan kecewa.


Rayn menggeleng. "Aku yang salah, aku adalah awal semua masalah ini." Ia tersenyum getir dan keluar dari ruang kerja Sang Ayah.


☘️☘️☘️


Mobil yang dikemudikan Trias terpaksa berhenti karena ada truk yang menghalangi sebagian besar badan jalan. Tampak dua orang pria tengah berusaha memperbaiki ban mobil.


Melihat mobil yang dikemudikan Trias menepi. Seorang pria berlari mendekati mereka dan mengetuk jendela di samping pengemudi.


"Maafkan kami Tuan, tapi ban mobil kami tiba-tiba meletus. Sopir tidak bisa mengendalikan hingga akhirnya truk berhenti dengan posisi melintang seperti ini. Tapi kami akan segera selesai." Ucap pria tersebut menjelaskan situasi mereka.


"Tidak apa-apa, kami akan menunggu." Trias menutup kaca begitu pria tadi kembali bergabung dengan rekan-rekannya.


Abigail mengamati pria yang mengganti ban mobil. Kemudian ia menatap ke sekeliling. Di belakang mereka ada beberapa mobil yang terpaksa berhenti. Saat Abigail kembali menatap ke arah truk, ia menangkap kegelisahan di wajah salah satu pria yang posisinya menghadap ke arahnya.


"Kak, putar balik. Sekarang juga!" Abigail meminta Trias untuk kembali.


"A..apa?"


"Cepat nyalakan mesinnya, kita kembali. Sekarang!" Pinta Abigail lagi.


Meski bingung, Trias mengikuti perintah Abigail. Ia menyalakan mesin dan mundur sedikit. Kemudian membanting setir untuk berbelok kembali ke arah mereka datang.


Tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak bagian tengah hingga mobil yang dikemudikan Trias terseret dan menabrak truk yang sedang berhenti. Kecelakaan tidak dapat dihindari, beruntung saat itu Darren dengan cepat berpindah ke kursi belakang sebab yang ditabrak mobil itu adalah bagian kursi penumpang tepat di belakang pengemudi.


Benturan yang terjadi menyebabkan Abigail, Darren dan Trias tidak sadarkan diri. Semua orang yang berada di dalam mobil lain segera keluar berusaha menyelamatkan ketiganya.


Sedangkan para pria yang memperbaiki ban mobil telah pergi. Begitu beberapa orang mengintip ke dalam mobil penabrak melalui jendela, mereka terkejut tidak menemukan satu orang pun disana. Dan di atas setir terlihat sebuah benda seperti konsol game. Rupanya mobil tersebut dikendalikan dari jauh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2